2001. Installation Art, “Dua Jam Lagi Kita Berangkat”

Installation Art, “Dua Jam Lagi Kita Berangkat”, 2001

http://groups.yahoo.com/group/aikon/message/1302

concept

Art is not just artistic, art encompasses all activity beyond the art itself. He also is a form of a long process accompanying are putting the final appearanceof an art object.
Discard many artistic vocabulary created by itself for all activities and traces of life. So art is a form of life that continues to writhe with all existing devices [participatory] without previously constructed by keterukuran.
For me art is a personal expression of event that can not be compromised on anything except for itself evokes excitement continued lifeworkmanship as part of a unified chain of more life saving vocabulary that could not be expressed but has revealed the ambiguous facts that have been done.

Pandangan kesenian

Seni tidak sekedar artistik, seni melingkupi segala aktivitas diluar seni itu sendiri. Dia juga adalah sebentuk proses yang panjang menyertai ‘tampakkan penampilan akhir’ dari sebuah obyek seni.

Artistik banyak membuang kosa kata yang diciptakannya sendiri terhadap segala aktivitas dan jejak- jejak hidup. Maka seni adalah bentuk kehidupan yang terus menggeliat dengan segala perangkat yang ada [ partisipatif ] tanpa sebelumnya terkonstruksi oleh keterukuran.

Bagi saya seni adalah ajang ekspresi pribadi yang tak bisa ditawar terhadap apapun kecuali untuk dirinya sendiri membangkitkan kegairahan melanjutkan kehidupan- kekaryaan sebagai bagian dari kesatuan rantai kehidupan yang lebih banyak menyimpan kosa kata yang tak sempat diutarakan tetapi telah membeberkan fakta atas ambigu yang telah dilakukan.

02b. karya cahyo basuki yopi  03. 03b 04 05 06 07 0802a.halaman belakang

Iklan

2009. Object, Painting, Drawing, and Sketch, “Arus-Arus Terpencil”

Pameran “Arus-Arus Terpencil”, Ugo Untoro dan HARI PRAJITNO
Emitan Contemporary Art Gallery, Surabaya

Periode 2007-2008

Tiada ketakutan menapaki ranah ketidakjelasan untuk menuju ke depan. Apapun yang terjadi adalah konkrit dan begitu nyata, bahwa tiada ada “batas” untuk memberi tanda apapun yang tertorehkan di sana. Karena DIA berada di sini.

01.cover halaman 01.halaman belakang 02. kamar 03. kursi-kursi di dalam studio stkw 03. malam, bulan sabit, sehabis hujan dan katak 04. kamar 04. rawa-rawa, katak, yuyu, tanaman air, dan banjir 06. beringin depan kelas 06. studio sr-stkw 07. sketsa untuk orang duduk 08. habitat rumah kotak sabun 09.genangan air dan katak 10. no21 11. no22 12. no24 13. objek putih

lihat juga di :

http://www.aaa.org.hk/Collection/Details/28854
http://e-library.msd.ac.id/index.php?p=show_detail&id=990
http://kompas.realviewusa.com/?iid=22934&startpage=page0000003

Rindu Ugo untuk Yang Sepele

Posted on by brangwetan

DUET: Dua di antara beberapa karya Hari Prajitno yang dipajang di Emmitan Contemporary Art Gallery. Foto: MUHAMMAD ROFIQ/RADAR SURABAYA

SURABAYA-Dua teman lama, Ugo Untoro dan Hari Prajitno, bertemu dalam sebuah pameran. Untuk pameran duet pertama mereka itu, kedua seniman lulusan ISI Jogjakarta ini mengambil tajuk Arus-Arus Terpecil, hingga 5 Januari di Emmitan Contemporary Art Gallery, Jl Wali Kota Mustajab, Surabaya.

Meski dikenal sebagai pelukis, kali ini Ugo tak membawa lukisan-lukisannya. Peraih penghargaan Philip Morris Art Award 1994 ini memilih memamerkan seni instalasi yang berupa tangga-tangga biru dan lima video art. Sengaja begitu karena ia mengaku bosan tampil dalam pameran lukisan. Bahkan, untuk video art, inilah media baru bagi seniman kelahiran Purbalingga itu. Video art bertajuk I Miss You ini menjadi cara Ugo untuk mengungkapkan rasa rindunya merasakan hal-hal yang sepele. ’’Saya ingin merasakan hal-hal yang kecil di sekitar saya,’’ katanya.

Rindu memang tertuang dalam I Miss You 1-6. Ia menggarapnya dalam bentuk tangga dari bambu, epoksi, dan cat mobil. Bukan tangga lazimnya yang berbentuk lurus dan terdiri atas beberapa anak tangga. Ada yang bercabang, melengkung, dan memiliki anak tangga yang tidak sempurna.

Salah satunya terbuat dari bamboo sepanjang 15 meter. Tangga-tangga bambu itu sudah menyapa pengunjung yang mengunjungi Emmitan karena ia menempatkannya sejak di halaman galeri, di pintu masuk, hingga ke dalam ruangan. Bahkan, tangga dalam I Miss You 4 digantung menyamping hingga menembus ruangan galeri. Itulah simbol naik dan turun. ’’Dengan tangga, kita bias naik melihat dari atas, lalu kita bisa turun merasakan apa yang ada di bawah,’’ jelasnya.

Dalam video art, Ugo menampilkannya di layar televisi model lama 21 inchi dan dua buah proyektor LCD. Pelaku di video tersebut adalah Ugo sendiri.

Menggunakan media mini DV, video I Miss You 7-11 itu memiliki durasi unlimited loop atau terus menyambung). Dalam pameran yang dikuratori Hendro Wiyanto ini, Hari juga membuat

instalasi berjudul Pesakitan 2. Berbahan ilalang, gelagah, bamboo, dan lampu, yang berbentuk seperti kepompong. Permukaannya terdiri atas batang-batang gelagah yang menancap keluar.

Didalamnya di pasang lampu. Selain itu, Hari memamerkan lima karya lukis astraknya dan delapan drawing. Tentang pameran bersama Ugo, Hari mengaku antusias. ’’Senang sekali bisa bertemu dan pameran bersama dengan Ugo. Terakhir kali kami pameran bareng pada 1998,’’ tutur dosen seni rupa STKW ini. (het)

Radar Surabaya, 3 Januari 2009

kompas

Terang cahaya lilin dikeremangan seolah-olah menyimpan misteri.pijaran api lilin yang terasa sepi dan senyap itu sepersekik padam beriabarengan dengan lelehan panas lilin.sepersekian detik berikutnya terang cahaya lilin itu kembali berpijar.

Itulah bagian dari salah satu video karya eksploratif ugo untoro perupa asal yogjakarta,kelahiran purbalingga jawa tengah yang terangkai dalam kesatuan tangga-tangga bambu berwarna biru dalam wujud yang tidak beraturan melengkung patah-patah dan bercabang.

Dalam pameran bertajuk “arus-aruns terpencil” di Emmitan Contemporary Art Gallery. Jalan Walikota Mustajab, Surabaya, yang diselenggarakan mulai 19 Desember 2008 hingga 5 Januari 2009, Ugo Untoro tidak sendirian. Dia menggelar pameran bersama perupa Surabaya, Hari Prajitno, pengajar Seni Rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Kedua sahabat itu sama-sama kuliah Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Ugo yang mengaku jenuh dengan seni rupa yang digelutinya,kini mencoba bermain-main dengan media lain,khususnya vidio,terang gelap terang dalam keremangan yang sunyi senyap itu boleh jadi sebuah realitas kehidupan,bahkan cermin perubahan yang begitu cepat sehingga orang pun tak mampu lagi berpikir atau merenungi kehidupannya.

Pergeseran dan perubahan dari terang,gelap dan kembali terang yang terekam dalam video berjudul”I miss you no.7” itu menemukan korelasi yang amat nista tatkala lembar demi lembar teks dalam buku- simbol kepintaran- seolah tak berarti dan sampah sebagaimana terekam dalam video berjudul “i miss you No.10”.

Dari kedua video tersebut, ugo mencoba menuntaskannya dalam video lain berjudul “i miss you no.8” yang menggambarkan seorang pembuat karya seni keramik dari pasir berwarna kecoklatan tanpa melalui proses pengolahan bahan sehingga tidak pernah jadi alias berantakan.”saya merasa kehilangan momen masa kecil yang remeh-temeh.jadi,melalui main-main dengan video ini,saya merasakan lagi,”kata ugo.

Hendro wiyanto,kurator pameran”arus-arus terpencil”mengatakan,karya-karya ugo menunjukan keintiman seninya dengan narasi-narasi yang berkembang tak terduga dalam diri sang seniman sendiri. Video adalah media baru bagi ugo dan untuk pertama kalinya ditampilkan di galeri ini.

Hari prajitno,karib ugo untoro ,menghadirkan sembilan karya seni sketsa dan tiga lukisan abstrak, serta karya seni instalasi kepompong.karya seni kepompong berjudul”pesaktian” yang menggelantung dalam ruang pamer itu memberikan sentuhan citra atas karya seni yang boleh jadi”tidak laku dijual”.saya menyadari karya yang saya pamerkan ini tidak laku dijual,karena itu saya memberikan beberapa karya lukisan untuk kompensasi galeri untuk dijual,tapi tidak untuk dipamerkan,”kata ugo untoro.(ABDUL LATHIEF)

=01cc kompas 21des08 00

2008. Painting of Install, “Multidimensi”

Painting of Install, “MultiDimensi”,
Galeri surabaya, Balai Pemuda, Surabaya, 0ktober 2008

1. undangan

1a. katalog2008-dpn 1b. katalog2008-blk

Konsep Dasar

Tiada suatu ide yang benar-benar konkrit untuk bisa dijelaskan.
Apalagi berangkat dari suatu ideologi tertentu
yang selalu mengkotakkan pada “hal” yang tidak realistis
menuruti patron atau pola tertentu yang
dibakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.

Hanya proses abstraksilah yang merupakan
suatu reaksi instinktif atau reaksi sadar terhadap
proses pengkomposisian kembali ide-ide (unsur-unsur) murni yaitu
kelebat di saat itu juga di mana sedang di dalam
proses telah menunjukkan pilihan-pilihan yang makin mudah,
walau sebenarnya amat sangat terbuka;
tetapi dengan keterbatasan “waktu” maka
secara naluri musti secepatnya menangkap moment yang
sesaat itu untuk ditata secara layak yaitu tidak berlebihan.

Saya mempercayai ekspresi individu sebagai acuan dasar,
sehingga arti “kebebasan” sangat terkait dengan kebiasaan,
kecenderungan atau keunikan tertentu akan
membawa sesuatu yang lebih jernih.
Sehingga arti “saya” tidaklah berjalan secara serampangan,
tetapi semua itu berjalan dengan bekal purba
yang dibawa sebelum terjadinya kelahiran.
Hukum-hukum yang telah diterapkan pada
setiap personal akan membawa pada pengertian
yang lebih manusiawi yang terbimbing olehNYA.

01.sepatu coklat 02.home 03.sepatu di atas meja di atas sepatu 04.objek kuning-c 05. fire scream 06. masuk ke dalam 07. misteri jingga 08.pemandangan 09.yellow desert scream-c 10.potret kabur selanjutnya 11. dua kepala yang marah 12.marah sambil membawa perahu-c 13. objek-objek 14. potongan tangan dan pohon kelapa 16.menunggu telur III-c 17.dua objek-c 18.variasi III 19.01 20.11 21.14 22.no23 23.no25 24.no26 (pemajangan terserah) 25. ..... . diam m

suasana pameran dan media massa:

1bb3. kompas30okt08 1bb4. suasana pam kompas30okt081bb2. jawa pos29okt08

Surabaya – Surabaya Post

Pameran ‘Multidimensi’ Jalan Melepas Duniawi
Kamis, 30 Oktober 2008 | 12:26 WIB

Perupa yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya dan lama tidak terdengar kiprahnya, Hari Prajitno, kini tampil tunggal di Galeri Surabaya (GS), Selasa (28/10) – 2 November.

Pameran bertajuk “Multidimensi”, sepertinya dia ingin mencurahkan kegelisahan atau perjalanannya dengan memajang 81 lukisan. Bisa dibilang, mungkin ini pemecah “rekor” selama GS menggelar pameran. Karena tidak banyak pameran tunggal yang menghadirkan karya sebanyak ini. Pameran bersamapun, kadang tidak sampai 81 lukisan. Karya yang ditampilkan, dipajang secara susun. Ada di deret bawah dan deret atas yang tidak lazim dilakukan oleh pelukis lain. Penyusunan karya yang “tidak lazim” ini, menggambarkan perjalanan hidup Sang Perupa. Lukisan yang ditata searah jarum jam itu sama seperti arah mengeraskan “sekrup”.

Sementara lukisan yang ditata berlawanan arah jarum jam, adalah sebaliknya. Lukisan di bagian bawah menceritakan perjalanan Hari setelah mengenal Tuhan dan berusaha melepas keduniawian. Di sini banyak lukisan bernuansa pemandangan. Di deretan atas menggambarkan sebaliknya, Hari banyak mengejar keduniawian. “Betapa kecilnya kita di jagad raya ini,” katanya. Sementara karya yang dinilainya favorit ada di urutan ke satu deret bagian bawah. Karya tidak berjudul ini merupakan gerbang Hari serius melukis abstrak dan tercipta ketika dia mulai salat. Kesadaran Hari terhadap Tuhan berkat Mas Koko. Dia yang mengajaknya shalat. Pada saat itu juga Ayu Aurumsari Riza, istrinya sedang melahirkan anak ketiga, Jalu Landep Hanjemparing Giri Jati lewat operasi cesar. Sehari setelah itu, Jalu operasi karena ususnya yang abnormal. Bersama dengan “beban” yang menumpuk, Mas Koko sempat menelponnya. “Kamu punya biaya untuk merawat anakmu?” ujar Hari Prajitno menirukan ucapan Mas Koko. “Mendengar perkataan itu, sayapun tersadar dan setelah kejadian itu saya lebih mendekat kepadaNya,” tambahnya.

Sementara lukisan yang dikelompokan menjadi satu merupakan karya yang memiliki karakter hampir sama dan dibuat dalam periode yang hampir sama pula. Karena setiap orang punya kecenderungan tertentu dalam periode tertentu juga. “Seperti halnya anak kecil, di waktu tertentu menyukai mainan robot tapi di waktu lain dia berubah menyukai mainan mobil-mobilan dan lainnya,” jelas dia. Tentang kreatifitas seninya, alumnus Fakultas Seni Rupa – Institut Seni Indonesia (FSR-ISI) Jogjakarta mengakui instingtif. “Saya melukis sesuai dalam pikiran, seperti apa yang diberikan Tuhan. Saya hanyalah perantara bagiNya,” tambah dia. Hari mulai profesional melukis pada 2000. Sebelumnya dia banyak berkreasi di media kayu dan seng. Salah satu karya yang cukup mengejutkan dan seakan meneror penikmatnya, sempat dipamerkan di GS beberapa tahun lalu. Hari menampilkan semacam (satu) kepompong ukuran besar. Memenuhi ruangan. Kempompong yang dibuat terus gergoyang dan dilengkapi dengan pencahayaan tertentu, membuatnya para penikmatnya seakan-akan ikut bergoyang. Pada pameran ini, sepertinya bisa melihat perjalanan hidup Hari. Periode 2000 – 2002, dia menggambarkan kembali benda berserakan untuk ditata tanpa harus bermakna simbolik, kecuali memungkinkan keterbukaan di setiap menikmati susunanNya. Periode 2003 -2004, mencoba menafsirkan kembali benda dan lingkungan yang komposisinya mulai lebih cair. Lebih lapang menuju keinginan yang ada di dalam, walau kadang terjebak pada aras egoistis. Periode 2005 – 2007 mulai menapaki ranah keterasingan. “Aku tidak lagi leluasa memiliki atau menentukan apa-apa,” ungkapnya. Periode 2008 tiada ketakutan menapaki ketidakjelasan untuk menuju ke depan. “Apapun yang terjadi adalah kongkrit dan begitu nyata. Tiada batas untuk memberi tanda apapun yang tertorehkan di sana, karena dia ada di sini,” tuturnya. (K13)

http://galerisurabaya.blogspot.com/2008/11/pameran-multidimensi-jalan-melepas.html

Jawa post-[ Rabu, 29 Oktober 2008 ]

 Titik Balik Religi dalam Corak Abstrak

SURABAYA – Penataan lukisan karya Hari Prajitno terlihat khas dalam pameran di Galeri Surabaya mulai kemarin hingga 2 November mendatang. Ada 81 karya yang dipasang dalam dua baris, yang paling atas hampir mendekati plafon. Karya-karya tersebut diurutkan tahun pembuatannya, mulai 2001 hingga 2008. Dari kiri atas searah jarum jam, lalu berlanjut di bawahnya berlawanan arah jarum jam.

Pameran tunggal ke-8 Hari Prajitno tersebut bertajuk Multidimensi. ”Apa pun yang saya gambar adalah mengenai keberadaan Dia,” ucap pengajar seni rupa STKW itu. Menurut dia, karya-karya tersebut merupakan pertumbuhan kehidupan dan perubahan pola pikir yang selama ini dialami dirinya.

Lukisan yang ditata berdasar urutan tahun pembuatan itu pun ternyata memiliki makna. Searah jarum jam diibaratkan seperti sekrup yang mengencang. Itu menandakan bahwa pada masa-masa tersebut, Hari masih mementingkan kepentingan duniawi. Sedangkan di baris bawah, penataan berlawanan arah jarum jam. Bagi dia, itu berarti Hari mulai melepaskan keduniawian dan fokus pada kehidupan religi. ”Saya mulai mengenal Dia,” tutur bapak tiga anak tersebut.

Bukan hanya itu. Dari urutan tersebut juga terlihat perjalanan aliran abstraknya. Dalam lukisan yang dibuat pada 2001, Hari masih menggambarkan sebuah objek. Meski itu hanya sebuah ekspresi. Tapi, lama-kelamaan objek-objek tersebut menghilang, berganti dengan corak abstrak dengan semburat warna.

Misalnya, dalam lukisan abstrak dengan dominasi warna kuning yang tergantung di sebelah kanan pintu. ”Lukisan itu dibuat ketika saya mulai melakukan shalat,” ungkap pria 40 tahun tersebut.

Warna kuning itu diartikan sebagai cahaya yang mulai datang kepada dirinya. Hari tidak memberi judul pada setiap lukisan itu. Dia hanya ingin menunjukkan inilah karya Dia, Sang Pencipta. ”Melalui saya sebagai perantaranya,” ungkap alumnus ISI Jogjakarta itu. (jan/dos)

 

lihat juga di :

http://www.infogue.com/article/2008/10/28/seabrek_lukisan_membungkus_ruang_galeri

1995-1998. Drawing and Sketch, Gambar dan Sketsa

Drawing and Sketch

Gambar dan Sketsa

1995-1998

1. potret diri 95

Art is not just moving object image of what we see, but it has a standard proportion, light a dark accuracy, object code, and more importantly is how to translate itself by the object are captured.

Seni gambar bukanlah sekadar memindah objek dari apa yang kita lihat, tetapi memiliki standart proporsi, ketepatan gelap terang, karakter objek, dan yang lebih penting adalah bagaimana mampu menerjemahkan diri sendiri lewat objek yang ditangkap.

Gambar Potret

a3. dwi sudaryantoa4. toto imansyah2-anonim1 5-joko-suprapto3 6-sholehuddin-anwar2 1a-potret-diri3 1-potret-diri-956

Gambar Lingkungan

21-studio-patung2 22-sudut-studio-seni-rupa2 13-kelas-no3-sr-stkw3 18-studio-sr-stkw2 17-sketsa-untuk-orang-duduk220-kursi-kursi-di-dalam-studio-stkw2 7-beringin-depan-kelas-c216genangan-air-dan-katak2 14-habitat-rumah-kotak-sabun2  11-malam-bulan-sabit-sehabis-hujan-dan-katak2 9-rumah-kotak-sabun-klampis-ngasem3 8-kamar2

2012-2013. Sketch and Poetry, “Perahu Pembawa Pelita dan Benih”

solo exhibition sketch and poetry

Pameran Tunggal Seni Sketsa dan Puisi
“Perahu Pembawa Pelita dan Benih”

poster

pembukaan: 6 desember 2012, jam: 18.30 wib
Pameran berangsung 7 desember 2012 s/d 13 januari 2013
di House of Sampoerna, jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya. phone: +62 31 353 9000

Picture1 Picture2

Bowl, exactly container” for the Indians as a multifunctional vessel commonly used by herbalists as a place to grind / crush some parts of the plant, mineral or animal origin for the purpose of some sort of drug / herb and also to be able wewadahi / poison to purposes smear their arrows or spears as hunting vehicle.

No such difference was also pronounced Lao Tze, for the hole / space that makes the vessel as a container. Of both of the above, it was concluded that the space can also be specified in terms of a woman’s uterus or liver that can accommodate just about anything (sak jembare soon), would not be able to accommodate any ocean with forced or not, the ocean as well as the liver.

Back to the concept of the container / mother / woman / womb, tried to describe it as a bowl, a boat, even a crescent shape when viewed in a two dimensional (shape), besides it was like a boat and the bowl is a container vessel as well as support. Do not the moon also generally in Java as well as a symbol of femininity (ayune rich mbulan ndadari).
While the idea of ​​the stone is a burden to be borne, not change the Sisipus the reject” heaven (essence) yearning for the beloved earth, so it should take pains to raise a stone which exceeds himself and even then must also roll her back down; was conducted continuously without stopping (existence), that’s the responsibility of the life lived by the uterus as a form of love and affection.

Mangkok, tepatnya “wadah” yang bagi suku Indian sebagai bejana multifungsi yang biasa digunakan oleh para dukun sebagai tempat menggerus/melumatkan beberapa bagian dari tanaman, mineral atau yang berasal dari hewan untuk keperluan semacam obat/jamu dan sekaligus juga untuk wewadahi bisa/racun guna keperluan melumuri anak panah atau tombak mereka sebagai wahana berburu.

Tidak beda juga seperti diucapkan Lao Tze; karena lubang/ruang itulah menjadikan bejana sebagai wadah. Dari kedua hal di atas, maka disimpulkan bahwa ruang di dalam pengertian tertentu bisa pula rahim seorang perempuan atau hati yang mampu menampung apa saja (sak jembare segara), tidakkah samudera mampu menampung apapun dengan terpaksa atau tidak, samudera seperti juga hati.

Kembali ke konsep tentang wadah/ibu/wanita/rahim, dicoba menggambarkannya sebagai mangkok, perahu, bahkan bulan sabit bila dilihat bentuk secara dua dimensional (shape), disamping hal itu seperti perahu dan mangkok adalah sebagai wadah penampung sekaligus menghidupi. Tidakkah bulan juga secara umum di Jawa juga sebagai simbol kewanitaan (ayune kaya mbulan ndadari).
Sedangkan gambaran tentang batu adalah sebagai beban yang harus ditanggung, tidak ubah si Sisipus yang “menolak” surga (esensi) demi kerinduan pada kekasihnya bumi, sehingga harus bersusah payah menaikkan sebuah batu yang melebihi dirinya dan itupun harus juga menggelindingkannya kembali ke bawah; itu dilakukan terus-menerus tanpa henti (eksistensi), begitulah tanggungjawab terhadap kehidupan yang dihidupi oleh rahim sebagai bentuk cinta dan kasih sayang.

lihat juga di :

1. http://houseofsampoerna.museum/e_gallery_ex_exhibits.html

2. http://jogjanews.com/segera-pameran-tunggal-puisi–ilustrasi-perahu-pembawa-tunas-dan-pelita-hari-prajitno-di-house-of-sampoerna-surabaya

3. http://www.demotix.com/news/1661186/poetry-and-illustration-exhibition-surabaya

4. http://infopijar.wordpress.com/2012/12/08/perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/

5. http://www.epochtimes.co.id/entertainment.php?id=743

6. http://www.centroone.com/photo/2012/12/1v/puisi-dan-ilustrasi-perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/

7. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/100336/25-puisi-ilustrasi-perempuan-dipamerkan-di-surabaya

8. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/21/194507.html

9. http://kabargress.com/2012/12/06/perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/#comment-1871

10. http://stkw.blogspot.com/2012/12/pameran-karya-hari-prajitno.html

perahu pembawa tanaman dan api perahu tanpa laut terbakar di atas perahublue mount hopepenyangga perahupembangun menara perahutiga perahu pembawa oborwaitingbulan sabit, mangkok dan perahuperahuperahu pembawa batu sdg istirahat perahuperahu pembawa mangkok yg tertambat perahuperahu rusak perahuperahu rusak tonggak dan karang pohonpohon meminta hujan tanaman tanpa akar  tiga lelaki yg menunggu di atas batu dan perahuperahu tertambat tiga perahu pembawa beban  untitled  wanita menunggu....     objek batu dan mangkok

puisi yang dipamerkan lihat di :

https://hariprajitno.wordpress.com/2013/05/23/c1-puisi-beku-batu-rindumu-2012/

59376_394193817325347_1365920147_n401680_394196263991769_1740675427_n27893_394196160658446_991084008_n  486157_394196207325108_1719321156_n319596_394196200658442_1982068760_n 391901_394196103991785_677464564_n   526962_394193040658758_1249571071_n

2010. Installation Art, “We’ve Built Something”

Instalasi “we’ve built Something We’ve Built”
Museum dan Tanahliat, Yogyakarta.

01-poster3

Kejadian/benda sehari-hari yang biasa-biasa saja mungkin selalu anda sepelekan, bahkan kesampingkan, yaitu bebatuan atau rerumputan/ ilalang. Padahal apapun di sekeliling akan memiliki nilai bahkan makna; mengapa mereka harus bersanding di sekeliling dimana kita tinggal dan hidup.

Ambil segenggam lempung/ tanah liat, lubangi ditengahnya (Lao Tze) maka karena ruang itulah dia menjadi berguna sebagai wadah.
Mangkok porselin adalah sebuah wadah yang tidak mudah terkontaminasi sekalipun dituangi racun dan juga tahan akan suhu tinggi, tetapi porselin amatlah rentan benturan dan mudah pecah.

Tumpuklah berkeping-keping batu hingga tersusun menyerupai tonggak atau menara, disitulah kegunaan bebatuan, mereka akan menjadi penanda siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya.

Yogyakarya, 19 Januari 2010/Museum Dan Tanah Liat

02-lengkap2 03-menara13 0505-menara2304-mangkok13  06-mangkok2304b  08b

Selasa, 09 Februari 2010 , 21.10
Narasi Mangkok-Menhir
oleh Kuss Indarto

 BANGUNAN metafora visual itu sebenarnya sederhana. Setidaknya, kerangka dasar pemikirannya tidak datang dari dunia antah berantah yang jauh dari ujung hati dan tempurung kepala sang seniman. Namun Hari Prajitno, sang seniman ini, mampu memberi upaya pembumian atas pemikirannya itu. Bahkan cenderung dengan terang-benderang. Dan terasa datang dari dunia yang sehari-hari, setidaknya bagi masyarakat yang karib dengan ihwal pedusunan Jawa.

Pada pameran tunggalnya di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) di Menayu Kulon no. 55 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, nuansa “kampung” itu kuat terasa. Begitu masuk ruang pameran yang tak terlalu luas, penonton langsung disergap oleh citra sebuah mangkok raksasa setinggi kira-kira 1 meter. Di bawahnya tertata batu cadas putih. Mangkok itu tersusun dari jalinan batang padi kering yang rapi menutup rapat rangka besi di baliknya.

Bangunan mangkok itu tak berdiri sendiri. Di gigir mangkok ada batang padi berujud sulur besar, meliuk, memanjang, lalu melampaui tembok sekira 3 meter di hadapannya. Dan, ups, apresian seperti digiring pada pemandangan lain di balik tembok itu: sebuah bangunan, serupa menhir penuh “tombak”, setinggi hampir 2 meter. Sulur dari mangkok tadi bagai menggaris hubungan dengan bangunan dari batu cadas putih di sebalik tembok. Keseluruhan ruangan itu menjadi terasa menyatu karena lantai bertegel merah hati telah tertutup rapat oleh hamparan sekam (kulit padi) setebal lebih dari satu sentimeter. Nuansa “kampung” luruh di ruang itu.

Pameran bertajuk SOMETHING WE’VE BUILT ini memang sebuah metafora besar yang ditampilkan oleh Hari untuk membincangkan relasi laki-laki dan perempuan. Dan sangat dimungkinkan citra mangkok dan menhir itu secara khusus menarasikan relasi antara suami-istri. Ini kisah lama, klasik, mungkin malah kuno, namun terus saja tak lekang untuk terus digali dengan diaktualisasikan lewat berbagai perspektif.

Penghalusan citra visual yang diketengahkan dosen seni rupa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya ini sepertinya tak lepas dari pengalaman batinnya (sebagai suami dan bapak dari 3 orang anak, Titah, Bening, Jalu) yang telah mengendap belasan tahun. Tentu juga dari “terjangan” pengalaman sahabat-sahabatnya atau orang di sekitarnya yang terempas “badai di secangkir kopi” dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ini menjadi masukan teramat berarti hingga menginspirasi karya dalam pameran ini.

Ada titik menarik atas karya ini: tidak utuhnya titik hubung pada ujung sulur yang berangkat dari citra mangkok menuju citra menhir. Dari kiasan yoni (alat kelamin perempuan) dan lingga (alat kelamin laki-laki). Ketidak-sambungan antara citra yoni-lingga oleh sulur inilah yang seperti dipersoalkan oleh seniman yang masuk ISI Yogyakarta tahun 1988 tersebut. Dan tergambar jelas ada problem besar pada citra lingga yang penuh tebaran tombak-tombak kecil di sekujurnya.

Sampai di sini, asosiasi bisa berkelebat pada tugas laki-laki, sang pemilik yoni, dalam konsep masyarakat Jawa, “komunitas yang dibayangkan” yang menaungi hidup Hari Prajitno. Di sana ada konsep Lima-A, yakni: angayani (memberikan nafkah lahir batin), angomahi (membuat rumah sebagai tempat berteduh), angayomi (menjadi pengayom dan pembimbing keluarga), angayemi (menjaga kondisi keluarga aman tenteram, bebas dari gangguan), dan angamatjani (mampu menurunkan benih unggul). Konsep dan tugas berat bagi laki-laki ini tak lepas dari pandangan Jawa bahwa sosok laki-laki itu jangkahe dawa (langkahnya panjang, sepak terjangnya lebih luas) ketimbang figur perempuan yang yang diasumsikan kerubetan pinjung (terhimpit kain, banyak halangannya. Ya, sebuah konsep yang bisa jadi dipandang “negatif” karena terlalu patriarkhal, namun juga bisa dibaca positif karena memberi gambaran dasar tentang pembagian tugas dan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Apapun, sebagai seniman yang lebih dari 10 tahun “menjauh” dari pusaran hiruk-pikuk kreativitas para seniman Yogya, karya Hari Prajitno ini pantas diberi point penting pada kemampuannya untuk menggali aspek material dan eksekusinya yang cukup menyempal dari kecenderungan para perupa dewasa ini yang serasa ingin tampil stereotip: material mahal, bersih, kinclong, dan rapi, namun tak jarang sepi substansi.

Tak ada yang bisa dijual dalam pameran ini, kecuali kehormatan dan penghormatan seniman ini pada upayanya untuk konsisten dengan kegaduhan batinnya untuk menyoal perkara relasi lingga-yoni yang menyegarkan. Teruslah untuk konsisten, Har! ***

lihat juga di sini:

http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=26
http://jogjanews.com/museum-dan-tanah-liat-akan-gelar-pameran-tunggal-seni-instalasi-karya-hari-prajitno
http://www.tembi.org/cover/2010-02/20100210.htm
http://gudeg.net/id/news/2010/02/5239/Cari-Tahu-Peran-Benda-di-Sekitarmu.html#.UZYNV0puFtg

2004. Installation Art, Pesakitan , FSS

Installation Art “Pesakitan”, Festival Seni Surabaya”, 2004

h1skd1-c

Picture1sdfg Picture1dfgh

concept

Maybe just with my art can distort the fact that as a scapegoat” does not always have to be avoided if after all it is part of the scenario ALMIGHTY CREATOR. For example symbolized the work of “prisoner” in which death is the obvious part that might happen to anyone, but here death is like a cocoon / hermitage to reach the stage that no longer form of eggs or caterpillars dwell only on the singlestem plants the only (have not had the experience of the plants / other world outside) only on the tree.

Then the caterpillars have entered the stage of jail / torment themselves at any given time according to the level of what had given him, herein lies where the caterpillar is no longer a butterfly, but the light that will illuminate corners.

Konsep

Mungkin hanya dengan berkesenian saya bisa memutarbalik fakta bahwa sebagai “tumbal” tidaklah selalu harus dihindari kalau toh itu adalah bagian dari skenario Sang MAHA PENCIPTA. Sebagai contoh disimbolkan pada karya “pesakitan” yang mana kematian adalah bagian yang jelas nyata bakal terjadi pada siapapun, tetapi di sini kematian ibarat sebuah kepompong/ pertapaan untuk mencapai tahap yang tidak lagi berupa telur ataupun ulat yang berkutat hanya pada satu batang tanaman yang itu-itu saja (belum memiliki pengalaman terhadap tanaman/ dunia lain diluar) hanya pada sebatang pohon tersebut.

Maka ulat harus memasuki tahap memenjarakan/ menyengsarakan diri pada waktu tertentu menurut kadar dari apa yang pernah diberikan olehNYA, di sinilah letak dimana ulat tidak lagi menjadi seekor kupu-kupu, tetapi cahaya yang akan menerangi penjuru.

h2-c h3-c h5-c h7-c TOSHIBA Exif JPEGTOSHIBA Exif JPEG

media massa:

karya ini sebagai Pesakitan dan Menyakitkan. Bukan tanpa alasan jika sang seniman menamakan demikian. “Ini adalah simbol dari kehidupan”,  melalui karya ini, ia ingin menujukkan bahwa kesengsaraan adalah bagian dari keindahan hidup, “hujaman tombak itulah menandakan kesengsaraan”, ujar Hari Prajitno

menunjukkan bahwa kesengsaraan bisa menjadi suatu kebahagiaan, “Benda ini sengsara karena ditusuk, tapi justru dari itu ia mengeluarkan sinar,”.  Artinya tidak jarang seseorang justru terlihat lebih bersinar/dikenal dan berarti ketika ia sudah meninggal.

2. berita fss21. berita fss