1994. non conventional painting Final Study, Studi (Ujian Tugas Akhir)

non conventional painting 1994 (study)

At first I did not believe the plane as a way according to the things that can foster a more innovative creations fresh, and therefore tried to liberate not to paint the picture plane in a flat field.
The process of formation of paintings followed, crashing, delete, or even a motion merusaki irregular curved surfaces, holes that can be played in such aspects with the more liberal, meaning there is no attachment to paint something / anything and anyone, except play around the not afraid of what the results were.

Departing from distrust in conventional fields and also the desire to break free from certain objects and experiences of nature, then finally save a painting that is not flat ground again.
According to Fajar Sidik, limits creativity for painting (Subroto Sm, SANI, 1982: 11):
a. Exploitation of line and color as the basic elements of painting (no pelukisannya properties).
b. Dimension is still lead to the disclosure of the nature of two-dimensional.
c. Painting is only viewed from the side / direction only, not as a statue which is seen from all directions.
d. Have aesthetic value and creative.

In the process of creating that time” which will form by itself, not infrequently there is a failure or confusion before the image appears something tasty to proceed. Lots going dialogue with materials and desire a long and complicated, because each piece has a different technical problems than previous works.

“Tekstur Sebagai langkah Awal Penciptaan Lukisan”
Tugas Akhir Program Studi Seni Rupa Murni FSR-ISI Yogyakarta 1994

Pada mulanya saya tidak mempercayai bidang datar sebagai cara ungkap untuk hal-hal yang mampu menumbuhkan kreasi-inovatif yang lebih segar, maka dari itu mencoba membebaskan bidang gambar untuk tidak melukis di bidang bidang datar.
Proses pembentukan lukisan mengikuti, menerjang, menghapus, atau bahkan merusaki gerak permukaan yang meliuk tidak beraturan, berlubang-lubang itulah bisa memainkan aspek-aspek rupa dengan lebih leluasa, artinya tidak ada keterikatan untuk melukis sesuatu/apa dan siapa, kecuali bermain-main yang tidak takut seperti apa hasilnya.

Berangkat dari ketidakpercayaan pada bidang konvensional dan juga keinginan untuk membebaskan diri dari objek-objek tertentu dan pengalaman akan alam, maka akhirnya menngunakan landasan lukisan yang tidak datar lagi.
Menurut Fadjar Sidik, batasan kreativitas untuk seni lukis(Subroto Sm, SANI, 1982: 11) :
a. Pengeksploitasian garis dan warna sebagai elemen-elemen dasar seni lukis(ada sifat pelukisannya).
b. Dimensi pengungkapannya masih mengarah pada sifat dua dimensional.
c. Lukisan hanya dipandang dari satu sisi/arah saja, tidak seperti patung yang dipandang dari segala arah.
d. Memiliki nilai estetik dan kreatif.

Pada proses penciptaan bahwa “waktu” yang akan membentuk dengan sendirinya, tidak jarang terdapat kegagalan atau kerancuan sebelum muncul sesuatu imaji yang enak untuk dilanjutkan. Banyak terjadi dialog dengan bahan dan keinginan yang panjang dan rumit, karena setiap karya memiliki persoalan teknis yang berbeda dibanding karya sebelumnya.

01-komposisi-i 02-komposisi-ii  03-lukisan-v04b-lukisan-ix04-lukisan-vii07-lukisan-xv-fantastique05-komposisi-ke-3-le-sacre-du-printemps08-komposisi-iv-lintah11-lukisan-xvii-pojok10-la-mer-laut11b-lukisan-xvii 13-belalang14-lukisan-xx-stalagtit-stalagmit  12-komposisi-v  15-mangkok-pecah 16-sampah-ii

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s