1999-2000. Painting, Lukisan

solo exhibition painting

Pameran Tunggal Galeri Cipta III, TIM, Jakarta, 2000

Periode 1999-2000

Creation, or recreation, super or not also cause pain
All went menjumputi long trail that may be seen or remembered
There is no certainty either color or shape picture
Just stay to continue

Kreasi, atau rekreasi, tidak juga menyebabkan super atau sakit
Semua berjalan menjumputi jejak lama yang mungkin terlihat atau teringat
Tiada kepastian gambaran baik warna ataupun bentuk
Hanya tinggal melanjutkan
Pameran Tunggal Hari Prajitno
Bila Objek Instalasi Berpindah ke Media Kanvas
Jakarta, Sinar Harapan

Bagaimana karya seorang seniman instalasi ketika ia ”nekat” menghasilkan lukisan? Perhatikanlah gejala-gejala yang terjadi pada karya lukisan Hari Prajitno, seorang seniman instalasi.
Dalam lukisan-lukisan yang dipajang di ruang pamer Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki hingga tanggal 24 Oktober, awalnya objek-objek tampak seolah baru dipindah dari dunia instalasi ke atas kanvas melalui media kuas dan akrilik. Pada pameran yang bertajuk ” Kreasi, Rekreasi, Tidak Juma Membawa Super atau Sakit”, frame instalasi masih terasa kuat bermain. Hari Prajitno sendiri mengaku hal itu. ” Ada objek dalam instalasi, dalam lukisan goresan itu yang menjadi objek,” ujarnya.
Tapi apa yang terjadi setelah itu? Transisi objek yang perlahan mulai samar dan mengabur, termasuk pada garis, tekstur dan brush stroke. Hingga akhirnya, semua itu makin pupus dan menghilang tinggal menyisakan gurat-gurat warna atas bentuk yang tak lagi kentara. Begitulah seniman yang biasanya dikenal dengan instalasinya itu, menciptakan karya selama enam bulan untuk persiapan pameran tunggalnya.

Karya-karya awalnya—yang dipajang di sebelah kanan ruangan setelah pintu masuk lukisan — mulai dari yang berjudul Rendezvous, Menganyam Objek-onyek, Sepatu Coklat, Kosong Tiga dan Sleeping Beauty terlihat lebih membentuk figur-figur. Gambaran tentang benda, sepatu, kaki dan wajah manusia hadir di sana. ”Kaki itu bukan spesifik, dia tak berfungsi sebagai inner, itu hanya objek,” ujarnya, menjelaskan objek yang kerap mengisi lukisannya.
Untuk proses transisinya, dia menghasilkan karya berupa Mangkok Hijau, Perahu Putih, Objek-objek Putih, Why is She Screaming dan Yellow Object. Baru pada ujung sebelah kiri ruangan, dia membuat karya-karyanya yang terasa semakin abstrak antara lain karya yang berjudul Objek I, Landscape dan Landscape II, Momen Satu, Volcano, Potret Kabur dan Momen Tiga.
Walau semua karya yang diproduksinya tahun 2002 itu punya pola yang tepat untuk pengembangan yang semakin abstrak, dia katakan juga bahwa kreativitas tak selalu menghasilkan garis yang linier. Artinya, Hari bisa kembali lagi pada bentuk apa pun yang akan dia jalani.

Warna Bebas

Hari mengaku tak sengaja dalam memilih warna-warna terang. Bisa jadi saat itu mewakili perasaannya yang senang beberapa waktu belakangan ini sehingga kebanyakan karya yang dipamerkan memang berwarna cerah. Dia juga kerap membenturkan warna, misalnya antara ungu dengan kuning.

Tema-tema yang diangkat Hari Prajitno juga bukan peristiwa yang ”an-sich” dan verbal terhadap konteks zaman berupa keadaan sosial atau politik yang melatarinya. Semacam kontemplasi, setiap persoalan eksternal selalu dikembalikannya pada kondisi internal sehingga apa yang lahir dari karya adalah objek-objek yang imajinatif dan penting saja untuk menghasilkan efek suasana.
”Kita jalan, melenggang dan melangkah. Itulah bagian dari kejujuran. Dari tubuh itu, kita punya rekaman sejarah pribadi. Termasuk latar belakang sejarah yang membentuknya,” ujar Hari. Kreasi merupakan bagian dari rekreasi dan hal tersebut tidak merupakan proses yang menyenangkan sebagaimana halnya menghadapi kehidupan.

Pada karya berupa Objek I dan Landscape II, Hari menghasilkan bentuk berupa ruang-ruang yang tanpa dinding secara konvensional. Untuk menunjukkan eksistensi ruang, dia membuat bayang-bayang benda-benda serupa tembok.
Walau cukup panjang dalam pengalaman membuat instalasi, seniman yang baru pertama kali mengadakan pameran lukisan tunggal ini, dia mengakui pengembaraannya sekarang seperti kanak-kanak. ”Seakan anak kecil yang membebaskan warna, untuk menentukan karakter, saya membebaskan warna. Masih perlu lebih intens lagi,” katanya. Baginya karya yang dibuat memang tak harus bergantung pada mood saja tapi bagaimana seniman bisa mempertahankan produktivitasnya dalam berkarya. (srs).

h7k-pregnant-c1 h10k-artefak-c h16k-perahu-putih-c1 h23k-kaki-putih-c h29k-c1 h31k-sream-and-white-three-c h35k-c1 h36k-c h39k-c1 h44k-c h46k-c1 h48k-c1 h50k-standing-by-the-river-i-c h61k-potret-kabur-ii-c
PAMERAN LUKISAN – Hari Prajitno dalam sebuah Pameran Lukisan Tunggalnya di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa (22/10). Pameran tersebut akan berlangsung dari 16-24 Oktober mendatang. SH/Peksi Cahyo
Copyright © Sinar Harapan 2000

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s