C2. Poems, Puisi “Di Pantai Diri Kuditunggu”, 2013-sedang berlangsung

Poems, Puisi “Di Pantai Diri Kuditunggu”, 2013-sedang berlangsung

54. TAK SEMPAT TERUCAP

terlihat jelas seratnya
walau sudah menjadi arang
bahkan abu sekalipun

ketika api membakarnya
banyak yang tak sempat terucap
saat meradang barapun.

 

53. BERITA DI DALAM BOTOL

Terkirim oleh angin dan alunan ombak, mengapung timbul tenggelam menghias riak kerlap kerlip sinar bulan yg tetap di situ, sementara arus menghantar ke mana semua terbawa.

Menapaki pantai, jejak dibekakang belum juga terhapus, tersandung berita di dalam botol, “cara menggulung kertas dengan ikatan pita hijau kekuningan: pernah kukenal siapa.”

52. AKAR NYENYAK TIDUR

Satu daun bercerita tentang masa kecilnya yang kuning emas, rantingpun girang bersorak, ‘aku telah menumbuhkan hal lain dari dalam diriku’.

Dahan tersenyum mendengarnya, sementara batang menghembus kelegaan menikmati butiran embun di ujung tiap daunnya.

51. BIASABIASA SEPERTI BIASA ADANYA

Berserak daun jarum di pelataran
sebagian mengambang di permukaan kolam
sisanya melayang atau dan tenggelam

Kaca berembun bahwa rintik luruh membasah tanah yang jenuh sudah dipenuhi hujan deras semalam.

DI SINI UNTUK KE SANA (1)

duduk bersama bincang masa depan
manusia merindu itu, diimpikan
musti itu yang ingin dibicarakan
sementara, kan
tidak hanya ke sana mengarahkan

dulu pernah terlewati
sampai
kali
kini
biasa seperti ini

keras Kau menghardik
sekarang ini lebih pasti
dari yang pernah dikerjakan
sudah atau sedang terjadi
tiada beda cara di sini dan untuk ke sana.

IKAN HIAS (2)

Seorang anak menenteng ikan hias di dalam kantong plastik transparan
Jernih airnya, putih, kuning, merah, hitam kontras warna.
“Kau beli di mana ikan-ikan itu ?”
rupanya membeli pada pedagang yang kutanyai tak tahu pasti asal usul
kecuali kulakan di pasar besar.

Diantara kantong ke kantong yang lain, terpelihara atau tidak, kalau toh berbiak juga di kantong-kantong serupa, matipun akan terbuang di selokan atau begitu saja, karena juga tak peduli mendoakannya, apalagi sampai mengundang tetangga.

“Tahukah silsilah keluarganya?”

MENGGENANG SUDAH LAMA (3)

berpisah sekarang tiada beda,
kan tujuannya ke sana juga
benarkah siap
amat sedikit
terus terang belum.

pisah lalu pindahkan
ke manapun
asal tidak di sini
terus ke mana
entah

bertindak sendiri
tidak mudah menempati
yang berada di dalam
telah menunggu lama
sudah menggenang.

DI PANTAI DIRI KUDITUNGGU (4)

gigiran karang tajam berbatu
tambatan rapuh kekayu.
di pinggir pantai diri kuditunggu.

SUDAHKAH BERTEMU (5)

menyebut sesering pelafalan kosa
juga sampai ke arti dari beberapa
literatur, kamus, ayat-ayat, atau bertanya
yang dekat dengan pada
ceritanya seperti apa menurutkanya

mesti ketemu dulu jangan hanya
si ini begitu si itu begini, katanya
semua tak mampu memaksa
memahamkan makna
sementara mengunjungi saja tak pernah.

SELALU SEHABIS SUBUH (6)

Tak bosan
sehabis subuh
menyapu membersih.
Tak pernah diam
luruhan dedaun
pagi, siang, sore, petang, malam
kemarau penghujan.

kapan hari pingin kutebang agar seharian tak susah tiap kali
“ jangan!, di terik mengayomi yang ingin berteduh,
tempat bermain anak, bersendau gurau inang pengasuh,
juga di situ para wanita menyusui ”.

Seharian membersih
pagi, siang, sore, petang, malam
terus menerus tiap hari
tak pernah henti.

Selalu sehabis subuh
Ibu menyapu membersih.

TERBAKARNYA LADANG ILALANG (7)

pernahkah mendengar terbakarnya ilalang di malam gulita
cahaya memerahi seisi rumah bahkan desa sebelah
panas ikut membara warna

suaranya gemelitik mengganggu
berdesis kadang meletup
asapnya membikin sesak, tertutup

mengapa dibakar
tidakkah sudah tertebang

ladang-ladang gersang
menghampar terkapar.

MENGELUPAS (8)

Dinding-dinding kamar
tidak membisu bahkan pekak
lihat, mereka mengelupas
batanya sedang mencuri dengar.
Di batang-batang pohon besar
membisu bahkan tuli, tidak!
lihat, mereka mengelupas
daging batang sedang mendengar.

Hentikan mendesahndesah
atau teriak parau kelakar
walau di dalam rumah
ataupun dalam kamar.

Saat bangun lebam memar
melangkah ke luar juga samar
mengelupaslah kulit sendiri
kali ini merekam diri.

HANYA (9)

hanya kata
hanya angka
kata
angka
tak ada habisnya.

LUMAT BERSAMA (10)

Pilar pilar berdiri tegak mengangkang kokoh
tak menyapa
sekalipun yang sombong mengagumi kepongahannya,
“Berapa nyawa tertanam; bila tahu banyak orang hilang telah dibunuh para pekerja, ataupun pertengkaran sengit antar sesama kuli atau dengan mandor. Anehnya pemilik tak pernah menjadi korban.”

Jalan jalan raya menghampar ribuan kilo
terbaring dengki
katanya sih kita yang telah membangunnya,
“Berapa jiwa terbaring; bila dihitung lekatan darah nempel menyepuh licin aspal,potongan tulang sebagai kerangka-kerangka penguat sekaligus ditebalkan cincangan daging yang selalu tergesa.”

SESAAT ANGIN DIAM SEJENAK (11)

Di selipan paving tumbuhlah, tak tahu bibitnya dari mana,
mungkin diterbangkannya memasuki celah sempit
bahkan tidak sampai semili.
Di celah tembok retak ditumbuhi, bila diperhatikan tidak beda
jenis dan bentuk, pasti ini ulahnya hingga mampu bertengger
di tegaklurus dinding.
Di atap genting bagai disemai. Dia telah membawa kemana apapun
yang bisa terangkut, disangkutkan kemana benih sudi berdiam.

Angin telah membawa lari
sejenak diam
setelah itu pergi lagi.

SAJAK PAGI HARI (12)

Beberapa tanaman kecil di pekarangan telah terinjak, tertimpa reruntuh,
tertindih bata, terciprati bahkan tertimbun bersama lelehan luluh semen pembangun pagar.

Semalam selagi hujan rintik tak sengaja mendengarkan perbincangan
antar tanaman, para cacing dan tanah. Lamat suara bersamaan
tetesan hujan menerpa genting.

“Kalau esok pagi cuaca masih begini, apa jadinya kita,” galau si tanaman.
“Udah tidur istirahatlah, tidak baik berkata begitu,” rayu sang cacing.
“Kami mendoa agar esok matahari bersinar,” pinta tanah
sambil menikmati kegelian gelitik penggemburan dirinya.

Terdengar anak-anak lepas suara
bersorak meluap gembira
mata tersorot pagi
terpaksa membangunkan diri.

MAAF, TIDAK BISA IKUT” (13)

Cuman beberapa hari saja
perjalanan terpaksa singgah
melepas keterasingan
berjalan menyusuri
kalau ada yang disapa
bahkan mau diajak bicara.

Seseorang ingin numpangmuatkan barang beban
tujuan kemana asal ikuti arus selatan
“Tidakkah arahku justru ke sebaliknya; utara,”
“Iya aku tahu itu, ini pesanan orang selatan,”
“Tidakkah kau juga turut serta?”
“Kebetulan sedang sakit, maaf tidak bisa ikut”.

KORAN PAGI (13)

Membolak balik koran hari ini, tiada tentang keluarga, kerabat, sahabat
atau teman. Ada berita bila dibaca jelas tahu arah kemana isi tulisan.
Teliti beberapa gambar, tak ditemukan juga sosok diantara yang kenal.

Esok pagi
anak perempuan menyapu
lelaki kecil menyobeki kertas koran.

O ya! hampir lupa sesuatu
yang menyapu
yang menyobeki
adalah anak-anakku.

TAK NYINYIR HARUS HUJAN ATAU TIDAK
TERIK MENYENGAT ATAU MENDUNG (14)

Tanaman begitu kurus kurus, dedaun tajam tajam
batang pokok ringkih, meliuk mencari sisi
kira kemana bisa.
Tidak pernah bermimpi, sekalipun selintas
keinginan tiada ingin. Kecuali kebutuhan.

Bergurat gurat, berbuku buku pendek
kekayu rapuh, kapan berhenti
saat kapan harus.
Tidak pernah bercita-cita, walau di angan
semua sudah tertanam dari sebelum tumbuh.

Maaf, tanaman telah mati
Lama tertinggal pergi.

GEMERICIK SUNYI (15)

Ceritakan
ceritakanlah tentang orang-orang
yg telah menelanjangi
Ucapkan walau separoh
keringat dingin tak menetes
kucur, banjirkan peluh
Hanya diam
hanya
gemericik terdengar sunyi.

Hujan Satu Satu (16)

Deras hujan melunak tanah
tapak-tapak apa tertera
sebisa kuda-kuda larilah
kaki-kaki terjang telanjang
Tubuh serap menghisap
hujan tuntas satu satu.

HUJAN DI TELINGA (17)

Deras air berjatuhan serempak
deru gigil dingin menghentak
melupa panas sesiang terik
sentuh tanah langsung meresap
Tak sempat menggenang walau sesaat
keringat mengucur di ujung jari
badan kerontang berpasi pasi
hujan hanya terdengar di telinga.

“ ” (18)

diam aku
terpejam aku
bukan aku
mana diri
entah
tapi ada.

Sekoci terakhir (19)

Kapal memang akan tenggelam
sekoci tak muat sekian banyak
cepat naik sebelum didahului.
Masih harus berpikir di kondisi ini?
sekoci terakhir tak akan muat
tanpa alasan untuk menaikinnya.
Justru terusak sendiri
memutuskan tali pengaitnya
menerjunbebaskan sekoci
tanpa penumpang satupun.

Justru Bukan Aku (20)

kau kira tidak mencegahnya
justru aku diajaknya paksa
dituli di bising bersikeras ke luar
dibuta di raya jalan sibuk kota
dibisu bercakap dan terpingkal.
Datanglah ku Kerumah (21)
pergi petang
pulang petang berangkat pagi
nyampai pagi
petang sedang pergi pagipagi
kaulah itu yang datang
atau pulang dimana datang kemana
tak usah membawa
karena apaapa telah ada

membawa asah menyandang apa
bukan kau yang datang, tibaku sudah
sejak dahulu ada
jemputku di dalam rumah rinduku.
Ragu Ragaku (22)

tak perlu bawa belati
menyayat raga daging
akan dipersembahkan sendiri
tanpa campur liyan

tebang roboh pangkas potonglah
sayat di luka bernanah
tikam di ulu
dimanapun sesuka

mati bukan raga terpendam
ajal akhir awal penantian
matiku akuku mengulum
tamatku ragu bergantian.

BEKAL (22)

Begitu adanya
tiada tempat melarikan diri.
Tetapkan kedua kaki menginjak bumi
sementara tangan menggapai langit.

Kemanapun nasib membawa.

BERANDA (23)

cemara menaungi warni ikan di jernih air
gemerisik reranting daun jarum
gemericik air jatuh mengalir
hirup getah tunas harum
tawarnya air menyegar
amat beda terik panas di luar
dengan rindang tepian kolam di dalam.

LURUH JUGA DAUN ITU (24)

Deras menghempashempas
rimbun pepohon terampas
menderuderu gemuruh
menerbangkan serakan rapuh
Daun tersapu
terpangkas di ranting, dahan itu
terbiasa saat membisu
Reda sudah seperti sediakala
sisa air mengumbun di kaca
butir segar menempel pada
Ada kabar bahwa
Saat kita tak mengira
Gemeretak ranting bergerak
patah luruh membawa serta
hijaunya mengambang di genangan.

BILA TAHU (25)

Deras cinta tidak satupersatu
luka bahkan seriburibu duka
tak memilihpilih bila tahu
menghujam siapa hendak dituju
cinta duka luka cinta tiada
luka tiada suka duka cinta
sukapun juga tiada beda.

SETAPAK SIMPANG (26)

rerimbun belantara kota
bangunan merayap tebing
di jalur persimpangan
pekat riuh beton rimba
berjubel batang ranting
di setapak dua angan
diam sesaat
antara hutan sengkarut
atau sesak jalanan padat
entah yang mana
ditikungan cukupkan mata
penglihatan terbentur semak
dimana yangmana nanti
kemana arah membawa hati
terpilih dari yang belum terjejaki ***

CINTA MEMBEBASKAN (27)

selalu ragu terhadap
menimbang tak akan cukup
kapan bisa mengerti
duka lara
ketakutan
menerima selapang apa
akan kita terhempas
remah remah terserak
seberapa memiliki
bagian dari diri
rasa desiran itu menyentuh
tak berkesudahan
hanya dengan cinta
yang membebaskan
setiap rugi laba
bahkan melepas kita siapa. ***

MENGHAMPAR HAMBAR (28)

pagi menyiapkan sendiri
menghampar hambar lagi
sesudah itu berangkat pergi
tiada ada kenangan
kecuali persinggahan
sekejap di persimpangan
bertegur dengam siapa
biasa semalam larut sendiri
begitu terus berkalikali
bosan lelah tak kan lara
belum nyenyak pagi sudah kembali
mimpikah aku selama ini.

BISAKAH BERTUKAR (29)

naik kereta di rel itu juga
jalan aspal berkelakkelok
mana menjauh mana mendekat
kadang bertemu di persimpangan
menengok kaca melihat kereta
melongok jendela melihat mobil
menikmati apa yg di depan
dan yang sedang melintas
ah! Mengapa juga harus mengira di yang mana
terlanjur melaju, sedang kita hanya menumpangnya
bisakah bertukar angkutan
entah.

ODE (30)

oh tuhan begitu
oh tuhan tidak begini
kerontang keringmu
mengucap ini
berparut wajah
tubuh sekujur
jalan terseok
membungkuk kaku.

BERSIAPLAH (31)

bersiaplah untuk tidak terjadi apa-apa
sekaligus juga untuk terjadi apa-apa.

NUMPANG LEWAT (32)

bibir malam terkatup
telinga siang tak menutup
relakan orangorang tak berbaju
biarkan juga yang bermantel bulu
pandangi yang tersungkur
hanya pandangi tanpa mengukur
tidur nyenyak
memang begitu
permisi! cuman numpang lewat.

OMBAK (33)

yang mengalir
hanya yang teraliri
ombak tak henti bergerak
semua adalah air sang gerak
cerita tertata apa adanya.

TAK SEPI API DITIKAM AJAL (34)

tak tahu akan bertindak apa
putih bersih justru menelan semua
lenyaplan pikiran bahkan imajinasi
akankah tak diisi walau segurat
bertahankah sampai noktah tertetes
lupakanlah
jangan hirau kalau toh! kan mengotori
bagaimanapun isilah sendiri
hanya itu yang menandai ada
tak sepi api ditikam ajal.

KEMANA JALAN (35)

trotoar
jalan utama
tak berujung kecuali berputar
tertabur bunga tiap pertemuan
cari jalan yang lain
yang mana
mata telanjur menginjakkan
kaki sudah bergerak
semut api di mana-mana
trotoar, jalan utama, menyeberang
semut api mengarah ke mana
yang mana ke mana jalan.

BURUNG BIRU (36)

sejauh tangan terentang
tikungan malam
berderet lampu padam
semua pucat menjelang
melintas, melayang-layang
burung biru
terbuka sangkar, pintu
kuyu, abu-abu, dan bisu.

SILATURAHMI (37)

tertancap paku berkarat pines penyok isi staples
di dua ban belakang-depan roda motor
tidak lama mereka yang lain juga kempes
seperti karet dan waktu yang bisa molor
tak apalah kadang juga perlu silaturahmi
tiada musti tergesa-gesa hari ini
menikmati pergerakan jalanan tak henti
ini bukan puisi hanya silaturahmi.

KETIKA KULKAS KOSONG (38)

Masuklah dalam kulkas kali istrimu ada di sana
tapi matikan dulu lampu kulkasnya sebelum dibuka
sapa dengan gigil, bersenggamalah di dalamnya.

KETIKA BOTOL KOSONG (39)

Botol kosong entah wine-nya ke mana
tertumpah atau tadi kau peras lupa
bermabukmabukan bersamanya.

SERPIH (40)

Tenggelam di dasar
punguti yang tersisa
Memang tak lebih
kubawa hanya serpih
serakan kepingan kasih.
(buat sahabatku)

MENUNDA MALAM (41)

Menunda malam bagai mencegah mimpi menghampiri
akankah hamparan yang musti dilewati
atau ketakutan akan menyergap
tak sempat tergagap
Sengaja atau terlewat begitu saja
mimpi tergapai atau sia-sia
malam gelap meraba
bukan di mata.

PINTU TIDAK TERKUNCI I (42)

kapan terjaga di samping, kapan di depan
sedang berucap apa atau hanya mengamati
setiap waktu terukur, setiap deru dengkur
bangkubangku yang tertandai di seberang
kacakaca tembus memantul dari terang ruang
di luar silhuet bangunan dan pepohonan
rapat berdesak riuh rintik hujan
pintu terbuka lebar, masuklah cepat
kalau toh tertutup tapi tidak terkunci.

TANDA ENTAH (43)

tersentak mengapa
beberapa tak dimengerti
bebatu tersusun sunyi
menyebar tersembunyi
tersentak mengapa
di atas pelataran tanah
tanda entah
tak harus di eja.

PINTU TIDAK TERKUNCI II (44)

dinding diam di samping di hadapan kaca bening, dingin menggigil
lantai merindu telapak bisu tanpa jejak, kadang memanggil
pintu tak terkunci lama menunggu bayang di antara celah itu.

PULANG II (45)

waktu membiar ngelupas
dering lemah remah tercecer
kata per abjad terlepas
tiada yang bisa dikais
ruang menghimpit
sempit menekan
hanya pingin pulang
rinduku terakhir bertemu.

PULANG III (46)

saat ini juga
malam lekas beranjak
nyekar mendiamkan raga
dinding tak berjarak
atap menimpa segera
ingin pulang sembahyang
terpejam gelap kamar
lusuh memar tersadar
melebur dosa khilaf
adanyaku untukMu.

P U L A N G I V (47)

sendiri berkata tidak
remang terang pagi benderang
atau
bukan bisu berkerak
lapang padang siang melintang
justru
akankah bersiap kelak
ruang paling sunyi gamang
selalu
luruh berserak
bentang petang gemintang
aku pulang.

TUMBUH (48)

terserah apa
semua terbaca
tak tereja perkata
silakan tuliskan
bebas katakan
sudah telanjur ada.

AKU SAMUDRA (49)

buta takberwarna
tuli takbeirama
mata kelam
telinga buntu
mulut bisu
hidung merapat
tubuh takberasa
diam di dalam
mengalir teraliri
tak henti bergerak
air sang aku
tertata adanya.

Panggilan Dari Gunung (50)

segar kehijauan tenang
tentang menyusur rimba
tertanam dingin di dalamnya
jangan bertanya harus pulang
bungkam diri hingga petang
deru angin suara binatang
diam, mendengar, hanya
panggilan dari gunung

JELAGA ASAP TEMBAGA (51)

Serpih mengumpul pada semua permukaan, kerak rapuh jelaga merah luruh sederas hujan menutupi cekungan sawah sungai yang tak berair. Meresap terhisap pelataran becek anyir. Minyak hitam merambat pada sumbu beranyam jarang telah menyulut redupkan bintik api, berasap tembaga pekat dari lampu minyak seakan membakar dinding arang membara darah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s