3. DISCOURSE, POETRY, and OPINION

  • Discouurse/ Wacana

005. KETAKMAMPUAN ABJAD MENGARTIKAN ANU

…… Begitulah ketidakjelasan akan selalu muncul di setiap detik kehidupan, sering kita mengerakan hal-hal yang akan datang sebaik mungkin dengan mencoba menilai kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa tertentu. Dalam berbicara sering kali kita menggunakan kata keterangan tentang kemungkinan, “biasanya ….., boleh jadi ….., barangkali …..,” dan setiap kali kita memikirkan kejadian yang belum selesai atau yang hasilnya di luar keinginan secara otomatis kita menaksir kementakannya………

001. SENI TIDAK ATAU UNTUK MASYARAKAT
(Tentang Identitas, Apa dan Siapa Kita)

…… juga bisa diartikan bahwa seni yang memasyarakat ala Fasis dan Komunis sehingga yang diluar faham tersebut tidak boleh beredar, alias dibredel! yang tidak ubahnya sebentuk kesenian Lekra yang mana seni sebagai propaganda. Kalau begitu bagaimana dengan watak seni yang selalu mendidik kesadaran/mendukung atau merangsang imajinasi ? dan kalau diholistik-kan seperti zaman dahulu untuk diterapkan ke masa kini juga tidak mungkin tercapai karena sosialisasinya tidak tumbuh dengan alami pada kompleksnya kehidupan saat ini…….

Lihat juga di : https://hariprajitno.wordpress.com/category/v-discourse-wacana/

  • Poetry/ Puisi

SEDERHANA CINTAKU

Tidak juga bawakan bulan
tiada genggam seikat kembang
tak rumit bualan
atau di luar ambang.

Segalanya biasa sederhana
seperti hanya basuh muka
tenggelamlah
aku didalamnya.

 

 

BEKU BATU RINDUMU II

Makin malam kelam larut
bulan berbunga kuncup
geliat santun, di tidurmu.

wanita menunggu
beku batu rindumu
terbaring luka, di tidurmu

Lihat juga di : https://hariprajitno.wordpress.com/category/iv-poetry-puisi/2/

Hujan Satu Satu (16)

Deras hujan melunak tanah
tapak-tapak apa tertera
sebisa kuda-kuda larilah
kaki-kaki terjang telanjang

Tubuh serap menghisap
hujan tuntas satu satu.

 

JELAGA ASAP TEMBAGA (51)

Serpih mengumpul pada semua permukaan, kerak rapuh jelaga merah luruh sederas hujan menutupi cekungan sawah sungai yang tak berair. Meresap terhisap pelataran becek anyir. Minyak hitam merambat pada sumbu beranyam jarang telah menyulut redupkan bintik api, berasap tembaga pekat dari lampu minyak seakan membakar dinding arang membara darah.

Lihat juga di : https://hariprajitno.wordpress.com/category/iv-poetry-puisi/

  • Opinion

4. Sepanjang hidup seorang pecinta yang difikirkan adalah bagaimana dia bisa menyenangkan kekasihnya, bisa melayani kekasihnya dengan sepenuh hati. Ketika yang berbicara adalah cinta maka tidak ada lagi ukuran salah atau tepat yang dilakukan yang, kaya dan miskin untuk masa depannya; bagaimana mungkin seorang yang sedang jatuh cinta bisa kita tawarkan kenikmatan lain sementara dia sedang hanyut dengan cintanya. Sejuta kenikmatan yang ditawarkan tidak akan mempengaruhi sedikitpun keseriusan dia kepada kekasih. Artinya, bila anda masih ketakutan akan masa mendatang. dan selalu mempertimbangkan akal salah tidak tindakannya, maka kalian belum menemukan APA ITU CINTA.

20.BERSEDEKAH=BERBAGI=MEMBERI=MELEPAS=MEMBIASAKAN DIRI BAHWA BUKANLAH AKUKU YANG MENENTUKAN.
adalah suatu cara alami yang tidak ubahnya sebuah persiapan untuk belajar mengikhlaskan diri menuju kematian sejak awal. Betapa tidak di saat menikah adalah mencoba berbagi apapun hingga berlanjut mempunyai anak maka lebih banyak berbagi lagi. Di saat anak kita remaja mereka sudah mulai memiliki kehidupannya sendiri dengan teman dan dunianya, di saat anak kita menikah maka kita mencoba melepaskan agar mereka belajar mandiri. Di saat kita memasuki usia 40an/kurang tidak sedikit dari saudara, sahabat, teman yang sudah meninggalkan kita duluan. Di saat kita tua/pensiun dan tak banyak yang bisa dilakukan maka sewajarnya untuk “melepas” karena memang sudah mendekati kematian.

21.KETEGANGAN RITUAL PRIBADI dan RITUAL SOSIAL
Tasripin(12th) dgn terpaksa sudah menjadi “orang tua” yang bekerja sbg buruh tani yg kadang di bayar beras atau Rp.10.000/hari yang hanya cukup makan untuk sehari bg ketiga adiknya Dd(7th), Ry(6th),dan Dr(4th). Ibunya meninggal tertimpa longsoran saat sbg buruh penambang pasir, sementara ayahnya merantau ke kalimantan bersama anak sulungnya.
Kita sebagai orang dewasa masih sanggup menelan “harmoni” yang klasik dan begitu abadi yaitu penderitaan, tetapi apa hubungannya dgn anak-anak dan mengapa mereka harus membayar harmoni itu dgn sudah langsung terjun pada penderitaan itu? dimanakah keadailanTuhan berada? tetapi apakah juga tuntutan keadilan humanis akan mengalahkan keadilanNYA?
Begitulah resiko sbg yang sudah dikalkulasikan ketika Tuhan mencipta dunia dan seisinya, baik penderitaan atau kebahagiaan yang ada ini terus berevolusi, memiliki peran mendidik dan membentuk jiwa manusia agar sesuai dgn maksud mengapa semua ini musti tercipta (include) di dunia ini.

https://hariprajitno.wordpress.com/category/vi-fb-status/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s