2004. Installation Art, Pesakitan , FSS

Installation Art “Pesakitan”, Festival Seni Surabaya”, 2004

h1skd1-c

Picture1sdfg Picture1dfgh

concept

Maybe just with my art can distort the fact that as a scapegoat” does not always have to be avoided if after all it is part of the scenario ALMIGHTY CREATOR. For example symbolized the work of “prisoner” in which death is the obvious part that might happen to anyone, but here death is like a cocoon / hermitage to reach the stage that no longer form of eggs or caterpillars dwell only on the singlestem plants the only (have not had the experience of the plants / other world outside) only on the tree.

Then the caterpillars have entered the stage of jail / torment themselves at any given time according to the level of what had given him, herein lies where the caterpillar is no longer a butterfly, but the light that will illuminate corners.

Konsep

Mungkin hanya dengan berkesenian saya bisa memutarbalik fakta bahwa sebagai “tumbal” tidaklah selalu harus dihindari kalau toh itu adalah bagian dari skenario Sang MAHA PENCIPTA. Sebagai contoh disimbolkan pada karya “pesakitan” yang mana kematian adalah bagian yang jelas nyata bakal terjadi pada siapapun, tetapi di sini kematian ibarat sebuah kepompong/ pertapaan untuk mencapai tahap yang tidak lagi berupa telur ataupun ulat yang berkutat hanya pada satu batang tanaman yang itu-itu saja (belum memiliki pengalaman terhadap tanaman/ dunia lain diluar) hanya pada sebatang pohon tersebut.

Maka ulat harus memasuki tahap memenjarakan/ menyengsarakan diri pada waktu tertentu menurut kadar dari apa yang pernah diberikan olehNYA, di sinilah letak dimana ulat tidak lagi menjadi seekor kupu-kupu, tetapi cahaya yang akan menerangi penjuru.

h2-c h3-c h5-c h7-c TOSHIBA Exif JPEGTOSHIBA Exif JPEG

media massa:

karya ini sebagai Pesakitan dan Menyakitkan. Bukan tanpa alasan jika sang seniman menamakan demikian. “Ini adalah simbol dari kehidupan”,  melalui karya ini, ia ingin menujukkan bahwa kesengsaraan adalah bagian dari keindahan hidup, “hujaman tombak itulah menandakan kesengsaraan”, ujar Hari Prajitno

menunjukkan bahwa kesengsaraan bisa menjadi suatu kebahagiaan, “Benda ini sengsara karena ditusuk, tapi justru dari itu ia mengeluarkan sinar,”.  Artinya tidak jarang seseorang justru terlihat lebih bersinar/dikenal dan berarti ketika ia sudah meninggal.

2. berita fss21. berita fss

Iklan

A. Biography and Activities, Biodata dan Aktivitas

Biography and Activities

art is not just instinctive but more than that the search for meaning to adjust to our cosmic understanding of the deeper unity in truth and beauty that is part of the process of understanding the cosmic wholeness

seni tidak sekedar instingtif tetapi lebih dari itu pencarian makna untuk menyesuaikan diri dengan pemahaman kosmik terhadap keutuhan yang lebih dalam pada kebenaran dan keindahan yaitu bagian dari proses memahami keutuhan kosmik.

A. Biodata dan Aktivitas

Biodata

• Hari Prajitno
Surabaya, 19 Januari 1968
Islam
Sarjana Seni, Seni Rupa FSR-ISI Jogyakarta
Staf Pengajar Seni Rupa STKW Surabaya, http://evaluasi.dikti.go.id/epsbed/datadosen/0719066804
Semeru 5, PepeLegi Waru-Sidoarjo
harip_art@yahoo.com dan myharip@gmail.com

istri dan anak

• Ayu Aurumsari Riza
surabaya, 27 juni 1968
Islam
Sarjana Pendidikan Bhs. Inggris
1.Titah Tantiesti Gatiati
2.Bening Lintang Laksmi Rinonce Ratri
3.Jalu Landep Hanjemparing GiriJati.

creation

creation, recreation, or any super or not also cause pain
all walks menjumputi long traces that might look
there is no certainty of an idea or thought of either color or shape
just a continue.

Kreasi

kreasi, rekreasi, atau apapun tidak juga menyebabkan super atau sakit
semua berjalan menjumputi jejak-jejak lama yang mungkin terlihat
ataupun teringat tiada kepastian gambaran baik warna ataupun bentuk
hanya tinggal melanjutkan.

Aktivitas Tunggal

• 1988-1994Studi Seni Rupa Murni
• 1994Tugas Akhir “Seni Lukis”,
• 1996“Karya Seni”, YPIA Surabaya.
• 1997“Sudah Tidak Berwarna Lagi”
• 1998“Derita Cuaca”
• 1999”Informasi Bata Merah”
• 2001”Dua Jam Lagi Kita Berangkat”, https://hariprajitno.wordpress.com/category/iii-my-works/
• 2002“Seni Lukis”, TIM Jakarta
• 2008“Multi Dimensi”, Gallery Surabaya, https://hariprajitno.wordpress.com/category/iii-my-works/page/3/
• 2012-2013″Perahu Pembawa Tunas dan Pelita”, HoS Surabaya. https://hariprajitno.wordpress.com/category/iii-my-works/page/4/

Aktivitas Bersama

1991- Generasi 88, Widya Mandala, Yogyakarta.
1992- Dies Natalis VII-ISI, Purna Budaya, Yogyakarta.
– Kerjasama IKIP Malang dan FSR-ISI, DKM, Malang.
– Seni Eksperimental “BINAL”, Stasiun Tugu, Yogyakarta.
– Mahasiswa Seni Se-Indonesia, Purna Budaya, Yogyakarta.
– Seni Eksperimental MSSI, FSR-ISI, Yogyakarta.
– Dies Natalies VIII-ISI, Purna Budaya, Yogyakarta.
1993- Dies Natalies IX-ISI, Purna Budaya, Yogyakarta.
– Pratisara Affandi Adi Karya, Purna Budaya, Yogyakarta.
– Indonesian Art Award III, Jakarta
1994- Seni Rupa STKW dan Hari Prajitno, DKM Malang.
1995- Indonesian Art Award V, Jakarta.
1996- Gelar Akbar Seni Rupa Jatim III, TBJ, Surabaya.
1997- Gelar Akbar Seni Rupa Jatim IV, TBJ, Surabaya.
– Seni Rupa “Tanpa Bingkai”, YPIA, Surabaya.
1998- Seni Rupa A. Hadi Mas’ud, Hari Prajitno, Ugo Untoro, PB, Yk
– Indonesian Art Award VIII,Jakarta.
1999- Festival Kesenian Indonesia I, Yogyakarta.
2000- Festival Kesenian Indonesia II, Padang Panjang, Sumbar.
– Indonesian Art Award X, Jakarta.
– Menara-“Untung Masih Punya Kepala”, FSS-2000, BP, Surabaya.
2001- Gelar Akbar Seni Rupa Jatim V, TBJ, Surabaya.
2003- Festival Kesenian Indonesia III, Balai Pemuda (BP), Surabaya.
2004- Pesakitan, FSS-2004, Surabaya. https://hariprajitno.wordpress.com/category/iii-my-works/page/6/
2006- Pameran Gambar “Draw”, Museum dan Tanah Liat, Yogyakarta.
– Festival Kesenian Indonesia IV, Denpasar, Bali.

Basic Concepts

depart from a particular ideology which always squaring the thing” that is not realistic or patron obey certain patterns that are standardized by an individual or a particular group. Only abstraksilah process which is an instinctive reaction or conscious reaction against the back pengkomposisian ideas (elements) that pure moment’s glimpse at where being in the process have shown that choices more easily, even though very, very open : but with the limitations of time” then instinctively must immediately capture the moment for the moment laid out an idea worth Nothing really concrete to be explained. Moreover, that is not excessive. I believe in individual expression as a basic reference, so that the meaning of freedom” is strongly associated with the habit, tendency or certain uniqueness will bring something more clear. So that the meaning of I” is not running at random, but all that goes with that early provision was taken prior to the birth. The laws that have been applied to each personal will bring in more human terms that guided him.

Konsep Dasar

berangkat dari suatu ideologi tertentu yang selalu mengkotakkan pada “hal” yang tidak realistis menuruti patron atau pola tertentu yang dibakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu. Hanya proses abstraksilah yang merupakan suatu reaksi instinktif atau reaksi sadar terhadap proses pengkomposisian kembali ide-ide (unsur-unsur) murni yaitu kelebat di saat itu juga di mana sedang di dalam proses telah menunjukkan pilihan-pilihan yang makin mudah, walau sebenarnya amat sangat terbuka; tetapi dengan keterbatasan “waktu” maka secara naluri musti secepatnya menangkap moment yang sesaat itu untuk ditata secara layak Tiada suatu ide yang benar-benar konkrit untuk bisa dijelaskan. Apalagi yaitu tidak berlebihan. Saya mempercayai ekspresi individu sebagai acuan dasar, sehingga arti “kebebasan” sangat terkait dengan kebiasaan, kecenderungan atau keunikan tertentu akan membawa sesuatu yang lebih jernih. Sehingga arti “saya” tidaklah berjalan secara serampangan, tetapi semua itu berjalan dengan bekal purba yang dibawa sebelum terjadinya kelahiran. Hukum-hukum yang telah diterapkan pada setiap personal akan membawa pada pengertian lebih manusiawi yang terbimbing olehNYA.

INDUKTIVISME DAN FENOMENOLOGI

I. PENDAHULUAN

A. Pandangan Pengetahuan Secara Umum

Pandangan Ilmiah dimulai sejak terjadi perkembangan akibat dari Revolusi Ilmiah pada abad ke-17, sedang tokoh yang memperkenalkan diantaranya adalah Galileo Galilei dengan alat perpanjangan atas keterbatasan “mata” yaitu teropong-bintang yang menguatkan teori edar benda langit dari Copernicus dan Isaac Newton dengan gravitasi buah apelnya. Juga dipicu akibat kekuatan progresif abad itu yang telah sukses atas eksperimen-eksperimen yang telah dijalankan, juga membuat semakin memandang bahwa pengalaman sebagai sumber pengetahuan.

Pengetahuan Ilmiah adalah pengetahuan yang telah di “buktikan” kebenarannya atas teori–teori ilmiah (hal tentang bukti kebenaran yang terbuka masih bisa diperdebatkan) yang ditarik dengan cara ketat dari fakta–fakta pengalaman yang diperoleh lewat observasi dan eksperimen. Pengetahuan ilmiah dapat dipercaya karena kebenarannya telah dibuktikan secara objektif, walau memang pengetahuan ilmiah bukanlah pengetahuan yang telah dibuktikan saja, melainkan pengetahuan yang probabel benar. Makin besar jumlah observasi yang membentuk dasar suatu sistem induksi, dan makin besar variasi kondisi dimana observasi dilakukan, maka makin besar pula probabilitas hasil generalisasi itu benar, bagaimanapun juga walau kebenaran adalah tetap sebuah konsep

B. INDUKTIVISME

Menurut pandangan induktivis, ilmu bertolak dari observasi yaitu sebentuk pengamatan terhadap suatu proses atau objek dengan maksud merasakan dan kemudian memahami pengetahuan dari sebuah fenomena berdasarkan pengetahuan dan gagasan yang sudah diketahui sebelumnya, untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan guna melanjutkan suatu penelitian. Di dalam penelitian, observasi dapat dilakukan dengan tes, kuesioner, rekaman gambar dan rekaman suara; disamping itu pengamat ilmiah harus memiliki organ-organ indera yang normal sehat dan harus pula secara setia dan jujur merekam apa yang ia lihat, dengar dan sebagainya. Pernyataan–pernyataan tentang dunia, atau beberapa bagian darinya dapat diperkuat atau ditetapkan sebagai kebenaran dengan cara penggunaan langsung indera-indera pengamatan tanpa prasangka apa pun. Pernyataan–pernyataan yang dihasilkan dengan cara demikian, lalu menjadi dasar untuk menarik hukum-hukum dan teori-teori yang membentuk pengetahuan ilmiah.

1. Keterangan Tunggal

Pernyataan-pernyataan dari hasil observasi menjadi dasar untuk menarik hukum-hukum dan teori-teori. Berikut ini adalah beberapa contoh keterangan observasi yang masih merupakan pernyataan tunggal:

a. Pada tanggal 1 Januari 1975 jam 12.00 tengah malam, Venus nampak pada posisi sekian di langit.
b. Sebatang tongkat yang sebagian tercelup di dalam air nampak bengkok.
c. Tuan Smith memukul isterinya.
d. Kertas litmus berubah menjadi merah bila dicelupkan ke dalam cairan.

2. Keterangan Universal

Berikut ini adalah contoh-contoh sederhana yang membentuk sebagian dari pengetahuan ilmiah yang bersifat umum universal.

a. Astronomi: Planit-planit bergerak menurut garis ellips mengitari suryanya.
b. Fisika: Bila suatu sorotan sinar menembus dari media yang satu ke yang lainnya, ia mengubah arah perjalannya sedemikian rupa sehingga sinus dari sudut pembiasannya merupakan suatu ciri konstan pasangan media tersebut.
c. Psikologi: Binatang pada umumnya mempunyai suatu kebutuhan inheren untuk melampiaskan sesuatu yang agresif.
d. Dari Kimia: Asam mengubah litmus menjadi merah

Poin-poin di atas adalah keterangan umum yang mengungkapkan sifat atau perilaku beberapa aspek alam semesta. Kejadian-kejadian umum di atas mencakup semua kejadian tertentu di semua tempat dan waktu. Keterangan-keterangan ini disebut keterangan universal. Untuk menjadikan keterangan-keterangan tunggal menjadi keterangan universal maka harus melalui langkah selanjutnya yaitu penggeneralisasian dari serangkaian keterangan observasi tunggal yang terbatas hingga menjadi hukum “universal” bisa dibenarkan kalau memenuhi kondisi sebagai berikut:

1. Jumlah keterangan observasi yang membentuk dasar suatu genaralisasi harus besar.
2. Observasi harus diulang-ulang pada variasi kondisi yang lebih luas.
3. Keterangan-observasi yang sudah dapat diterima, tidak boleh bertentangan dengan hukum universal yang menjadi kesimpulannya.

Dengan demikian, pengetahuan yang dibangun oleh prinsip induksi dengan dasar kokoh yang diperoleh lewat observasi. Ketika jumlah fakta yang diperoleh lewat observasi dan eksperimen meningkat, dan ketika fakta-fakta itu makin lengkap dan mendalam karena ketrampilan dalam observasi dan experimen, maka makin banyak hukum dan teori yang makin luas keumumannya dan ruang lingkupnya yang dibentuk dengan penjelasan induktif yang cermat. Pertumbuhan ilmu itu berlangsung terus, berkembang maju dan meningkat terus.

3. Pencapaian Tunggal Menuju Universal

Prosesnya Untuk mencapai pengetahuan ternyata disamping menggunakan metode induksi juga menggunakan metode deduksi, sebagai berikut:
a. Semua fakta diobservasi dan direkam, tanpa melakukan pilihan atau dugaan a priori tentang arti penting saling kaitannya antara fakta-fakta itu.
b. Fakta-fakta yang telah diobservasi dan direkam itu dianalisa, dibandingkan dan diklasifikasi, tanpa hipotesa-hipotesa atau dalil-dalil (postulates), selain dari apa yang langsung terlibat secara wajar menurut logika fikiran.
c. Dari analisa fakta-fakta ini, generalisasi akan ditarik secara induktif mengenai hubungannya, dengan mengklasifikasikannya.

C. Fenomenologi

Kata fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, phenomenon, yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena tercakup dalam pengamatan. Dalam kamus bahasa indonesia biasa disebut dengan “gejala”. Jadi, fenomenologi adalah ilmu pengetahuan tentang apa yang tampak. Dari pengertian tersebut dapat dipahami bahwa fenomenologi adalah suatu aliran yang membicarakan segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri, atau fenomena.

Seorang Fenomenolog berbeda dengan seorang ahli ilmu positif yang mengumpulkan data, mencari korelasi dan fungsi, serta membuat hukum-hukum dan teori. Fenomenolog bergerak di bidang yang pasti. Hal yang menampakkan dirinya dilukiskan tanpa meninggalkan bidang evidensi yang langsung “a way of looking at things”.

1. Pendekatan Fenomenologis

Mempelajari bagaimana kehidupan sosial ini berlangsung dan melihat tingkah laku manusia, yaitu apa yang dikatakan dan dilakukan sebagai hasil dari bagaimana manusia ‘mendefinisikan’ dunianya. Berdasarkan pemikiran itu maka untuk mengerti sepenuhnya bagaimana kehidupan sosial tersebut berlangsung maka harus memahaminya dari sudut pandang pelaku itu sendiri, yaitu berupaya ‘menangkap’ proses, interpretasi dan melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang-orang yang diteliti dan aspek ‘subyektif’ dari perilaku manusia dianggap sangat penting.

Stephen Hicks menulis bahwa untuk memahami fenomenologi, harus dicari akar identitasnya di dalam filsafat Immanuel Kant (1724–1804). Di dalam Critique of Pure Reason, Kant membedakan ‘fenomena’ (object sebagaimana diinterpretasi oleh sensisbilitas dan akal manusia), dan “noumena” (objek sebagai benda-dalam-dirinya sendiri, yang tidak dapat dialami langsung oleh manusia).

Menurut Hicks, Kantianisme abad ke-19, berkegiatan di dua bidang yang luas:
a. linguistik struktural dan
b. fenomenologi.

Dalam bentuknya yang paling dasar, fenomenologi berusaha menciptakan persyaratan bagi penyelidikan objektif atas topik-topik yang biasanya dianggap sebagai kesadaran subjektif dan isi pengalaman sadar seperti judgments, percep-, tion and emotions (pertimbangan, persepsi, dan emosi). Meskipun fenomenologi berusaha menjadi ilmiah, dia tidak berusaha menyelidiki kesadaran dari perspektif psikhologi klinis atau neurologi. Sebaliknya, dia mencari melalui refleksi sistematis untuk menentukan sifat-sifat essensial dan struktur pengalaman.

2. Bebebrapa Pokok Pikiran Di dalam Fenomenologi

a. Intentionalitas

Menunjuk pada suatu kata “peregangan” (“dalam tegangan”), dalam konteks ini sebagai tidak ada suatu kesadaran dulu yang selanjutnya meregang menuju objeknya. Sebaliknya, kesadaran terjadi bersamaan dengan tindakan sadar dan objeknya. Intensionalitas sering diringkas sebagai “ke-mengenai-an” (aboutness)

Apakah sesuatu yang disadari ini berada dalam persepsi langsung atau di dalam fantasi tidak langsung terkait dengan intensionalitas sendiri, apa pun yang disadari, yaitu sadar adalah sadar akan. Ini berarti bahwa objek kesadaran tidak harus objek fisik yang ditangkap dalam persepsi: bisa jadi fantasi atau ingatan. Akibatnyam, “struktur” dari kesadaran ini, yaitu, persepsi, ingatan, fantas, etc, disebut intentionalitas.

b. Intuisi Murni

Intuisi dalam fenomenologi menunjuk pada kasus-kasus di mana objek intensional secara langsung hadir bagi intensionalitas yang sedang beraksi: bila intensi “dipenuhi” oleh pemahaman objek, anda mempunyai objek yang diintuisikan.

c. Evidensi

Di dalam fenomenologi, konsep evidensi dimaksudkan untuk “pencapaian kebenaran secara subjektif”. Ini bukan upaya untuk mereduksi jenis evidensi objektif ke “pendapat” subjektif, tetapi lebih merupakan upaya untuk menggambarkan struktur dari adanya sesuatu di dalam intuisi dengan tambahan keberadaan itu dapat dipahami (intelligible).

d. Noesis dan Noema

Kata Yunani nous (akal budi), menunjuk pada muatan nyata, noesis, dan muatan ideal, noema, dari tindakan intensional (tindakan kesadaran). Noesis merupakan bagian dari tindakan yang memberinya makna atau sifat khusus (seperti di dalam mempertimbangkan atau mempersepsi sesuatu, mencintai atau membencinya, menerima atau menolaknya, dst.). Hal ini nyata dalam arti bahwa ini benar-benar merupakan bagian dari apa yang terjadi di dalam kesadaran (atau psyche) dari subjek tindakan.

e. Empati dan Intersubjectivitas

Pengalaman tubuh anda sendiri sebagai subjektivitas anda lalu diterapkan pada pengalaman tubuh lain, yang, melalui a-persepsi, membentuk subjektivitas orang lain. Maka anda dapat mengenali intensi-intensi, emosi, dst., orang lain. Pengalaman empati ini penting di dalam uraian fenomenologis mengenai intersubjektivitas. Di dalam fenomenologi, intersubjektivitas membentuk objektivitas (yaitu, apa yang anda alami sebagai objektif dialami sebagai yang tersedia secara intersubjektif – tersedia bagi semua subjek lain. Ini tidak menyiratkan sikap relatif, misalnya verifiabilitas intersubjektif).

Di dalam pengalaman intersubjektivitas, seseorang juga mengalami dirinya sebagai subjek di antara subjek-subjek lain, dan dia mengalami dirinya sebagai berada secara objektif bagi orang-orang lain itu; dia mengalami dirinya sebagai noema dari noeses orang lain, atau sebagai seorang subjek di dalam pengalaman empatik orang lain. Dengan demikian, dia mengalami dirinya sendiri sebagai subjektivitas yang berada secara objektif. Intersubjektivitas juga merupakan bagian dari konstitusi dunia kehidupan seseorang, khususnya sebagai “dunia-asal (rumah)”.

f. Dunia kehidupan

Dunia kehidupan (Jerman: Lebenswelt) adalah “dunia” di mana masing-masing kita hidup. Bisa disebut “latar belakang” atau “horison” dari semua pengalaman, dan itu adalah di mana setiap objek berada sebagai dirinya sendiri (sebagai yang berbeda) dan dengan makna yang hanya dapat diberikan kepada kita. Dunia kehidupan bersifat personal sekaligus intersubjektif (maka disebut “dunia kehidupan”), dan, dengan begitu, itu tidak menutup kita masing-masing dalam kesendirian (solus ipse).

II. PEMBAHASAN

Secara jujur penulis katakan untuk memahami fenomenologi amatlah tidak mudah, banyak hal yang tidak dimengerti hanya karena penulis tidak mampu mencerna dengan baik. Tapi setidaknya bisa diambil beberapa poin yang penting yaitu bahwa fenomenologi telah menjabarkan beberapa pokok pikiran yang mungkin dulunya terabaikan di dalam pemikiran positifis-rasional yaitu seperti intensional, intuisi, eviden, noesis-noema, dan empati- intersubjektivitas yang akan menguak keberadaan arti transenden yang lebih rasional, hingga menjelaskan bagaimana kesinambungan antara pola pikir induktif dan fenomenologi menjabarkan kualitas-kualitas personal atas dunia diluarnya yang membimbing ke arah rasio-kualitatif.

Bagaimana menghubung-kaitkan antara cara berfikir induktif dan fenomenologis? Pertama kita kenali dulu bahwa induktivis bergerak juga pada ranah empiris yang berarti akar mulanya terjadi adalah dari pengamatan/ observasi yang berangkat dari subjektivis yang mengamati. Sementara fenomenologis berangkat dari gejala-gejala yang tampak yang juga menekankan untuk mengurangi subjektivisme walau sama-sama berangkat dari pengamatan.
Persoalan bagi induktivis yang kelemahannya terletak pada subjek yang mengamati itu disamping sehat jasmani (mata) juga harus tidak memiliki persepsi awal atau asumsi-asumsi subjektif yang nantinya membelenggu observasinya. Menurut pandangan induktivis naif, ilmu bertolak dari observasi, dan observasi memberikan dasar yang kukuh untuk membangun pengetahuan ilmiah dari keterangan-keterangan observasi yang diperoleh melalui induksi.
Penulis berpendapat : “Apabila sejumlah besar gagak (A) yang telah diobservasi pada variasi kondisi yang luas, dan apabila semua gagak yang telah diobservasi itu tanpa terkecuali berwarna hitam (B), maka semua gagak berwarna hitam (A-B)” Dari pernyataan ini muncul suatu pertanyaan, “ Bagaimana prinsip induksi bisa mendapatkan justifikasi, bahwa semua gagak dari zaman sebelum adanya manusia hingga akan datang yang tak terbatas waktu kalau gagak berwrna hitam?”, sehingga induktivis masih memerlukan pola pikir deduktif untuk melengkapinya.

Poin fundamental pada fenomenologis adalah intuisi murni yang menjembatani antara epsitemologi rasionalisme (deduktif) dan epistemologi empirisme (induktif). Intuisi asli atas objek merupakan dasar utama dari operasi akal. Untuk membuat sebuah pernyataan, intuisi asli atas hal-hal itu sendiri berhubungan dengan kehendak kita. Akal tidak dapat dilepaskan dari objek, dan objek tidak bisa dilepaskan dari subjek. Subjek dengan objek antara yang satu dengan yang lain saling hadir, atau menghadirkan dalam level yang sama (eviden) .
Segala sesuatu yang menghadirkan dirinya sendiri pada kita secara murni dalam batas bahwa ia hadir sebagai mana diri/adanya. Bagaimana “kemurnian” ini dapat diperoleh? Husserl memberikan solusi dengan apa yang ia sebut sebagai “reduksi”, yaitu memaknai bahwa secara metodis, reduksi dapat menempatkan seseorang pada bentuk “transendental” (ego transenden). Dengan bentuk tersebut, diharapkan dapat menangkap benda-benda tersebut sebagai mana adanya diri mereka sendiri, terbebas dari pra-anggapan apa pun.
Terdapat dua reduksi yang dirumuskan oleh Edmund Husserl, yaitu reduksi eidetis dan reduksi fenomenologis.

Reduksi eidetic

Reduksi eidetis menuntun kenyataan empiris kepada esensi, kata lain akan memperoleh pengetahuan dari level empiris hingga ke bentuk gagasan/ esensi (mirip pengambilan keputusan lewat induksi). Namun, “esensi/ gagasan” bukan generalisasi empiris yang dengan berbagai tipe dalam pengalaman. Kemurnian esensi tidak dipengaruhi dari banyaknya jumlah fakta yang disampaikan.

Reduksi Fenomenologis

Reduksi fenomenologis merupakan sesuatu yang kompleks. Terdapat tiga macam pembagian dari pengertian reduksi fenomenologis itu sendiri. Reduksi fenomenologis, dalam arti yang kaku digambarkan sebagai:

1.“Bracketing of being“ semua fakta diletakkan di dalam tanda kurung
2. Reduksi fenomenologis digambarkan sebagai reduksi atas dunia budaya terhadap dunia pengalaman (dunia kehidupan) sebagai yang terdekat/ terhayati.
3. Reduksi fenomenologis sebagai reduksi transendental yang menuntun kita dari keduniaan fenomenal “aku” menuju subjektivitas transendental.

Reduksi fenomenologis berkaitan erat dengan konsep intensionalitas. Konsep intensionalitas adalah bagaimana cara terbaik seseorang dapat mencapai kepastian dari sang objek. Kata “intensional” sendiri mengacu pada arti “pengada sebuah objek”. Karena aktivitas intensional tersebut, manusia berbudaya berhubungan dengan apa yang diciptakan oleh kecenderungannya. Makna-makna hal yang diteliti dibangun atas makna-makna tempelan yang disatukan. Jika kita ingin sampai pada suatu cara yang membuat benda nampak kepada kita secara asli, maka harus ditemukan cara yang dapat menuntun kita dari yang menyatakan diri dalam tindakan turunan tadi (analisis intensional). Kepada objek-objek asli dengan tindakan yang paling asli yang kita miliki. Hal ini mengingatkan agar kita jangan cenderung terkungkung dengan budaya yang menyelimuti objek. Setiap komponen makna tidak boleh digeneralisasi, karena satu sama lainnya memiliki karakter yang berbeda (empati dan intersubjektif ).

Sehingga bentuk kebenaran fenomenologis yang paling dasar yaitu berusaha menciptakan persyaratan penyelidikan objektif atas topik-topik yang biasanya dianggap sebagai kesadaran subjektif seperti judgments, perceptions, and emotions (pertimbangan, persepsi, dan emosi). Untuk lebih lanjut penulis akan memasukkan fenomenologi yang tidak lagi transenden tetapi juga fenomenologi eksitensial yang tentu akan melengkapi sistem penalaran yang lebih lanjut untuk mengetengahkan “kebenaran” dan yang “ada”.

Menurut Gabriel Marcel, bahwa di dalam pengalaman manusia terdapat sesuatu yang memungkinkannya untuk menyatakan diri sebagai transpersonal, yaitu manusia bukan hanya pengada di dalam situasi tetapi juga merupakan pengada yang mengatasi. Semisal disejajarkan dengan “intuisi kreatif”. Ide seniman bukanlah sesuatu yang telah jadi yang mendahului perwujudannya. Ide muncul dalam proses artistik, artinya seniman tidak menemukan dulu idenya dan kemudian mewujudkannya; ia menemukan di dalam saat proses mewujudkannya.

III. PENUTUP

Sistem penalaran induktif ternyata juga memiliki kelemahan dan sekaligus kekuatan yaitu pada induksi tidak lengkapnya, yaitu pemahaman tentang ketidakmungkinan kita akan merumuskan dari hal yang terbatas/ beberapa menjadi semua/ generalisir atau bahkan universal hal inilah yang menjadikan induksi tidak lengkap semakin menarik bagi sejarah pemikiran filsafati, karena bagi filsafat sendiri yang terpenting adalah pertanyaan mengenai status pengetahuan yang diambil dari penalaran induktif. Sedang filsafat tidak mempertanyakan ketepatan atau tidaknya prosedur yang digunakan sains, tetapi status pengetahuanlah yang menjadi fokusnya.

Pada pengertian observasi dalam kerangka penalaran induktif atas pengamatan-pengamatan si subjek yang harus sehat jasmani khususnya alat-alat indrawi yang digunakan dalam pengamatannya dapat dipahami dari sudut pandang subjek yang terlibat di dalamnya dan memberi penekanan besar pada persepsi dan interpretasi mengenai pengalaman mereka sendiri. Hal demikian dikarenakan fenomenolog cenderung yakin bahwa suatu bukti atau fakta dapat diperoleh tidak hanya dari dunia kultur dan natural, tetapi juga ideal, atau bahkan makna tentang kesadaran hidup itu sendiri. Program utama fenomenologi adalah mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan. Kembali ke kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan.

Jadi manusia mempunyai suatu intuisi kreatif mengenai ada, bukan sebagai objek penglihatan, tetapi ada yang tersembunyi (sinar) yang menerangi pengalaman dan kemudian terbaca sebagai sesuatu yang yang muncul dari pengalaman. Begitulah pengalaman merupakan pernyataan manusia sekaligus dari pernyataan transenden yang di situlah eksistensi manusia terbuka. Maka pikiran yang dapat menegaskan dimensi transenden di dalam eksistensi manusia hanyalah subjek yang berpartisipasi di dalam transenden itu.

Kita cenderung berfikir naïf bahwa pengetahuan bisa menjamin untuk tidak salah adalah kesewenang-wenangan, yaitu menganggap pengetahuan sebagai sesuatu yang saya “miliki” untuk selamanya. Padahal pengetahuan merupakan ekspresi reflektif dari diri saya atau pengalaman saya. Baik pengalaman dan ekspresi saya perlu pemurnian yang terus menerus yang tidak melenyapkan kognisional. Di dalam pemurnian elemen pokoknya adalah dialog antar budi. “Kitalah yang berfikir, dan kitalah yang tahu”, memang benar bahwa pengetahuan merupakan tindakan yang sangat personal tetapi tetap merupakan tindakan yang membuatku menyadari diri untuk berpartisipasi agar ada arti universal. Universal yang ada yang merupakan kebersamaan manusia yang melahirkan pikiran sebagai saran yang memasukkan saya dalam universal kognisial sebagai kebenaran. ***

1. Modul Kuliah: Hardono Hadi, Dr.
2. Hardono Hadi, Epistemology, Filsafat Pengetahuan, saduran dari Kenneth T. Gallagher, the Philosophy of Knowledge, cetakan ke-7, kanisius, 1994.

MILIPEDE

KAKI SERIBU (myriapodous arthropods)

Gmbr 1. Milipede biasa
Gmbr 2. Milipede dragon
Gmbr 3. Milipede traktor
(Kesemua nama itu tdk merujuk pd keilmuwan kecuali unt sebutan dalam perdagangan)

MILIpede

milidragon

MILItraktor

Berangkat dari “mille” berarti “seribu” dan “pes” berarti “kaki”.

428 jt tahun yang lalu di era lapisan carboniferous telah memiliki anthropleura yaitu vertebarata terbesar hingga sepanjang 2,6 m yg fosilnya (pneumodesmus newmani) ditemukan di Aberdeenshire Skotlandia th 2004 oleh Mike Newman.

Konon memiliki sampai 12.000 spesies, mereka bukan berarti memiliki kaki seribu buah. Kenyataannya memiliki 36-400 kaki, kecuali illacme plenipes yang memiliki 750 kaki dengan panjang 2,5 m.

Dia bernafas melalui celah lipatan tubuhnya (spirakel), mereka memiliki dua pasang kaki di tiap segmen/buku di tubuhnya. Diet dedaunan atau apapun yang sudah membusuk.

Kaki seribu terbesar yang masih hidup adalah Kaki Seribu Kereta Api dengan nama local afrika tropis adalah Chongololo (archispirostreptus gigas) sepanjang 28 cm. Masa hidupnya mampu hingga 8 th.

http://en.wikipedia.org/wiki/Millipede

MELAWAN SEKALIGUS MEMPERTIMBANGKAN HEGEMONI MODERN BARAT

I. PENDAHULUAN

Kelahiran Glasnost dan Perestroika yang dicanangkan oleh Presiden Gorbachev merupakan pemicu bagi meledaknya revolusi sosial di negara-negara Eropa Timur. Keterlambat dalam menyadari pentingnya permasalahan sehingga terlanjur melahirkan banyaknya terjadi kerusuhan, yang kemudian disusul runtuhnya Uni Soviet.

Banyak cara telah dilakukan Gorbachev untuk mencegah disintegrasi, namun gagal. Pemerintah Uni Soviet berakhir ditandai dengan pengunduran diri Gorbachev tanggal 25 Desember 1991 dan pembentukan CIS oleh pemimpin Rusia, Boris Yeltsin. Runtuhnya Uni Soviet yang menandai matinya komunisme dan berakhirnya Perang Dingin, membawa konsekuensi yang sangat nyata bagi sistem keseluruhan dunia. Komunisme sudah tidak memiliki kekuatan sosial seperti sebelum runtuhnya Uni Soviet. Berlanjut runtuhnya sosialis-komunisme membuat sistem lain, yakni liberalisme-kapitalisme menjadi satu-satunya ideologi yang mendominasi. Bahkan, sistem yang disebut sebagai musuh komunisme itu menguasai dunia hingga sekarang.

A. Latar Belakang

Ideologi liberalisme dan kapitalisme inilah yang kini secara nyata telah mewarnai dan mendominasi struktur pemikiran dunia dewasa ini yang telah dikembangkan oleh barat, Anglo-Saxon dan Amerika Utara secara tidak disadari telah menghegemoni melalui narasi besar yang memutlakkan, mereduksi hanya pada tataran logika logosentris yang menghasilkan rasional atomis yang terpecah-pecah, menjadikan sistem pengetahuan yang mendominasi dan yang terpenggal dari realitas dunia keseluruhan.

Hegemoni dari bahasa Yunani: hēgemonía pada awalnya merujuk pada dominasi kepemimpinan. Antonio Gramsci mengembangkan makna untuk merujuk pada dominasi suatu kelas sosial terhadap kelas sosial lain dalam masyarakat melalui hegemoni budaya (K. J. Holsti, 1985). Bagaimana melawannya, sebenarnya di dalam makalah ini juga bukan berarti melawan dalam pengertian konfrontasi, tetapi sekaligus mempertimbangkan lebih ke arah bagaimanapun barat telah banyak menyumbang bagi perkembangan humanisme dan rasionalnya. Di dalam humanisme kita mengenal bagaimana manusia bisa melepaskan dari belenggu dogma dan belenggu otoritas tertentu untuk menjadi manusia yang bebas mengaktualisasikan diri menurut kadar di masing-masing sebagai pembebasan. Sementara rasional telah mengembangakan sistem pemikiran yang terstruktur logis yang di dalamnya sekaligus terdapat penerimaan terhadap kritik, mengembangakan bagaimana segala hal dikembalikan kepada antrophosentris yang memfokuskan bahwa manusia sebagai subjek yang berperan dan bertanggung-jawab terhadap dunia.

Setidaknya kata “perlawanan” adalah sebentuk peran aktif dalam memberikan kontribusi pada pengetahuan dan ilmu pengetahuan, bukan hanya sebagai objek yang pasif menerimanya. Di dalam makalah ini menawarkan integrasi yang lebih hidup, dinamis dan produktif, yaitu sebuah keseimbangan keseluruhan dunia yang bukan bagian-bagian parsial, tetapi proses bergerak menuju menjadi (becoming). Pemikiran tentang realitas, yang mana esensi bukan bersifat tetap, tak berubah atau bahkan tidak mutlak, tetapi realitas sebagai rangkaian proses. Realitas sebagai proses tanpa akhir, begitulah seperti proses terus menerus bagai di kehidupan ini yang terus menerus berubah menuju esensi kreativitas. Tidakkah tema kearifan masa lampau yang sudah kita miliki, yaitu “roroning ngatunggil” di dalam serat Wedhatama oleh K.G.A.A. Sri Mangkunegara IV (1811-1881) sudah mengisyaratkan multiplisitas, bahwa “ala lan apik kuwi kersane pengeran”, bahwa pola biner ala-apik bagi leluhur kita adalah satu kesatuan integral yang saling mengadakan sebagi proses pembentukan realitas dunia yang sudah kita miliki sejak sebelum pemikiran modern mewarnai dunia kita, yang kini bersifat reduksionis dan mengusik tatanan sosial di negara-negara yang sedang berkembang menuju modern.

1. Reduksionis Modernisme dan Perubahan Sosial

Suatu dinamika perkembangan bisa disebut juga sebagai perubahan atau pembaharuan di dalam kehidupan ini selalu sering dihadapkan hanya pada persoalan pola oposisi biner, benar-salah, hidup-mati, atas-bawah, terang-gelap, dan seterusnya yang menjadikan bahwa segala hal di dalam pola pikir, tindakan, dan segala pemecahan di kehidupan ini menjadikan oposisi biner sebagai jawaban tunggal hingga memungkinkan tertutup, tertindas, terpecah-pecah, atau tereduksi dari realitas berbagai kemungkinan di celah antaranya yang terdapat ruang alternatif, tidak sekadar bahwa segala fenomena dan pemecahan di kehidupan ini adalah kalau tidak “ini” atau sebaliknya “itu” saja.

Hal di atas itulah yang melatarbelakangi penulisan makalah ini yang berisikan sejumlah masalah perubahan sosial dan tata nilai, yaitu :

a) Dekulturisasi, yaitu lunturnya semangat kearifan lokal yang immaterial spiritual-religius digantikan dengan material, individual-kapital. Sementara dekulturisasi di atas disebabkan oleh:
b) Pemisahan pola biner, yaitu tiadanya semangat sinergi, tiada integralitas pola biner/ dualisme. Selanjutnya logika pemisahan pola biner/ dualisme melahirkan:
c) Kecondongan peradaban patrilineal, peradaban yang mengagungkan sifat kelaki-lakian secara berlebihan dibanding perempuan.
d) Analitis-Reduksi pada realitas hingga mengarahkan manusia condong kepada faktor ekonomi dan teknologis belaka.

2. Rumusan Masalah dan Tujuan Penulisan

a. Peran aktif dalam memberikan kontribusi pada pengetahuan dan ilmu pengetahuan, bukan hanya sebagai objek yang pasif menerimanya.
b. Menawarkan integrasi yang lebih hidup, dinamis dan produktif, yaitu proses bergerak menuju menjadi (becoming) untuk memunguti jejak kearifan lokal.
c. Realitas sebagai proses terus menerus bagai di kehidupan ini yang terus menerus berubah menuju esensi kreativitas/ lelaku dan kagunan.

Untuk memecahkan “perlawan” terhadap hegemoni barat digunakan eksplanasi metodologi dengan metode posmodern dan poskolonial Homi K Bhabha, dan juga yang tidak menutup kemungkinan dikuatkan oleh beberapa semangat posmodern dan poskolonial yang lain. Kesemua itu tidak lain mengembalikan kepada pengetahuan yang sudah kita miliki sebelumnya, yaitu semangat kefalsafahan ketimuran sebagai bukan sekadar pemikiran (teori), tetapi lebih diarahkan kepada praktik lelaku sebagai kagunan..

II. MODERN MENUJU POSMODERN

Peradaban modern, berasal dari bahasa latin “moderna” yang berarti sekarang atau masa kini, tetapi banyak ahli menyatakan bahwa apa yang dikatakan modern telah lahir sejak sekitar abad ke-16 M, yaitu bahwa manusia yang sebelumnya kurang menyadari akan pengadaan perubahan-perubahan yang secara kualitatif baru, maka modernitas bisa diartikan bukan hanya merujuk pada periode melainkan juga sebentuk kesadaran terhadap perubahan.
Abad pertengahan dari abad ke-5 sampai abad ke-15 tidak dimasukkan ke dalam era modern karena abad itu tidak memiliki kesadaran terhadap perubahan, kemajuan, revolusi dan pertumbuhan tetapi masih berkesadaran transendensi ontotheologis, bahkan eskatologis, dan dogmatis, semua di bawah otoritas gereja dan penguasa saat itu. Sementara modern bersifat anthroposentris yang mana manusia menyadari dirinya sebagai subjek dan berani berfikir sendiri di luar tatanan otoritas dan tradisi yang bersemangat berfikir otonom, kritis menurut kapasitas dan peran diri sebagai subjek otentik yang mandiri.

Perkembangan nalar kefilsafatan dari abad pertengahan ke modern; dari sisi spiritual adalah transisi dari supranatural menuju deisme kemudian sekuler hingga atheis yaitu perkembangan yang semula bahwa manusia hanyalah objek bagi supranatural, objek dari kekuatan adi kodrati hingga berlanjut ke arah bahwa segala gejala alam yang ada termasuk di dalamnya manusia tiada ubahnya sebagai suatu sistem kerja mesin jam yang bergerak dengan sendirinya menurut kaidah sistemnya, yang mana bisa dikatakan bahwa Tuhan tidak lagi turut campur tangan mengatasi kehidupan ini. Setelah itu pemikiran berlanjut ke arah sekularisasi yang mana menganggap agama hanyalah penghambat perkembangan kebebasan manusia mengurusi dunia ini, mengesampingkan kekuatan adi kodrati (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse I).

Sementara perkembangan di ranah ilmu pengetahuan adalah transisi dari supranatural menuju dualisme yang berarti segala hal adalah merupakan oposisi dari hitam putih, jiwa-raga dan sebagainya yang selanjutnya terdapat pada kecondongan pemilihan rasional hanya pada salah satunya saja yang mengarahkan pada sifat materialisme yang memang faktual, positivistik yang mampu diserap indera saja yang lambat laun menuju hingga atheis (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse II).

A. Reduksi Modernisme dan Perubahan Tata Nilai

1. Reduksi Modernisme

Revolusi rasio, dominasi abad pertengahan mulai dipertanyakan sejak terjadinya revolusi Nicolaus Copernicus (1473-1543) yang mendobrak kosmologi geosentris yang kemudian menggantikannya dengan pandangan yang heliosentris, yang mana bukan bumi sebagai pusat tata surya tetapi matahari yang dijabarluaskan oleh Johannnes Kapler (1571-1630) tentang lintasan bumi mengedari matahari berbentuk elips dan diperkuat oleh pengamatan teleskop Galileo Galilei (1564-1642) bahwa lintasan gerak benda jatuh akan bergerak parabolik. Periode selanjutnya Isaac Newton (1643-1727) menunjukkan bahwa ketiga gerakan (heliosentris, elips, dan parabolik) itu adalah konsekuensi matematis dari sifat umum yang disebut sebagai gaya gravitasi. Sayangnya bersamaan dengan metodologi di atas menyusup pula asumsi filosofis yang ada di balik teori mekanika Newton yaitu materialisme reduksionistik, sehingga kehidupan, kesadaran direduksi menjadi gerak-gerak material mekanistik (Husain Hariyanto; 2003, xiv).

Atas dasar teori mekanikan Newton dan semangat Descartes yang mana mengetengahkan “cogito ergo sum”, adanya atau keberadaan manusia hanya tergantung “pikiran” yang berarti telah mengesampingkan kompleksitas kesatuan realitas bahwa manusia terdiri dari jiwa-raga, atau immaterial dan material. Keberlanjutan reduksi Cartesian melahirkan:
1.1. Determinisme, yaitu bahwa pengetahuan tentang segala hal tidak beda dengan sistem yang terjadi di dalam hukum alam yang sifatnya pasti.

1.2. Saintis-fragmentaris, sain sebagai primadona yang musti dikedepankan, tonggak segala kemajuan hingga berlanjut memunculkan spesialisasi parsial, realitas pengetahuan terpecah-pecah menjadi bagian-bagian yang seakan mencerabut dari kompleksitas dari realitas kehidupan.

1.3. Positivistik, pengetahuan yang sahih hanya berdasar aktualitas, rasionalitas yang berdasar pencerapan panca indera belaka, selebihnya di luar apa yang tidak aktual dikesampingkan bahkan ditolak (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse III).
Ontologi modern berpatok pada paradigma Cartesian-Newtonian yang telah usang, baik secara teori maupun praktek. Paradigma itu mengandung keterpilahan/ pemisahan pola biner, yaitu antara mitos dan logos, kesadaran dan materi, dikotomi subjek-objek yang hingga kini belum terselesaikan secara tuntas. Secara paradigma pemikiran Cartesian telah tergeser oleh teori kuantum- relativitas. Secara praktek Cartesian-Newtonian dianggap ikut bertanggung jawab atas terjadinya pemanasan global, krisis ekologi, alienasi dan dehumanisasi (Husein Heriyanto, 2003).

Tidak heran bila Mangunwijaya telah menyatakan bahwa kita telah diculik oleh peradaban modern, yang berarti dengan tiba-tiba dihadapkan pada suatu situasi yang amat asing dari perbandingan dengan peradaban kita yang bergagasan mitos, holistik-kosmik, spiritual-transenden, tiada pemisahan hitam-putih begitu saja kecuali integralitas bahwa manusia dan alam sebagai kesatuan, “ala lan apik kuwi apa anane, kabeh kuwi kersane Pengeran”, walau apa yang telah ditanamkan oleh nenek moyang kita tentang mitos sebagai arah kebijakan belum juga secara menyeluruh dipahami sebagai penghayatan berperilaku di dalam kehidupan ini.

Mite bergagasan mitos yang dimaksud bukan dalam perspektif klenik atau mistik, mitos yang dimaksud di sini adalah kearifan manusia dan alam seperti menurut van Peursen. Mitos adalah historisitas bagi kita, sedangkan yang bagi manusia modern/ manusia ontologis yang membangun sejarahnya sendiri telah menyingkirkan, menghapusnya secara periodik atau telah memberinya nilai yang rendah bagi mitos. Sementara bagi Mircea Eliade mitos adalah gerak kembali yang abadi, sebagai ontologi kuno, lebih tepatnya konsep ada dan realitas yang dapat dibaca (Mircea Eliade, 2002: 3). Kata lain mitos adalah sebentuk rasionalits pramodern; tidakkah filsafat berhutang budi pada mitos, yang mana mitos adalah bentuk antitesis dari tesis logos hingga menghasilkan sintesis ontologi modernitas. Mitos di atas bukan seperti mitos di dalam pemikiran semiotika Roland Barthes tentang mitologi. Mitos di dalamnya berarti tipe wicara (Barthes, 2006; 151), tetapi mitos yang dimaksud di sini seperti menurut van Peursen; adalah pemberi arah kelakuan, pedoman kebijaksanaan dan sekaligus partisipasi terhadap alam. Perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam (van Peursen, 1988; 37-41).

Terculik dari yang semula berkebudayaan mite yang bergagasan mitos yang tiba-tiba menjadi harus terpaksa, karena tidak mengalami proses pembentukan yang bertahap menuju kebudayaan ontologis yang bergagasan logos/ ilmu yang bahkan kita kini terlanjur telah memasuki era fungsional yang secara gagasan adalah relasi. Keterpaksaan, betapa tidak di dalam kajian poskolonial di tahun 1985 Gayatri Spivak mengecam kebutaan ras dan klas di dunia akademi barat dengan mengajukan pertanyaan “Dapatkah Subaltern Berbicara?”, subaltern yang dimaksud adalah subaltern yang tertekan yaitu klas-klas yang terhegemoni ala Gramsci (Leela Gandhi;2001, 1).

Max Weber (1864–1920) mengindikasikan bahwa perubahan di masyarakat terjadi secara linier dari pemikiran mistik menuju ke pemikiran rasional. Sedangkan van Peursen (1920- ) membagi ke dalam tiga kategori yaitu tahap kebudayaan mite yang bergagasan mitos, Ontologis yang bergagasan logos/ ilmu, dan fungsional yang secara gagasan adalah relasi (van Peursen; 1988, 19-23). Mangunwijaya menyatakan bahwa kita telah diculik oleh peradaban modern. Perubahan sosial dari mistik ke rasional/ ontologi yang terjadi bisa berarti berangkat dari kegamangan menerapkan ideasional baru (modern) yaitu belum terkuasainya gagasan-gagasan dasar dari yang secara tradisional dimiliki sebagai nilai-nilai dan makna akar dimensi mitos dan metafisik sebagai eksistensi hingga terlanjur tumbuhnya tahap rasional/ ontologis sampai tahap fungsional/ relasi. Karena tiadanya proses bertahap, seakan melompat yang tiada terselesaikannya di masing-masing level untuk menuju level selanjutnya yang tentu lebih kompleks.

2. Perubahan Tata Nilai

Pendapat dunia telah dipengaruhi oleh pemikiran Rene Descartes (1596-1650) dengan melihat alam semesta dari sebab-akibat (input-output) serta membagi alam menjadi kesadaran dan materi, atau benda hidup-benda mati, sehingga psikologipun membagi manusia menjadi psikis dan fisik (Tabrani; 2006, 6-7). Latar belakang penulisan penciptaan ini berisikan masalah, adalah: 1. Perubahan tata nilai/ dekulturisasi yang disebabkan pereduksian realitas kepada sekadar fenomena dari “ego” impersonal yang menampilkan aktivitas positivistik yang pada gilirannya sekadar fenomena dari materi. 2. Sejumlah pemisahan pola biner yang menjadikannya rigid, linier, dan absolut. 3. Kecondongan pada sifat patrilineal dan 4. analisa reduksionis.

2.1. Dekulturisasi

Perubahan, pergeseran, atau bahkan hilangnya tata nilai dan makna dari kearifan lokal yang tidak diindahkan, bisa berarti ketidakpahaman terhadap makna mitos; oleh karena kita sendiri yang lengah atau kehadiran asing yang secara bertubi-tubi menekan dan dengan sifatnya yang material-individualis telah menggeser tata nilai immaterial, spiritual-religius sebagai ideologi yang sudah dibangun dan dijalankan oleh nenek moyang.

Perubahan-perubahan itu dikarenakan kesenjangan atau tidak dipahaminya sebagai adab di dalam tingkah laku, pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat, kesenjangan antara penemuan teknologi dan pemanfatannya. Kesenjangan antara gagasan-gagasan baru dan penerapannya, adanya pertentangan individu terhadap nilai dan norma, kesenjangan antara adat istiadat yang sudah tertanam sejak dulu digantikan dengan sistem baru yang semula meditatif menjadi kesadaran, yaitu seperti yang dikatakan oleh Primadi Tabrani bahwa estetika timur adalah “estetika meditatif” sementara di barat menurut B. Bosanquet adalah kebudayaan dari luar yang merujuk pada “estetika kesadaran” (Tabrani, 2006; 247).
Perubahan, pergeseran, atau bahkan hilangnya nilai-nilai kearifan yang kini tidak diindahkan lagi yang kemudian digantikan pem’baharu’an yang terbentuk dari proses penyusutan yang tidak dipahaminya kebudayaan lampau menjadi kebudayaan baru. Memang dekulturalisasi tidak dapat diterangkan oleh hanya faktor tunggal sebagai penyebabnya. Perubahan tersebut dapat meliputi interaksi dan kesenjangan sosial, melemah atau monopoli perekonomian.

2.2. Pemisahan Pola Biner dan Dualisme

Pemisahan pola biner atau oposisi pola biner, diperkenalkan oleh anthropolog-strukturalis Claude Levi-Strauss yang berangkat dari analisa konseptual. Levi-Strauss di dalam Danesi menyatakan bahwa mitos sebagai sumber asli pengembangan pikiran konseptual terus bergaung dengan penggunaan oposisi pola biner yaitu; kehidupan vs kematian, baik vs jahat, masak vs mentah (Danesi, 2010; 212).

Lebih lanjut dikatakan bahwa oposisi pola biner juga bisa berarti dualisme; antara lain pemisahan jiwa vs raga, mitos lampau vs rasional, atas vs bawah, lelaki vs perempuan, profan vs sakral, isi vs bungkus, kebutuhan vs keinginan, transendensi vs imanensi, theosentris vs antroposentris, yang tidak lain bahwa anggapan semua hal/ “teks” akan selalu dipertentangkan yang mengakibatkan rigid, infleksibel, dan linier. Pemisahan pola biner menjadikan ketertutupan untuk memilih di antaranya. Kita harus memilih hanya salah satu saja, tiada ruang alternatif sebagai pilihan. Maka kalau tidak “ini” hanya “itu” saja. Bila pilihan terjadi di antara itu adalah plin-plan, abu-abu, dan tidak bermutu (Primadi, 2006; 121).
Masyarakat modern sebagian tidak lagi mengindahkan makna spiritual (ekologi dalam). Menurut Fritjof Capra: alam dan diri adalah satu, bukan logis tetapi psikologis, penghantar kita dari kenyataan, bahwa kita adalah integral dari jaringan kehidupan menuju norma-norma tentang bagaimana seharusnya hidup (Capra, 1985; 42).

2.3. Dominasi Peradaban Patrialkal

Logika pemisahan pola biner/ dualisme yang tanpa sinergi dan integralitas menjadikan absolut, bersifat dominan hingga cenderung melahirkan pemahaman bahwa laki-laki adalah rasional dibanding perempuan yang intuitif. Lelaki lebih analitis dibanding perempuan yang sintesis, lelaki maskulin dan perempuan feminin. Dengan begitu terjadilah pergeseran makna yang kemudian melahirkan kecondongan peradaban menuju peradaban milik lelaki/ patrilineal yang memberikan peran-peran penting yang berlebih pada kaum lelaki dibanding perempuan (Capra, 2000; 27).

Pertumbuhan peradaban patrialkal menurut Alan W Watts (1915-1973) seorang pendeta yang telah memperkenalkan Taoisme Cina dan hikmah ketimuran di tahun ‘60an di dalam Primadi Tabrani tidak lain tumbuh dari perkembangan kerajaan-kerajaan absolut dengan hak-hak istimewanya, revolusi rasio melalui revolusi industri, mekanisasi, revolusi sosial, dan sebagainya ikut mempengaruhi perkembangan ini. Dari baratlah kita menerima prinsip-prinsip bahwa Tuhan, jiwa (spirit dan soul), keagungan, kebaikan, kesadaran, rasio dan sebaginya diasosiasikan sebagai laki-laki (bahkan manusia, kemanusiaan, humanitas, disebut sebagi man). Sedangkan prinsip-prinsip alam, materi, seks, dosa, kejahatan, ketidaksadaran, intuisi, emosional dan sebagainya diasosiasikan dengan perempuan (Tabrani; 2006, 104).
Lebih jauh Primadi Tabrani mengungkapkan dengan terinci mengenai kecondongan dominasi patrilineal mencakup rasional, eksploitatif, mementingkan indera penglihatan, seks, dan non ekologis (Tabrani, 2006; 103). Secara esensi konstruksi dunia seakan hanya bersifat kelaki-lakian yang lebih mementingkan rasio daripada intuisi, dan hanya mementingkan penginderaan mata sebagai alat satu-satunya yang mampu melihat dunia secara empiris, seakan meniadakan indera-indera lainnya. Ernst Cassirer menunjuk pada pandangan bahwa modernitas menyebabkan semua perbedaan konkret yang ditimbulkan oleh penginderaan langsung ditiadakan; dimensi hanyalah ruang-lihat, tiada ruang-rasa, tiada ruang-dengar, dan tiada ruang-aroma (Cassirer, 1997; 68). Begitu pula dalam “Seni dan Humanitas”, Primadi Tabrani menyatakan:

“Semua tidak terlepas dari cara barat memandang jiwa dan tubuh yang bahkan memiliki perspektif peniadaan jiwa. Padahal pencerapan manusia timur amat berbeda dengan manusia barat yang menggunakan penglihatan mata seakan cermin dari objektif rasional yang hanya mengerti dan memahami yang melepas dari proses mencerap dan menghayati, dimana alam dipisahkan dari spiritual. Mata dinilai paling tinggi bahkan di atas pikiran. Sedangkan manusia timur di dalam tingkat penyerapannya lebih merupakan sintesa, integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme dinamis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos (wholeness)” (Tabrani, 2006; 176).

2.4. Analitis-Reduksionis

Problem kemanusiaan secara glogbal tidak terlepas dari pembentukan proses saling keterkaitan satu sama lain, yaitu kesalingterhubungan dan kesalingtergantungan di berbagai aspek di dalam kehidupan itu sendiri. Ironisnya kecenderungan global tidak hanya bisa dijelaskan dari sudut Cartesian-Newtonian saja, karena paradigma tersebut bersifat analitis-reduksionis (Husein Heriyanto, 2003; 6).

Pergeseran nilai-nilai yang dulu di masyarakat begitu luhur hanyalah menjadi sekadar terlantar belaka yang tidak diindahkan, tidak diterapkan dan kemudian tiada dijalankannya sebagai perilaku. Kesemua itu kemungkinan bermula dari hilangnya sebentuk kepribadian yang tidak menumbuhkan pondasi-pondasi selanjutnya yaitu identitas dan kekhasan yang terangkum dalam penghayatan jati-diri manusia.
Kemirisan menurunnya budi pekerti seperti terdapat pada istilah “pinter keblinger” dan menurunnya tata krama sebagai nilai-nilai yang musti ditolak yang kemudian mengindahkan memperjuangkan etika kearifan untuk dihidupkan. Begitu juga bahwa “keseragaman” menjangkiti kesenian, seperti sehari-hari yang kita tonton juga baik di telivisi, internet atau fenomena keseharian menunjukkan hal yang sama, yaitu keseragaman bahasa ungkap yang menurut Baudrillard di dalam Haryatmoko, yaitu segala hal adalah manipulasi, konsumtif, simulasi dan hiperrealitas (Haryatmoko, 2016; 63-82).

Mike Featherstone lebih lanjut menyatakan pertama, bahwa ekspansi produksi dipandang meningkatkan kapasitas untuk melakukan manipulasi ideologi dan seduktif. Kedua, benda-benda konsumsi telah menciptakan ikatan-ikatan atau pembedaan masyarakat. Ketiga, adalah kesenangan secara emosional untuk konsumsi, kesenangan jasmaniah dan kesenangan estetis (Featherstone, 2001; 30). Baudrillard di dalam Haryatmoko menyatakan, bahwa dalam hal aktualisasi informasi bersifat mendramatisir, penyangatan keadaan menjadi berlebih hingga sampai spektakuler yang di dalamnya terdapat reduksi yang berbentuk pengemasan pesan dan menggunakan sifat dasar manusia akan keingintahuan yang berarti eksploitasi psikologis akan keinginan, keinginan tahu sebagai pembebasan dan konsep (Haryatmoko,2014;1); artinya baik Baudrillard ataupun Featherstone mengisyaratkan tiada suatu ideologi luhur yang perlu diperjuangkan. Semua hal sudah terkoding oleh komodifikasi, materialisme dan individualisme.

Perubahan demi perubahan pada suatu bangsa di mana pun memang tidak bisa disangkal atau dihindari. Perubahan akhirnya menghasilkan selisih antara pemikiran tradisional dan modern, pertentangan antara mitos dan rasio, pertentangan adat istiadat yang sejak semula tertanam sebagai kepemilikan/ lokal genius yang sudah mentradisi sebagai immaterial spiritual-religius dibandingkan dengan pranata masyarakat modern yang material, individual-kapitalistik.

B. Modern Menuju Posmodern Yang Plural

Di awali dari kritik Karl Marx (1818-1883) terhadap modern-kapitalis yang melahirkan penindasan dan ketimpangan-ketimpangan dalam struktur model sosial yang terkonstruk “Determinis Ekonomisme”, artinya bahwa kebebasan manusia telah terkooptasi oleh “Basic Structure” ekonomi yang kemudian mempengaruhi “Super Structure” yang mendukung leluasanya pergerakan penumpukkan modal bagi kalangan borjuis. Tetapi bagi Louis Althusser (1918-1990) tidak begitu, Struktur Dasar yaitu ekonomi tidak selalu secara langsung mempengaruhi struktur dibawahnya, karena sifat manusia sendiri memiliki beragam variabel yang memungkinkan bukan hanya faktor ekonomi sebagai penentu tunggal, tetapi banyak hal kecondongan seperti spiritual, budaya dan pengaruh lingkungan sosialnya (Louis Althusser, 2010; 14).

Perubahan dunia sosial kadang tidak teramalkan sehingga tidak bisa dimutlakan begitu saja bahwa hanya ekonomi sebagai dasar dan tujuan akhir. Dunia sosial di dalam prosesnya tidak begitu saja layakyanya sain eksak murni yang keras dan pasti sifatnya, terbentuknya dunia sosial tidak lain adalah faktor kesepakatan. Lebih lanjut Althusser menggarisbawahi adanya ideologi yang secara tak sadar telah menggerakkan modernitas ke arah yang sekarang menjadi melenceng jatuh pada kapitalisme. Ideologi adalah sebentuk representasi dari hubungan imajiner dan ideologi bukanlah merupakan representasi dari realitas nyata di dalam kehidupan di dunia ini. (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Semua Berideologi, Louis Althusser)
Setiap orang telah menyerap, menginternalisasikan ideologi di dalam dirinya, sehingga seseorang tidak sadar di dalam pengambilan keputusannya karena ia telah dikuasai oleh ideologi dari modernisme. Bagi Althusser ideologi tidak merefleksikan realitas, kecuali justru mendistorsi, katakan sebagai contoh terhadap kemajuan ekonomi dewasa ini secara riil adalah sebentuk eksploitasi dan alienasi kemanusiaan. (George Ritzer, 2004). Banyak ilmuwan juga menyebut ideologi sebagai “topeng”, “pain killer”, ataupun “ilusiory representation” yang kesemua hanya mengacu kepada kesenangan, bebas ketegangan untuk menguatkan status quo para penumpuk modal, kapitalisme (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Semua Berideologi, Louis Althusser).

Ketidaksadaran manusia modern telah tersusupi oleh ideologi yang oleh Antonio Gramsci (1891-1937) dijabarkan luas dengan pengertian “hegemoni”. Terbentuknya hegemoni bila kekuasaan hanya dicapai dengan mengandalkan pemaksaan/ dominasi walau akhirnya dominasi tidak akan berlanjut secara terus-menerus karena masyarakat makin mengerti bagaimana represi dan dominasi adalah sebentuk kekerasan. Untuk tetap melanggengkan status quo maka penguasa menggantikannya dengan perangkat yang lebih lunak “manusiawi” yang mana daya tekannya melalui “persetujuan”/ konsensus yang mencakup beberapa jenis penerimaan intelektual atau emosional atas tuntutan sosial-politik yang ada. (fahruddin Faiz, ngaji filsafat Hegemoni). Lebih lanjut tahap hegemoni merupakan suatu tahapan arah menuju perjuangan sampai pada kesadaran yang tidak hanya didasari oleh kebutuhan ekonomi belaka, melainkan koheren dalam konsepsi ekonomi, politik, sosial dan budaya.

Kesadaran baru di era modern ditandai dan dimulainya Revolusi Industri diperkenalkan oleh Friedrich Engels dan Louis-Auguste Blanqui di pertengahan abad ke-19. Beberapa sejarawan abad ke-20 seperti John Clapham dan Nicholas Crafts berpendapat bahwa proses perubahan ekonomi dan sosial yang terjadi secara bertahap dan revolusi jangka panjang adalah sebuah ironi (Berg, Maxine; Hudson, 1992). Produk domestik bruto (PDB) per kapita negara-negara di dunia meningkat setelah Revolusi Industri dan memunculkan sistem ekonomi kapitalis modern. Revolusi Industri menandai dimulainya era pertumbuhan pendapatan per kapita dan pertumbuhan ekonomi kapitalis (Lukacs, 2003).

Berawal dari pramodern berlanjut ke era klasik diawalinya tumbuh suburnya penalaran logis rasional, hingga dilanjutkan kembali di era renesans hingga kini melampaui revolusi industri yang membangun kesadaran baru yang bagi Herbert Marcuse (1898-1979) tidak ubahnya kembali ke pada mitos yang bergaya baru, sebagai kritik keras terhadap paradigma modern, yaitu:

1. Subjektivitas Reflektif, merujuk pada Foucault bahwa hasrat subjektif menyembunyikan kepentingan dan kekuasaan, di sini terdapat relasi kuasa yang melahirkan totaliter.
2. Subjektivitas Kritik, sering menjadi usaha totaliter ke arah ideologi tertentu, contoh Marxis dan positivistik yang semula netral bebas nilai yang kemudian menjadi totaliter.
3. Keadaran Sejarah, kisah kemajuan linier seringkali menjadi senjata untuk memaksa manusia untuk meyakini adanya subjek historis yang mengontrol penghayatan makna individu ke dalam suatu dunia kebersamaan yang homogen, salah satunya adalah penggiringan ke arah menuju sejarah linier yang bersifat penyeragaman. (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modern Herbert Marcuse IV).

Kritik terhadap kesadaran baru bagi Marcuse masih berlanjut pada penolakan narasi besar/ narasi tunggal (Lyotard) yang mana tidaklah benar bahwa terdapat narasi tunggal yang mutlak kebenarannya, karena variabel perubahan tidak mungkin hanya satu-satunya karena kebenaran yang ada adalah sebentuk dari konstruksi sosial yang beragam bentuk adanya. Tidak ada narasi tunggal sebagai pusat tetapi terdapat pusat-pusat yang beragam dengan segala keunikannya yang tersendiri (Sense of Fragmentation, Decentered Self). Maka tidak heran terjadinya benturan antar identitas (Multiple Conflicting Identities), yang beda “the Other” dianggap liyan, dianggap salah hingga dibutuhkannya suatu ideologi tunggal. Dan selanjutnya bagi Marcuse bagaimana dunia baru membentuk juga kesadaran baru akan adanya logika Mass Mediated Reality, realitas dunia media yang lebih menyibukkan manusia modern tertumpu pada dunia non nyata ini, yaitu dunia semu (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse II).

Marcuse menamai masyarakat modern ini sebagai masyarakat teknologis, yang mana peran manusia tidak menonjol lagi, semua digantikan teknologi sehingga manusia teralienasi dari kemanusiaannya. Teknologi telah menggerakkan tujuan kemanusiaan kita, bukan sebaliknya walau sebenarnya manusialah pencipta teknologi itu, sehingga wajar menjadi bahwa teknologi bukanlah alat atau sarana pembebasan, namun justru sebagai sarana penindas manusia itu sendiri (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse I).

Ciri masyarakat teknologis bagi Marcuse, pertama adalah bahwa masyarakat di bawah kekuasaan prinsip teknologis yaitu manusia sebagai tumpuan memperlancar, memperluas dan memperbesar produksi. Kedua, masyarakat menjadi irasional secara umum yang mana produktivitas dan destruktivitas adalah seperti dua sisi dalam satu mata uang, misalnya produksi senjata dan sekaligus tuntutan akan perdamaian. Masyarakat modern “rasional dalam detil, tetapi sekaligus irasional dalam keseluruhan”. Ketiga bercirikan manusia hanya berdimensi satu, semua segi kehidupan hanya diarahkan kepada satu tujuan; menjalankan dan melanggengkan sistem yang telah berjalan, yaitu sistem kapitalis dengan dasar rasional teknologis. Keempat, semua sisi kehidupan di luar sistem (kemanusiaan, kebebasan, otonomi dan hubungan sosial) hanya menjadi alat untuk mempertahankan status quo di atas (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas, Herbert Marcuse III).

C. Kerangka Poskolonial

Poskolonial, biasa juga dituliskan dengan postkolonial atau pasca kolonial. Post berarti melampau/ sesudah dan kolonial adalah penjajahan. Kerangka pikir poskolonial secara umum terlahir dari teori-teori sebagai reaksi atas kuasa budaya yang ditimbulkan oleh kolonialisme. Bila membicarakan poskolonial tidak bisa begitu saja terlepas dari pemikiran Orientalis dari Edward W Said (1935-2003). Dikatakan di dalam Orientalis bahwa kolonialisme telah mengkonstruksi terjadinya dikotomi barat dan timur yang tidak saja menyesatkan tetapi juga menyakitkan. Dikotomi ini merupakan kesengajaan yang direpetisi dan dikuatkan oleh para orientalis melalui wacana-wacana tentang timur baik dalam teks imajinatif, teks intelektual, teks jurnalistik, maupun dalam teks politik yang tidak lain untuk melanggengkan kuasa barat atas timur (Said, 1978).

Wacana kolonial menarasikan masyarakat pribumi seolah menulis di atas kertas kosong tentang masyarakat. yang sama sekali belum ditandai yang kemudian kolonial memberikan tanda/ nama, mencirikan dan mengkaji masyarakat terjajah dalam kerangka kerja dan aturan-aturan yang telah mereka tentukan. Mereka para penjajah memiliki otoritas penuh untuk menciptakan gambaran masyarakat pribumi, yaitu dengan jalan mengkonstruksi masyarakat pribumi menurut kehendak dan tujuan-tujauan kekuasaannya.

Wacana setara orientalis tidaklah serta merta muncul begitu saja yang kemungkinan diilhami oleh pemikiran Frantz Fanon di dalam “The Fact of Blackness” (1952) dan Aime Cesaire di dalam “From Discourse of Colonialisme” (1955) dan jelas dipengaruhi oleh hegemoninya Gramsci, tentang hegemoni dan kelas subaltern yaitu kelas-kelas bawah, rendah dan kelas yang terpinggirkan yang menyatakan bahwa konstruksi pengetahuan orang-orang eropa tentang non eropa adalah bagian dari proses mempertahankan hegemoni eropa atas pihak-pihak yang lain. Juga andil Michel Foucault (1926-1984) tentang barat dan timur lebih merupakan konstruksi wacana daripada sebuah dialog yang seimbang, karena semua ilmu pengetahuan adalah satu bentuk ekspresi “kehendak untuk berkuasa”. Maka selanjutnya Said menajamkan bahwa kaum orientalis saling “kutip-mengutip” sehingga membantu diskursus orientalisme melakukan self generating, beranak-pinak, dan dikembangbiakkan oleh dirinya sendiri.

Dimulai dari Gayatri C Spivak (1942- ) atas pertanyaannya,”Can Subaltern Speak?” (1983), subaltern menjadi objek hegemoni dari kelas-kelas yang berkuasa melalui praktik eksploitasi dan penindasan. Bagi Spivak bahwa hal di atas sebagai kekerasan epistemik yang mana adanya dominasi struktural muncul dari suatu sistem pembagian kerja internasional. Lebih lanjut, problem ini dimulai dari posisi subaltern yang tidak memiliki bahasa nya sendiri yang original sebagai pengungkap atas realitas subalternannya sendiri, karena posisi subaltern telah tidak sadar terhegemoni hingga mewarisi pola pikir penjajahnya sehingga posisi subaltern akan terus tertekan dengan berbagai praktik penjajah gaya baru yang terus direproduksi. Suara subaltern tidak ada karena memang tidak bisa bicara dan sementara para penguasa (sebagai penjajah bergaya baru) tidak mau mendengar (Spivak, Essay “Can the Subaltern Speak?”, tt).

Selanjutnya Homi K Bhabha (1949- ) di dalam penajaman metode poskolonial menteorikan tentang ambivalensi, mimikri, hibriditas dan liminalitas yang digunakan sebagai metode eksplanasi di dalam makalah “Melawan dan Mempertimbangkan Hegemoni Barat”. Bhabha melemparkan teori :

1. Ambivalensi, interaksi kaum terjajah dan penjajah memunculkan “kemenduaan” yang melahirkan perselingkuhan budaya.
2. Mimikri, upaya masyarakat/ kelompok lokal yang meniru/ mengimitasi kebudayaan modern yang ditampilkan dalam gaya berbicara, bersikap, dan citra budaya lainnya. Hal ini dilakukan oleh kelompok lokal subaltern agar mendapatkan akses yang sama dengan kelompok yang memiliki kekuasaan dalam hal ini penjajah.
3. Hibrida, percampuran budaya antara barat dan timur, pribumi dan penjajah suatu kelompok pribumi yang memiliki keseimbangan atribut budaya lokal dan barat. Sementara hibriditas terktegori lebih detil:
a. Hibriditas bahasa, menggunakan bahasa penjajah untuk dicerap sebagai bahasa yang juga digunakan oleh pribumi/ terjajah.
b. Hibriditas literatur, memahami cerita, informasi, gaya penulisan literatur sebagai bahan inspirasi untuk menciptakan literatur-literatur yang menggambarkan kondisi sosial, budaya, dan politik masyarakat pribumi yang menjadikannya sebagai perubahan menuju kemerdekaan dari belenggu penjajahan secara fisik dan psikologis.
c. Hibriditas Budaya, percampuran antara intetitas lokal dan barat yang menumbuhkan seni, cara berpakaian, lagu, makna, cara bersikap, cara berpikir, dan sebagainya.
4. Liminalitas, yaitu ruang antara sebagai ruang interaksi simbolik, sementara garis pemisah tidak pernah tetap dan tidak diketahui batas dan ujungnya.

III. POSMODERN-POSKOLONIAL MENUJU KEARIFAN LOKAL

Di dalam bab sebelumnya, Mangunwijaya menyatakan bahwa kita telah diculik oleh peradaban modern. Perubahan sosial dari mistik ke rasional/ ontologi yang terjadi bisa berarti berangkat dari kegamangan menerapkan ideasional baru (modern) yaitu belum terkuasainya gagasan-gagasan dasar dari yang secara tradisional dimiliki sebagai nilai-nilai dan makna akar dimensi mistik dan metafisik sebagai eksistensi hingga terlanjur tumbuhnya tahap rasional/ ontologis sampai tahap fungsional/ relasi. Karena tiadanya proses bertahap, seakan melompat yang tiada terselesaikannya di masing-masing level untuk menuju level selanjutnya yang tentu lebih kompleks.

Perubahan-perubahan itu dikarenakan kesenjangan atau tidak dipahaminya sebagai adab di dalam tingkah laku, pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat, kesenjangan antara penemuan teknologi dan pemanfatannya. Kesenjangan antara gagasan-gagasan baru dan penerapannya, adanya pertentangan individu terhadap nilai dan norma, kesenjangan antara adat istiadat yang sudah tertanam sejak dulu digantikan dengan sistem baru yang semula meditatif menjadi kesadaran, yaitu seperti yang dikatakan oleh Primadi Tabrani bahwa estetika timur adalah “estetika meditatif” sementara di barat menurut B. Bosanquet adalah kebudayaan dari luar yang merujuk pada “estetika kesadaran” (Tabrani, 2006; 247).
Pythagoras (570-495 SM) mengkategorikan adanya kebijaksanaan sebagai tujuan hidup dan berkehidupan, yaitu: 1. Cinta Kebijaksanaan 2. Cinta Kekuasaan 3. Cinta Kesenangan, tentunya semangat kebijaksanaan itu setara dari apa yang nenek moyang kita wujudkan dengan sebentuk “kearifan lampau” sebagai kebijaksanaan lokal yang sudah tertera di dalam serat Wedhatama yang berestetika meditatif yang bersifat immaterial/ spiritual-transenden.
Reduksi yang dilakukan modernisme terhadap modernitas yang semula netral dan bebas nilai sebagai perjuangan memanusiakan manusia, kini keadaan berbalik menjadi dehumanisasi bahkan mengaleinasi manusia itu sendiri. Dimulai dari analisis Althusser atas ideologi yang merupakan bukan representasi dari realitas nyata di dalam kompleksitas kehidupan ini yang telah menyusup secara sadar atau tidak sehingga menggerakkan modernitas ke arah melenceng hingga jatuh pada kekuasaan kapitalis. Sementara Gramsci menajamkannya bahwa pola ketidaksadaran ideologi itu sebagai sebentuk hegemoni yang tidak lagi bersifat menekan, memaksa secara kasar, tetapi lebih lunak dan sopan menelusup di ranah wacana dan psikologis (Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Hegemoni Antonio Gramsci I)
Berlanjut Marcuse di lain sisi mengkritisi masyarakat modern yang menyatakan bahwa modernisme menggiring kepada manusia satu dimensi, yaitu manusia yang teralienasi oleh teknologi, ironisnya terasingkan dari teknologi yang diciptakan manusia itu sendiri. Lebih lanjut Marcuse menyatakan:
“Pemikiran satu dimensi secara sistematis dikembangkan oleh para pembuat politik dan penyedia informasi massa. Semesta wacananya dipenuhi dengan hipotesis validasi-diri yang secara terus menerus dan monopolis terulang, menjadi definisi dan pendiktean yang melenakan” (Marcuse,2000: 21)

Mengenai pembuat keputususan politik dan penyedia informasi massa yang sudah tersistemik oleh kapitalis barat yang terus menerus memonopoli sebagai bentuk pendikteaan yang melenakan, maka di dalam makalah ini bagaimana cara “melawan” dan sekaligus mempertimbangkan untuk menjadi sebentuk pembebasan digunakannya metode posmodern-poskolonian dari metode teorinya Bhabha, dikatakan bahwa fenomena budaya kontemporer merepresentasikan bentuk-bentuk simulakra sebagi presentasi yang mana tidak ada perspektif kedalaman, hanya sebentuk selebrasi permukaan, ketiadaan epistemologi, kurangnya historisitas dan sebentuk budaya kolase. Begitulah adanya metode poskolonial yang memproduksi wacana dominan untuk “mempelesetkannya” untuk menggoyahkan kemampuan wacana dominan serta mengganggu efektivitas strategi dominan. Lebih lanjut di dalam strategi metodenya adalah mendobrak supremasi barat, meruntuhkan narasi besar, dan memamerkan keunikan non barat dan yang juga sekaligus pararelisme. (Bhabha,2003)

A. Ambivalensi

Interaksi kaum terjajah dan penjajah memunculkan “kemenduaan” yang melahirkan perselingkuhan budaya. Subjek penjajah juga bersikap ambivalen. Di satu sisi, tidak mau menerima sepenuhnya subjek jajahan yang ter-barat-kan karena ketika perbedaan-perbedaan kultural sudah tidak ada lagi lingkaran kekuasaan yang mereka ciptakan bisa menjadi rusak. Tidak ubahnya kita di saat ini yang beridentitas ambigu, dinyatakan bergaya barat modern juga tidak karena memang barat bukan sekadar style tetapi meliputi juga cara pandang dan berpikir, sementara ambiguitas terlihat pada gaya materialis kita atas pemilihan cara pandang dan gaya hidup.

Kata ambivalen atau ambiguitas bukanlah dalam format ragu-ragu, karena secara faktisitas kita sudah terculik dan kini tetap justru akan diingatkan kembali oleh datangnya para penjajah sehingga bagaimana kearifan lampau akan kita gali kemudian diaktualkan kembali dan sebagai pembanding bahwa kita juga sudah mempunyai yang kini sekaligus bertemu untuk diintegralkan dengan format rasional penjajah.

Dalam arti positif kita menemukan diri pada momen kemenduaan di mana ruang dan waktu saling melintasi tiada batas yang jelas untuk memproduksi figur-figur kompleks dari perbedaan dan identitas, yang di dalam dan yang di luar, inklusi dan eksklusi, di sini dan di sana, ke belakang dan ke depan. Apa yang secara teoretis inovatif dan secara politis amat mendesak adalah kebutuhan untuk berpikir melampaui narasi-narasi terkait sebagai subjektivitas asli dan awal serta memfokuskan pada momen-momen atau proses-proses yang diproduksi dalam artikulasi perbedaan kultural untuk menuju proses yang semakin kompleks atau kata lain bahwa identitas adalah suatu pergerakan di dalam proses.

B. Mimikri

Upaya masyarakat/ kelompok lokal yang meniru/ mengimitasi kebudayaan modern yang ditampilkan dalam gaya berbicara, bersikap, dan citra budaya lainnya. Hal ini dilakukan oleh kelompok lokal subaltern agar mendapatkan akses yang sama dengan kelompok yang memiliki kekuasaan dalam hal ini penjajah. Di dalam sejarah kebangsaan kita, pengimitasian ini semula diperuntukkan buat kepentingan mengisi kepegawaian-kepegawaian tingkat rendah di kantor-kantor penjajah untuk membantu kepentingan administrasi mereka. Kemudian atas desakan politik “balas budi” Belanda terhadap kita yang pribumi. Maka mereka menyediakan pendidikan-pendidikan rendah bagi yang berderajad menengah, dan pendidikan tinggi bagi yang berderajad priyayi untuk mengenyam pengetahuan yang sedang berlaku di dunia. Tetapi bagaimanapun semangat nasionalis anak-anak bangsa yang telah terdidik dengan pengetahuan dunia maka tidak heran mereka yang semula sekadar bersifat “imitasi” kemudian mengembangkan kepribadian bagaimana seharusnya sikap dari masyarakat yang tertindas, terjajah yang kemudian melahirkan semangat pembebasan sebagai sarana mewujudkan gerbang kemerdekaan.

C. Hibriditas

Percampuran budaya antara barat dan timur, pribumi dan penjajah suatu kelompok pribumi yang memiliki keseimbangan atribut budaya lokal dan barat. Saya kira sikap hibriditas bukanlah asing bagi sejarah kebangsaan kita, sebagaimana kelanjutan dari sikap mimikri. Sementara hibriditas terjadi pada bahasa, literatur, dan budaya.

Hibriditas bahasa, di jaman dulu banyak manyarakat kita atau kalau pun masih ada sisa-sisa dari generasi para priyayi dan generasi dari orang-orang kaya jaman dulu yang memiliki rumah “loji” adalah masyarakat kita yang setidaknya mengetahui bagaimana penggunaan bahasa Belanda baik struktur dan kosa katanya yang kemudian diserap sebagai bahasa ke dua di nusantara. Di dalam terjadinya hibriditas bahasa tentu sekaligus terjadi hibriditas literatur, dimana masyarakat kita yang telah menyerap struktur dan logika penjajah (modern) memngetahui informasi, gaya penulisan literatur baik pengetahuan umum ataupun seni sebagai bahan inspirasi untuk menciptakan literasi bagi kita sendiri yang terjajah bagaimana kita bisa menggambarkan masyarakat sosial, budaya, politik kita sebagai masyarakat pribumi yang sedang berkembang saat itu dan juga bagaimana kemungkinan bagi akan datang.
Dalam arti tertentu, keakademisan kita yang mengusung tradisi barat modern yaitu sikap ilmiah adalah juga sebentuk dari hibriditas. Hingga kini kita tahu benar bagaimana pengetahuan dunia dan tentu diharapkan memiliki ruang liminalits sebagai pemahaman untuk bisa mengatasi secara kontekstual dari waktu dan kondisi yang sedang kita alami kini sebagai sudah terlanjur posmodern.

Hibriditas budaya, percampuran budaya antara entitas lokal dengan barat, kita mengenal bagaimana pengetahuan umum dan seni yang berkembang saat itu, juga menyangkut bagaimana kita akhirnya berpakaian, berpikir, bersikap seperti sekarang ini adalah hasil dari sebentuk hibriditas, dan kekayaan hibriditas tersebar sebagai peninggalan yang berupa candi dan sebagaian adat istiadat yang berkarakter bangsa-bangsa di nusantara.

D. Liminalitas

Ruang antara sebagai ruang interaksi simbolik, sementara garis pemisah tidak pernah tetap dan tidak diketahui batas dan ujungnya, kata lain sebagai jembatan. Model liminalitas untuk menghidupkan ruang persinggungan antara teori dan praktek kolonisasi suatu ruang yang tidak memisahkan tetapi sebaliknya menjembatani hubungan timbal balik (reciprocal) antara keduanya, yaitu teori dan praktek. Pentingnya liminalitas untuk teori pascakolonial adalah ketepatgunaannya untuk mendeskripsikan suatu “ruang antara” di mana perubahan budaya dapat berlangsung: ruang antar budaya dimana strategi-strategi kedirian personal maupun komunal dapat dikembangkan, suatu wilayah di mana terdapat proses gerak dan pertukaran antara status yang berbeda-beda yang terus-menerus.

Demikianlah dalam kondisi tak terelakkan masuknya budaya asing lewat arus kultur global sesungguhnya bisa dipahami sebagai bagian dari proses akulturasi menjadi identitas kultural bagi bangsa ini. Dalam memutuskan identitas yang kian rumit setidaknya Homi K Bhabha memberi kontribusi besar yaitu mendekonstruksi model dominasi dua kutub penjajah x terjajah sekaligus merekonstruksi pola relasi di antara keduanya.

IV. METODOLOGI POSMODERN-POSKOLONIAL

Untuk menjawab rumusan masalah di dalam makalah “Melawan Sekaligus Mempertimbangkan Hegemoni Barat”, yaitu: 1. Peran aktif dalam memberikan kontribusi pada pengetahuan dan ilmu pengetahuan, bukan hanya sebagai objek yang pasif menerimanya. 2. Menawarkan integrasi yang lebih hidup, dinamis dan produktif, yaitu proses bergerak menuju menjadi (becoming), memunguti jejak kearifan lokal. 3. Realitas sebagai proses terus menerus bagai di kehidupan ini yang terus menerus berubah menuju esensi kreativitas/ lelaku dan kagunan yang disimpulkan pada penutup.

A. Aktualitas Dada

Bermula Duchamp melemparkan urinoir yang tertanda R. Mutt (1917), sejak itulah manusia disadarkan oleh eksistensinya sebagai keutuhan dan totalitasnya; yaitu menguak tabir kemenangan manusia mengatasi waktu. Bukan berarti saya katakan bahwa melihat dan belajar adalah sekaligus pengekoran, kita sebetulnya tentang semangat modernitas belum sepenuhnya menguasai yang mana terdapat suatu fase kedisiplinan/ runtutnya konstruksi pemikiran linier yang menghasilkan kebaharuan demi peradabannya, walaupun hegemoni barat sendiri terdapat arogansi terhadap timur yang tak lagi “boleh” memiliki/meneruskan dari apa yang telah dirintis oleh barat. Padahal dari yang pernah dilakukan barat lewat Van Gogh pada art noveau ala cetakan grafis Jepang, Gauguin pindah ke Havana, Klee yang pernah ke Maroko, Picasso atas patung Iberia, Vassarely pada tradisi geometris timur tengah dan amerika latin juga tidak lagi menyuarakan bahwa hal itu terinspirasi oleh timur, terlepas dari polemik semacam itu tentunya juga tak akan pernah selesai.

Semangat Post-Modern yang telah membongkar tatanan barat sebagai pusat kebudayaan dunia telah dihapuskan dengan beberapa himpunan reaksi yang begitu tajam dan menarik, yaitu menunjukkan atau “membongkar” bagaimana filsafat barat menjadi pusat (walaupun sering disalah tafsir sebagai penolakan terhadap modernitas; chaos dan meragukan berbagai kepastian). Lyotard menyatakan bahwa tidak pernah bersikap anti modernitas, tetapi radikalisasi dari modern atau bukan suatu penghancuran modernisme tetapi membangkitkan kembali dari apa-apa yang laten dan tertindas di dalam modernitas oleh Harvey di dalam Yasraf. Foucault lebih tajam lagi bahwa subjek terbentuk dari mekanisme dan kontrol institusi/ lembaga negara sehingga kekuasaanlah yang menciptakan pengetahuan, jadi manusia hanya sebagai subjek yang tidak pernah menjadi agen murni dalam sejarah modernisme. Diteruskan oleh Lyotard bahwa modernitas tidak mementingkan apakah sesuatu itu benar tetapi apakah sesuatu itu berguna dan dapat dijual, sehingga pendidikan akan kehilangan dunia idealnya (Andy Siswanto, 1994).

Dari sekian banyak teori-teori Postmo baik Lyotard, Derrida, Foucault ataupun Porty sesungguhnya telah memurnikan kembali konteks filsafat pada arahnya yang benar semacam pemisahan kesadaran murni/alam dan konsep yaitu filsafat yang nonfungsional sehingga mampu menjadi legitimator dan sumber referensi (Andy Siswanto, 1994), secara singkat Postmo telah mengajukan alternatif untuk menerima perbedaan-perbedaan diluar sistem-sistem yang besar dan siap dengan wacana-wacana kecil sebagai logika dari relasi pergaulan sehari-hari tanpa memunculkan keheroikkan, arogansi dan egoisme yang pada dasarnya menghancurkan sifat kebenaran primodial.

Dekonstruksi tidak sama dengan destruktif yaitu menata ulang metafisika menjadi lebih transparan tidak lagi diselimuti oleh mistifikasi (catatan: bukan dekonstruksi bebas terhadap metafisika) begitu Derrida melanjutkan pada difference perbedaan sekaligus to differ membedakan. Kalau menengok teori lain yaitu Simulacra dapat dianalogkan dengan adaptasi seperti yang dilakukan Picasso terhadap patung-patung primitif Afrika dan Iberia yang menghasilkan karya-karya kubistis; yang terpenting bukan barat menggali timur, tetapi perlakuan itulah yang menjadikan dirinya menemukan pesona. Toh apa yang dihasilkan tidak lagi primitif Afrikanis atau Iberianis. Tidakkah kita juga sudah banyak melakukan itu pada motif batik naga, burung phoniex yang akarnya dari Cina.

A. Seni Kontekstual

Sebenarnya masih banyak tawaran di luar teori-teori di atas untuk mengetengahkan kepribadian kita, lihat Primadi Tabrani di dalam Massages from Ancient Walls yaitu teknik pelukisan RWD (Ruang-Waktu-Datar) yaitu gambar yang dihasilkan berupa sekuen yang bisa terdiri dari beberapa adegan. Objek-objek tidak dipenjara dalam frame tapi bergerak dalam ruang dan waktu. Sebagai contoh salah satu potongan relief candi Borobudor yang menceritakan perjalanan Sidharta sedang berburu yang mana diawali dari sebelum, melepas panah, arah panah, hingga berakhirnya termuat pada satu frame. Begitu jenial orang kita sudah menggunakan teori relativitas (amat lain dengan yang di India, cerita di atas menjadi beberapa frame).

Kontekstualitas atau lingkungan sekeliling yang menyatupadukan, jadi seni kontekstualitas Dewey adalah yang tumbuh dan dapat dinikmati/berperan pada sosio lingkungan. Tetapi kelemahan teori ini terletak pada ketidak jelasan antara beberapa watak seni yang kreatif (cenderung baru) dan perkembangan cara menilai seni pada suatu sosio kultur tertentu, tetapi di sini saya tidak berusaha mempermudah penggunaan pengertian kontekstual yang ada, yaitu pemecahan dengan cara dan latar belakang yang kita miliki misalnya penggunaan local genius yaitu kemampuan adaptasi, partisipasi disamping diperkaya oleh metafor-metafor yang telah banyak dikembangkan oleh peradaban timur. Begitu pula penggunaan indegenous material yaitu materi, bahan, teknik yang ada untuk keperluan mewadahi kreativitas yang sekalian bukan hanya sebatas materi, juga termasuk immaterial yaitu sebentuk spirit ketimuran yang cenderung tiada penaklukan terhadap mikro dan makro kosmos Dan juga banyak bahasa /tanda yang lebih “universal” dalam arti esensi atas keberadaan kita dalam kesatuan kosmos, sebagai contoh penggunaan sifat-sifat dari proses alamiah.

V. PENUTUP

Apapun yang kita (seniman) lakukan di Indonesia, tentunya niscaya membentuk watak keberadaan budaya bangsa asal dilakukan dengan totalitas memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini dan bagaimanapun juga seni adalah pengekspresian keberadaan serta dimuati oleh totalitas memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya (Tabrani, 1998). Kalau barat menolak seni modern kita karena salah satu faktor bukan terletak pada kreativitas penciptanya tetapi jaringan pendukung penyebar, penguat yang akhirnya menjadi pemilikan serta wacana, kritikus handal dan lain-lain yang belum mampu menegaskan keberadaan kita. Disinilah diperlukan secara politis menyodorkan gagasan sebagai gejala yang harus diketengahkan dan secara pribadi kita mesti yakin dan berbesar hati bahwa wacana “posmodern-poskolonial” bukanlah milik kita walau sebenarnya watak adaptif kita yang tinggi sejak semula sudah menjadi bagian dan kelemahan terletak pada sifat merendahkan diri sendiri, padahal kita banyak mempunyai genre-genre dari kebhinekaan suku bangsa yang telah membelalakkan mata para Avant Gardis barat.

Berawal dari manusia Sangiran dan Wajak yang menurut wataknya mereka tidak pernah menetap; berpindah-pindah, berlanjut era agraris yang mempunyai budaya menetap dan bercocok tanam. Evolusi zaman batu ke logam, mesin hingga mau tak mau yang berangkat secara historis lisan, tulis, hingga sekarang era tanda (informasi). Jadi aslikah kita! (Mangunwijaya)? Konon sebelum masuknya kebudayaan Hindu, teknologi pertanian dan alat rumah tangga berasal dari Cina, teknik malam (batik) dicurigai berasal dari India atau Cina, perkataan Khama-Rupa-Arupadatu (level pada Borobudur) dinamai oleh seorang Belanda yaitu Stutterheim hingga tata kota Majapahit yang mempunyai perlindungan berupa kanal-kanal berasal dari kebudayaan Cina (Dennys Lombart). Terlepas dari rasa minder dan “percaya diri” sekarang kita telah memasuki abad global yang tidak ada lagi Timur-Barat, Utara-Selatan walau masih tetap sebagai masyarakat timur- selatan yang kurang produktif dan tidak disiplin. Sejak embrionya memang telah disadarkan letak geografis sebagai lintasan budaya, kalau ngomong tentang keaslian tentunya berakar dari asli yang mana (Mangunwijaya)? Tidakkah juga kini kita berasal dari berbagai bangsa seperti yang telah disebutkan di atas yaitu pribumi yang telah bercampur menumbuhkan indo-indo India, Kamboja, Cina, Arab, Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang. Toh! Seperti yang telah diutarakan oleh Soekarno bahwa bangsa Indonesia tidak terbentuk berdasarkan warna kulit atau paras muka etnik tertentu, dari Sumatra yang lebih dekat ke Malaysia, Jawa-Bali-Lombok campuran pribumi-India-Campa-Cina-Belanda-Jepang dan lain-lain, Kalimantan yang Cina, Sulawesi yang Spanyol-Belanda, Nusa Tenggara Timur yang Portugis dan Papua Barat yang lebih dekat Papua Nugini-Australia-Aborigin, maka berarti atas hasrat menyatukan diri (Le desire d’ensamble). ***

KEPUSTAKAAN

Althusser Louis, Tentang Ideologi: Strukturalisme Marxis, Psikoanalisis, Cultural Studies, (terjm) Jalasutra, Yogyakarta, 2010.
Andi Siswanto, “Menyangkal Totalitas dan Fungsionalisme; Post Modernisme dalam Arsitektur dan Desain Kota” “Kalam”, Jurnal Kebudayaan, Edisi I, Tempo, 1994, Jakarta.
Bhabha Homi K, “Posmodern/Poscolonial”, di dalam buku “Critcal Terms For Art History”, 2nd edition, Nelson, R, dan Shiff, R (ed), UnChicago, 2003.
Barthes, Roland, “Mitologi”, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2006.
Capra, Fritjof, “Jaring-Jaring Kehidupan”, (terjm.) Fajar Pustaka, Yogyakarta, 2001.
Capra, Fritjof, “Titik Balik Peradaban”, (terjm.) Bentang, Yogyakarta, 1985.
Cassirer, Ernst, “Manusia dan Kebudayaan”, (terjm.) PT Gramedia, Jakarta, 1997.
Danesi, Marcel, “Pesan, Tanda, dan Makna”, (terjm.) Jalasutra, Yogyakarta, 2010.
Eliade, Mircea, “Mitos Gerak Kembali yang Abadi: Kosmos dan Sejarah”, Penerbit: Ikon Teralitera, 2002

Epafras, Leonard Chrysostomos, “Signifikansi pemikiran Homi Bhabha: Sebuah Pengantar Teori Poskolonial”, dalam seminar yang diadakan Extension Course Filsafat (ECF), Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan, pada tanggal 9 Nopember 2012 di Bandung.

Featherstone, Mike, “Postmodern dan Budaya Konsumen”, (terjm.) Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.
Gandhi, Leela, “Teori Poskolonial: Upaya Meruntuhkan Hegemoni Barat” (terj), Qalam, Yogyakarta, 2001

Holsti, K. J, “The Dividing Discipline: Hegemony and Diversity in International Theory”, Boston, 1985.

Haryatmoko. “Membongkar Rezim Kepastian Pemikiran Kritis Post Strukturalis”, Kanisius, Yohyakarta, 2016.

Husein Hariyanto, “Paradigma Holistik: Dialog Filsafat, Sains dan Kehidupan Menurut Mulla Shadra dan Whitehead”, Teraju,Yogyakarta, 2003.

Lukacs, Georg, “Sejarah dan Kesadaran Kelas”, (terjm), Ar Ruzz, Yogyakarta, 2014.
Marcuse, Herbert., “Manusia Satu-Dimensi”,Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 2000.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J, “Teori Sosiologi Modern”, Kencana, Jakarta, 2011.

Said, W Edward, “Orientalisme, Menggugat Hegemoni Barat dan Mendudukkan Timur Sebagai Subjek”, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1988.

Tabrani, Primadi, “Belajar Dari Sejarah Dan lingkungan”, ITB, Bandung,1995.
_______________, “Messages from Ancient Walls”, ITB, 1998, Bandung.
_______________, “Kreativitas dan Humanitas”, Jalasutra, Yogyakarta, 2006.
van Peursen, Cornelis., “Strategi Kebudayaan”, (terjm.), Kanisius, Yogyakarta, 1988.
Yasraf Amir Piliang, “Hiperrealitas Kebudayaan”, Gramedia, 1998, Jakarta.

PDF
Gayatri Spivak, Essay ”Can The Subaltern Speak?” http://abahlali.org/files/Can_the_subaltern_speak.pdf

Internet :
Maxine Berg and Pat Hudson, The Economic History Review New Series, Vol. 45, No. 1 (Feb., 1992), https://www.jstor.org/stable/2598327?seq=1#page_scan_tab_contents

Fahruddin Faiz, Ngaji Filsafat, Kritik Modernitas Herbert Marcuse, Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta, https://www.youtube.com/watch?v=SaCBtS2jha0
_____________, Ngaji Filsafat, Semua Berideologi, Louis Althusser, Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta, https://www.youtube.com/watch?v=N_0VD1n8MYg&t=12s
_____________, Ngaji Filsafat, Hegemoni, Antonio Gramsci, Masjid Jenderal Sudirman, Yogyakarta, https://www.youtube.com/watch?v=zojY6gstVtQ&t=964s

CENTIPEDE, KELABANG, LIPAN

Centipede/kelabang/Lipan

centipede

Dari awalan Latin centi-, “seratus”, dan pes, pedere, “kaki” adalah arthropoda di kelas Chilopoda dari subphylum Myriapoda. Mereka berbentuk memanjang, termasuk di dalam makhluk metameric dengan sepasang kaki per segmen/buku di tubuhnya. Meskipun nama, lipan dapat memiliki berbagai jumlah kaki dari bawah 20 sampai lebih dari 300. Lipan memiliki angka ganjil perpasang kaki, misalnya 15 atau 17 pasang kaki. Oleh karena itu, tidak ada kelabang dengan tepat 100 kaki. Kunci kesamaan di dalam kelompok ini adalah sepasang cakar racun atau forcipules. Lipan adalah takson yang cenderung karnivora, Lipan dapat ditemukan di berbagai lingkungan.

Lipan biasanya memiliki warna menjemukan yaitu hanya menggabungkan nuansa coklat dan merah. Cavernicolous (hidup di gua) dan spesies bawah tanah mungkin kurang pigmentasi dan banyak scolopendromorphs tropis memiliki warna aposematic cerah. Ukuran dapat berkisar dari beberapa milimeter di lithobiomorphs kecil dan geophilomorphs sekitar 30 cm sebagai contoh scolopendromorphs adalah yang terbesar.

Di seluruh dunia, ada diperkirakan 8.000 spesies kelabang, yang 3.000 telah dinamai dan sudah didiskripsikan. Lipan memiliki jangkauan geografis yang luas, mencapai luar Lingkaran Arktik. Lipan ditemukan dalam berbagai habitat darat dari hutan hujan tropis hingga padang pasir. Dalam habitat ini, lipan memerlukan mikro-habitat lembab karena mereka tidak memiliki kutikula lilin dari serangga dan arachnida, sehingga kehilangan air dengan cepat melalui kulit. Oleh karena itu, mereka ditemukan dalam serasah tanah dan daun, di bawah batu dan kayu mati, dan di dalam log. Kelabang adalah salah satu terbesar terestrial predator invertebrata dan sering memberikan kontribusi yang signifikan terhadap biomassa predator invertebrata di ekosistem darat.

Lipan terbagi Scutigeromorpha/house centipedes, Lithobiomorpha/stone centipedes, Craterostigmomorpha, Scolopendromorpha/tropical centipedes dan Geophilomorpha/ soil centipedes.

http://en.wikipedia.org/wiki/Centipede

Sebuah gigitan dari lipan mampu menembus kulit dan menyuntikkan racun
menyebabkan reaksi lain di seluruh tubuh seperti rasa nyeri yang amat sangat. Kebanyakan gigitan lipan tidak mengancam nyawa walau tergigigit oleh lipan yang terbesar sekalipun, sementara lipan yang dari sungai irawadi mesir telah mengembangkan reaksi alergi.

Gejala yang paling mungkin adalah nyeri akut yang biasanya proporsional dengan ukuran kelabang, pembengkakan kemerahan, kelenjar getah bening yang menyakitkan di areal pusat gigitan, sakit kepala, mual dan muntah, gelisah, gatal dan terasa terbakar.

http://www.orkin.com/other/centipedes/centipede-venom/

Indonesian Finch, Burung Pipit Endemik Nusantara

PIPIT ENDEMIK INDONESIA

bondol, gelatik, manyar dan burung gereja

 

=PIPIT ENDEMIK INDONESIA1

=PIPIT ENDEMIK INDONESIA 2

 

1. Erythrura Trichroa, Indonesia timur hingga Micronesia.

1Erythrura Trichroa

 

2. Erythrura Hyperythra, Indonesia bagian timur

2erythrura hyperythra

 

3. Erythrura tricolor Indonesia dan Timor Leste. Merupakan burung yang langka ditemui di Timor, Wetar, Babar, Tanimbar dan beberapa kepulauan kecil sekitar pulau-pulau tersebut.

3Erythrura Tricolour

 

4. Erythrura prasina, Sulawesi, Maluku

4Erythrura prasina

 

5. Erythrura papuana, papua

30. Erythrura papuana

 

6. Lonchura Montana, papua

5. Lonchura montana

7. Lonchura leucogastroides, jawa, bali

6Lonchura leucogastroides

 

8. Lonchura punctulata, Sumatra, jawa, bali, lombok

7Lonchura punctulata

 

9. lonchura maja, jawa, bali

8lonchura maja

 

10. lonchura-malacca Malacca, Sumatra, jawa, Kalimantan

12. lonchura-malacca malacca

 

11. Lonchura castaneothorax, papua

10. Lonchura castaneothorax

 

12. Lonchura malacca atricapilla, Sulawesi, ambon, Sumatra, Kalimantan.

11Lonchura malacca atricapilla

 

13. Lonchura Malacca, Sumatra, Kalimantan, jawa

9Lonchura malacca

 

14. Lonchura fuscansdari, Kalimantan

13. Lonchura fuscansdari

 

15. Lonchura ferruginosa, jawa, bali

14Lonchura ferruginosa

 

16. Lonchura tristissima, papua jayawijaya

15Lonchura tristissima

 

17. Lonchura atricapilla Roné, Indonesia

33. Lonchura atricapilla Roné

 

18. Lonchura leucosticte, papua

32. Lonchura leucosticta

 

19. Lonchura striata, sumatra jawa Kalimantan

31. Lonchura striata

 

20. Lonchura spectabilis, papua

28. Lonchura spectabilis

 

21. Lonchura vana, papua

27Lonchura vana

 

22. Lonchura ferruginosa, jawa, bali

14Lonchura ferruginosa
23. lochura quinticolor

35. Lonchura quinticolor

24. lochura nevermanni

38. Lonchura nevermanni
25. lochura grandis

37. Lonchura grandis
26. lochura stygia

39. Lonchura stygia
27. lochura pallida

36. Lonchura pallida
28. lochura teerinkin

40. Lonchura teerinki

 

29. Padda fuscata

41. padda fuscata

 

30. Padda oryzivora, jawa, bali.

16Padda oryzivora

 

31. Amandava amandava, jawa, bali, nusa tenggara

17. Amandava amandava

 

32. Oreostruthus fuliginosus, papua

18. Oreostruthus fuliginosus

 

33. Taenopygia guttata, nusa tenggara timur

19. Taenopygia guttata

 

34. Ploceus philippinus, jawa, bali

20. Ploceus philippinus

 

35. Ploceus manyar, jawa, bali

21. Ploceus manyar

 

36. Ploceus hypoxanthus, sumatra, kalimantan, jawa

22. Ploceus hypoxanthus

 

37. Passer montanus, indonesia

23passer montanus

 

38. Passer domesticus, Indonesia

29. Passer domesticus

 

39. Serinus estherae, Sumatra, Sulawesi, jawa

24Serinus estherae

 

40. Scissirostrum dubium, kalimantan, Sulawesi, Maluku

25Scissirostrum dubium,

 

41. Neochmia phaeton, papua

26. Neochmia phaeton

 

 

LIZARDS, LACERTILIA, SAURIA, KADAL-KADALAN

Suborder Lacertilia (Sauria) – (lizards)

KADAL KADALAN

adalah termasuk di dalam kelompok yang luas disebut reptile squamate, dengan sekitar 6.000 spesies, ditemukan di semua benua kecuali Antartika, serta sebagian besar terdapat di jajaran kepualauan di samudera. Secara kelompok tradisional diakui sebagai subordo Lacertilia, didefinisikan sebagai semua anggota yang masih ada dari Lepidosauria (reptil dengan tumpang tindih antar sisik) yang tidak sphenodonts yaitu Tuatara.

 

I. Infraorder Iguania

1. Corytophanidae (casquehead lizards)

1.

Corytophanidae adalah keluarga kadal, juga disebut kadal casquehead atau kadal berhelm, endemik ke Dunia Baru. Sembilan spesies kadal casquehead dari tiga genetik yang di diakui, diitemukan di Meksiko, Amerika Tengah, dan selatan sejauh Ekuador.

Kadal ini berukuran sedang dengan tubuh lateral padat, dan biasanya memiliki puncak kepala yang mengembang dengan baik dalam bentuk helm pelindung kepala. Puncak ini merupakan karakteristik dimorfik seksual pada laki-laki dari basiliscus, tapi hadir dalam kedua jenis kelamin dari Corytophanes dan Laemanctus.
2. Iguanidae iguanas

2,

(/ ɪ ɡw ɑ ː nə /, Spanyol: [iɣwana])

adalah genus kadal herbivora asli
daerah tropis Meksiko, Amerika Tengah, beberapa pulau di Polinesia seperti Fiji dan Tonga, dan Karibia. Genus ini pertama kali dijelaskan pada 1768 oleh naturalis Austria Josephus Nicolaus Laurenti dalam bukunya Spesimen medicum Exhibens Synopsin Reptilium Emendatam cum Experimentis sekitar Venena.

Kata “iguana” berasal dari aslinya
Nama Taino untuk spesies, Iwana.
3. Iguanidae iguanas spinytail iguanas

Ctenosaura adalah genus kadal dikenal sebagai iguana spinytail. Genus ini merupakan bagian dari keluarga besar Iguanidae dan berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah.

Spesies ini memiliki berbagai ukuran (panjang total, termasuk ekor) dari sekitar 12,5 cm hingga sampai lebih dari 1 meter. Ciri khas dari genus ini adalah adanya sisik berduri pada ekor. Mereka umumnya omnivora, makan buah-buahan, bunga, dedaunan, dan binatang kecil. Beberapa anggota genus ini sangat populer sebagai hewan peliharaan.

Dua spesies, Ctenosaura pectinata dan Ctenosaura similis, telah diperkenalkan ke Amerika Serikat di Texas selatan dan Miami, Florida. Rekor dunia pada kecepatan sprint telah dipegang oleh kadal iguana berduri kosta rika 34,6 km / jam (Ctenosaura similis).

Genus Ctenosaura merupakan kelompok yang paling beragam dari keluarga iguana dengan 15 spesies yang saat ini diakui dan setidaknya dua spesies yang belum diakui. Spesies ini menghuni hutan kering dataran rendah, di bawah 1.200 meter (3.900 kaki) , di kedua pantai Meksiko dan Amerika Tengah.

2b.iguanidae spinytail

400_F_32394489_ZT7tHEyCcyDx3JjBXP3UzFJfxQbyO9rn Black Spiny-tailed Iguana - Costa Rica - 7-27-2012 - 012 Campeche-spiny-tailed-iguana five-keeled-spiny-tailed-iguana nolasco-spiny-tailed-iguana Oaxacan-spiny-tailed-iguana-showing-tail showfile.ashx Spiny-tailed Iguana P1030177 spinytailed2
4. Phrynosomatidae earless

Phrynosomatidae adalah keluarga dalam keberagaman kadal yang ditemukan di Panama, selatan Kanada yang ekstrim. Banyak anggota kelompok yang beradaptasi dengan kehidupan di tempat yang panas dan gurun pasir.
136 spesies tersebut akan disusun dalam 10 genera dalam keluarga
keluarga Phrynosomatidae.

4. Family Phrynosomatidae (earless lizards)

4858346495_dedaac9e60_m 5479728096_6495d7ae51_m Adult-female-Greater-Earless-Lizard cophosaurus_texanus cophosaurustexanus_ventral_Devitt COTE1 HOEL-Mating-Kartchner-LLCJonesENH2 holbrookialacerata_WAnderson Reptile_tx_usa
5. Phrynosomatidae spiny

kadal berduri ini lebih memilih gurun berbatu atau tepi hutan bahkan yang relatif lembab.

5. Family Phrynosomatidae (spiny lizards)

0329 83153_580_360 6168765_orig 235151257_757bccbb11 Emerald20Swift lizard_052805_02 Sceloporus_poinsettii_(1) OLYMPUS DIGITAL CAMERA sceloporusmerriami_vent_Devitt urosaurus_graciosus
6. Phrynosomatidae tree Lizard

Genus Urosaurus (kadal pohon), mereka dapat dibedakan dari anggota genus Sceloporus oleh adanya gular (di bawah leher) lipatan dan skala lateral yang granular. Mereka dapat dibedakan dari anggota genus Uta oleh adanya sisik dorsal diperbesar (kadang-kadang hanya sedikit). Telah digunakan sebagai sistem model dalam studi riwayat hidup kadal, dan populasi menghasilkan dua atau lebih musim peneluran per tahun (Michel 1976, Ballinger 1984). Studi lapangan juga menunjukkan bahwa reproduksi juga terjadi di New Mexico sebagai populasi alami spesies Urosaurus ornatus (Landwer, 1994).

3c. Urosaurus

2 revilla lacertilios (Urosaurus clarionensis) 0409 1319 Diplolaemus_bibroni T3 009-crop (Small) umicroscutatusdisplay umicroscutatusdisplay65 umicroscutatusdisplay343 unigricaudussd5082 uoschmidtirr9072 UROGRA-5 Urosaurus-auriculatus-1623
7. Phrynosomatidae treeside-blotched

Kadal Side-blotched dari genus Uta, adalah beberapa dari kadal yang paling berlimpah dan biasa terlihat di padang pasir barat Amerika Utara. Mereka biasanya tumbuh hingga enam inci termasuk ekor, yang jantan biasanya lebih besar dan memiliki warna cerah di tenggorokan.

Kadal ini banyak dimangsa oleh banyak spesies gurun seperti ular, kadal besar, dan burung. Pada gilirannya, kadal ini makan arthropoda, seperti serangga, laba-laba, dan kadang-kadang kalajengking.

Dari April sampai Juni mereka berkembang biak, tobil muncul di awal akhir Mei. Sementara yang remaja terlihat berkeliaran sepanjang musim panas sampai September.

3d. side-blotched

09042439PD_side-blotched ad_9058 IMAG011 Phrynosomatidae sideblotched side-blotched-lizard Umascopa450
8. Phrynosomatidae horned

Kadal bertanduk dalam genus (Phrynosoma) yang merupakan jenis genus dari keluarga Phrynosomatidae. Kadal bertanduk yang populer disebut “katak bertanduk”, ini bukan sebuah kodok atau katak. Nama-nama populer berasal dari tubuh bulat kadal dan moncong tumpul yang membuatnya menyerupai seekor katak atau kodok (Phrynosoma secara harfiah berarti “kodok-bertubuh”). Duri di punggungnya dan sisi terbuat dari sisik dimodifikasi, sedangkan tanduk di kepala adalah benar merupakan tanduk. Dari 15 spesies kadal bertanduk di Amerika Utara, delapan adalah endemik Amerika Serikat. Horned terbesar adalah kadal bertanduk Texas (P. cornutum).
9. Polychrotidae anoles
10. Polychrotidae Leiosauridae
11. Tropiduridae (neotropical ground lizards)
12. Tropiduridae Liolaemidae
13. Leiocephalidae

Leiocephalus

Kadal berekor keriting adalah keluarga, Leiocephalidae, kadal yang secara luas didistribusikan ke seluruh Karibia. Mereka sebelumnya dianggap sebagai anggota subfamili Leiocephalinae dalam keluarga Tropiduridae. Ada saat ini 29 spesies yang dikenal. Leiocephalus adalah satu-satunya genus dalam keluarga Leiocephalidae.

024 91723 Leiocephalus_carinatus_armouri_FL Leiocephalus-carinatus-03000022231_01 lunatus_catuano1 masked-curly-tailed-lizard--xxxleiocephalus_personatus Pict8997

 

14. Crotaphytidae collared

Collared Lizard

Crotaphytidae, atau kadal berkerah, adalah keluarga dari gurun Reptil yang hidup asli ke Barat Daya Amerika Serikat dan Meksiko utara. Mereka adalah hewan yang mampu bergerak cepat, dengan kaki panjang yang dimbangi panjangnya ekor, karnivora terutama pada serangga dan kadal kecil.

1144px-Collared_Lizard_Albuquerque_NM1_1 6710493 49708026 3831479395_758f6fc032 SONY DSC 5959226964_3c3e0d4498_m 7888722150_01c52927f9_z 9778038712_bc4d944db9_m auriceps_2011-1 cbicinctoresskin collared-lizard-19547477 crotaphytus_dickersonae_male DG-Halsbandleguan-Crotaphytus-collaris-auriceps-Utah-m-002 Eastern_Collared_Lizard_8300-finished male-and-female-Collared-L

 

15. Crotaphytidae leopard lizards

13Crotaphytidae longnose lizard

Kadal leopard berhidung panjang, Gambelia wislizenii, adalah kadal yang relatif besar yang panjangnya berkisar antara 38,2-14,6 cm dari ujung moncong sam ujung ekor. Ia memiliki kepala besar, hidung panjang, dan ekor bulat panjang yang bisa lebih panjang dari tubuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan “kadal leopard berhidung tumpul” yang mirip kadal leopard berhidung panjang dalam proporsi tubuh, tetapi memiliki moncong tumpul. Mereka pernah dianggap sebagai bagian dari genus Crotaphytus yang terancam karena perusakan habitat.

Adult-male-blunt-nosed-leopard-lizard---dark-phaseCO_Rep_Amph_Leopard_LizardFemaleLongNosedLeopardLizardgambeliaGAMWIS-5gcopei5long-nosed_leopardlongnoseleopardlizardfemalelongnoseleopardlizardmale

 

16. Opluridae (Madagascar iguanids)

Opluridae Madagascar iguanids

Opluridae, atau iguana Madagaskar, adalah keluarga kadal ukuran sedang asli Madagaskar. Ada tujuh spesies dalam dua genera, dengan sebagian besar spesies yang berada di Oplurus. Keluarga termasuk spesies yang hidup di antara batu-batu, beberapa yang hidup di pohon-pohon, dan salah satu yang mendiami bukit pasir. Semua spesies bertelur, dan memiliki gigi yang mirip dengan iguana yang asli.

Sebuah studi dari urutan DNA mitokondria telah tanggal perpecahan antara Opluridae dan Iguanidae (di mana Opluridae kadang-kadang diklasifikasikan sebagai subfamili Oplurinae) pada sekitar 165 juta tahun yang lalu, selama Jurassic Tengah. Studi ini mendukung monophyly dari perluasan Iguanidae , dan menempatkan Oplurinae dalam posisi basal. Konsisten dengan kesepakatan asal vicarian dari iguanians Madagaskar, karena Madagaskar diyakini telah terpisah dari Afrika (selama pecahnya Gondwana) sekitar 140 juta tahun yang lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Madagascar Desert Iguana flat,550x550,075,f KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA Madagascar_Iguana_Anakao_reptile_lizard_Chalarodon_madagascariensis.580.0xb17109b330ea788.PA180047.JPG.aspx medium ????? medium67 ????? Madagascar Iguana , Chalarodon madagascariensis

 

17. Hoplocercidae (wood, clubtails lizards)

Picture1

Keluarga Hoplocercidae, atau hoplocercids, adalah keluarga kadal asli hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan. Enam belas spesies dalam tiga genera dijelaskan.

1186744013 DSC06522op Enyalioides binzayedi Enyalioides-azulae570 Enyalioidesheterolepisresized l_i_z_a_r_d Lizard_branch_sm RH097-02-01 RH884-01-02

18. Family Agamidae (agamas)
19. Family Chamaeleonidae (chameleons)

II. Infraorder Gekkota

20. Family Gekkonidae (geckos)

16gekkonidae geckos

Gekkonidae adalah keluarga terbesar tokek yang terdiri dari lebih dari 950 spesies yang dijelaskan dalam 51 genera. Banyak “khas” tokek adalah anggota dari Gekkonidae termasuk tokek rumah (Hemidactylus), tokek tokay (Gekko gecko), dan “day tokek” (Phelsuma). Spesies Gekkonidae berevolusi secara global dan sangat kaya spesies di daerah tropis.

Phelsuma_mad_skin6434047031_d2ba506d6c_zClose-up-of-Gunthers-Indian-gecko-skin205_Dragó lleopard cria_487x1982183111141_eb132ee09b_o 3169562002_061b564748tumblr_mzcm8oujvG1sq1114o1_500 Tokay_Gecko Tokay_foot  Middle-Eastern-short-fingered-gecko-shedding-skin Marbled_Gecko Kuroiwas-ground-gecko-Gkorientalis-lateral-view gecko g_k_kuroiwae_n2004     205_Dragó_lleopard_650_01
21. Family Pygopodidae (legless lizards)
22. Family Dibamidae (blind lizards)
III. Infraorder Scincomorpha
23. Family Scincidae (skinks)
24. Family Cordylidae (spinytail lizards)
25. Family Gerrhosauridae (plated lizards)
26. Family Xantusiidae (night lizards)
27. Family Lacertidae (wall lizards or true lizards)
28. Family Teiidae (tegus and whiptails)
29. Family Gymnophthalmidae (spectacled lizards)
IV. Infraorder Diploglossa

 

30. Family Anguidae (glass lizards)
31. Family Anniellidae (American legless lizards)
32. Family Xenosauridae (knob-scaled lizards)

 

V. Infraorder Platynota (Varanoidea)

 

33. Family Varanidae (monitor lizards)
34. Family Lanthanotidae (earless monitor lizards)
35. Family Helodermatidae (Gila monsters)
36. Helodermatidae beaded lizards)

PARADOKS #2, pameran dan presentasi karya 1994-2016

Gallery DKS, Surabaya, 2017.

Pemb. pameran, kamis, 19 januari 2017, jam 19:30 wib. Presentasi karya jumat, 20 januari 2017, jam 14:00 wib

Latar Belakang

membaca gambar dari kiri atas (1), kanan atas (2), kiri bawah (3) dan kanan bawah (4).

Analisa Formal (Mata), pengamatan aspek visual tanpa dibebani makna

Gambar 1

  • Secara umum kita akan melihat garis lengkung hitam dari asal sebelah kiri menuju melingkarnya arah ke pusat yang runcing, karena garis itulah yang secara sengaja dibentuk, maka dinamakan garis positif.
  • Garis positif boleh dilihat sebagai dari arah luar (kiri) masuk ke dalam (tengah) atau sebaliknya dari arah dalam menuju ke luar.

Tetapi

  • Gambar di atas jarang ada yang melihat efek “bidang” negative yang ditimbulkan oleh garis positif tersebut, yaitu bidang putih yang lebih luas yang arahnya sama persis seperti garis positifnya yang berakhir tumpul.

Jadi

Kita tidak bisa mengabaikan yang tidak terlihat secara umum, yaitu “bidang putih yang berujung tumpul”, karena kepositifan yang kita buat secara sadar akan menghasilkan gambar lain yang secara negatif/ tidak “muncul” yang justru menguatkan keberadaan gambar positif sadar yang kita buat.

Analisa Makna A

  • Kalau orang pertama memaknai garis positif itu dari kiri ke kanan hingga berujung tajam di tengah coba dianalogikan seperti seseorang mengeraskan sekrup, lebih jauh bila dimaknai spiritual dunia-akhirat, maka pergerakkan itu bisa bermakna searah jarum jam, yaitu “mengeraskan/ menguatkan akan kebutuhan duniawi”.
  • Berarti juga secara bersamaan sekaligus bila juga dilihat yang “negative bidang putih yang berujung tumpul”, maka pergerakannya dari dalam yang tumpul menuju ke kiri searah melepas sekrup, berbalik dari arah jarum jam bisa dimaknai “melepas akan kebutuhan duniawi yg menuju langit”.

Sejarah Jarum Jam dan Makna

arah jarum jam awalnya dari tradisi muslim yang bergerak dari kanan ke kiri, tiada beda penulisan dan tentu cara membacanya yang terinspirasi bahwa alam bergerak juga dari kanan ke kiri pd rotasi dan elips benda langit di dalam tatasurya kecuali uranus d venus, Ingat arah tawaf (memutari kabah), dari kanan ke kiri. Karena ideology islam adalah theosentris.

Tetapi barat juga sangat beralasan membalik itu semua untuk kebutuhan yang memang anthroposentris, duniawi dan materialis, karena barat telah pernah dininabobokan oleh “abad pertengahan” yang “melangit”.

Melangit, saya belum membacanya bahwa melangitnya adalah theocentris, karena abad pertengahan adalah kecelakaan yang diakibatkan oleh “oknum” Negara-gereja, beda dengan melangit di dalam tradisi muslim, baca abad pertengahan yang non humanis.

 

Analisa Makna B

Gambar 2

  • Anda secara umum akan menengok bayang-bayang pohon di pelataran adalah gelap, tetapi cobalah sadar bahwa gelapnya bayang-bayang itu karena juga adanya hal terang, jadi begitu pentingnya hal yang tidak benar kita sadari adalah sebagai penguat.

Gambar 3

  • Anda secara umum akan melihat batang dan reranting dari penggalan sebatang pohon, sekali lagi adanya batang reranting itu dikarenakan juga adanya latar belakang yang lebih terang.

Analisa Makna C

Entah gambar 1, gambar 2 ataupun gambar 3 mengisyaratkan bahwa apa yang kita buat secara positif sadar itu tergantung dari latar belakangnya. Bisa pula justru latarbelakanglah yg membentuk kesadaran kita. Juga berart bisa bahwa latar belakang akan mendukung atau bahkan merusak.

Arti maknanya bisa berarti bahwa apa saja yang melatar belakangi penciptaanmu adalah juga harus ikut diperhitungkan seperti juga memperhitungkan kesadaran positif .

Bila gambarnya berwarna maka kompleksitas penilaian formal dan maknanya akan juga lebih jauh kerumitannya, belum ditambahkan psikologi senimannya, konsep, dllnya.

Atau tengok gambar 4, walau objeknya sama Cuma digeser ke kiri secara formal akan terbaca lain dan otomatis juga bermakna lain juga.

Bisa kata lainnya, siapa saja yang dibalik seorang seniman (keluarga, istri, anak, tetangga, teman sahabat dllnya)? Apa saja pemikiran, seberapa bacaan, lingkungan, kecenderungan dan tendensinya akan mempengaruhi kadar penciptaannya.

Konsep

Pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Di dalam Paradoks #2, seolah ada dua pilihan yang saling bertentangan antara yang putih atau hitam, bukan putih-hitam tetatpi putih atau hitam. Begitu pula antara realitas dan media. Hitam putih di dalam kehidupan adalah sebagai pilihan, memilih kiri atau kanan seolah-olah tak terdamaikan. Bila memilih yang satu berarti otomatis menolak yang lain. Benarkah?