2008. Painting of Install, “Multidimensi”

Painting of Install, “MultiDimensi”,
Galeri surabaya, Balai Pemuda, Surabaya, 0ktober 2008

1. undangan

1a. katalog2008-dpn 1b. katalog2008-blk

Konsep Dasar

Tiada suatu ide yang benar-benar konkrit untuk bisa dijelaskan.
Apalagi berangkat dari suatu ideologi tertentu
yang selalu mengkotakkan pada “hal” yang tidak realistis
menuruti patron atau pola tertentu yang
dibakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.

Hanya proses abstraksilah yang merupakan
suatu reaksi instinktif atau reaksi sadar terhadap
proses pengkomposisian kembali ide-ide (unsur-unsur) murni yaitu
kelebat di saat itu juga di mana sedang di dalam
proses telah menunjukkan pilihan-pilihan yang makin mudah,
walau sebenarnya amat sangat terbuka;
tetapi dengan keterbatasan “waktu” maka
secara naluri musti secepatnya menangkap moment yang
sesaat itu untuk ditata secara layak yaitu tidak berlebihan.

Saya mempercayai ekspresi individu sebagai acuan dasar,
sehingga arti “kebebasan” sangat terkait dengan kebiasaan,
kecenderungan atau keunikan tertentu akan
membawa sesuatu yang lebih jernih.
Sehingga arti “saya” tidaklah berjalan secara serampangan,
tetapi semua itu berjalan dengan bekal purba
yang dibawa sebelum terjadinya kelahiran.
Hukum-hukum yang telah diterapkan pada
setiap personal akan membawa pada pengertian
yang lebih manusiawi yang terbimbing olehNYA.

01.sepatu coklat 02.home 03.sepatu di atas meja di atas sepatu 04.objek kuning-c 05. fire scream 06. masuk ke dalam 07. misteri jingga 08.pemandangan 09.yellow desert scream-c 10.potret kabur selanjutnya 11. dua kepala yang marah 12.marah sambil membawa perahu-c 13. objek-objek 14. potongan tangan dan pohon kelapa 16.menunggu telur III-c 17.dua objek-c 18.variasi III 19.01 20.11 21.14 22.no23 23.no25 24.no26 (pemajangan terserah) 25. ..... . diam m

suasana pameran dan media massa:

1bb3. kompas30okt08 1bb4. suasana pam kompas30okt081bb2. jawa pos29okt08

Surabaya – Surabaya Post

Pameran ‘Multidimensi’ Jalan Melepas Duniawi
Kamis, 30 Oktober 2008 | 12:26 WIB

Perupa yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya dan lama tidak terdengar kiprahnya, Hari Prajitno, kini tampil tunggal di Galeri Surabaya (GS), Selasa (28/10) – 2 November.

Pameran bertajuk “Multidimensi”, sepertinya dia ingin mencurahkan kegelisahan atau perjalanannya dengan memajang 81 lukisan. Bisa dibilang, mungkin ini pemecah “rekor” selama GS menggelar pameran. Karena tidak banyak pameran tunggal yang menghadirkan karya sebanyak ini. Pameran bersamapun, kadang tidak sampai 81 lukisan. Karya yang ditampilkan, dipajang secara susun. Ada di deret bawah dan deret atas yang tidak lazim dilakukan oleh pelukis lain. Penyusunan karya yang “tidak lazim” ini, menggambarkan perjalanan hidup Sang Perupa. Lukisan yang ditata searah jarum jam itu sama seperti arah mengeraskan “sekrup”.

Sementara lukisan yang ditata berlawanan arah jarum jam, adalah sebaliknya. Lukisan di bagian bawah menceritakan perjalanan Hari setelah mengenal Tuhan dan berusaha melepas keduniawian. Di sini banyak lukisan bernuansa pemandangan. Di deretan atas menggambarkan sebaliknya, Hari banyak mengejar keduniawian. “Betapa kecilnya kita di jagad raya ini,” katanya. Sementara karya yang dinilainya favorit ada di urutan ke satu deret bagian bawah. Karya tidak berjudul ini merupakan gerbang Hari serius melukis abstrak dan tercipta ketika dia mulai salat. Kesadaran Hari terhadap Tuhan berkat Mas Koko. Dia yang mengajaknya shalat. Pada saat itu juga Ayu Aurumsari Riza, istrinya sedang melahirkan anak ketiga, Jalu Landep Hanjemparing Giri Jati lewat operasi cesar. Sehari setelah itu, Jalu operasi karena ususnya yang abnormal. Bersama dengan “beban” yang menumpuk, Mas Koko sempat menelponnya. “Kamu punya biaya untuk merawat anakmu?” ujar Hari Prajitno menirukan ucapan Mas Koko. “Mendengar perkataan itu, sayapun tersadar dan setelah kejadian itu saya lebih mendekat kepadaNya,” tambahnya.

Sementara lukisan yang dikelompokan menjadi satu merupakan karya yang memiliki karakter hampir sama dan dibuat dalam periode yang hampir sama pula. Karena setiap orang punya kecenderungan tertentu dalam periode tertentu juga. “Seperti halnya anak kecil, di waktu tertentu menyukai mainan robot tapi di waktu lain dia berubah menyukai mainan mobil-mobilan dan lainnya,” jelas dia. Tentang kreatifitas seninya, alumnus Fakultas Seni Rupa – Institut Seni Indonesia (FSR-ISI) Jogjakarta mengakui instingtif. “Saya melukis sesuai dalam pikiran, seperti apa yang diberikan Tuhan. Saya hanyalah perantara bagiNya,” tambah dia. Hari mulai profesional melukis pada 2000. Sebelumnya dia banyak berkreasi di media kayu dan seng. Salah satu karya yang cukup mengejutkan dan seakan meneror penikmatnya, sempat dipamerkan di GS beberapa tahun lalu. Hari menampilkan semacam (satu) kepompong ukuran besar. Memenuhi ruangan. Kempompong yang dibuat terus gergoyang dan dilengkapi dengan pencahayaan tertentu, membuatnya para penikmatnya seakan-akan ikut bergoyang. Pada pameran ini, sepertinya bisa melihat perjalanan hidup Hari. Periode 2000 – 2002, dia menggambarkan kembali benda berserakan untuk ditata tanpa harus bermakna simbolik, kecuali memungkinkan keterbukaan di setiap menikmati susunanNya. Periode 2003 -2004, mencoba menafsirkan kembali benda dan lingkungan yang komposisinya mulai lebih cair. Lebih lapang menuju keinginan yang ada di dalam, walau kadang terjebak pada aras egoistis. Periode 2005 – 2007 mulai menapaki ranah keterasingan. “Aku tidak lagi leluasa memiliki atau menentukan apa-apa,” ungkapnya. Periode 2008 tiada ketakutan menapaki ketidakjelasan untuk menuju ke depan. “Apapun yang terjadi adalah kongkrit dan begitu nyata. Tiada batas untuk memberi tanda apapun yang tertorehkan di sana, karena dia ada di sini,” tuturnya. (K13)

http://galerisurabaya.blogspot.com/2008/11/pameran-multidimensi-jalan-melepas.html

Jawa post-[ Rabu, 29 Oktober 2008 ]

 Titik Balik Religi dalam Corak Abstrak

SURABAYA – Penataan lukisan karya Hari Prajitno terlihat khas dalam pameran di Galeri Surabaya mulai kemarin hingga 2 November mendatang. Ada 81 karya yang dipasang dalam dua baris, yang paling atas hampir mendekati plafon. Karya-karya tersebut diurutkan tahun pembuatannya, mulai 2001 hingga 2008. Dari kiri atas searah jarum jam, lalu berlanjut di bawahnya berlawanan arah jarum jam.

Pameran tunggal ke-8 Hari Prajitno tersebut bertajuk Multidimensi. ”Apa pun yang saya gambar adalah mengenai keberadaan Dia,” ucap pengajar seni rupa STKW itu. Menurut dia, karya-karya tersebut merupakan pertumbuhan kehidupan dan perubahan pola pikir yang selama ini dialami dirinya.

Lukisan yang ditata berdasar urutan tahun pembuatan itu pun ternyata memiliki makna. Searah jarum jam diibaratkan seperti sekrup yang mengencang. Itu menandakan bahwa pada masa-masa tersebut, Hari masih mementingkan kepentingan duniawi. Sedangkan di baris bawah, penataan berlawanan arah jarum jam. Bagi dia, itu berarti Hari mulai melepaskan keduniawian dan fokus pada kehidupan religi. ”Saya mulai mengenal Dia,” tutur bapak tiga anak tersebut.

Bukan hanya itu. Dari urutan tersebut juga terlihat perjalanan aliran abstraknya. Dalam lukisan yang dibuat pada 2001, Hari masih menggambarkan sebuah objek. Meski itu hanya sebuah ekspresi. Tapi, lama-kelamaan objek-objek tersebut menghilang, berganti dengan corak abstrak dengan semburat warna.

Misalnya, dalam lukisan abstrak dengan dominasi warna kuning yang tergantung di sebelah kanan pintu. ”Lukisan itu dibuat ketika saya mulai melakukan shalat,” ungkap pria 40 tahun tersebut.

Warna kuning itu diartikan sebagai cahaya yang mulai datang kepada dirinya. Hari tidak memberi judul pada setiap lukisan itu. Dia hanya ingin menunjukkan inilah karya Dia, Sang Pencipta. ”Melalui saya sebagai perantaranya,” ungkap alumnus ISI Jogjakarta itu. (jan/dos)

 

lihat juga di :

http://www.infogue.com/article/2008/10/28/seabrek_lukisan_membungkus_ruang_galeri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s