2010. Installation Art, “We’ve Built Something”

Instalasi “we’ve built Something We’ve Built”
Museum dan Tanahliat, Yogyakarta.

01-poster3

Kejadian/benda sehari-hari yang biasa-biasa saja mungkin selalu anda sepelekan, bahkan kesampingkan, yaitu bebatuan atau rerumputan/ ilalang. Padahal apapun di sekeliling akan memiliki nilai bahkan makna; mengapa mereka harus bersanding di sekeliling dimana kita tinggal dan hidup.

Ambil segenggam lempung/ tanah liat, lubangi ditengahnya (Lao Tze) maka karena ruang itulah dia menjadi berguna sebagai wadah.
Mangkok porselin adalah sebuah wadah yang tidak mudah terkontaminasi sekalipun dituangi racun dan juga tahan akan suhu tinggi, tetapi porselin amatlah rentan benturan dan mudah pecah.

Tumpuklah berkeping-keping batu hingga tersusun menyerupai tonggak atau menara, disitulah kegunaan bebatuan, mereka akan menjadi penanda siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya.

Yogyakarya, 19 Januari 2010/Museum Dan Tanah Liat

02-lengkap2 03-menara13 0505-menara2304-mangkok13  06-mangkok2304b  08b

Selasa, 09 Februari 2010 , 21.10
Narasi Mangkok-Menhir
oleh Kuss Indarto

 BANGUNAN metafora visual itu sebenarnya sederhana. Setidaknya, kerangka dasar pemikirannya tidak datang dari dunia antah berantah yang jauh dari ujung hati dan tempurung kepala sang seniman. Namun Hari Prajitno, sang seniman ini, mampu memberi upaya pembumian atas pemikirannya itu. Bahkan cenderung dengan terang-benderang. Dan terasa datang dari dunia yang sehari-hari, setidaknya bagi masyarakat yang karib dengan ihwal pedusunan Jawa.

Pada pameran tunggalnya di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) di Menayu Kulon no. 55 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, nuansa “kampung” itu kuat terasa. Begitu masuk ruang pameran yang tak terlalu luas, penonton langsung disergap oleh citra sebuah mangkok raksasa setinggi kira-kira 1 meter. Di bawahnya tertata batu cadas putih. Mangkok itu tersusun dari jalinan batang padi kering yang rapi menutup rapat rangka besi di baliknya.

Bangunan mangkok itu tak berdiri sendiri. Di gigir mangkok ada batang padi berujud sulur besar, meliuk, memanjang, lalu melampaui tembok sekira 3 meter di hadapannya. Dan, ups, apresian seperti digiring pada pemandangan lain di balik tembok itu: sebuah bangunan, serupa menhir penuh “tombak”, setinggi hampir 2 meter. Sulur dari mangkok tadi bagai menggaris hubungan dengan bangunan dari batu cadas putih di sebalik tembok. Keseluruhan ruangan itu menjadi terasa menyatu karena lantai bertegel merah hati telah tertutup rapat oleh hamparan sekam (kulit padi) setebal lebih dari satu sentimeter. Nuansa “kampung” luruh di ruang itu.

Pameran bertajuk SOMETHING WE’VE BUILT ini memang sebuah metafora besar yang ditampilkan oleh Hari untuk membincangkan relasi laki-laki dan perempuan. Dan sangat dimungkinkan citra mangkok dan menhir itu secara khusus menarasikan relasi antara suami-istri. Ini kisah lama, klasik, mungkin malah kuno, namun terus saja tak lekang untuk terus digali dengan diaktualisasikan lewat berbagai perspektif.

Penghalusan citra visual yang diketengahkan dosen seni rupa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya ini sepertinya tak lepas dari pengalaman batinnya (sebagai suami dan bapak dari 3 orang anak, Titah, Bening, Jalu) yang telah mengendap belasan tahun. Tentu juga dari “terjangan” pengalaman sahabat-sahabatnya atau orang di sekitarnya yang terempas “badai di secangkir kopi” dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ini menjadi masukan teramat berarti hingga menginspirasi karya dalam pameran ini.

Ada titik menarik atas karya ini: tidak utuhnya titik hubung pada ujung sulur yang berangkat dari citra mangkok menuju citra menhir. Dari kiasan yoni (alat kelamin perempuan) dan lingga (alat kelamin laki-laki). Ketidak-sambungan antara citra yoni-lingga oleh sulur inilah yang seperti dipersoalkan oleh seniman yang masuk ISI Yogyakarta tahun 1988 tersebut. Dan tergambar jelas ada problem besar pada citra lingga yang penuh tebaran tombak-tombak kecil di sekujurnya.

Sampai di sini, asosiasi bisa berkelebat pada tugas laki-laki, sang pemilik yoni, dalam konsep masyarakat Jawa, “komunitas yang dibayangkan” yang menaungi hidup Hari Prajitno. Di sana ada konsep Lima-A, yakni: angayani (memberikan nafkah lahir batin), angomahi (membuat rumah sebagai tempat berteduh), angayomi (menjadi pengayom dan pembimbing keluarga), angayemi (menjaga kondisi keluarga aman tenteram, bebas dari gangguan), dan angamatjani (mampu menurunkan benih unggul). Konsep dan tugas berat bagi laki-laki ini tak lepas dari pandangan Jawa bahwa sosok laki-laki itu jangkahe dawa (langkahnya panjang, sepak terjangnya lebih luas) ketimbang figur perempuan yang yang diasumsikan kerubetan pinjung (terhimpit kain, banyak halangannya. Ya, sebuah konsep yang bisa jadi dipandang “negatif” karena terlalu patriarkhal, namun juga bisa dibaca positif karena memberi gambaran dasar tentang pembagian tugas dan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Apapun, sebagai seniman yang lebih dari 10 tahun “menjauh” dari pusaran hiruk-pikuk kreativitas para seniman Yogya, karya Hari Prajitno ini pantas diberi point penting pada kemampuannya untuk menggali aspek material dan eksekusinya yang cukup menyempal dari kecenderungan para perupa dewasa ini yang serasa ingin tampil stereotip: material mahal, bersih, kinclong, dan rapi, namun tak jarang sepi substansi.

Tak ada yang bisa dijual dalam pameran ini, kecuali kehormatan dan penghormatan seniman ini pada upayanya untuk konsisten dengan kegaduhan batinnya untuk menyoal perkara relasi lingga-yoni yang menyegarkan. Teruslah untuk konsisten, Har! ***

lihat juga di sini:

http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=26
http://jogjanews.com/museum-dan-tanah-liat-akan-gelar-pameran-tunggal-seni-instalasi-karya-hari-prajitno
http://www.tembi.org/cover/2010-02/20100210.htm
http://gudeg.net/id/news/2010/02/5239/Cari-Tahu-Peran-Benda-di-Sekitarmu.html#.UZYNV0puFtg

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s