PARADOKS #2, pameran dan presentasi karya 1994-2016

Gallery DKS, Surabaya, 2017.

Pemb. pameran, kamis, 19 januari 2017, jam 19:30 wib. Presentasi karya jumat, 20 januari 2017, jam 14:00 wib

Latar Belakang

membaca gambar dari kiri atas (1), kanan atas (2), kiri bawah (3) dan kanan bawah (4).

Analisa Formal (Mata), pengamatan aspek visual tanpa dibebani makna

Gambar 1

  • Secara umum kita akan melihat garis lengkung hitam dari asal sebelah kiri menuju melingkarnya arah ke pusat yang runcing, karena garis itulah yang secara sengaja dibentuk, maka dinamakan garis positif.
  • Garis positif boleh dilihat sebagai dari arah luar (kiri) masuk ke dalam (tengah) atau sebaliknya dari arah dalam menuju ke luar.

Tetapi

  • Gambar di atas jarang ada yang melihat efek “bidang” negative yang ditimbulkan oleh garis positif tersebut, yaitu bidang putih yang lebih luas yang arahnya sama persis seperti garis positifnya yang berakhir tumpul.

Jadi

Kita tidak bisa mengabaikan yang tidak terlihat secara umum, yaitu “bidang putih yang berujung tumpul”, karena kepositifan yang kita buat secara sadar akan menghasilkan gambar lain yang secara negatif/ tidak “muncul” yang justru menguatkan keberadaan gambar positif sadar yang kita buat.

Analisa Makna A

  • Kalau orang pertama memaknai garis positif itu dari kiri ke kanan hingga berujung tajam di tengah coba dianalogikan seperti seseorang mengeraskan sekrup, lebih jauh bila dimaknai spiritual dunia-akhirat, maka pergerakkan itu bisa bermakna searah jarum jam, yaitu “mengeraskan/ menguatkan akan kebutuhan duniawi”.
  • Berarti juga secara bersamaan sekaligus bila juga dilihat yang “negative bidang putih yang berujung tumpul”, maka pergerakannya dari dalam yang tumpul menuju ke kiri searah melepas sekrup, berbalik dari arah jarum jam bisa dimaknai “melepas akan kebutuhan duniawi yg menuju langit”.

Sejarah Jarum Jam dan Makna

arah jarum jam awalnya dari tradisi muslim yang bergerak dari kanan ke kiri, tiada beda penulisan dan tentu cara membacanya yang terinspirasi bahwa alam bergerak juga dari kanan ke kiri pd rotasi dan elips benda langit di dalam tatasurya kecuali uranus d venus, Ingat arah tawaf (memutari kabah), dari kanan ke kiri. Karena ideology islam adalah theosentris.

Tetapi barat juga sangat beralasan membalik itu semua untuk kebutuhan yang memang anthroposentris, duniawi dan materialis, karena barat telah pernah dininabobokan oleh “abad pertengahan” yang “melangit”.

Melangit, saya belum membacanya bahwa melangitnya adalah theocentris, karena abad pertengahan adalah kecelakaan yang diakibatkan oleh “oknum” Negara-gereja, beda dengan melangit di dalam tradisi muslim, baca abad pertengahan yang non humanis.

 

Analisa Makna B

Gambar 2

  • Anda secara umum akan menengok bayang-bayang pohon di pelataran adalah gelap, tetapi cobalah sadar bahwa gelapnya bayang-bayang itu karena juga adanya hal terang, jadi begitu pentingnya hal yang tidak benar kita sadari adalah sebagai penguat.

Gambar 3

  • Anda secara umum akan melihat batang dan reranting dari penggalan sebatang pohon, sekali lagi adanya batang reranting itu dikarenakan juga adanya latar belakang yang lebih terang.

Analisa Makna C

Entah gambar 1, gambar 2 ataupun gambar 3 mengisyaratkan bahwa apa yang kita buat secara positif sadar itu tergantung dari latar belakangnya. Bisa pula justru latarbelakanglah yg membentuk kesadaran kita. Juga berart bisa bahwa latar belakang akan mendukung atau bahkan merusak.

Arti maknanya bisa berarti bahwa apa saja yang melatar belakangi penciptaanmu adalah juga harus ikut diperhitungkan seperti juga memperhitungkan kesadaran positif .

Bila gambarnya berwarna maka kompleksitas penilaian formal dan maknanya akan juga lebih jauh kerumitannya, belum ditambahkan psikologi senimannya, konsep, dllnya.

Atau tengok gambar 4, walau objeknya sama Cuma digeser ke kiri secara formal akan terbaca lain dan otomatis juga bermakna lain juga.

Bisa kata lainnya, siapa saja yang dibalik seorang seniman (keluarga, istri, anak, tetangga, teman sahabat dllnya)? Apa saja pemikiran, seberapa bacaan, lingkungan, kecenderungan dan tendensinya akan mempengaruhi kadar penciptaannya.

Konsep

Pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Di dalam Paradoks #2, seolah ada dua pilihan yang saling bertentangan antara yang putih atau hitam, bukan putih-hitam tetatpi putih atau hitam. Begitu pula antara realitas dan media. Hitam putih di dalam kehidupan adalah sebagai pilihan, memilih kiri atau kanan seolah-olah tak terdamaikan. Bila memilih yang satu berarti otomatis menolak yang lain. Benarkah?

Iklan