C1. Poems, Puisi “Beku Batu Rindumu”, 2012

Poems

“Beku Batu Rindumu”

telah dipamerkan pada “Perahu Pembawa Pelita dan Tunas”, 2012

A. Perkenalan

MUNGKIN ADA

Pilah celah mengintip resah
engsel berderit, angin berdesir
lirih.

Mungkinkah.
Sapaankah.

Walau sekali seperti kenal lama.

TERPAKU DIAM

Tak tahu siapa engkau siapa, peduli apa
memangnya kenapa.

Setelah mendengar haru cerita
diam rapat
terkatup.

Mengapa.

PENTINGKAH TAHU SIAPA

Memang tak tahu siapa
pentingkah tahu siapa.

Lunak sapa
hangat kenal
aku adalah liarmu.

B. Hasrat

JANGAN HABISKAN SEBELUM

Sambut lembut uluran tangan
lepas beban seharian.

Lenggang girang kaki telanjang
derai tawa, riang
nyaring.

Jangan habishabiskan gairah
sebelum larut malam
sisakan sebanyak dendam.

BINCANG DI BERANDA

Hempas lelah di beranda
kopi tersaji, berbincang, tak habis sebatang.

Kau sempatkan mandi
” Mas!, lupa handuknya, tolong hantarkan “
senyum menggoda
lengan tutup sebagian dada.

Sebenarnya malam belum layu
” Aku ngantuk, mas “
rayu pinta isyarat sayu
sipu tersungging malu.

SENYUM NYENYAK

Rata gerimis aroma hujan pertama
nyenyak tidur di sorot redup kamar
di bawah melekat menyentuhkan kulit.

Tak membangunkan, cicip mimpi hanya
gerai rambut tak tersisir.
selimut menutup tak rapat.

Kini tertinggal aroma
memar lunak di leher
parut merah gigitan bibir.

TERAMPAS MANTRAKU
( “ cepat pulang sayang!, kutunggu di kusut spreiku”)

Selimut tak rapat menutup, gerak lembutpun akan
hilang mantra, karena sudah bulat parasnya.

Wewangi sudah tertebar, irama sedang dimainkan
siapa penyihir, ataukah kau sudah merampasnya.

Hilang mantra, senyum menggoda amat menawan
tak malu binar mata, hasrat birahi tak tertahan .

PAGUT KESEKIAN KALI

Menghias bilik, selambu terganti cita terpilih
senyum mengembang tanpa ujaran
aroma lekat
tubuh membiar redup membayang
bulan bundar remang telanjang.

Mengurai gumpal deru nafas berlanjut
kutunggu larut, kutunggu menjemput
terulang parut
tak pedulikan nyeri geli
rindu pagut kesekian kali.

WANITA INGIN SELALU HANYA UNTUK MEMILIKIMU

Katamu,
“Aku akan menyihirmu sampai kau tak mampu mengeluarkan satu katapun”.

Aku ingat saat dia katakan,
“Jangan membuat aku jatuh cinta kepadamu”.

Atau,
“Kugigit sedikit cuping telinga lalu sambar lehermu”.

Godanya kepadaku,
“Tak janji untuk tidak memiliki, hanya untukku”.

C. Rindu dan Cinta

PEDIH MENUNGGU MENJEMPUT PERIH
(menunggumu di rumah sakit)

Di pembaringanmu
sesak nafas ruang pengap
setiap kali tersekap
menanti di kosong wajah.

Hampa sampai kapan
mungkinkah ini
karena tak direstui
anugerah pedih tak tertahan.

Kau sendiri tak tegar
menunggu pedih
menjemput perih
doa lirih tak pantas di dengar.

Menunggumu
sampai kapan
lekaskan
doa lirih tak pantas di dengar.

Tuhan tak di sini.

MALAM TERJAGA

Jingga memerah lekaskan malam
susuri redup bulan
gemintang enggan.

Di dingin yang gelisah
tengadah.
Tersipu angan pada malam terjaga.

SENYAP LELAP SENYUMMU ,”TIDURLAH”

Tak peduli ranjang berderit, sprei kusut
tidur sendiri senyap keriput
senyummu.

rapikan kusut, membasuh peluh
cecap mimpi di tidurmu
senyap lelap senyummu.
“Tidurlah”.

SEDERHANA CINTAKU

Tidak juga bawakan bulan
tiada genggam seikat kembang
tak rumit bualan
atau di luar ambang.

Segalanya biasa sederhana
seperti hanya basuh muka
tenggelamlah
aku didalamnya.

HARUSKAH KUKATAKAN

Selalu mengusikmu
tak bosan mempertanyakan
tentang terhanyutku.
Tidakkah cukup kukatakan.

“Aku cinta padamu”.

Benarkah apa yang terlihat
mustikah kujelaskan sikap sifat.
Tidakkah diam marahmu
kan merindu

Haruskah kukatakan….

BEKU BATU RINDUMU I

Sekian tahun dari tumpukan tiap serpihan
gumpal menggumpal, beku sudah membatu.
Beku
batu
rindumu

diam malam
dingin cekam
beku batu rindumu.

BEKU BATU RINDUMU II

Makin malam kelam larut
bulan berbunga kuncup
geliat santun, di tidurmu.

wanita menunggu
beku batu rindumu
terbaring luka, di tidurmu

PAGI TELAH KUCURI KARENA
CEMBURU PADA CERMIN RIASMU

lekas mengejar sebelum mentari bersinar
jangan beringsut dulu dari pembaringan
dihadapan di dalam remang kamar.

Menanti di pinggir ranjang
tak sentuh pagi birahi
walau singkap kulit telanjang

Kaget, silahkan memaki
sebelum segalanya dibenahi
memang pagi telah kucuri
karena cemburu pada cermin riasmu.

HANYA PINGIN KUSUTMU

Telanjang tak sentuh
beku
tertahan diam.

Nyenyak tak hirau, tahukah desah di ujung lidah.

pagi telah kucuri
kaget tak ayal lagi
sempatkah mengusir.

Silahkan marah, jangan buka jendela itu
“Ssttt!,” hanya pingin kusutmu.

RINDU ABADI

Di manakah aku, di manakah kamu
tidakkah dulu, kemarin, sekarang, bahkan akan datang tidak berbeda.
lama sebelum, sejak kukenal, sekarang, akan datang adalah fana.

Pagi membawa
pertemuan, bincang ini itu, sebenarnya jauh di sana. Dekatnya
karena hanya.

Sore mengembalikan
bintang gemintang, bulan sabit, pulang malam
seakan tiada.

Malam
gelora ingin, tersenyum sendiri
bercermin tak percaya adanya lagi.

Di manakah aku di manakah kamu
bagai sepi dan diam, apapun bukan semu
sementara abadi rinduku.

CEMBURU WANITA MEREDAM HASRAT

Subuh dibangunkan si bungsu lelaki.
“Ma! ngapain ya anuku selalu begini?”

Ibu tak bisa menjawab pasti
mengapa dingin selalu bersembunyi
kecuali menampakkan gigil di tiap lelaki
cemburu wanita, tersipu ingat hasrat sendiri.
Di siang sepulang sekolah, si sulung bercerita.
“Ma! ngapain ya kok aku selalu teringat, Ocha?”
“Ya!, karena kamu selalu berbuat baik padanya,”
cemburu wanita, tersenyum kenang masa lalunya

TERINGAT MALAM SEBELUMNYA

Pagi meredup gerimis membasah
linangan turut, bulu mata memisah.
Teringat malam sebelumnya
Bulir hujan mengkabut, tangis menjadi
orang lain tak pernah tahu membeda tangis dan bulir hujan
sementara tampias hujan di wajah.

HANYUT AKU TERSAPU
( mana sihirmu, Pearl? )

Desir angin meniup kain, tahukah
hembus lembut cadar teraba
menyerahlah pada.

Apapun, bahkan sihir
hujan tak membasah
tiada bercak menoda.

Relakan
kau milikku.
Tapi, hanyut aku tersapu.

D. Ketegaran dan Doa

MENGURAI SEGALA

Kejujuran tepat di tempat
tersentak
angin berhenti sejenak.
Mata berair, tak menetes terisak
tak salahkan gundah, hati mengurai segala
lelaki tak sebanding dengan.

PUISI

Nasibmu bukan dipangkuanku, tidak terbagi walau terbersit
isilah cawanku walau sedikit, kuhisap luberan mangkukmu
Mati semua kata lenyap semua kosa, ajari hal yang tak kumengerti
sampai terhisap tuntas, tak habislah makna.

MENGENAL DIRI SENDIRI

Di dalam ini sudah mengalir.
Di dalam ini sudah meriak.
Di dalam ini sedang tergenang.

Setajam ini dera hujan
dingin sebeku batu keras
deras terserap banyak tak terucap.

Entah kapan hujanmu bisa kutangkap
di dalam mengalir, meriak, lama menggenang
menyayangi adalah mengenal diri sendiri.

BERUNTUNGKU MENJADI SAHABAT
(wanita sendirian pemikul beban)

Menelepon malam selepas kerja
tidak canggung seperti pertama.
Sendirian tak lepas gunjingan, mereka tak bakal mau memahami
seberapa lelah mengurai, sebegitu beban seringan tawa berderai.
Sendirian memikul beban karena hidup dan cinta
tidak pandai berkeluh kesah, jalani dengan biasa.

Tidak setegar itu walau aku perkasa
wanita sendirian lembut liat
beruntungku menjadi sahabat.

CINTA MENGEMBUN DI LUAR KAMAR

Malam beranjak tidur
sprei berbunga lama belum terganti
tilam tak sempat dijemur
lusuh berlipat kerut terajam masa lalu.

Dingin berkabut mengembun di luar kamar
menempeli dedaun kembang yang ditanam
tak pernah lupa embun menyiram
menggigil berbantal kusut, tak hirau, hambar.

Cinta jenuh di luar menetes
kalau tahu pasti akan dibuka
tapi, bersikeras menutup segala
takut rajutan baru akan terlepas.

Sebelum bangun
lambatlaun embun mulai terbebas
tak peduli, sudah mengawini diri sendiri.
ucapmu sambil membuka jendela, “Cerah hangatnya pagi ini.”

KUMENJELMA MENJADI

Kumenjelma menjadi

Datangi jauh sebelum subuh membangunkan mereka. Tidak sulit bagi Tyo yang udah beranjak remaja, sedikit bisikan kalau entar dia diperbolehkan pergi malam mingguan.
Membangunkan Teddy, dibisiki aja bahwa Ocha sudah menunggu di luar, maka sekarang tinggal si bungsu Rizky seperti biasa dalam peluk. Kuangkat dengan kedua lengan yang sebelumnya kupisahkan rangkul lunglai memegangi telapak tangan bunda.

Kumenjelma menjadi

Kami bersama mendoa malam sebelum ibu ingsut sadar terbangun.
“Tuhan, jadikanlah agar kami bisa sekolah lebih tinggi dan secepat bisa membantu mama, ” pinta Tyo.
“Tuhan, berilah kesehatan pada mama, agar dia masih juga tetap bekerja,” doa Teddy.
“Tuhan, biarkan tiap malam mamaku selalu bisa tidur nyenyak bersamaku,” rengek si bungsu Rizky.

Kumenjelma menjadi

Doadoa yang telah mengokohkan dinding rumah, telah menjadi atap genting yang memayungi rumah, keinginan para leluhur, buyut, kakeknenek kalian. Doadoa dari asal seluruh anyaman kebaikan bapakibu kalian, roh dan raga ibu yang enggan berkeluh kesah, walau gunjingan tetap saja tak henti bagai siatsiut angin yang selalu bergerak, nafas detak jantung bunda yang berani memikul kerelaan demi menghidupi kalian.

Kumenjelma menjadi

Adzan subuh berkumandang, bangunlah ibu, mereka telah siap berjamaah. Sementara Tyo belajar menjadi imam bagi ibu dan adik-adik. Aku adalah doa bunda, “jauhkan dari iri dan dengki” , roh dan badan bundamu yang selalu sabar dan tawakal.

TAMBATAN LELAH BOSANMU

Perahu pembawa beban, layar tiada, nahkoda tanpa
angin keberuntungan menghantarkan, ombak tak henti menerpa
seperti apa badai samudra, petir menyambar, guruh menggelegar.

Seberapa mampu bertahan, perahu pembawa tunas dan pelita
Mungkinkah tak padam
suluh api, atau tunas tidak tersapu percuma.

Bisaku di gigir padas pantai karang
kekayu tambatannya terlihat rapuh,
berlabuh di pantai jangan jauh.

Seberapa mampu bertahan
bosan lelahmu mari kubantu
tambatkan talimu.

DOA-DOA SEBELUM SADAR KAU ADALAH PERAHU ITU

Doadoa adalah lembarlembar papan pembentuk perahu, pasakpasak lak perekat antar bilah landasan perahu, bulan bintang gemintang menganyam malam hari, dan tidak lain niat kuat kau sebagai perahu itu.

Doadoa pelindung atas ketakutan gelap langit membentang tak berujung, bisikkan saat tak bersapa badai samudra, temani saat terpencil nglangut sendirian, menguatkan hati saat deburan ombak tajam yang mungkin membelah.

Doadoa adalah riak kecil penghantar tujuan, terbitnya mentari penghangat gigil seusai panjangnya malam, awan peneduh bila mentari terlalu menyengat, semburat senja merah bagai meluncur berkejaran ikanikan terbang, gemulai lumbalumba pengiring perjalanan.

Kapanpun perahu datang cepat kujemput
sebelum sadar bahwa kau adalah perahu itu

Datanglah perahu diri, tak kusiasia
tambatkan tali, ringan kuangkatkan beban.
Selalu mendoa keselamatanmu dan juga untuk yang telah kau jaga.

SAKITKAH HARI INI, RIZK

Kemarin menyanyi si Kecebong
Cedal, bermanja tunjukkan pada

Kini tiada sapa
enggan makan, ceria tanpa
demammu masih juga.
“pagi tadi kurakuranya hilang, mas !?

Cinta sayangnya terbawa
ibu bingung temukan serupa.
Cintanya pada kurakura
tak ubah cinta bunda pada.

HADIAH KEPADA KAWAN

Kirimi hadiah tak seberapa, itu sebab kau pinta.
Tulis nama, alamat di atas kertas tercetak fotomu.

Sengaja tak selipkan surat apaapa, pengirimnyapun tak ada.
Alamat telah pindah jauh dari tujuan awal, ternyata
entah bagaimana tiba juga di tangan yang punya.

Bila nyasar akan diganti seperti apa
asal bukan dirimu lagi yang teraniaya.

TERKIRIM KE MANA, ALAMAT TIADA

Tinta di ujung pena tulis berbaris cerita
tentang biji dan pelita
kejadian sedang
atau cerita usang.

Harus terkirim ke mana, alamat tiada
sepertinya percuma, benarkah siasia.
Biar kuletakkan saja di tengah kota
terjamah siapa terserah, isinya cuma doa.

DI PANTAI KUMENUNGGU

Gigiran karang tajam berbatu
tambatan rapuh kekayu.
Di pinggir pantai ini kumenunggu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s