PARADOKS

paradoks 2, daur#1 paradoks 3, daur#2 paradoks 4, sirkle#1 paradoks 4, sirkle#2

The transformation of trees as religious spiritual symbol in fine art creation

In creation, the value of local wisdom is tried to be used again. While in modernity the value has dualism framework and pattern separation of binary opposition causing the separation, non integral, rigid, and inflexible to form deculturizarion, the tendency of domination on patrilineal way of thinking, the omission of any rooms outside just sight room, and individual materialistic room.
From the “bad and good” ideas, it has been a completion, all things are the Almighty wish”, there is no separation between the one which is “bad”/ low/ women/ feelings/ black and “good”/ above/ men/ ratio/ white. The form of his creation uses the transformation of a tree symbol, not just separated to be two parts “trunk bellow” or only “trunk above” but trees will become two synergistic pattern between above and bellow. The third pattern is as the root unity/ bellow is yesterday, trunk/ middle is the present time, branch -twig – leaf- flower – fruit/ above is the future time. The fourth pattern, circle, the continuous presence. Like in brightness, there is a little darkness or vice versa, in darkness there is a little brightness. Lorone atunggil which forms the presence of being continuous (cycle) to be tensions which present each other.

The harmony of art is paradox like dynamic calmness, as life which vacillate between two different poles, between sadness and happiness, hopes and worries, the feeling of happiness and desperation which slso do not feat each other, but unity, synergy and cycle which turn them to be a continuous cycle of life as the symbolic religious spiritual meaning which is made in aesthetic room.

 

TRANSFORMASI POHON SEBAGAI SIMBOL SPIRITUAL RELIGIUS DALAM PENCIPTAAN SENI RUPA MURNI

 

  1. LATAR BELAKANG PENCIPTAAN
  1. Dekulturisasi

Latar belakang penciptaan ini berisikan sejumlah masalah antara lain perubahan dan pergeseran tata nilai, 1) Dekulturisasi, yaitu lunturnya semangat kearifan lokal yang spiritual-religius digantikan dengan material-individual. Sementara dekulturisasi di atas disebabkan oleh, 2) Pemisahan pola biner, yaitu tiadanya semangat integralitas. Selanjutnya logika pemisahan pola biner melahirkan, 3) Kecondongan peradaban yang patrilineal, peradaban yang mengagungkan sifat kelaki-lakian secara berlebihan dibanding perempuan.

Perubahan, pergeseran, atau bahkan hilangnya tata nilai dan makna dari kearifan lokal yang tidak diindahkan, bisa berarti ketidakpahaman terhadap makna mitos; oleh karena kita sendiri yang lengah atau kehadiran asing yang secara bertubi-tubi menekan dan dengan sifatnya yang materialis telah menggeser tata nilai spiritual-religius sebagai ideologi yang sudah dibangun dan dijalankan oleh nenek moyang.

Makna spiritual (ekologi dalam) menurut Capra:alam dan diri adalah satu, bukan logis tetapi psikologis, penghantar kita dari kenyataan, bahwa kita adalah integral dari jaringan kehidupan menuju norma-norma tentang bagaimana seharusnya hidup (Capra, 1985; 42 ).

Perubahan demi perubahan pada suatu bangsa di mana pun memang tidak bisa disangkal atau dihindari. Perubahan dikarenakan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat, penemuan teknologi baru, penemuan gagasan baru. Terdapat selisih antara pemikiran tradisional dan modern, pertentangan antara mitos dan rasional, pertentangan adat istiadat yang sejak semula tertanam sebagai kepemilikan yang sudah mentradisi sebagai spiritual-religius dipertentangkan dengan pranata individual, material, dan kapitalistik.

Mitos di atas bukan seperti mitos di dalam pemikiran Roland Barthes tentang mitologi, tetapi mitos menurut van Peursen; adalah pemberi arah kelakuan, pedoman kebijaksanaan dan sekaligus partisipasi terhadap alam. Perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam (van Peursen, 1988; 37-41).

  1. Pemisahan Pola Biner dan Dualisme

Pemisahan pola biner atau oposisi pola biner, diperkenalkan oleh anthropolog-strukturalis Claude Levi-Strauss yang berangkat dari analisa konseptual.  Levi-Strauss di dalam Danesi menyatakan bahwa mitos sebagai sumber asli pengembangan pikiran konseptual terus bergaung dengan oposisi pola biner yaitu;  kehidupan vs kematian, baik vs jahat, masak vs mentah (Danesi, 2010; 212). Lebih lanjut dikatakan bahwa oposisi pola biner juga bisa berarti dualisme; antara lain pemisahan jiwa vs raga, mitos lampau vs rasional, atas vs bawah, lelaki vs perempuan, provan vs sakral, isi vs bungkus, kebutuhan vs keinginan, transendensi vs imanensi, theosentris vs antroposentris, yang tidak lain bahwa anggapan semua hal/  teks akan selalu dipertentangkan yang mengakibatkan rigid, infleksibel, dan linier.

Pemisahan pola biner/ dualisme menjadikan ketertutupan untuk memilih di antaranya. Kita harus memilih salah satu saja, tiada ruang alternatif sebagai pilihan, maka kalau tidak “ini” hanya “itu” saja. Bila pilihan terjadi di antara itu adalah plin-plan, abu-abu, dan tidak bermutu. (Tabrani, 2006; 121)

  1. Dominasi Peradaban Patrilineal

Logika pemisahan pola biner yang tiadanya sinergi dan integralitas menjadikan absolut, bersifat dominan hingga cenderung melahirkan pemahaman bahwa laki-laki adalah rasional dibanding perempuan yang intuitif. Lelaki lebih analitis dibanding perempuan yang sintesis, lelaki maskulin dan perempuan feminin. Dengan begitu terjadilah pergeseran nilai, karena ilmu pengetahuan yang rasional kemudian melahirkan kecondongan peradaban menuju peradaban milik lelaki/ patrilineal/ rasional yang memberikan peran-peran penting yang berlebih pada kaum lelaki dibanding perempuan. (Capra, 2000; 27).

Lebih jauh Tabrani mengungkapkan dengan lebih terinci mengenai kecondongan dominasi patrilineal mencakup rasional, eksploitatif, mementingkan indera penglihatan, seks, dan non ekologis (Tabrani, 2006; 103). Secara esensi dunia/ sifat kelaki-lakian lebih mementingkan rasio daripada intuisi, dan hanya mementingkan penginderaan mata sebagai alat satu-satunya yang mampu melihat dunia secara empiris, seakan meniadaan indera-indera lainnya.

  1. Transformasi Pohon Sebagai Simbol

Berangkat dari relief “Kalpataru” sebagai pohon pengharapan akan keserasian dan keseimbangan yang terlahir dari gagasan kearifan lokal kita. Disamping itu banyak ikon nusantara yang menginspirasi baik dari gagasan atau dari gambar/ objek, antara lain totem Papua (estetika polatiga), tameng Papua (estetika polatiga), tameng Kalimantan (estetika polatiga), candi Borobudur (estetika polatiga), tokoh pewayangan Semar (estetika pola dua), keris (estetika polatiga). Semua hal di atas adalah falsafah Nusantara/ ketimuran yang transenden (Sumardjo, 2000; 54 ).

Transformasi, adalah teori tentang perubahan dari gagasan menuju perwujudan menggunakan teori transformasi dekomposisi yaitu transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan). Jadi pendekomposisian struktur alami pohon adalah sebagai sarana mentransfer gagasan menjadi sebentuk simbol yang mengungkapkan ideologi dan perilaku.

Transformasi pohon dengan strategi pengurangan dan penambahan struktur sebatang pohon (akar-batang-kuncup) yang menyimbolkan peluang alternatif; bagai berfikir secara lateral yang selalu menghendaki keberagaman dan membuka jalan (de Bono, 1990; 33). Transformasi adalah pilar sebagai proses pemroduksi makna, bahwa akar sebagai yang kemarin, batang adalah kekinian dan kuncup adalah keakandatangan. Bisa diartikan bahwa perjalanan kehidupan manusia musti melewati tiga tahapan yang tidak boleh terpisah, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, “Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”. Maka hal di atas bisa disimpulkan bahwa, transformasi pohon menyimbolkan eksistensi kemanusiaan terhadap rasa takut dan sekaligus ucapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Pohon dan Kosmos

Pohon mewadahi (momot) penyatuan, sinergi dan sebagai daur kehidupan, seperti yang telah dikiaskan oleh Descartes, “Semua filsafat ibarat pohon, akarnya adalah metafisika, batang tegaknya adalah fisika, dan cabang-cabangnya ialah semua ilmu-ilmu lainnya. (Capra, 1985; 82)

Pohon secara umum adalah tanaman ber”kayu”, tanaman tahunan yang berumur panjang, bersifat vegetatif yang tidak bisa berpindah. Pohon/ hutan menumbuhkan keanekaragaman hayati, mengurangi erosi, penyimpan air, penyeimbang iklim, bersama tanah-air-udara membentuk satu kesatuan bagi penyeimbang alam, sebagai tempat menetap dan singgah bagi habitat yang lain, sebagai peneduh sekaligus sebagai bahan tempat tinggal, kayu sebagai konstruksi, sebagai pemanas/ bahan bakar, dan secara umum di era pramodern pohon sebagai yang dihormati hingga menumbuhkan mitologi.

Filsuf Perancis Henri Bergson berceramah tentang temuan Bose :

“Penemuan Bose yang mengagumkan telah membuat ta-naman yang bisa mampu memberikan kesaksian yang paling fisik dan mengesankan tentang kisah hidup mereka yang selama ini tidak terungkapkan. Alam akhirnya dipaksa untuk memberikan rahasianya yang dahulu dijaga dengan penuh kehati-hatian”. (Tomkins dan Bird, 2008; 122)

Mengenai pohon/ tumbuhan di tahun 1970-an Marcel Vogel berkesimpulan bahwa daya kehidupan, atau energi kosmis yang menyelimuti semua benda hidup dapat saling berbagi antara tanaman, binatang maupun manusia. (Tomkins dan Bird, 2008; 35). Sementara Savin menyatakan bahwa tanaman philodendron memiliki kemampuan merespon dan memiliki sensitivitas untuk mendeteksi (Tomkins dan Bird, 2008; 54). Begitu pula tiada beda eksperimen dari staf Analisis dan Perencanaan Lanjut dari Laboratorium Arteleri Angkatan Laut di Silver Spring, Maryland Eldon Byrd :

“reaksi tanaman terhadap rangsangan dari air, sinar inframerah dan ultraviolet, api, tekanan fisik, dan pemotongan bagian tu-buhnya.” (Tomkins dan Bird, 2008; 55).

Lebih jauh ke belakang di tahun 1925-1930 Backster adalah seorang profesional penguji kebohongan dengan menggunakan alat galvanometer bereksperimen pada tumbuhan dracaena yang me-nyatakan, “Tanaman dapat berpikir!” (Tomkins dan Bird, 2008; 13).  Lebih lanjut lagi juga pada problem rahasia besar tentang hidup dan mati, ketika dalam alam kehidupan kita berlalu Yang Bersuara kepada Yang Tidak Tersuarakan (Tomkins dan Bird, 2008; 124).

 

  1. Metafor Akar-Batang-Kuncup
  1. Sisi bawah atau akar

Semacam kaki-kaki yang mencengkeram untuk berpijak, yaitu bentuk percabangan dari akar besar hingga akar serabut yang mampu mencari celah untuk menghisap sari pati tanah dan sekaligus berpegangan pada tanah/ bumi. Sebagai konotasi pengakaran, pegangan, ketergantungan pada tanah/ bumi ataupun ibu, “ibu bumi…..”. Tiada beda di level terbawah pada candi Borobudur adalah tingkatan khama penuh nafsu, kematian dan gelap.

  1. Pokok Batang

Sisi tengah yaitu sisi antara, adalah sebagai badan sebagai metafor ruang alternatif kekinian.  Perantara dunia bawah dan dunia atas, sebagai penyatu antara bawah sebagai kemarin dan atas sebagai keakandatangan. Pokok batang tidak lain adalah hari ini, kekinian, masa kita ini, situasi yang dialami oleh manusia di dalam kehidupan ini. Seperti di level tengah candi Borobudur adalah tingkatan rupa sebagai dunia perantara, atau mulai terlepasnya nafsu liar menuju  nafsu yang proporsif, nafsu yang terkendali oleh moral dan pikiran.

  1. Cabang, ranting, dan kuncup sebagai dunia atas

Asal percabangan dari pokok/ badan pohon menuju reranting hingga struktur urat-urat dedaunan yang menuju ke atas, menangkap tenaga dari matahari guna fotosintesis/ memasak untuk mendapatkan cahaya, tenaga, panas dan sifat-sifat lain seperti asal dari pemberi kehidupan. “ ….. bapa angkasa”. Seperti level teratas di candi Borobudur yaitu arupa yang tanpa bentuk dan sudah meninggalkan sifat-sifat keragawian.

 

  1. Pemikiran Spiritual-Religius

Di dalam butir-butir sifat ketimuran Sp Gustami menjabarkan secara komperehensif, termasuk di dalamnya tersirat pemikiran tentang penyatuan, sinergi, dan daur:

“Konsep material kebendaan menggantikan spiritual religius, budaya anthropocentris menggeser budaya theocentris, budaya rasional menggusur budaya mitologi. Era baru mengusung para-digma, spesialisasi, diferensiasi, dan diversifikasi dengan keta-jaman analisis ilmiah, rasional yang secara praktik dan fung-sional bermuara pada tujuan ekonomis, efisiensi dan efektif” (Gustami, 2007; 308).

Selanjutnya:

“Trilogi keseimbangan dibangun berdasarkan bertemunya si-nergi pertimbangan fakultas rasio, fakultas rasa, dan fakultas iman sebagai laboratorium yang berlangsung tanpa henti. Apa-bila salah satu fakultas itu ditinggalkan, dapat dipastikan timbul kepincangan di dalam hidup”(Gustami, 2007; 369).

Begitulah pemikiran kearifan lokal yang dari dulu cenderung tidak memisahkan antara rasio-rasa-iman, kesatuan cipta-rasa-karsa, kesatuan mikro-makrokosmos dibangun dari mitos kosmogoni (bagai-mana dunia menjadi ada), mitos eskatologis (tentang akhir dunia), dan mitos eksplanatoris (menjelaskan peristiwa alami) yang berbentuk antara lain folklore, legenda, dan epik sebagai tataran kehidupan ini menuju yang bermewujud ritual atau perlakuan sehari-hari, sebagai ibadah sampai paripurna; begitulah mite yang konstan dan stabil (Aris Wahyudi, 2014, catatan kuliah “Teori Seni”).

  1. Landasan Penciptaan

Konsep penciptaan berisikan ide/ isi yang akan dikomunikasikan yaitu, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, antara yang hidup-kematian adalah melengkapi, seperti juga pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang. Lorone atunggil yang membangun ketetapan yang terus menerus (daur/ siklus) menjadi tegangan yang saling mengadakan diri.

Keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing di antara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi menyatukan, sinergi, dan daur yang menjadikan tetap berkelanjutannya putaran kehidupan sebagai makna simbolik spiritual-religius yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

Ruang estetik diwujudkan dengan teknik transformasi dekomposisi pada struktur pohon menuju relasi simbol, sebagai wadah yang mampu mewadahi siklus kehidupan di dalam tatanan kosmos. Kesemua itu untuk memaknai hidup yang tidak meninggalkan esensi sebagai akar realitas dan dimensi mite-metafisik sebagai eksistensi dasariah kemanusiaan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa.

  1. Transformasi dan Simbolisasi

Di bawah ini akan dijelaskan apa itu aspek visual di dalam ruang virtual kekaryaan seni. Ruang virtual adalah bukanlah seperti ruang di dalam cermin, tetapi ruang “maya” yang telah diciptakan dari aspek-aspek visual antara lain meliputi fisik garis, warna, tekstur, stroke dan cara pengkomposisian dari ketiadaan/ belum berbentuk menjadi ada/ berwujud (K. Langer, 2006; 33) adalah yang terjadi dari interteks yang memiliki makna konotatif-interpretatif di dalam perwujudan sebagai perwakilan gejolak perasaan.

Transformasi Pohon Sebagai Simbol :

  1. Pohon memiliki struktur alami akar-batang-kuncup sebagai transformasi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah.
  2. Transformasi pohon mewujud penyatuan atau paradoksal, sinergi atau terdapatnya ruang tengah, dan daur sebagai siklus di dalam kehidupan ini.
  3. Transformasi pohon mewujudkan simbol spiritual-religius yang ideologis sebagai perilaku.

 

  1. Teori Transformasi

Untuk mewujudkan hal di atas digunakan teori transformasi yaituTransformasi Dekonstruksi atau Dekomposisi Anthony C. Antoniades di dalam Stepanie Jill Nanjoan, (Jill Najoan dan Mandey, pdf, 2011; 121) yaitu :

“Dimana prosesnya memisahkan sebuah susunan yang ada untuk dicari cara baru dalam kombinasinya dan menimbulkan sebuah kesatuan baru dan tatanan baru dengan strategi struktural dalam komposisi yang berbeda. Dan dari proses tahap demi tahap yang akan dilalui, juga transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan)”.

Jadi berangkat dari gagasan penyatuan, sinergi, dan daur yang secara teknis mendekomposisi ikon lampau dan kekaryaan modern bertema dualitas-antagonis; sebagai tanda adanya proses penyatuan, sinergi dan perwujudan daur atau siklus kehidupan.

 

  1. Teori Simbol

Paul Tllich di dalam F.W. Dillistone menyebutkan bahwa, simbol adalah sarana menginterpretasi kehidupan ini, sarana tertinggi bagi manusia untuk dapat berbicara tentang yang “ada” transenden, atau tentang Allah-dalam-hubungan-dengan-dunia-dan-manusia, atau ten-tang Allah dan tindakan-tindakanNya (Dillistone, 2002; 10), setidaknya sebentuk pohon, struktur pada tanaman yang secara umum memiliki tiga komponen dasar yaitu akar, batang, dan reranting-pucuk-bunga (dan buah) telah menginspirasi tentang adanya tiga tahapan manusia untuk menuju ke yang “ada” transenden.

Menurut K. Langer simbol seni tidak mewakili objeknya, tetapi wahana/ alat bagi konsep tentang objek. Konsep mengenai sesuatu yang bukan sesuatu itu sendiri, simbol-simbol harus diartikan. Bila-mana simbol sudah diungkap maka muncullah makna (K. Langer, 2006; 152-153).

Dari ketiga struktur alami pada pohon itulah maka akan disimbolkan, sesuatu yang bukan sekadar pohon dan strukturnya begitu saja, tetapi bahwa akar sebagai metafor dunia bawah/ khamadatu/ kemarin, dan batang sebagai metafor dunia tengah/ rupadatu/ sekarang, dan reranting-pucuk-bunga-buah adalah metafor dunia atas sebagai tujuan/ akan datang/ arupadatu, menuju ke makna yang spiritual-religius.

  1. Penyatuan, Sinergi, dan Daur (Proses Peleburan)

Banyak hal di dalam daur kehidupan ini sering dihadapkan hanya pada persoalan jawaban tunggal dari salah satu pilihan pada pola oposisi biner atau dualisme: benar-salah, hidup-mati, atas-bawah, terang-gelap, dan seterusnya yang menjadikan bahwa segala hal di dalam pola pikir, tindakan, dan segala pemecahan di kehidupan ini menjadikan oposisi, sebagai salah satunya jawaban absolut hingga memungkinkan ketertutupan berbagai kemungkinan di celah antaranya. Seakan bahwa segala fenomena dan pemecahan di dalam kehidupan ini adalah kalau tidak “ini” atau sebaliknya hanya “itu” saja.

Pendapat umum di zaman modern ini mungkin telah dipengaruhi oleh pemikiran Descartes dengan melihat alam semesta dari sebab-akibat (input-output) serta membagi alam menjadi kesadaran dan materi, atau benda hidup-benda mati, sehingga psikologipun membagi manusia menjadi psikis dan fisik  (Tabrani, 2006; h. 6-7). Di dalam “A Short History of Shadow”, oleh Plato di dalam Stoichita, bahwa cahaya/ terang lebih penting dari bayangan/ gelap (Stoichita, cabinetmagazine. org/issues/24/stoichita.php, Jumat, 1 Januari 2016, jam 02:17) sebagai metafor buruk dan jahat, seperti halnya masyarakat cenderung menganalogikan bahwa cahaya adalah kebaikan, sementara bayangan adalah kejahatan. Sehingga memperkuat dominasi cahaya/ terang dari bayangan sebagai yang tidak sempurna yang perlu diterangi.

Ketertutupan di celah antaranya yang terdapat ruang alternatif, karena kita telah diculik oleh modern/ barat yang hanya berfikiran mementingkan salah satu dari dualisme di atas. Sedangkan sesuatu yang berada di antara keduanya dianggap tidak bermutu, atau kompromis yang berarti plin-plan. Jadi dualisme barat adalah statis, infkeksibel, rigid bahkan absolut (Tabrani, 2006; h. 56). Lebih lanjut Brian Fay menyatakan juga tentang perbedaan di dalam dualisme barat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai suatu antagonis mutlak (Fay, 2002; h.330).

Padahal Ernst Cassirer menunjuk pada pandangan bahwa modernitas menyebabkan semua perbedaan konkret yang ditimbulkan oleh penginderaan langsung ditiadakan; tiada lagi ruang-lihat, tiada ruang-rasa, tiada ruang-dengar, dan tiada ruang-aroma (Cassirer, 1997; h. 68). Begitu pula dalam “Seni dan Humanitas”, Primadi Tabrani menyatakan:

“Semua tidak terlepas dari cara barat memandang  jiwa dan tu-buh yang bahkan memiliki perspektif peniadaan jiwa. Padahal pencerapan manusia timur amat berbeda dengan manusia barat yang menggunakan penglihatan mata seakan cermin dari objek-tif-rasional yang hanya mengerti dan memahami yang melepas dari proses mencerap dan menghayati, dimana alam dipisahkan dari spiritual. Mata dinilai paling tinggi bahkan di atas pikiran. Sedangkan manusia timur di dalam tingkat penyerapannya lebih merupakan sintesa, integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme di-namis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos (wholeness)” (Tabrani, 2006; h. 176).

Banyak filsuf menerima pembagian dunia alami yang oleh Descartes menjadi yang bersifat mental (“res cogitans”) dan yang bersifat fisik (“res extensa”), tetapi menolak adanya interaksi ber-dasar hanya sebabakibat (hubungan kausal) antara keduanya; misalnya filsuf Arnold Geulincx dan Nicolas de Malebranche mengusul-kan sebuah teori yang menyatakan bahwa Allah merupakan penghubung antara yang mental dan fisik (Hadi, 1994; 73).

Dalam proses penciptaan ini bukanlah semata hasil rasio, tetapi hasil integrasi kemampuan fisik, olah kreatif, dan rasio; bukan semata hasil kerja otak namun seluruh susunan saraf mulai dari indra hingga otot, integrasi mata dan indra lainnya, juga peningkatan afeksi (affect) (Tabrani, 2006; h) yang akan mewujud kesatuan paradok antara dualisme di atas menjadi satu kesatuan wujud kekaryaan seni menggunakan idiom bentuk yaitu struktur pohon, bayangan, dan landscape sebagai perantara dunia atas: langit, sosok, cahaya, kehidupan, benar, terang dan dunia bawah: bumi, bayangan, kematian, salah, gelap.

Berawal dari menjaga kemudian selanjutnya adalah melindungi agar unsur-unsur makna, yaitu integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme dinamis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos.

Sesudah menjaga makna dan melindungi yang berlanjut ke arah hingga menghidupkan nilai ideologis yang mengacu kepada ideasional dalam suatu budaya yaitu meliputi nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius (Kaplan, 2000; 154), yaitu sebentuk keutuhan gagasan, suatu pandangan bahwa makna bagi pencipta tidak lain ingin mewujudkan suatu pernyataan/ konsepsi bahwa di mana yang baik-buruk, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”,buruk baik sebagai kesatuan, semua adalah kehendakNya.Antara baik-buruk,  hidup-kematian; singkatnya seperti pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang yang membangun ketetapan yang terus menerus menjadi tegangan yang saling mengadakan diri, bagi saya keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing diantara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi meleburkan diri karena hal itu menjadikan tetap berkelanjutannya daur kehidupan sebagai makna yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

  1. Metode Pemikiran Transformasi Simbolik

Pohon memiliki struktur akar sebagai pencerap sari pati makanan yang terletak di bawah di dalam tanah, batang sebagai pokok penegak, dan reranting pucuk sebagai yang di atas sebagai pengolah makanan yang nanti disebarkan kembali untuk menjadikannya tetap hidup. Beserta pendukung garis horison adalah batas antara atas dan bawah, garis vertikal sebagai penentu arah ke atas, dan bayangan sebagai penguat efek dramatik.

Transformasi adalah suatu proses pembentukan dari gagasan, ide-ide yang sifatnya abstrak. Di dalam konsep penulisan kekaryaan ini difokuskan ke arah  ruang tengah sebagai konsep yang berangkat dari perkataan Lao Tze, “ we make a vassel from a lump of clay, it is the empty space within the the vassel that makes it useful”, “ambil segenggam lempung, lubangi ditengahnya. Maka lubang/ ruang itulah yang menjadikannya berguna”. (de Ven, 1995 ; 3). Ruang tengah bukan sekadar batasan dimana terlingkupi batas-batas di luarnya, keruangan sebagai sarana mewadahi dualitas-antagonis; baik-buruk, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pengeran”,Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”.Lelaki-perempuan, langit-bumi, raga-jiwa, dosa-pahala sebagai kesatuan yang harus ada melengkapi. Wadah bagai tanah, samudera yang bersifat memet mampu mengurai dan mewadahimomot, mewadahiyang juga seperti hati seorang ibu atau rahim yang menjaga, melindungi dan menghidupi, tiada beda silaturahim sebagai ‘ziarah’ tempat kembali segala muasal akan kehidupan“sangkan paraning dumadi”.

Di dalam menyikapi perbedaan dualisme mustinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat saling meniadakan atau bahkan absolut dan sebagai akibatnya relasi diantara perbedaan-perbedaan menjadikannya sebagai antagonis mutlak. Maka secara dialektik saya menerapkan suatu bentuk pertentangan dalam perbedaan sebagai alternatif, alternatif tersebut akan menyingkap bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat dipahami dan dipertahankan ketegangannya dalam kerangka yang lebih luas (Fay, 2002; h.331).

Dalam teori estetika pola dua antagonis dualitas sudah dipergunakan oleh nenek-moyang kita/ pramodern sebagai kearifan lokal yang mana atas-bawah, kiri-kanan, materi-nonmateri, lelaki-perempuan, bukanlah suatu yang saling meniadakan, tetapi suatu realitas yang terwadahi di dalam kosmos (Soemardjo, 2010; h). Di sini saya sebagai pencipta ingin mengembalikan pola estetika dua (penyatuan), pola estetika tiga (sinergi), dan pola estetika empat (daur) dari transformasi pohon.

Pohon sebagai mikro dan makro kosmos memiliki raga-jiwa dan tetap memiliki makna “momot”mewadahi,  yang tiada beda sebagai penghayatan  hidup  untuk dilaksanakan sebagai perilaku awas, emut, lan memet yaitu waspada, ingat kepadaNya dan hati-hati sebagai nilai, dan norma.