D. Writing / Discourse,Tulisan/Wacana 2000-sedang berlangsung

Writing / Discourse

008. MENANGGALKAN KEPUASAN REPRESIF
Tiadanya Otonomi Pembebasan

Dari segala faktor pendukung di tiap sudut kehidupan tidak lagi memiliki otonomi bagi dirinya sendiri memilih dan memilah untuk dipergunakan sebagai pertahanan “kesehatan”. Penyakit modernisasi telah menyusup dengan bentuknya yang sungguh kimiawi, terasa lembut, demokrat dan menjanjikan pembebasan memasuki jaringan rumit sekujur tubuh hingga berevolusi untuk bisa bertahan membentuk sifat-sifatnya yang paling kontemporer turut hidup sebagai efifit pada setiap induk semang otak manusia masa kini.
Perangkat-perangkatnya secara awal memang tidak sebaik hari ini dengan pertumbuhan yang menyusup diantara jaringan arteri yang semula tidak terbayangkan pengaruhnya. Pertumbuhan itu layaknya sebuah bentuk kehidupan yang benar-benar berproses sebagai bibit yang musti harus dimiliki sebagai logika rasionalitas untuk menyingkap dan mengejar tujuan-tujuan yaitu menjawab pertanyaan bagaimana kita mencapai sesuatu yang bukan merupakan subjek dari sense.

Kehidupan tidak lagi berupa pilihan dengan berbagai alternatif pada peluang yang terbuka. Ketangguhan modernisasi sepertinya selalu membeberkan fakta-fakta yang ada menyangkut kebutuhan hidup manusia, kita hanya tinggal memungut begitu saja sebaran perca dari ledakan kapitalis yang begitu menggairahkan (walau sosialis sendiri tidak juga membawa kesejajaran kelas untuk bisa dimiliki).
Pilihan tidak lagi bebas untuk bertahan dari serangan-serangan represif yang telah lama dilontarkan, disusupkan dengan amat mencolok sedang tameng juga telah disiapkan begitu rupa yang jelas tidak berbentuk senjata penolak tetapi justru berupa keranjang rajut halus sebagai wadah. Sedang kita sendiri tidak mengetahui seberapa jauh otonomi pembebasan diri yang juga telah terperangkap oleh rasionalitas kapitalis dan otoritas masyarakat yang teridentifikasi oleh produksi massa dan distribusi industri.
Pada kesenian juga tidak luput dari anggapan tentang kreativitas selalu sebagai garda depan yang tercurigai bahwa otonomi akan selalu niscaya terletak disana sebagai supremasi tanda-tanda kebangkitan pembebasan. Kebanyakan orang menganggap bahwa penciptaan berawal dari ide di luar raga-diri untuk bisa diekspresikan, dan bila anggapan penciptaan adalah demikian maka keberadaan jiwa yang bermula tempat bersemayamnya ide seakan terputus sebagai parsial bagian dari keseluruhan kesadaran, padahal diri belum layak sebagai pribadi bila keterpisahan itu masih mengurungnya.

Pembebasan Diri adalah Penciptaan

Saya masih belum yakin arti pembebasan sebagai bentuk pengejawantahan diri, yaitu ekspresi yang sekaligus sebuah penciptaan kecuali bila proses terjadinya penciptaan itu sama sekali terbebas dari nalar-nalar ketat yang selama ini melingkupi dengan segala “keterbukaan” pola-pola pikir modernisme sebagai konstruksi dari pondasi bangunan sebelumnya. Memang “kemajuan” bukanlah bahaya yang tersembunyi, dia begitu terbuka dengan segenap perangkat-perangkat pendukung. Katakan bahwa keindahan adalah suatu entitas yang misterius sehingga mudah sekali dimasuki mistifikasi yang dirasionalkan seakan adanya keindahan tidak mempunyai realitas tersendiri. Begitulah dominasi teknologi telah mengefisiensikan masyarakat yang telanjur merembes ke dalam kesadaran umum bahkan juga merambati para kurator dan kritikus yang serius mengidentifikasi keindahan sebagai realitas yang teralienasi oleh dominasi rasio material yang anehnya justru telah diterima subjek sebagai hal objektif walau subjek sendiri tertekan eksistensi yang teralienasi.

Penciptaan sebenarnya tidak lagi menghiraukan pada kebutuhan-kebutuhan kepuasan represif seperti di atas, dia bergerak tumbuh walau ditindih bongkah sekalipun untuk mencari celah hidup yang masih tersisa diantara serakan serpihan puing kotoran dan sampah. Bahkan keindahan ciptaan adalah lebih langsung dan jelas dialami yaitu dilihat, didengar, dicium, disentuh, dikecap dan dipahami (kondisi ini juga dialami oleh penciptanya) daripada keindahan buatan yang terkontruksi lebih dulu. Penciptaan sebelumnya tak terkomunikasikan, artinya tidak bermula dari hal-hal yang diketahui betul alur logikanya bahkan mungkin menyimpang dari faktor penting kebiasaan instingtif. Begitu holistik dan kosmik ciptaan sebagai pembebasan diri membawa serta butir-butir yang telah berevolusi/revolusi meningkatkan ketahanan berkreasi yang melepas segala otoritas dan dominasi konvensi yang didalamnya terdapat typologi, patron, isme dan lain-lain yang selalu berusaha merebut akar kreativitas kehidupan.

Penciptaan adalah murni yang mempunyai watak kuat untuk bisa menyedot sesaat lamunan sehari-hari yang sudah terbiasa oleh kepuasan represif. Tiada yang bisa menggoda kualitasnya walau sesaat, justru dari kesementaraan itulah makna universal akan menampakkan ujudnya sebelum dan pasti kerusakan terjadi bila terdapat jarak untuk bisa dimanipulasi oleh kebutuhan rasional.
Pembebasan dari Dalam

Tentunya untuk bisa membebaskan diri dari represi yang selama ini tidak diketahui, dirasa keberadaannya yang memang kapitalis atau bukan yang beroperasi overproduksi, pengangguran, ketidak-amanan, pemborosan yang dipahami sebagai produk sampingan dari kisah pembangunan dan kemajuan. Pemikiran mengenai “kebebasan dari dalam” disini mempunyai realitasnya yaitu menunjukkan ruang pribadi dimana manusia bisa menjadi dan tetap menjadi “dirinya sendiri”.

Mohon maaf bahwa pada tulisan diri sendiri masih terletak didalam tanda petik, karena saya belum mampu menjelaskan sampai seberapa utuh maknanya yang masih menggunakan kosakata konvensional. Saya musti harus bermula membongkar arti yang dimulai dari diri sebagai persona yang mampu dan berhak melepas konsep-konsep lama terhadap keterpisahan raga dan jiwa. Diri juga bermakna sekalian berproses (bukan membangun) terus menerus dalam rangka penemuan keadaan dirinya terhadap kosmos.
Banyak toleransi yang selama ini dijalani oleh kehidupan kita atas pemikiran positifitis yang merupakan kekuatan perusak serta anonim yang melingkupi dan efisiensi masyarakat teknologis. Betapa tidak! teknologi yang semula terlahir netral yang kini mengesampingkan kerja-kerja yang membutuhkan proses yang mana setiap individu mustinya paham betul tahap demi tahap memproduksi barang hingga hasil akhir, tetapi kini efisiensi teknologi justru telah mengaburkan “proses” itu sendiri sebagai kepemilikan hingga setiap individu hanya akan menjalankan tombol-tombol mekanik sekali sentuh tanpa ada timbal balik langsung mempengaruhi/dipengaruhi rasa. Begitulah penyerapan yang negatif oleh yang positif divalidasi dalam pengalaman setiap hari yang mengaburkan antara penampilan rasional dan realitas irrasional.

Begitulah pembebasan tidak lagi sebagai identifikasi masyarakatnya (masyarakat disini yaitu yang masih tetap mau teracuni oleh produksi massa dan distribusi industri). Pembebasan adalah sebagai penciptaan sehingga otonomi keberadaan diri telah menjadi miliknya. Selalu saja setiap saat kita musti harus mempertanyakan hal apapun yang tentunya mempunyai konsekuensi sebanding, paling tidak diri (raga-jiwa) mengetahui seberapa harga pemilihan itu sebagai kesadaran pilihan yang relatif sekaligus universal substantif. ***

007. menyimak kuliahnya pak Tabrani

RASIONAL DAN IRRASIONAL
Pendapat Barat : sampai dengan sekitar tahun 1960 ukuran utama adalah rasional, sedangkan di luar itu adalah irrasional.
Semula belum dikenal istilah kreatif, yang ada fantasi, dan ini termasuk dalam kelompok non-rasio atau irrasional.
Karena barat lebih mementing/ mengutamakan yang rasional saja. Maka di tahun itu juga barat mulai meneliti ke”kreativitasan” itu sendiri. Namun rasio telah bertahta terlalu lama, sehingga kreativitas selalu ditinjau dari paham rasio itu sendiri.

FALSAFAH BARAT- TIMUR DAN KREATIVITAS
Barat: rasio merupakan prinsip utama , semua merupakan jabaran rasio, termasuk kreativitas. Konsep kesadaran barat “berpihak” untuk memenangkan kesadaran atas ambang sadar dan tidak sadar.
Timur: kreativitas, intuisi, spiritualitas “disebut” dalam satu nafas dan merupakan prinsip utama. Rasio merupakan jabarannya.
Proases kreasi timur “berpihak” pada peleburan sadar, ambang sadar, tidak sadar jadi penghayatan.
Kreativitas (hasil penelitian sejak 1960) :
Kreativitas lebih bekerja dengan bahasa rupa (otak kanan) dan perpaduan indera, bukan semata mementingkan mata.

KEKURANGAN PADA PENDIDIKAN KITA
Kecenderungan jawaban hanya satu, sehingga murid harus di “dril”, toh jawabannya Cuma satu.
Murid memang tahu jawabnya tetapi tidak mengerti, untuk itu diperlukan kreativitas dan imajinasi.

KEKURANGAN PADA KURIKULUM KITA
Kreativitas tidak disebut-sebut dalam pelajaran terutama MIPA, seakan tak penting untuk mencapai prestasi di bidang studi yg bersangkutan.
Kata kreativitas sepertinya hanya berhubungan dengan berkarya seni saja.

KESALAHAN UTAMA PENDIDIKAN
Anak kecil adalah “kosong” dan “bodoh”.Orang dewasa ber “isi” dan “pintar”.Pendidikan adalah manusia dewasa yang memberi tahu dan mengisi anak agar pintar.

006. PENGULANGAN SEBAGAI CARA UNGKAP

Setiap hari kita selalu melewati jalan dan gang dengan keramaian yang penuh sesak oleh mobilitas kota yang begitu tinggi pada jam atau hari-hari tertentu. Asap dan debu selalu kita hirup pada persentasi yang semakin menumpuk di jaringan tubuh yang tak pelak lagi akan menumbuhkan masalah bagi diri kita, belum lagi tersentak oleh pemakai jalan yang tiba-tiba memotong jalur, deru knalpot yang membosankan serta bunyi klakson yang mulai nampak ketidaksabarannya menunggu giliran lewat.Selalu saja begitu itu terus menerus yang masing-masing mempunyai tujuan dan arah yang berbeda.

Dari rutinitas di atas tentunya di saat-saat macet atau laju kendaraan berkurang saya berusaha menikmati suasana dengan memperhatikan kanan-kiri kalau-kalau ada seseorang teman atau tetangga untuk sekadar disapa.
Akhir-akhir ini ada ketertarikan pada tulisan, angka atau gambar yang terulang-ulang sedemikian rupa pada tembok-tembok di pinggir jalan. Tidak hanya di sekitar jalan Achmad Yani, Jalan layang Wonokromo hingga Jalan Bung Tomo (BAT) tetapi banyak juga ditemukan pada jurusan Surabaya-Porong yang bukan lewat Tol. Tentunya dari gejala itu perlu kiranya dibeberkan sebagai realitas yang tampak.

Pada konteks ini tidak akan dibicarakan pelakunya sebagai subjek yang harus diketahui atas karya-karyanya, karena memang pertama tak diketahui/dikenal siapa gerangan si “gila” itu, kedua ketertarikan ini berangkat dari wujud visualnya yang khas.
Apakah kita juga akan bertambah nilai bila pelakunya diketahui? Saya pikir juga tidak harus. Ataukah dia harus disebut gila dalam pengertian sesungguhnya? Mungkin juga ya!, tetapi di saat dia mengekspresikan dirinya; kegilaan itu berganti dengan keutuhan jiwa yang tampak pada kekhasan cara ungkapnya, baik motif (shape) membubuhkan huruf, angka, dan gambar ataupun bentuk keseluruhan (form) yang mengulang-ulang atau media ungkapnya selalu menggunakan warna putih baik kapur tulis, cat tembok, ataupun labur tentunya juga di atas tembok-tembok yang belum di cat sebagai bidang gambar.
Cara Ungkap Tanpa Kanvas

Gambaran-gambaran visual mendahului bahasa tulis sebagai media komunikasi walaupun bahasa-bahasa lain juga efektif. Kita tidak semata-mata tertarik bahwa seni sebagai bahasa pengantar penyampai informasi, tetapi pada seni juga sebagai media pengekspresian dimensi psikologis dari hidup.

Mengapa corat-coret seperti itu dikatakan karya seni? Kita tahu bahwa cara ungkap seni tidak berfungsi sebagai suatu bahasa untuk menerjemahkan pikiran dan perasaan saja tetapi lebih jauh ialah menyusun unsur garis, bentuk, warna dan aspek-aspek visual lainnya ditambah dengan media khusus yang ditangani secara spesifik. Bagaimanapun juga subjektivitas pelaku seni adalah tidak semata-mata berhubungan dengan emosi-emosi pribadinya saja. Sebuah karya seni juga mengandung pandangan-pandangan pribadi tentang peristiwa-peristiwa dan objek-objek umum yang akrab dengan kita semua. Disinilah perupa berkomentar keunikan pribadinya atas pengalaman hidup yang dilewati.

Dia “x” selalu saja mengulang objek-objeknya sedemikian rupa hingga tak tampak lagi makna kata, angka, gambar-gambar itu sebagai motif/pecahan yang bisa berdiri sendiri. Misalnya ada sederetan angka 10, bila angka itu dijajarkan tanpa spasi /-/ maka kita tak akan tahu bahwa angka dasarnya adalah 10, tetapi kita akan mempunyai penerjemahan yang lain; mungkin objek itu termaknai 101 atau 1010 dan lain-lain. Begitu pula pada tempelan-tempelan poster iklan atau apa saja yang bersifat repetitif akan meniadakan suatu eye-catching, sehingga sensasi yang dihasilkan tidak mengarahkan mata kesuatu point pada sudut tertentu, kita akan bisa “menerobos” melewati bingkai atas sugesti pada repetitif yang dihasilkan. Pengertian picture-frame dengan isinya yang tertentu seperti lukisan konvensional tidak berlaku lagi, karena isi tersebut diperluas secara infinit, seakan memasuki ruang tanpa dimensi waktu dan struktur-struktur pengganggu.

Bagi seorang perupa media adalah salah satu terpenting dalam proses penciptaan disamping teknik penyampaian, karena baik bahan landasan/paparan atau bahan dari objeknya sendiri mulai awal sudah memiliki makna untuk membantu terciptanya karya seni serta memberikan wujud yang objektif.

Di zaman ini definisi seni yang berlaku masih hanya mengacu pada satu tataran yaitu high-art yang mana keabsahan seni masih terbatas pada seni lukis, patung, dan grafis. Pada perkembangan akhir-akhir ini seni rupa mulai menampakkan pertumbuhan yang cenderung menggunakan media yang mudah didapat di sekeliling. Perupa sekarang mulai berpetualang dengan elemen-elemen yang dulu begitu tabu untuk dipergunakan seperti batu, tanah, benda-benda pakai/benda jadi, kayu dan lain-lain untuk mewujudkan ide-idenya. Citra yang tersimbol pada kanvas masih kurang mampu mengekspresikan suara hati lagi, karya seni mulai memasuki dunia nonfiksi, dia menelusup lewat objek konkrit yang bisa disentuh, dibau, atau bahkan diraba secara fisik. Katakan saja ingin menampilkan sebuah tragedi kebakaran, di situ perupa tidak lagi melukiskan sebuah sifat tentang kebakaran tetapi kebakaran itu sendirilah yang disuguhkan.

Sebenarnya cara ungkap yang “baru” ini tidaklah asing bagi masyarakat Surabaya, satu tahun terakhir Kikuo Mori perupa Jepang sudah mengekspresikan dirinya lewat lukisan dinding murral painting di “kanvas” tembok STKW-Surabaya yang kali ini semuanya sudah terhapus oleh karena pembangunan dan ironisnya hanya satu-satunya jenis karya seperti itu ada di Indonesia (ada satu lagi ukuran kecil di IKIP–Surabaya).
Kekhasan yang ditampilkan “x” selain pengulangan objek-objeknya juga medium ekspresinya yang begitu sederhana. Dari sekian banyak data kiranya karya itu diciptakan oleh satu orang karena penampilan karakter huruf, angka, dan gambar-gambar yang digunakan bercirikan brush stroke kesederhanaan ala anak-anak.

Sebuah obsesi tidak sekadar terwakili hanya sekali ucap, hampir berjarak lebih kurang 40 km (Porong-Wonokromo) dia melakukan kegiatan pada paparan dan bahan cat yang sudah menjadi gayanya. Pada jarak tempuh sekian itu tentunya karya-karya yang tercipta tidak sekali jadi tetapi memiliki tahap-tahap tertentu. Selalu objeknya bisa terdeteksi dengan gaya repetitif dan tergores hanya pada bidang gambar yang berupa tembok yang belum dicat oleh pemiliknya. Benarkah “x” yang gila secara patologis itu setara dengan orang-orang gila yang berada di Lawang dan Menur? Tidakkah dia mempunyai karakter yang kuat untuk mengekspresikan obsesinya?
Pengulangan, Kebosanan, dan Kritik

Picasso pernah menyatakan tentang kebosanannya pada hutan; yang dilakukan adalah menyusun warna-warni hijau dan variasinya sedemikian rupa terulang-ulang hingga kemuakan tercapai pada puncaknya, seperti seseorang sedang mengumpat untuk menyatakan kejengkelannya, jadi bukan berarti harus menolak atau bahkan mengindar dari kebosanan.

Pada “x” objeknya selalu terulang terus-menerus seakan dia bosan pada produk-produk massa pabrikan. Seperti yang dikatakan Rosenberg dalam “Mass Culture in America” (1957) bahwa produk massa cenderung menumpulkan perasaan dan mengurangi kecepatan berpikir atau penina-boboan kecerdasan. Betapa tidak, produk massa selalu dibubuhi iming-iming yang sifatnya hanya menarik khalayak tanpa lebih banyak mempertimbangkan kekreativitasan dan kebaharuan. Bila kekreatifan tidak ditumbuhkan akanlah muncul kemalasan mencari nilai-nilai baru sebagai alternatif sehingga menumpulkan perasaan yang secara otomatis juga mengurangi peluang kecepatan berfikir, disamping dampaknya selalu menguntungkan kaum yang mempunyai modal.

Menurut Edwin Ziegfeld (1953) modernisasi adalah kurangnya tanggung jawab atau sedikitnya si “pembuat” benda tidak melihat jelas peranannya sehubungan dengan produknya, maka individu hanya menjadi sekrup-sekrup dari roda gerigi suatu rangkaian mesin-mesin industri. Dia tidak dapat memiliki sepenuhnya kebanggaan, kepuasan serta perasaan bahwa dirinya penting atas suatu produk yang dihasilkan. Tidak seperti pada produk tradisional yang mana si pembuat karya lebih bisa menikmati sendiri karyanya, dia masih mempunyai kebanggaan atas produk-produk yang dihasilkan; artinya dari saat awal mempersiapkan media, mengolah, mencipta hingga mungkin pemasarannya akan dilakukan sendiri tanpa ada pihak lain, jadi sepenuhnya kebanggaan dan kepuasan perasaan dirinya masih mendominasi terciptanya suatu produk yang dihasilkan.

Begitu pula praktisi pendidikan kita meragukan ketidak jelasan konsep dan strategi Link and Macth yang mengarahkan dunia pendidikan mengikuti perkembangan industri yang berarti akan mengeksploitasi peserta didik untuk dijadikan robot-robot hidup sebagai pengesahan nilai-nilai konsep kapitalisme yang justru menghancurkan nilai-nilai konsep idealis dunia pendidikan.
Kebalikan dari n-Ach theory David Mc Clelland pada dasarnya mengemukakan bagaimana kekreativitasan individu bisa ditumbuhkan untuk mengembangkan inisiatif yang selanjutnya dapat berfikir untuk berkarya secara mandiri. Jadi penekanan lebih ke arah mengubah pola pikir atas ketergantungan individu pada suatu instansi formal atau dengan kata lain agar individu lebih kreatif menciptakan lapangan kerja sendiri.
Cara Ungkap Baru

Dari apa yang dilakukan perupa kontemporer tidaklah harus “dicekik” karena telah menjungkirbalikkan (baca: menambahi) semua tesis dan dalil-dalil hukum kesenirupaan yang telah dibangun ratusan tahun lamanya yang sudah menjadi legenda kebudayaan adi luhung.
Seni rupa yang dulu selalu dianggap paling abadi, artinya suatu bentuk kesenian yang mampu menjelajah waktu dari mulai diciptakan hingga berabad-abad lamanya sampai sekarang seni rupa tak lagi menghiraukan keabadian tetapi lebih mengarah pada sifat kesementaraan. Kalau ditinjau dari karyanya jelas “x” tidak bersifat awet karena mudah terhapus oleh siapa saja bahkan hujan sekalipun, dan kalau si empunya tembok telah hendak mengecatnya maka karyanya akan lenyap begitu saja layaknya pasir di pantai yang setiap saat akan selalu berubah, begitu pula eloknya terbit matahari pun hanya sekejab.

Dia “x” tidak lagi memerlukan sebuah kanvas atau bahkan bingkai, dengan kapasitas keluyurannya sudah mampu mengekspresikan diri lewat tembok yang sekiranya “tak terpakai” yaitu tembok-tembok pagar pinggir jalan dengan catatan yang belum di cat oleh pemiliknya; tembok yang masih berupa lapisan semen-pasir berwarna hijau keabu-abuan.

Di sisi lain kebaharuan karya ini masyarakat (penonton) tidak lagi perlu berbondong-bongong datang ke tempat pameran, adanya seremonial; tetapi cukup dengan melintasi jalan seperti di saat setiap hari dengan rutinitas berangkat kerja. Artinya tanpa harus serius atau begitu saja sambil lalu menanti kekosongan karena penat dan panasnya kota yang terjebak kemacetan.

Begitulah cara kerjanya yang murah dengan hanya menggunakan satu warna putih, alat-alat sederhana, tanpa harus membingkai ataupun pengangkutan dan juga terperangah oleh harganya yang hanya bisa dinikmati kaum borjuis. Karyanya lebih dekat pada wujud seni sebagai bentuk cara ungkap yang wajar, tidaklah seni selalu dikembalikan pada intinya yaitu sebagai bahasa ekspresi pribadi manusia menanggapi kehidupannya.

Dari apapun yang dikerjakan manusia tentunya terdapat kurang dan lebihnya. Pada karyanya bisa kita lihat kekurangannya yaitu tiada permohonan resmi pada yang mempunyai tembok, walau begitu dia tidak juga sewenang-wenang bergrafiti layaknya ABG main cat semprot yang sekadar selekeh/iseng.

Dia tetap mengerjakan dengan kesungguhan untuk menampilkan kepribadian, dikatakan kesungguhan bukan berarti selalu mencipta hanya dengan ketelatenan dan kerumpilan detail-detailnya tetapi lebih mengarah pada sifat pengungkapan keunikan yang dimiliki oleh pengalaman-pengalaman personal yang lepas dari dominasi wacana-wacana yang lebih universal dan intensitas penggarapannya. Misal penggunaan media ungkapnya seperti sudah mengisyaratkan adanya ketidakabadian yang mana “x” sudah memperhitungkan ketahanan kualitas cat dan kemungkinan terhapus, sehingga motif yang diciptakan tidak akan merusak selera si empunya tembok bila ingin menutupnya dengan warna putih atau apapun.

Pada karya di jalan Dukuh Menanggal salah satunya bisa kita lihat bagaimana pengulangan itu dilakukan setiap saat, artinya bila paparan itu sudah penuh terlukisi “x” masih mungkin menampilkan lagi, tidak segan dan malu menjejalkan dijadikannya suatu komposisi yang lebih baru menyelipkan motif-motif pada sela-sela repetitif yang diciptakan sebelumnya. Sampai kini dia masih beroperasi buat tembok-tembok kosong Surabaya yang perlu diisi, walaupun karyanya tak bakal abadi. Selamat bagi si “gila” yang sudah menemukan media. ***

005. KETAKMAMPUAN ABJAD MENGARTIKAN ANU

Segala Ketidakjelasan

Hanya sedikitlah dari segi kehidupan kita yang terluput dari peristiwa-peristiwa kebetulan. Pertemuan yang tak terencana dapat menentukan pilihan jodoh atau pekerjaan, bila salah langkah atau kejadian ketakterdugaan akan memelesetkan kita ke dalam rumah sakit. Di sini arti kebetulan bisa diterapkan untuk hal-hal yang instingtif ataupun suatu tindakan yang bermula dari sering atau intensifnya latihan. Sebagai contoh seorang yang mengemudikan kendaraan yang ternyata dia tidak bisa memastikan benar bahwa tindakan mendahului, menghindar adalah suatu perhitungan satu ditambah satu sama dengan dua. Seperti juga janin yang bakal terlahir tidak mesti harus gen dominan yang akan membawa sifat keturunan.

Begitulah ketidakjelasan akan selalu muncul di setiap detik kehidupan, sering kita mengerakan hal-hal yang akan datang sebaik mungkin dengan mencoba menilai kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu. Dalam berbicara sering kali kita menggunakan kata keterangan tentang kemungkinan, “biasanya ….., boleh jadi ….., barangkali …..,” dan setiap kali kita memikirkan kejadian yang belum selesai atau yang hasilnya di luar keinginan secara otomatis kita menaksir kementakannya.

Ilmu pasti (eksakta) telah berkembang di abad ini dengan cepat apalagi Matematika. Dengan adanya matematika seakan dunia telah berubah yang mana saat dulu orang hanya bisa menghitung paling banter hanya sampai 20 angka (karena manusia hanya mempunyai 20 jari) tetapi sekarang abstraksi matematika mulai dikembangkan hingga menemukan bilangan di bawah nol dan itupun secara praktis bisa diterapkan untuk menghitung derajad suhu pada ketinggian puncak Everest di Himalaya.Walaupun matematika telah berkembang bukan berarti harus segala keseluruhan yang tampak/realitas segala cadar yang tersingkap. Bahkan seorang seperti Pythagoras akan terperangah pada penemuan jenis bilangan yang tak masuk akal yaitu Irrasional yang bagaimanapun keadaannya bilangan itu tidak bulat, sebagai contoh yang menjengkelkan ini kerap muncul pada apa yang disebut kuadrat yaitu bilangan yang bila dikalikan bilangan itu sendiri menghasilkan bilangan yang diketahui. Tetapi akar kuadrat irrasional ternyata adalah suatu pecahan desimal dengan deretan angka tak terulang yang tak terbatas di belakang koma, misalnya akar kuadrat dua sama dengan 1,41421 … dan seterusnya hingga tiada hentinya dan yang lebih menggelisahkan pikiran yang tertib ialah kenyataan bahwa akar kuadrat irrasional muncul dengan keseringan yang mencemaskan.Begitu pula di saat kita meneliti sebuah lingkaran yang mana nisbah antara keliling sebuah lingkaran dan garis tengahnya juga merupakan bilangan irrasional yakni 3,14159 … yang disebut Pi atau periphereia. Demikian itu juga berlaku pada teorinya A.F. Mobius (1790-1868) yang mana dia menelurkan suatu pita yang tidak mempunyai “sisi lain”. Bahkan seorang Picasso tak akan bisa mengecat pita ini menjadi dua sisi, dia akan membuktikan bahwa pita itu hanya mempunyai satu sisi sehingga kedua warna yang masing-masing sisi akan bertemu menjadi satu.

Begitulah banyak yang kita jalani atas kenyataan yang ternyata banyak ketidakjelasan walau kasus-kasus seperti di atas nyata ada. Bila kita selalu merasa ada pada salah satu sisi benar tidaklah pada sisi yang lain akan terungkap apa yang dikata benar.Beragam bentuk pemikiran yang tidak lain juga adalah sebuah bentuk keinginan, bentuk kebudayaan, bentuk norma, adat dan seterusnya. Begitu juga bahasa tercipta hanya karena suatu persetujuan antar dua orang atau lebih, artinya si A mengucapkan kata “gajah”, dia harus menyatakan maksudnya pada si B untuk menandai/menamai seekor hewan darat yang paling besar, bertelinga lebar dan berbelalai. Bila perkataan itu hanya menandai sebuah benda mungkin tidak terlalu sulit, tetapi bila “bahasa” itu digunakan untuk menerangkan yang lebih rumit misalnya suatu pengalaman maka terlihatlah ketidakmampuan bahasa akan lebih bisa mengartikan seperti apa yang diinginkan. Inilah keterbatasan dan kontradiksi intern setiap upaya membangun kosakata. Misalkan kita mempunyai pengalaman tertentu yang sulit dijelaskan atau hanya sebagian saja yang bisa dijelaskan atau memang mungkin pada dasarnya sama sekali tak bisa ditangkap oleh bahasa. Karena bentuk pengalaman bukanlah hanya suatu kejadian yang hanya tentang objek atau peristiwa tertentu, melainkan termasuk reaksi kita atas objek dan peristiwa itu. Bukan berarti dari keanekaragaman dan kerumitan pengalaman itu melainkan akibat tak terbatasnya kemungkinan untuk merefleksikannya.

Abjad Mengartikan Anu

Zaman prasejarah, suku bangsa primitif juga telah menggunakan bahasa lain selain verbalitas yaitu simbol dan lambang untuk mengungkap segala realitas yang melingkupi kehidupannya. Mereka tidak hanya menggunakan bahasa tulis dan ucap saja sebagai perantara komunikasi. Bagi mereka bahasa simbol tidak kalah pentingnya dengan bahasa verbal atau mungkin bahkan lebih mampu mengungkap “fakta”. Sebagai contoh karya 25.000 tahun yang lalu “Venus” dari Dusseeldorf, yang mana menggambarkan kesuburan seorang wanita dengan perlambang proporsi payudara yang berlebihan. Begitu pula suku Indian yang menyimbolkan wanita sebagai manusia yang mampu mendengar, mengerti dan sekaligus mengandung janin maka mereka menggambarkannya sebagai mangkuk yang bisa diartikan mampu menampung apa saja; bukankah sebuah mangkuk tak akan menolak sekalipun diisi racun. Begitu pula pada bentuk kegiatan-kegiatan yang lain bila kita hanya mengandalkan bahasa verbal tak mampulah untuk menceritakan makna secara keseluruhan atas kenyataan. Tidak beda dengan penggunaan panca-indera yang kecenderungan kita hanya menggunakan mata untuk merealisasikan segala yang ada. Misalkan terdapat seongok bangkai di jalanan dan bila kita hanya menggunakan indera penglihatan saja tidakkah mata hanya menangkap visual yang tertera disitu, artinya mata hanya merekam bentuk tanpa tahu itu sebentuk binatang kucing misalnya; ataupun juga mata hanya melihat merah, coklat, putih, hitam, sebentuk garis atau bidang. Mata tak mampu lebih jauh dari itu seperti mengungkap merah sebagai darah, coklat adalah daging yang membusuk, putih sebagai warna bulu dari kucing yang malang itu.

Ketidakmampuan manusia mengungkap fakta yang akhirnya melahirkan beberapa mitos dan legenda. Terbitnya matahari mengingatkan suatu kekuatan yang harus disembah, pekatnya malam menimbulkan ketakutan-ketakutan dibaliknya yang memang manusia tak mampu menjembatani diri untuk menerobos malam. Tumbuhnya mitos mengingatkan kita pada dewa-dewi penguasa tempat-tempat tertentu. Terperangahnya mereka untuk memahami benda-benda di sekeliling, lebatnya hutan, geloranya lautan, luasnya hamparan langit yang kesemua itu menimbulkan banyak teka-teki untuk menandai suatu kejadian.
Lambat laun semua tertandai dengan nama-nama yang mereka setujui baik untuk benda ataupun kejadian. Awalnya bahasa gambar (visual) begitu mendominasi walau dikemudian hari bahasa-bahasa lain juga makin berkembang. Bahasa komputer adalah juga dari sekian banyak “tanda” yang diolah prosesor sedemikian rupa untuk bisa ditampilkan di layar sehingga dapat terbaca sebagai bahasa verbal.

Bila kita mempersoalkan bahasa tentunya tidak akan terlepas dari fungsi bahasa itu sendiri adalah sebagai bentuk cara untuk berkomunikasi dan bila bicara tentang komunikasi tentunya beragam pula cara penyampaiannya, baik itu berbentuk tulis, ucap, bahasa gerak, rupa, suara, dan bahasa-bahasa lain yang memungkinkan untuk mengungkapkan suatu keinginan. Walau begitu untuk menerangkan suatu pengalaman kiranya tidak hanya dibutuhkan satu macam “bahasa” saja, karena pengalaman merupakan suatu reaksi terhadap objek, artinya tidak hanya sebatas mata atau salah satu indera untuk menerangkan sebuah objek. Dari objek itu tentunya juga akan kita temukan pada diri kita sendiri suatu kecocokan baik itu untuk kebutuhan praktis, pelibatan diri atau bahkan sesuatu yang tiada kepentingan sekalipun kecuali keseimbangan-keseimbangan yang dimiliki oleh benda itu sendiri.
Bahasa Verbal seringkali tidak menjembatani dengan sesuatu apapun bila itu harus dituliskan untuk memandang sesuatu yang unik, karena selalu saja kita menggeneralisasikan objek yang kita maksud dengan menggunakan kosa-kata yang “umum” digunakan untuk jenis objek yang sama. Dan juga verbalitas selalu memberikan batasan/definisi pada setiap pengalaman dalam upaya membuat suatu keputusan. Sementara pengalaman terhadap objek itu sebenarnya adalah medan yang sangat terbuka yang nyata dan primer. Begitulah sukarnya verbalitas untuk membuat ulasan kembali atas sebuah buku yang baru kita baca, karena ulasan yang kita buat itu dengan sendirinya akan mengintensifkan pengalaman membaca tadi; justru dengan mengangkatnya ke taraf refleksi.

Sebenarnya dari keberadaan komunikasi ternyata intinya terletak pada metafor, yaitu penggunaan kosa kata yang tidak seperti pernyataan-pernyataan literal. Sebuah metafor selalu mengatakan bahwa sesuatu itu “adalah ini” adalah ini sekaligus “bukan itu”. Makna metafor mengatasi dirinya sendiri dan membimbing kita ke sesuatu tempat yang justru tidak dikatakannya, maknanya terletak pada apa yang “dilakukannya” pada kita; yaitu ketika kita dipaksa mencari arti bagi diri sendiri yang analog dengan yang disiratkan oleh metafor itu.Di sini pentingnya penggunaan metafor pada akhirnya adalah cara-cara berada manusia. Dia tidak sekadar semantik tertentu, melainkan kita bergaul dengan realitas, dan metaforis ini berakar khususnya pada ketiadaan hubungan langsung yang murni dan pasti antara manusia dan dirinya sendiri maupun dengan alam kata lain akar metaforis ini adalah kenyataan bahwa manusia merupakan makhluk yang serba tak lengkap dan bahwa rasionalitas itu begitu canggih tak pernah bisa dianggap sebagai cermin murni kenyataan dan karena itu ia bukanlah sarana yang serba mampu dan memadai.
Pilihan Yang Ditetapkan

Bila diulang dari sub pertama tentunya kita akan menilai suatu ketetapan segala yang tampak dari eksistensi ilmu-pasti atau secara spesifik matematika tidak juga memberikan gambaran yang jelas. Masih ada kemunculan pengukuran, perbandingan dan bentuk-bentuk topologi seperti pita terpelintir bersisi satu yaitu pita mobius, apalagi penggunaan bahasa yang cenderung kaku dan tertutup yang tidak memungkinkan pengembangan suatu metafor-metafor yang lain. Ada satu penggeneralisasian untuk menceritakan suatu pengalaman, pemaksaan suatu realitas yang nyatanya lebih kompleks; kesalahannya justru hanya ditandai dengan penggunaan pernyataan yang kaku bahwa pengalaman itu “adalah ini” saja.

Terpilah, terkotak yang menjadi pecahan dari keberadaan keseluruhan yang menyelimuti segalanya diputuskan hanya menjadi sebagian yang rupanya sudah dianggap utuh. Keberadaan suatu pengalaman terpenggal yang menutup kemungkinan keterbukaan dari faktor-faktor lainnya yang sering justru ditinggalkannya, sehingga realitas yang tercipta justru tidak lebih dari sekadar menempel pada kualitas awal yang nyata sebagai reaksi manusia terhadap objek yang dicerapnya. Kebenaran hanya berlaku atas kesepakatan publik terhadap nilai kebenaran, pernyataan tertentu dianggap tak masuk akal yang seringkali kebenarannya belum dikenali; semata-mata karena ia tidak cocok dengan kerangka logika umum yang sedang berlaku.

Ricoeur menyatakan bahwa metafor mempunyai dua sisi yang menguatkan, metafor sebagai pengungkap pengalaman pergaulan dengan dunia itu dan sekaligus memelihara ambiguitas atau kekayaan pengalaman. Justru dari ambiguitas inilah metafor memungkinkan merefleksi ulang, mengulang kembali deskripsi kenyataan. Dengan begitu disadarinya nilai kebenaran juga bertolak amat banyak sekali atas kearifan tradisional yang telah dianaktirikan itu. Seperti juga yang diungkap Donald Davidson, “Saya menolak scientisme yang meyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang sungguh-sungguh berhubungan dengan “real”, hanyalah pengetahuan yang di dapat dari sains empiris. Tetapi ada banyak cara untuk mendekati realitas dan memahami hubungan sebab akibat kenyataan dan karenanya ada banyak sistem logika”.

Sejauh menyangkut pemahaman realitas, maka bahasa nyaris tak mungkin dianggap sebagai representasi murni kenyataan, dia hanya suatu bentuk proses kreatif asimilasi saja yang bukan pencerminan kenyataan. Sekali lagi realitas bukanlah yang dituju bahasa saja, melainkan membuatnya selalu bisa membuang kembali kategori-kategori yang telah dibuatnya sendiri ataupun menghapus konsepnya sendiri tentang esensi; karena bentuk metafor sendiri adalah lebih mengarah pada wilayah imajinasi yang hanya mengusulkan, melukiskan makna. Sedangkan bahasa literal lebih ke wilayah intelektual yaitu memastikan, memutuskan, atau hanya memaparkan sebab-akibat yang logis dari makna itu.

Menurut Arthur Koestler tindakan yang berani ini disebut bisosiatif, yaitu tindakan yang mencoba memperlihatkan hubungan antara dua hal yang tadinya dianggap tidak berhubungan. Hal ini dimungkinkan oleh imajinasi bukan persepsi. Ditegaskan pula oleh Ricoeur yaitu tindakan bermetafor adalah tindakan yang memperluas arti polisemi yang awalnya heterogen menjadi homogen misalnya Surabaya dengan Lontong Kupangnya ataupun Yogyakarta identik dengan Gudegnya. Berarti imajinasi mampu memproduksi logika baru melalui asimilasi predikatif, karena imajinasi adalah kemampuan primer, bukan sekunder untuk memahami realitas.
Metafor adalah wilayah utama dari ke “irrasionalitas” an yang kritis dan kreatif yang memaksa kekonvensionalan untuk membuka diri pada kemungkinan-kemungkinan baru pada sisi yang tadinya terlupakan atau bahkan tidak pernah diperhitungkan. Sebentuk metafor bisa berbentuk seperti novel, syair, satir ataupun humor koran kuning, tetapi bisa juga berbentuk visual seperti seni rupa, film dan bahkan bisa pula berupa peristiwa dari tetangga kita yang bunuh diri pagi tadi. Dia merupakan produk imajinasi kreatif maupun pengalaman yang memicu imajinasi kreatif itu sendiri. ***

004. MEMAKNAI PERMAINAN Pengantar memahami subjektivitas Ugo Untoro

Ugo Untoro adalah seorang perupa kelahiran Purbalingga-Jawa Tengah yang tinggal di Yogyakarta dan telah menyelesaikan studinya di Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia di kota yang sama. Dia telah memamerkan karyanya yang berupa boneka, buku dan lukisan nonkovensionalnya di kelas seni Rakuti STKW (galeri Rakuti) pada tanggal 3 Juni – 3 Juli 2001; juga untuk pertama kali jurusan seni rupa membuka diri dan ikut menyemarakkan kesenirupaan khususnya seni lukis yang akhir-akhir ini begitu mewabah dan kami selaku pemrakarsa telah mengundang saudara Ugo untuk mengisi yang tentu juga tetap “mengikuti” aturan yang telah disepakati.

Mengapa kami memilih dia? Terdapat hal menarik yaitu bahwa karya-karya yang telah dipamerkan sebenarnya sudah pernah dipamerkan di salah satu galeri di Jakarta yang konon “bangkrut” sesudah galeri itu memamerkan karya-karya tersebut di atas, tidak sepeserpun menuai materi kecuali hanya sebagai ajang temu kolektor, ucapnya. Disamping kabar kontraversi di atas sebagai institusi seni murni, kami juga berhak melindungi seni sebagai wadah mengungkapkan diri yang tidak teracuni oleh hal-hal di luarnya. Seperti yang telah diungkapkan oleh Nuzurlis Koto sewaktu pembukaan, bahwa kami tetap akan mengembalikan ekspresi personal sebagaimana mustinya dan inilah yang terakhir kita miliki, ditambahkan pula bahwa kelas Seni Rakuti hanya diperuntukkan oleh seni-seni yang lebih baru.
Permainan dan Arti

Kata permainan berasal dari/main/yang berkonotasi “negatif”; sejumlah kegiatan yang tidak mentransformasikan tujuan dan konsep tertentu yang serius, juga kata ini hanya dikenakan pada anak-anak. Padahal kalau kita tahu bahwa segala sesuatu baik melakukan kegiatan “serius” atau “tidak serius” akan memasuki apa yang dinamakan permainan yang memiliki spesifikasi khusus menurut permainannya. Sehingga tidak benar bila terdapat pernyataan bahwa permainan adalah sekadar “main-main” seperti yang dituduhkan “orang dewasa” selama ini. Sebagai contoh sekelompok anak bermain kelereng, dari masing-masing anak jelas akan berusaha menunjukkan ketrampilan/kepandaiannya sebagai aktualisasi diri terhadap subjek di luarnya. Tiada suatu kegiatan “apapun” yang tidak memiliki unsur permainan bila kata itu tidak semata-mata diterjemahkan sebagai kegiatan iseng belaka. Mereka bermain jelas tidak terdapat unsur paksaan dari siapapun dan juga autentisitas selalu menyertai karena setiap permainan akan dilakukan oleh subjek-subjek berbeda yang terbatas waktu dan tempat; antar subjek juga memiliki ketrampilan, kecekatan, kegigihan, kecerdasan, daya tahan dan kekuatan psikis yang berbeda-beda yang telah berusaha memenangkan/menyelesaikan suatu permainan.

Setiap anak walau dia bermain “sendiri” dengan bonekanya tentu terdapat kegembiraan sekaligus kelegaan. Gembira bukan hanya berarti gelak tawa; kegembiraan bisa dilihat pada air-muka gadis kecil yang sedang memandikan bonekanya, tiada suatu aturan di luar kehendak gadis itu, dia sudah tidak lagi berfikir proporsional bahwa bonekanya terlalu besar bagibak mandinya. Kelegaan tercermin pada intensitas melakukan kegiatan itu tanpa harus terdapat perangkat-perangkat objektif lain katakan harus menggunakan sabun mainan atau bahkan air mainan karena memang bermain adalah di luar dunia nyata sehari-hari (Hui Zinga).
Coba kita mengingat pada perlombaan setiap tahun pada hari kemerdekaan dengan intensifnya kita sebagai penonton walau jelas yang disaksikan adalah sebuah dunia yang “lain”, tidak ada yang membatasi diri di saat kita saksikan suatu keberhasilan atau ketidakberhasilan salah satu pemain yang terkecoh. Begitulah dengan tidak sadar pemainpun akan mengikuti keasyikan/intensitas tata tertib yang berlaku pada permainan yang dimainkan (suatu kesempurnaan terbatas) dan penikmat juga terserap secara khusus yang terlepas dari beban materiil dan kegunaan pada proses emansipatorik.

Kalau Mangunwijaya menyatakan bahwa pada permainan memiliki totalitas ungkapan yang berarti sebagai kategori primer bagi kehidupan maka setiap permainan apapun dari yang paling remeh hingga ke tingkat paling tinggi layaknya seseorang memainkan cello pada sebuah kelompok orkestra tetap memiliki totalitas yang mana tiada perbedaan subjek dan objek lagi, antara dia yang “memainkan” dan yang dengan “dimainkan” suatu perbedaan kecuali saling meleburkan diri pada suatu entitas yang hendak dibangunnya katakan sebentuk komposisi. Begitu pula seorang perupa yang mengekspresikan dirinya menggunakan media-media fisik berupa aspek-aspek visual yang tidak lagi menjadi unsur-unsur yang terpisah tetapi membentuk suatu kesatuan utuh antar unsur dan hasilnya menampakkan sebuah karakter/gaya seseorang yang spesifik tidak dimiliki oleh perupa lain.
Transenden dan Permainan

Permainan adalah sungguh-sungguh dan tidak dapat direduksi, ia tetap terlepas dari semua bentuk pikiran yang mana di saat bermain atau segala aturan di tiap permainan tidak mengisyaratkan kebiasaan pola pikir rasional bahkan tidak ada suatu keharusan mutlak untuk bisa diterapkan pada waktu dan lain tempat yang dengannya kita dapat mengekspresikan struktur mental berupa ketahanan, kegigihan dan keuletan; dan bila diterapkan pada bentuk ekspresi Ugo Untoro terhadap cara-caranya “mencatat” kegiatan harian yang berupa karya buku, boneka dan lukisan nonkonvensionalnya tidak pelak adalah gambaran terhadap struktur sosial baik persoalan pribadi terhadap lingkungan dimana ia tinggal ataupun cakupan lebih luas mentransformasikan sebuah “ketidakmampuan” diri menghadapi “keinginan-keinginan” lingkungan dimana ia tinggal dan dunia kesenirupaannya.

Permainan yang dilakukannya tidak sekedar instingtif tetapi lebih dari itu pencarian makna untuk menyesuaikan diri dengan pemahaman kosmik terhadap keutuhan yang lebih dalam pada kebenaran dan keindahan yaitu bagian dari proses memahami keutuhan kosmik. Bila menilik kehidupan pribadinya yaitu antara dia dan istri antara dia dan anaknya tentu “hanya” pada bentuk permainan itulah dia mampu mengejawantahkan diri kepada hal diluar dirinya semacam mengatasi atau hanya sekedar proyeksi pada ketidakmampuan manusia menegaskan dimensi transenden dari Ada-nya. Saya memang merasakan terdapat “kerapuhan”, kata lain Ugo juga masih berdiri untuk tidak melawan/keluar dari konflik untuk bisa memberontak keluar. Tetapi apakah dengan “kesombongan” harusnya dia menangkal atau menyiasati masalah-masalahnya?; tidak! saya pikir disinilah keunikannya dengan segala kekurangan yang manusiawi, artinya ketidakmampuan dia untuk bisa berfikir “jernih” bukanlah suatu penilaian yang negatif.
Spesifikasi manusia tidak akan bisa direduksi oleh nilai-nilai diluar dirinya. Disamping “kemelut” pribadi tentunya yang tidak kalah derasnya menghujam adalah akar dari atmosfir kesenirupaan Jogyakarta dimana dia termasuk di dalam konstelasi itu, lepas dari benar tidaknya tentang “penggorengan” ini adalah suatu fenomena yang cukup menarik untuk bisa dicermati sebagai bahan perbandingan bagi Ugo Untoro menapaki ranah perupaan.

Permainan yang dilakukan Ugo pasti memiliki tujuan dan dengan tujuan itulah saya katakan rasional empirik sejauh sarana dan tujuan yang ada didalamnya adalah hubungan intrinstik pengetahuan ilmiah atas fenomena-fenomena. Tidakkah dia sudah melemparkan suatu tawaran menarik, pada dunia kesenirupaan bila dilihat pada medianya yang menggunakan bahasa-bahasa gambar dan kosakata “bermain”, yang mungkin pada konstelasi seni rupa di Indonesia saat ini bentuk-bentuk demikian tidak akan diperhatikan sebagai pengkayaan pencapaian kesenirupaan.

Victor Frankl menyatakan bahwa pencarian manusia terdapat makna merupakan motivasi utama dalam hidup ini dan bukan suatu “rasionalisasi sekunder” dari dorongan-dorongan instingtif, dengan keunikan makna yang hanya bisa dipenuhi oleh dirinya sendiri untuk mencapai kepuasan akan makna. dengan demikian dalam kegiatan pencarian makna hidup manusia mencari misteri transenden sebagai pengungkapan yang paling tinggi yang dapat dicapai dari apa yang secara logis tak mampu.
Makna Permainan Ugo

Dalam arti apa pengetahuan estetik memberi pengetahuan? Apakah hanya memberitahu sesuatu mengenai individu yang pengambilan kesimpulannya berdasar “perasaan” yang tentu bersifat nonkognitif. Kalau kita hanya memperhatikan Descartes seperti yang dinyatakan dalam “Cogito et ergo Sum” maka kekurangannya terletak pada cara “melihat”nya masih hanya dalam tataran pola pikir positivistik yang tidak akan bisa pernah diterapkan untuk memecahkan persoalan fenomena ilmu-ilmu sosial yang cenderung “bergerak”. Bukankah sudah jelas bahwa pengetahuan tertentu seperti estetika mungkin hanya tercapai melalui perasaan. Dan juga kelemahan kaum positivis memisahkan antara “subjektivis” dalam objektivis sehingga banyak kerangka pikir yang telah kita pelajari cenderung mengklaim bahwa objektivisme adalah keniscayaan dan secara alami mengarah pada realitas yang pasti; ataukah epistemologi sendiri belum mampu menjelaskan metodologinya sebagai perangkat kajian untuk menerangkan selalu bergeraknya fenomena estetika.

Benarkah seni boleh dibedah menggunakan pisau positivistik laiknya ilmu-ilmu eksak, atau hanya yang kognitif saja yang secara ilmiah benar dapat di “uji”? tidakkah estetika akan selalu berurusan dengan sebuah dunia tertentu (spesifik) yang hanya tercapai melalui perasaan.

Saya kembali ke Ugo Untoro yang bentuknya tidak lagi mengindahkan suatu teknik tertentu yang “njlimet” kecuali dia hanya bermain-main dan semua orang akan menyatakan bahwa apa yang sedang ditampilkan Ugo adalah hal sehari-hari yang pernah kita lakukan, begitu pula banyak dari beberapa “kesan-kesan” penikmat sesudah mereka menikmatinya yaitu “lek! Ngono ae, aku yo isok”, atau lebih banyak lagi yang sebelumnya membawa bekal referensi “seni” konvensional sehingga banyak kegagalan mencari nilai atau bahkan makna yang telah disodorkan.

Menurut saya justru jangan mencari apa yang berada dibalik objek-objek seni yang ditampilkan, mustinya kita hanya cukup membolak-balik beberapa lembar halaman buku atau memainkan beberapa boneka termasuk memperhatikan lipatan-lipatan baju boneka atau sudut-sudut “origaminya”. Kita juga tak akan merasakan apa-apa bila sebelumnya kita sudah berbekal “nilai” yang selama ini dimiliki yang walau bagaimanapun itu hanya bersifat relative. Sedang Ugo sendiri mencoba menawarkan kosa kata yang selama in belum kita miliki sebagai suatu kesadaran terhadap pencapaian-pencapaian personal yang memiliki spesifikasi dan meninggalkan keindahan yang hanya menyenangkan semata. Dunianya tidak akan membuat iri bahkan minder bagi sementara orang yang menyukai keglamoran, bentuk-bentuknya tidak lagi rapi dan bersih, tetapi bagaimanapun sanggup memberikan kontribusi penting bagi apa yang dikatakan kepribadian. Maka permainan Ugo Untoro adalah murni dan sangatlah vital bagi keberadaan eksistensi manusia “L’Entre parlant en nous” (Merleau Ponty), justru lewat dan di dalam pengalaman serta ekspresi kita. Ekspresi Ugo dalam kebermainannya yang merdeka, kreatif, spontan yang sekaligus bentuk dari proyeksi dan aktualisasi kosmik didalam diri kita. Begitulah saya “memahami” dunia subjektivitasnya yang tidak hanya lewat rasionalitas instrumental saja karena kalau hanya metode itu yang diterapkan tentunya saya tidak akan mencapai makna atas objek-objek yang dipamerkan. ***.

003. SENI MENGATASI KETOTALAN HIDUP

Totalitas Kehidupan Dan Seni

Apakah yang diketahui terhadap totalitas kehidupan, dia adalah sebentuk hubungan rasa, kecenderungan, minat, dan usaha-usaha manusia yang terbagi pertama, keseharian yang kompleks dengan keragaman baik yang kognitif atau ekstensif. Kedua, adalah objektivitas hidup yang cenderung mengesampingkan nilai-nilai kehidupan dan pengalaman pribadi seperti norma sosial, moral, berbagai batasan pada organisasi dan objektivitas itu sendiri.

Batasan-batasan yang sudah tampak atau bahkan mungkin ada selalu tidak memberikan peluang terhadap pemunculan-pemunculan aspek spontanitas yang mana pada kondisi tertentu manusia/individu selalu akan bertindak secara naluriah menyatakan atau bertindak yang tidak memiliki perhitungan-perhitungan yang dimiliki oleh kebanyakan orang yang tidak lagi berupa abstraksi mendalam terhadap kondisi untuk direfleksikan menjadi bentuk karya yang sangat sensual. Karena apa yang dikonsepkan tentang manusia secara umum telah diberi batasan-batasan menurut norma, aturan yang berlaku di masyarakat.

Padahal kalau ditengok kembali pada esensi kemanusiaan bahwa setiap individu yang tumbuh tentunya memiliki latar belakang, pengalaman dan berbagai aspek yang membangun setiap bentuk kehidupan pribadinya, terbuka dan kreatif pada total kehidupan yang tidak terlepas dari konteks rasa sebagai ekspresi serta sekaligus media empati untuk diserap, diinterpretasi, dan dievaluasi. Begitulah eksistensi manusia menampakkan dirinya sebagai kesendirian yang berhak memenggal, merubah dan memilih berbagai variasi kenyataan hidup yang berlaku secara umum.

Fenomena artistik pada dasarnya adalah sebentuk pengalaman sebagai subjek reaktif yang menghasilkan sesuatu yang baru. Perkataan baru sendirinya tidak hanya pada fisik kekaryaan saja tetapi kebaharuan bisa juga tidak berupa artefak melainkan sebentuk perombakan pemikiran pada konteks yang ada (kontekstual). Kreatif bisa juga diamati pada karya yang khas walau katakan seniman yang lain menggunakan media yang sama tetapi keunikan sudut pandang, perlakuan dan pemahaman terhadap media akan menumbuhkan bentuk-bentuk orisinal, ungkapan-ungkapan perasaan (ekspresif) yang bebeda pada satu objek juga akan menggetarkan yang tentunya secara kualitatif ditangkap pemirsa tidak akan sama.

Dan seni ideal adalah netral, berprasangka umum, atau berbagai variabel awam yang cenderung kognitif ilmiah karena keidealan seni akan muncul bila didominasi oleh watak “pemberontak” watak/kondisi unik yang bervariasi adalah sumber kemurnian (pengalaman baru) yang tidak perlu dinilai secara objektif atau bahkan diilmiah kuantitatifkan, maka mestinya sifat subjektif dan yang ganjil lebih berarti bila dinilai secara artistik (pertimbangan estetis). Karena bagaimanapun sifat pokok yang berada pada keabadian yang artinya sekali karya itu terlahir sebagai suatu realita baru maka akan tetap ada/langgeng sepanjang waktu (walaupun secara fisik akan rusak oleh waktu) dan bagaimanapun seni akan tetap tumbuh sepanjang masa sebagai media perasaan untuk menguak tabir kemenangan manusia mengatasi waktu.
Keindahan Seni

Tidak bisa disangkal bahwa perkataan seni (art) bukanlah berasal dari kosakata kita. Seni menyangkut keindahan dalam arti yang luas dari “indah” itu sendiri, dia adalah sebentuk nilai yang tentunya keberadaan itu berguna bila kaitan-kaitannya juga menyelimuti dirinya. Perkataan indah juga tidak hanya bersifat menyenangkan saja, tetapi bisa pula berarti cantik, menarik, menakjubkan, agung bahkan bisa pula berguna, penting, dan suatu sifat yang lain adalah keutuhan, dan lain-lain. Maka seni akan tetap tumbuh mengesampingkan berbagai bentuk variabel umum yang berlaku di dalam masyarakat atau memperjuangkan dari apa-apa yang tertindas oleh objektivasi.

Kesadaran seni bukanlah konsep keteraturan keilmuan, sosial, moral yang cenderung bermakna ganda dengan kekaburan abstraksi; betapa tidak kabur kalau segala realitas harus selalu mempunyai sistem kerja yang sama pada setiap individu yang berlatar berbeda atau menuntut suatu nilai kelaziman yang disetujui banyak orang atau kelompok tertentu, padahal keberadaan dan pengalaman individu banyak memiliki sifat yang kongkrit, penyatuan yang utuh adalah sebentuk pengalaman manusia sebagai individu khas yang tidak bisa dibandingkan karena beberapa kombinasi watak dan tendensi yang mana seni kebanyakan menyingkap sifat yang berasal dari dewa secara psikologis dan binatang secara yang secara fisiologis yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk khas.
Keterkaitan Seni dan Kehidupan

Karya seni sebenarnya bukan hanya sebentuk artefak yang begitu saja tergeletak tanpa harus diketahui asal-usul kelahirannya, seni akan ternilai bila keberadaan penciptanya juga memiliki, memperjuangkan, dan bahkan harus memeliharnya yang berarti manusia menghidupkan suatu eksistensi sosial yang amat penting yang mana perbedaan setiap manusia berhak memunculkan khayalan/pengalaman individu yang berupa realita yang tidak bisa dikurangi dan dibandingkan yang mana keekspresifan yang bersifat kualitatif yang membentuk kelengkapan dari kekongkritan isi dan pengalaman individual unik yang semua itu abstrak, universal, dan ideal.Bagi kehidupan seni membangun suatu sifat yang berhubungan dengan kesan yang jelas dimana pencipta akan terpaut erat antara kekaryaan dan perilakunya (jiwa kethok: Sudjojono). Ketajaman akan nampak di sana karena bagaimanapun adanya, dan watak yang lain adalah sensualitas sebagai penyeimbang dari dominasi agama, moral, dan ilmu pengetahuan untuk suatu kesuksesan eksistensi sehingga menyingkirkan keanarkisan, kesesatan, dan kechaosan yang senantiasa mengancam dari berbagai sisi.
Penciptaan seni paling awal ialah lukisan zaman Phaleolithik yang menggambarkan aktivitas artistik yang mewakili kebutuhan praktis murni yang bertujuan untuk pengadaan makanan. Jadi di sini tiada suatu di luar kearifan, tiada yang berlebihan mengambil atau bahkan eksploitatif. Penciptaan mereka tidak menggambarkan simbol dan artistik, sehingga tiada suatu efek dekoratif atau keindahan tanpa fungsi murni, mereka mewakili bentuk asli pencerminan realitas yang estetis dengan kata lain tidak pernah ada tanpa maksud dan fungsi.
Begitulah seni sebagai pengendali keagresifan atau memperbaiki ketidakutuhan kualitas hidup yaitu merenungkan dirinya pada ketakterbatasan yang menginterpretasi dan mengarahkan eksistensi manusia. ***

002. MENGANGKAT KEMBALI PERADABAN TIMUR

Sejarah Hanya Menyodorkan Fakta

Runtutan perkembangan sejarah seni rupa sesudah Revolusi Perancis (1789) yang mana Jacques Louis David memulai pembaharuan pada gaya neoklasik, Garicault dengan “Rakit Medussa”, Courbet pada kredo, “Show me and Angel, and I will paint” dengan realismenya, hingga pemberontakan Edouard Manet yang telah menggegerkan pemerintah Perancis saat itu (1863) yang mana muncul teori How to paint, tidak lagi What to paint. Tonggak awal mulai tertancap, tiada lagi pelukisan teknis akademis yang “realis”, walau saat ini perkataan “impresionis” bermula dari cemoohan kritikus saat itu.

Kemudian disusul oleh Van Gogh yang penuh perasaan, Ganguin yang “melarikan diri” ke Tahiti menghasilkan keeksotikan timur, Seurat dengan pointilisnya untuk me”mecah” warna, sedang Cezanne telah berhasil mewujudkan kegeometrisan alam. Disamping Perancis menjadi pusat pertumbuhan begitu juga di Jerman dipelopori oleh gerakan Bauhaus seperti Kandinsky dengan teori Impresi, Improvisasi dan Komposisi, (1911) begitu pula Klee yang ekspresif puitis yang banyak mengadaptasi karpet Persia dan etnik Maroko. Ekspresionis tumbuh dengan cepat di Jerman yang banyak dimuati isian-isian tematik ala Max Beckmann yang di Perancis oleh Matisse yang kaya warna ketimuran yang dikenal dengan gaya Fauvis, benturan warna menjadi bagian lebih penting ketimbang objek garapan. Berlanjut ke Objek yang kali ini semakin menjadi tidak penting daripada pengungkapan teori individual terlihat pada seni abstrak Neoplastisis Mondrian yang menghormati bidang datar, konstruktivis Gabo dan Tatlin, Suprematisnya Malevich pada “Putih di atas Putih” (1918).

Pada silang sengkarut pertumbuhan bentuk (artistik) dan ide (estetis) di Eropa Picasso dan Braque telah menambahkan dimensi ke empat yaitu “waktu” pada Kubismenya. Freud pencetus psikoanalitis juga mempengaruhi tumbuhnya Surrealisme seperti Andre Breton (1924) dibarengi teknik akademisi Salvador Dali dan Surrealis Ekspresionis Miro serta Chaghall.

PD I berkecamuk menumbuhkan “kill art” di Zurich Swiss, yaitu kritikan, sarkasme dan sinisme terhadap kemerosotan harkat kemanusian, setelah itu Eropa tidak lagi menjadi ajang pergulatan sehingga tokoh-tokoh sentral seperti Duchamp, Mondrian, De Kooning hijrah ke Amerika hingga menumbuhkan Abstrak Ekspresionis (1940-an) ala Motherwell, Kline, de Kooning, Rothko, dan Jackson Pollock yang mementingkan action paintingnya dan terus berlanjut pada Pop-Art Warhol, Resaunberg yang telah menemukan lahan suburnya disini (pop art berawal dari Eropa). Tokoh-tokoh intelek seperti Morris menancapkan Minimal Art sedang Vassarely dan Bridget Reley pada geometri matematis Op-Art. Bosan dan protes pada materialistik hingga tumbuh Conseptual-Art oleh Kossuth dan Beuys, kemudian justru berlawanan dengan seni-seni yang justru menggunakan materi-materi “besar” seperti Land/Earth Art (1970-an) ala Christo, Smithson, Openheim, Serra dan Enviromental Art ala Richard Long, Michael Singer hingga Body Art, Vidio Art, dan lain-lain.

Kesemua yang diceritakan adalah kelahiran demi kelahiran, pertumbuhan demi pertumbuhan hingga yang paling radikal tidak juga menyatakan kesempitan bangsa dan negaranya, kecuali tanpa batas menyuarakan peradaban atas nama esensi dari eksistensi kemanusiaan; tiada lagi batas bangsa bahkan Negara. Dari Van Gogh mengenal cetak Jepang, Gauguin yang oriental, Klee yang Marokois, Picasso atas patung-patung primitif Afrika dan kalau bicara abstraksi tentunya timur telah mendahului sebelum masehi, yang justru teknik pelukisan secara “realistik” tidak berakar dari peradaban kita/timur karena faktor alam dan cara pandang yang non-rasional yaitu mikro dan makro kosmos (tiada sifat penaklukan).

Begitu pula di Indonesia saat terjadi “pertengakaran” Manikebu dan Lekra tiada hasil yang pasti tentang ketimuran, kecuali penampakkan hanya fisik artistik yang gagal pada tatanan estetisnya.

Bagaimana bila kita membandingkan antara barat dan timur?, menurut hemat saya kurang “etis” untuk kembali diutarakan pertama, isinya hanya menyodorkan kesejarahan yang tak relevan untuk diperbandingkan; karena barat memiliki Art (imanen) sedang kita sama sekali tidak memiliki kecuali perkataan kesenian dimiliki oleh satu kesatuan mencakup kebiasaan, adat dan agama (transenden), terus bagai kita harus mengejar dari ketinggalan ini, apa lagi di jaman kontemporer ini issue Post-Modern dan Modernitas sedang lagi diwacanakan.
Aktualitas Dada

Bermula Duchamp melemparkan urinoir yang tertandai R. Mutt (1917), sejak itulah manusia disadarkan oleh eksistensinya sebagai keutuhan dan totalitasnya; yaitu menguak tabir kemenangan manusia mengatasi waktu. Bukan berarti saya katakan bahwa melihat dan belajar adalah sekaligus pengekoran. Walau sebetulnya tentang semangat modernitas kita belum sepenuhnya menguasai yang mana terdapat suatu fase kedisiplinan/runtutnya konstruksi pemikiran linier yang menghasilkan kebaharuan demi peradabannya. Sedang hegemoni barat sendiri begitu arogan terhadap timur yang tak lagi “boleh” memiliki/meneruskan dari apa yang telah dirintis oleh barat. Padahal dari yang pernah dilakukan barat lewat Van Gogh, Gauguin, Klee, Picasso, Vassarely juga tidak lagi menyuarakan bahwa hal itu terinspirasi oleh timur. Terlepas dari polemik semacam itu tentunya juga tak akan pernah selesai.

Semangat Post-Modern yang telah membongkar tatanan barat sebagai pusat kebudayaan dunia telah dihapuskan dengan beberapa himpunan reaksi yang begitu tajam dan menarik, yaitu menunjukkan atau “membongkar” bagaimana filsafat barat menjadi pusat (walaupun sering disalah tafsir sebagai penolakan terhadap modernitas; chaos dan meragukan berbagai kepastian). Lyotard menyatakan bahwa tidak pernah bersikap anti modernitas, tetapi radikalisasi dari modern atau bukan suatu penghancuran modernisme tetapi membangkitkan kembali dari apa-apa yang laten dan tertindas di dalam modernisme. Foucault lebih tajam lagi bahwa subjek terbentuk dari mekanisme dan kontrol institusi/lembaga negara sehingga kekuasaanlah yang menciptakan pengetahuan, jadi manusia hanya sebagai subjek yang tidak pernah menjadi agen murni dalam sejarah modernisme. Diteruskan oleh Lyotard bahwa modernitas tidak mementingkan apakah sesuatu itu benar tetapi apakah sesuatu itu berguna dan dapat dijual.

Dari sekian banyak teori-teori Postmo baik Lyotard, Derrida, Foucault ataupun Marleu Ponty sesungguhnya telah memurnikan kembali konteks filsafat pada arahnya yang baru, secara singkat Postmo telah mengajukan alternatif untuk menerima perbedaan-perbedaan diluar sistem-sistem yang besar dan siap dengan wacana-wacana kecil sebagai logika dari relasi pergaulan sehari-hari tanpa memunculkan keheroikkan, arogansi dan egoisme yang pada dasarnya menghancurkan sifat kebenaran primodial.

Dekonstruksi tidak sama dengan destruksi, yaitu menata ulang metafisika menjadi lebih transparan tidak lagi diselimuti oleh mistifikasi (catatan: bukan pula dekonstruksi bebas terhadap metafisika) begitu Derrida melanjutkan pada difference perbedaan sekaligus to differ membedakan. Kalau menengok teori lain yaitu Simulacra dapat dianalogkan dengan adaptasi seperti yang dilakukan Picasso terhadap patung-patung primitif Afrika dan Iberia yang menghasilkan karya-karya kubistis; yang terpenting bukan barat menggali timur, tetapi perlakuan itulah yang menjadikan dirinya menemukan persona. Toh apa yang dihasilkan tidak lagi primitif Afrikanis atau Iberianis. Tidakkah kita juga sudah banyak melakukan itu pada motif batik naga, burung phoniex yang akarnya dari Cina.
Seni Kontekstual

Sebenarnya masih banyak tawaran di luar teori-teori di atas untuk mengetengahkan kepribadian kita, lihat Tabrani di Massages from Ancient Walls yaitu teknik pelukisan RWD (Ruang-Waktu-Datar) yaitu gambar yang dihasilkan berupa sekuel yang bisa terdiri dari beberapa adegan. Objek-objek tidak dipenjara dalam frame tapi bergerak dalam ruang dan waktu. Sebagai contoh salah satu potongan relief candi Borobudor yang menceritakan perjalanan Sidharta sedang berburu yang mana diawali dari sebelum, melepas panah, arah panah, hingga berakhirnya termuat pada satu frame. Begitu jenial orang kita sudah menggunakan teori relativitas (amat lain dengan yang di India, cerita di atas menjadi beberapa frame).

Kontekstualitas atau lingkungan sekeliling atas penggunaan indegenous material yaitu materi, bahan, teknik yang ada untuk keperluan mewadahi kreativitas yang sekalian bukan hanya sebatas materi, juga termasuk immaterial yaitu sebentuk spirit ketimuran yang cenderung tiada penaklukan terhadap mikro dan makro kosmos. Tidakkah juga banyak bahasa /tanda yang lebih “universal” dalam arti esensi atas keberadaan manusia dalam kesatuan kosmos.

Apapun yang dilakukan seniman di Indonesia, tentunya niscaya membentuk watak keberadaan budaya bangsa asal dilakukan dengan totalitas memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini dan bagaimanapun juga seni adalah pengekspresian keberadaan serta dimuati oleh totalitas memperjuangkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Kalau barat menolak seni modern kita karena salah satu faktor bukan terletak pada kreativitas penciptanya tetapi jaringan pendukung penyebar, penguat yang akhirnya menjadi kepemilikan serta wacana, kritikus handal dan lain-lain yang belum mampu menegaskan keberadaan kita. Disinilah diperlukan secara politis menyodorkan seni sebagai gejala yang harus diketengahkan dan secara pribadi kita mesti yakin dan berbesar hati bahwa “Art” bukanlah milik kita sebelumnya dan kelemahan terletak pada sifat merendahkan diri sendiri, padahal kita banyak mempunyai genre-genre dari kebhinekaan suku bangsa yang telah membelalakkan mata para Avant Gardis barat.***

001. SENI TIDAK ATAU UNTUK MASYARAKAT
(Tentang Identitas, Apa dan Siapa Kita)

Latar Belakang

Ada apa dibalik tumbuhnya berbagai “gerakan” yang selama ini menggejala seperti begitu banyaknya perupa baru menggunakan bahasa ungkap yang lebih terbuka dari cara teknik sebelumnya yang masih setia pada wacana tertutup. Terlihat jelas bahwa era reformasi yang telah membuahkan hasil kebebasan untuk mengkritik, mencemooh, bahkan menghujat pemerintah yang selama ini telah banyak berlaku salah pada kebijakan yang telah diterapkan juga sekaligus keberhasilannya menjadikan kita semua kambing hitam.
Disebutkan di atas adalah gerakan tentunya kata itu juga tidak secara otomatis mengisyaratkan tentang meluasnya suatu bentuk paradigma tertentu hingga ke pelosok tanah air (fasisme, komunisme atau kapitalis liberal), era menggunakan bahasa ungkap yang lebih terbuka yang mana wacana perupa baru juga sangat dipengaruhi oleh sodoran dekonstruksi postmo. Tanda tampak pada merebaknya gaya ekspresionis “vulgar” yang hanya cenderung mengkritik (tanpa introspeksi) pemerintah baik yang pernah diekspresikan oleh perupa Bali, Surabaya, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta (data dari beberapa katalog, menyaksikan pameran,dialog dengan beberapa perupa muda). Perupa-perupa baru tidak musti menyebut 80-90 an tetapi terdapat juga beberapa pemuda yang sebelumnya pernah bergerak pada “Desember Hitam”, “Kepribadian Apa”, “Gerakan Seni Rupa Baru” atau “Binal”.
Benarkan kebebasan yang telah dilakukan juga menyentuh esensinya? Pernyataan di atas tentunya masih bisa diperdebatkan, tetapi disini saya memunculkan kata kebebasan pada arti tindakan yang selama ini terjadi lebih terbuka mengucap bahasa-bahasa gambar (baik gambar yang biasanya juga ditambahi tulisan) yang tanpa tanda-tanda implisit. Terlepas dari menyentuh esensi atau tidak bahasa yang digunakan adalah sebentuk pengucapan seperti suara-suara protes, atau demonstrasi daripada bahasa sebelumnya (sebelum reformasi) yang cenderung tertutup tetapi bukan juga tertutup tidak menyuarakan kehendak “protes” pada kondisi saat itu.
Pemerintahan reformasi tidak juga memberikan andil kepastian yang telah diingini sebelumnya, hukum tidak juga secara pasti memberi realitas (walau tidak harus radikal) yang dengan begitu bermunculan tumbal dan beberapa kambing hitam untuk dikorbankan. Fluktuasi rupiah semakin tidak menentu, banjirnya produk RRC dari segala jenis barang, merebaknya Play Station,nomer buntut putihan, sekaligus juga bermunculan produk Sedan (untuk menyebut kendaraan roda empat) milyatan dan yang tetap selalu tertindas adalah kalangan bawah.

Dengan latar seperti ini sehingga memunculkan/membias gerakan-gerakan yang senantiasa mempertanyakan kelompok/komunitas tertentu. Katakan Taring Padi dengan konsep penggulingan tatanan seni untuk seni (tidak identik dengan L’art pour L’art) dan hegemoni Cemeti yang telah mengakar sebagai lembaga yang didanai oleh Hivos-Belanda (sekarang yayasan) yang hanya menggelar karya seni kontemporer (berarti tanpa melihat nilai?). Kiprah Taring Padi memekikkan “Seni untuk Masyarakat”, “Seni Fungsional” yang beberapa waktu lalu diwujudkan pada komunitas Delanggu (masih saya pertanyakan relevansi dan kontribusi bagi masa depan). Gerakan Apotik Komik yang mempunyai bahasa ungkap yang tidak berbeda karikatural canggih (Narsen) juga mempunyai keunikan pemanjangan pada tembok-tembok yang banyak/mudah diketahui publik. Begitu pula di Bandung tumbuh apa yang dinamakan Blup Art, sebentuk komunitas yang justru membalik fenomena seni masa kini dan mempertanyakan ” Seni Kontemporer ” dan ” Seni untuk Masyarakat ” yang bentuknya bermain-main, ironis, protes terhadap bentuk-bentuk seni bahkan pemikiran terdahulu (benarkah gerakan ini bisa disejajarkan dengan Dada!, masih dipertanyakan). Begitulah bagaimanapun seni akan tetap selalu mengetengahkan gejala-gejala yang ada dengan berbagai bahasa ungkap.
Begitu juga saya ingat pada penolakan-penolakan kita terhadap modernisme yang mana individualitas lebih menonjol sehingga proses inkulturisasi menemukan bentuknya walau terjadi benturan pada kesenian tradisional yang kita miliki sebelumnya lebih bersifat holistik; sebentuk kesenian antara manusia, kebiasaan adat dan agama menjadi satu kesatuan baik untuk ritual atau kehidupan sehari-hari.

Polemik Klasik

Saya mengetengahkan beberapa polemik klasik yang tentu keberadaannya perlu diaktualkan kembali yaitu seni untuk masyarakat atau seni tidak untuk masyarakat. Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan klasik seperti posisi seniman didalam masyarakat yaitu benarkah secara keterampilan (baik dengan alat bantu canggih atau tidak) seniman melebihi apa yang dia pikirkan dan atau seniman sebagai manusia yang selalu berjalan ke depan duluan ketimbang masyarakatnya dan atau haruskah masyarakat musti tertinggal daripada apa yang dilakukan/dipikirkan oleh seniman?
Sebenarnya pertanyaan diatas memang lebih banyak membutuhkan waktu untuk merealisasikannya, artinya “keterbatasan” masyarakat perlu dipertanyakan pada sikap mentalnya: yaitu sudahkan mereka berbondong memasuki gedung pameran/pertunjukkan seni, menghadiri dialog-dialog seni. Tetapi benarkah kegiatan-kegiatan seni (kebijakan pemerintah) begitu membanjiri sehingga hampir bisa mengalahkan beragam acara populer yang lebih bisa menjanjikan bombastisnya? Memang ini sebuah dilema.

Terdapat berbagai pernyataan atau pertanyaan yang banyak disuarakan akhir-akhir ini yang tentunya tiada suatu jawaban yang “memuaskan” atau bila itu pernyataan tidak juga dilampiri dengan berbagai solusi yang memadai yaitu yang bertolak dari struktur kesenian yang mana keindahan/pengalaman estetis selalu bermula dari dibalik subjek yang transenden dimana subjek yang mampu mengatasi totalitasnya sendiri juga berarti ahistoris sehingga muncul pertanyaan bagaimana si-seniman bermasyarakat atau menghadapi kesehariannya (seniman asosial: Freud) dan juga diperkuat oleh “mitos” kesenian yaitu seniman yang mampu berjalan di depan masyarakatnya sendiri serta sebagai sumber moralitas, sehingga dengan begitu seakan seniman melepas keberadaan sebagai manusia empiris yang sekalian diberi kebebasan absolut untuk mengklaim nilai-nilai seni sebagai legitimasinya sendiri dengan kekayaan gagasan seperti kreativitas, pembebasan, sufistik, humanisme universal, manusia empu, manusia merdeka, religiusitas dan lain-lain, sekali lagi begitulah kebanyakan pesimistis menyatakan gambaran-gambaran kesenian palsu yang tidak toleransi terhadap kesulitan hidup sehari-hari.

Jadi bagaimana sebenarnya posisi seniman bila dikaitkan dengan kondisi Indonesia saat ini, maka seniman sebaiknya menggapai vertikal dan horizontal sekalian yaitu keholistikan dan modernitas karena bagaimanapun juga terlepas dari impian manapun “waktu” tak akan bisa dikembalikan yang kini kita memasuki zaman yang tidak lagi bisa diperbandingkan dengan masa lalu.
Bila menyimak pernyataan para pesimistis yang berarti bahwa pertama kesenian harus mengikuti masyarakat yaitu sepadan dengan pengertian seni populer! Bahwa seni populer (baca: yang diketahui masyarakat) adalah sebentuk objek/acara yang secara politis telah ditanamkan pada masyarakat oleh ekonom dan teknokrat untuk menghasilkan keseragaman mitos dan nilai-nilai universal yang dikondisikan adanya selera masa kini yang sudah distandarisasi dan perlu diketahui bentuk populer adalah pengejawantahan dari penjajahan kapitalis.

Kedua, juga bisa diartikan bahwa seni yang memasyarakat ala Fasis dan Komunis sehingga yang diluar faham tersebut tidak boleh beredar, alias dibredel! yang tidak ubahnya sebentuk kesenian Lekra yang mana seni sebagai propaganda. Kalau begitu bagaimana dengan watak seni yang selalu mendidik kesadaran/mendukung atau merangsang imajinasi ? dan kalau diholistik-kan seperti zaman dahulu untuk diterapkan ke masa kini juga tidak mungkin tercapai karena sosialisasinya tidak tumbuh dengan alami pada kompleksnya kehidupan saat ini.

Tidaklah kita mengetahui bahwa budaya masa lalu dan dimanapun juga akan semakin hilang tradisinya (tradisi: selalu bersifat tetap) diganti dengan berbagai asimilasi, adaptasi dan partisipasi untuk masih tetap bersumber pada daya manusia Indonesia dan beragam ciri khas yang tidak dihilangkan. Begitulah justru fungsi seniman adalah tetap mengikuti inspirasinya yang “sekaligus” meninggalkan masyarakat dengan keunikan yang merupakan cermin daribudaya masyarakat sekarang ini baik kritis atau transenden sebagai alternatif tawaran dari kedangkalan dan pengkondisian masyarakat terhadap media-media audio-visual, rembesan-rembesan komunis, kapitalis-liberal dan ketidak disiplinan orde sebelumnya.

Identitas, Apa dan Siapa

Apa? Adalah suatu pertanyaan yang menyangkut keberadaan kita dewasa ini yaitu yang secara geografis terletak pada persimpangan benua-benua besar yang demikian tentunya sejak prasejarah! Lisan, hingga abad tulis. Dari Sangiran, missing link, datangnya bangsa Dravida (India Selatan), dari Cempa (Kamboja) ataupun Teluk Tonkin Sungai Kuning (Cina), tumbuhnya beberapa kerajaan Kutai, Tarumanegara, Majapahit, Sriwijaya, Mataram hingga kerajaan-kerajaan Islam Wali Songo (Sepuluh!), berlanjut misionaris Spanyol dan kemudian Portugis, kedatangan Belanda yang berawal dari Serikat Dagang (VOC), kedatangan Jepang (Nippon sebagai saudara tua!), nasionalis generasi 28, generasi 45, kemerdekaan dan hingga kini generasi 66 dan generasi reformasi.

Berawal dari manusia Sangiran dan Wajak yang menurut wataknya mereka tidak pernah menetap; berpindah-pindah, berlanjut era agraris yang mempunyai budaya menetap dan bercocok tanam. Evolusi zaman batu ke logam, mesin hingga mau tak mau yang berangkat secara historis lisan, tulis, hingga sekarang era tanda (informasi). Jadi aslikah kita!? Konon sebelum masuknya kebudayaan Hindu, teknologi pertanian dan alat rumah tangga berasal dari Cina, teknik malam (batik) dicurigai berasal dari India atau Cina, perkataan Khama-Rupa-Arupadatu (level pada Borobudur) dinamai oleh seorang Belanda yaitu Stutterheim hingga tata kota Majapahit yang mempunyai perlindungan berupa kanal-kanal berasal dari kebudayaan Cina (Dennys Lombart). Terlepas dari rasa minder dan “percaya diri” sekarang kita telah memasuki abad global yang tidak ada lagi Timur-Barat, Utara-Selatan walau masih tetap sebagai masyarakat timur- selatan yang kurang produktif dan tidak disiplin. Sejak embrionya memang telah disadarkan letak geografis sebagai lintasan budaya, kalau ngomong tentang keaslian tentunya berakar dari asli yang mana? Tidakkah juga kini kita berasal dari berbagai bangsa seperti yang telah disebutkan di atas yaitu pribumi yang telah bercampur menumbuhkan indo-indo India, Kamboja, Cina, Arab, Spanyol, Portugis, Belanda, Jepang. Toh! Seperti yang telah diutarakan oleh Soekarno bahwa bangsa Indonesia tidak terbentuk berdasarkan warna kulit atau paras muka etnik tertentu, dari Sumatra yang lebih dekat ke Malaysia, Jawa-Bali-Lombok campuran pribumi-India-Campa-Cina-Belanda-Jepang dan lain-lain, Kalimantan yang Cina, Sulawesi yang Spanyol-Belanda, Nusa Tenggara Timur yang Portugis dan Papua Barat yang lebih dekat Papua Nugini-Australia-Aborigin, maka berarti atas hasrat menyatukan diri (Le desire d’ensamble).Tidak ada lagi hegemoni, absolut-absolutan kecuali nilai multidimensional; universal sebagai manusia ciptaanNya dan menggenggam nilai pluralitas yang tanpa kehilangan akar serta indentitas diri sebagai manusia Indonesia menyongsong pasca-adat, pasca-etnis, pasca-pulau (sumpah pemuda) hingga kini adalah pasca-Indonesia.

Begitulah secara fakta bahwa kita adalah sebentuk kesatuan “baru” yang sekaligus “memasuki” abad eksperimental yaitu abad atom, petrokimia, informatika, bio teknologi sekaligus radiasi, polusi, pengangguran, eksploitasi alam dan manusia serta banyak lagi sifat self destruktifnya. Belum berbagai wacana-wacana modernitas yang sampai saat ini belum juga dimiliki dan telanjur dengan terpaksa sudah Postmo.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s