CENTIPEDE, KELABANG, LIPAN

Centipede/kelabang/Lipan

centipede

Dari awalan Latin centi-, “seratus”, dan pes, pedere, “kaki” adalah arthropoda di kelas Chilopoda dari subphylum Myriapoda. Mereka berbentuk memanjang, termasuk di dalam makhluk metameric dengan sepasang kaki per segmen/buku di tubuhnya. Meskipun nama, lipan dapat memiliki berbagai jumlah kaki dari bawah 20 sampai lebih dari 300. Lipan memiliki angka ganjil perpasang kaki, misalnya 15 atau 17 pasang kaki. Oleh karena itu, tidak ada kelabang dengan tepat 100 kaki. Kunci kesamaan di dalam kelompok ini adalah sepasang cakar racun atau forcipules. Lipan adalah takson yang cenderung karnivora, Lipan dapat ditemukan di berbagai lingkungan.

Lipan biasanya memiliki warna menjemukan yaitu hanya menggabungkan nuansa coklat dan merah. Cavernicolous (hidup di gua) dan spesies bawah tanah mungkin kurang pigmentasi dan banyak scolopendromorphs tropis memiliki warna aposematic cerah. Ukuran dapat berkisar dari beberapa milimeter di lithobiomorphs kecil dan geophilomorphs sekitar 30 cm sebagai contoh scolopendromorphs adalah yang terbesar.

Di seluruh dunia, ada diperkirakan 8.000 spesies kelabang, yang 3.000 telah dinamai dan sudah didiskripsikan. Lipan memiliki jangkauan geografis yang luas, mencapai luar Lingkaran Arktik. Lipan ditemukan dalam berbagai habitat darat dari hutan hujan tropis hingga padang pasir. Dalam habitat ini, lipan memerlukan mikro-habitat lembab karena mereka tidak memiliki kutikula lilin dari serangga dan arachnida, sehingga kehilangan air dengan cepat melalui kulit. Oleh karena itu, mereka ditemukan dalam serasah tanah dan daun, di bawah batu dan kayu mati, dan di dalam log. Kelabang adalah salah satu terbesar terestrial predator invertebrata dan sering memberikan kontribusi yang signifikan terhadap biomassa predator invertebrata di ekosistem darat.

Lipan terbagi Scutigeromorpha/house centipedes, Lithobiomorpha/stone centipedes, Craterostigmomorpha, Scolopendromorpha/tropical centipedes dan Geophilomorpha/ soil centipedes.

http://en.wikipedia.org/wiki/Centipede

Sebuah gigitan dari lipan mampu menembus kulit dan menyuntikkan racun
menyebabkan reaksi lain di seluruh tubuh seperti rasa nyeri yang amat sangat. Kebanyakan gigitan lipan tidak mengancam nyawa walau tergigigit oleh lipan yang terbesar sekalipun, sementara lipan yang dari sungai irawadi mesir telah mengembangkan reaksi alergi.

Gejala yang paling mungkin adalah nyeri akut yang biasanya proporsional dengan ukuran kelabang, pembengkakan kemerahan, kelenjar getah bening yang menyakitkan di areal pusat gigitan, sakit kepala, mual dan muntah, gelisah, gatal dan terasa terbakar.

http://www.orkin.com/other/centipedes/centipede-venom/

Iklan

Indonesian Finch, Burung Pipit Endemik Nusantara

PIPIT ENDEMIK INDONESIA

bondol, gelatik, manyar dan burung gereja

 

=PIPIT ENDEMIK INDONESIA1

=PIPIT ENDEMIK INDONESIA 2

 

1. Erythrura Trichroa, Indonesia timur hingga Micronesia.

1Erythrura Trichroa

 

2. Erythrura Hyperythra, Indonesia bagian timur

2erythrura hyperythra

 

3. Erythrura tricolor Indonesia dan Timor Leste. Merupakan burung yang langka ditemui di Timor, Wetar, Babar, Tanimbar dan beberapa kepulauan kecil sekitar pulau-pulau tersebut.

3Erythrura Tricolour

 

4. Erythrura prasina, Sulawesi, Maluku

4Erythrura prasina

 

5. Erythrura papuana, papua

30. Erythrura papuana

 

6. Lonchura Montana, papua

5. Lonchura montana

7. Lonchura leucogastroides, jawa, bali

6Lonchura leucogastroides

 

8. Lonchura punctulata, Sumatra, jawa, bali, lombok

7Lonchura punctulata

 

9. lonchura maja, jawa, bali

8lonchura maja

 

10. lonchura-malacca Malacca, Sumatra, jawa, Kalimantan

12. lonchura-malacca malacca

 

11. Lonchura castaneothorax, papua

10. Lonchura castaneothorax

 

12. Lonchura malacca atricapilla, Sulawesi, ambon, Sumatra, Kalimantan.

11Lonchura malacca atricapilla

 

13. Lonchura Malacca, Sumatra, Kalimantan, jawa

9Lonchura malacca

 

14. Lonchura fuscansdari, Kalimantan

13. Lonchura fuscansdari

 

15. Lonchura ferruginosa, jawa, bali

14Lonchura ferruginosa

 

16. Lonchura tristissima, papua jayawijaya

15Lonchura tristissima

 

17. Lonchura atricapilla Roné, Indonesia

33. Lonchura atricapilla Roné

 

18. Lonchura leucosticte, papua

32. Lonchura leucosticta

 

19. Lonchura striata, sumatra jawa Kalimantan

31. Lonchura striata

 

20. Lonchura spectabilis, papua

28. Lonchura spectabilis

 

21. Lonchura vana, papua

27Lonchura vana

 

22. Lonchura ferruginosa, jawa, bali

14Lonchura ferruginosa
23. lochura quinticolor

35. Lonchura quinticolor

24. lochura nevermanni

38. Lonchura nevermanni
25. lochura grandis

37. Lonchura grandis
26. lochura stygia

39. Lonchura stygia
27. lochura pallida

36. Lonchura pallida
28. lochura teerinkin

40. Lonchura teerinki

 

29. Padda fuscata

41. padda fuscata

 

30. Padda oryzivora, jawa, bali.

16Padda oryzivora

 

31. Amandava amandava, jawa, bali, nusa tenggara

17. Amandava amandava

 

32. Oreostruthus fuliginosus, papua

18. Oreostruthus fuliginosus

 

33. Taenopygia guttata, nusa tenggara timur

19. Taenopygia guttata

 

34. Ploceus philippinus, jawa, bali

20. Ploceus philippinus

 

35. Ploceus manyar, jawa, bali

21. Ploceus manyar

 

36. Ploceus hypoxanthus, sumatra, kalimantan, jawa

22. Ploceus hypoxanthus

 

37. Passer montanus, indonesia

23passer montanus

 

38. Passer domesticus, Indonesia

29. Passer domesticus

 

39. Serinus estherae, Sumatra, Sulawesi, jawa

24Serinus estherae

 

40. Scissirostrum dubium, kalimantan, Sulawesi, Maluku

25Scissirostrum dubium,

 

41. Neochmia phaeton, papua

26. Neochmia phaeton

 

 

LIZARDS, LACERTILIA, SAURIA, KADAL-KADALAN

Suborder Lacertilia (Sauria) – (lizards)

KADAL KADALAN

adalah termasuk di dalam kelompok yang luas disebut reptile squamate, dengan sekitar 6.000 spesies, ditemukan di semua benua kecuali Antartika, serta sebagian besar terdapat di jajaran kepualauan di samudera. Secara kelompok tradisional diakui sebagai subordo Lacertilia, didefinisikan sebagai semua anggota yang masih ada dari Lepidosauria (reptil dengan tumpang tindih antar sisik) yang tidak sphenodonts yaitu Tuatara.

 

I. Infraorder Iguania

1. Corytophanidae (casquehead lizards)

1.

Corytophanidae adalah keluarga kadal, juga disebut kadal casquehead atau kadal berhelm, endemik ke Dunia Baru. Sembilan spesies kadal casquehead dari tiga genetik yang di diakui, diitemukan di Meksiko, Amerika Tengah, dan selatan sejauh Ekuador.

Kadal ini berukuran sedang dengan tubuh lateral padat, dan biasanya memiliki puncak kepala yang mengembang dengan baik dalam bentuk helm pelindung kepala. Puncak ini merupakan karakteristik dimorfik seksual pada laki-laki dari basiliscus, tapi hadir dalam kedua jenis kelamin dari Corytophanes dan Laemanctus.
2. Iguanidae iguanas

2,

(/ ɪ ɡw ɑ ː nə /, Spanyol: [iɣwana])

adalah genus kadal herbivora asli
daerah tropis Meksiko, Amerika Tengah, beberapa pulau di Polinesia seperti Fiji dan Tonga, dan Karibia. Genus ini pertama kali dijelaskan pada 1768 oleh naturalis Austria Josephus Nicolaus Laurenti dalam bukunya Spesimen medicum Exhibens Synopsin Reptilium Emendatam cum Experimentis sekitar Venena.

Kata “iguana” berasal dari aslinya
Nama Taino untuk spesies, Iwana.
3. Iguanidae iguanas spinytail iguanas

Ctenosaura adalah genus kadal dikenal sebagai iguana spinytail. Genus ini merupakan bagian dari keluarga besar Iguanidae dan berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah.

Spesies ini memiliki berbagai ukuran (panjang total, termasuk ekor) dari sekitar 12,5 cm hingga sampai lebih dari 1 meter. Ciri khas dari genus ini adalah adanya sisik berduri pada ekor. Mereka umumnya omnivora, makan buah-buahan, bunga, dedaunan, dan binatang kecil. Beberapa anggota genus ini sangat populer sebagai hewan peliharaan.

Dua spesies, Ctenosaura pectinata dan Ctenosaura similis, telah diperkenalkan ke Amerika Serikat di Texas selatan dan Miami, Florida. Rekor dunia pada kecepatan sprint telah dipegang oleh kadal iguana berduri kosta rika 34,6 km / jam (Ctenosaura similis).

Genus Ctenosaura merupakan kelompok yang paling beragam dari keluarga iguana dengan 15 spesies yang saat ini diakui dan setidaknya dua spesies yang belum diakui. Spesies ini menghuni hutan kering dataran rendah, di bawah 1.200 meter (3.900 kaki) , di kedua pantai Meksiko dan Amerika Tengah.

2b.iguanidae spinytail

400_F_32394489_ZT7tHEyCcyDx3JjBXP3UzFJfxQbyO9rn Black Spiny-tailed Iguana - Costa Rica - 7-27-2012 - 012 Campeche-spiny-tailed-iguana five-keeled-spiny-tailed-iguana nolasco-spiny-tailed-iguana Oaxacan-spiny-tailed-iguana-showing-tail showfile.ashx Spiny-tailed Iguana P1030177 spinytailed2
4. Phrynosomatidae earless

Phrynosomatidae adalah keluarga dalam keberagaman kadal yang ditemukan di Panama, selatan Kanada yang ekstrim. Banyak anggota kelompok yang beradaptasi dengan kehidupan di tempat yang panas dan gurun pasir.
136 spesies tersebut akan disusun dalam 10 genera dalam keluarga
keluarga Phrynosomatidae.

4. Family Phrynosomatidae (earless lizards)

4858346495_dedaac9e60_m 5479728096_6495d7ae51_m Adult-female-Greater-Earless-Lizard cophosaurus_texanus cophosaurustexanus_ventral_Devitt COTE1 HOEL-Mating-Kartchner-LLCJonesENH2 holbrookialacerata_WAnderson Reptile_tx_usa
5. Phrynosomatidae spiny

kadal berduri ini lebih memilih gurun berbatu atau tepi hutan bahkan yang relatif lembab.

5. Family Phrynosomatidae (spiny lizards)

0329 83153_580_360 6168765_orig 235151257_757bccbb11 Emerald20Swift lizard_052805_02 Sceloporus_poinsettii_(1) OLYMPUS DIGITAL CAMERA sceloporusmerriami_vent_Devitt urosaurus_graciosus
6. Phrynosomatidae tree Lizard

Genus Urosaurus (kadal pohon), mereka dapat dibedakan dari anggota genus Sceloporus oleh adanya gular (di bawah leher) lipatan dan skala lateral yang granular. Mereka dapat dibedakan dari anggota genus Uta oleh adanya sisik dorsal diperbesar (kadang-kadang hanya sedikit). Telah digunakan sebagai sistem model dalam studi riwayat hidup kadal, dan populasi menghasilkan dua atau lebih musim peneluran per tahun (Michel 1976, Ballinger 1984). Studi lapangan juga menunjukkan bahwa reproduksi juga terjadi di New Mexico sebagai populasi alami spesies Urosaurus ornatus (Landwer, 1994).

3c. Urosaurus

2 revilla lacertilios (Urosaurus clarionensis) 0409 1319 Diplolaemus_bibroni T3 009-crop (Small) umicroscutatusdisplay umicroscutatusdisplay65 umicroscutatusdisplay343 unigricaudussd5082 uoschmidtirr9072 UROGRA-5 Urosaurus-auriculatus-1623
7. Phrynosomatidae treeside-blotched

Kadal Side-blotched dari genus Uta, adalah beberapa dari kadal yang paling berlimpah dan biasa terlihat di padang pasir barat Amerika Utara. Mereka biasanya tumbuh hingga enam inci termasuk ekor, yang jantan biasanya lebih besar dan memiliki warna cerah di tenggorokan.

Kadal ini banyak dimangsa oleh banyak spesies gurun seperti ular, kadal besar, dan burung. Pada gilirannya, kadal ini makan arthropoda, seperti serangga, laba-laba, dan kadang-kadang kalajengking.

Dari April sampai Juni mereka berkembang biak, tobil muncul di awal akhir Mei. Sementara yang remaja terlihat berkeliaran sepanjang musim panas sampai September.

3d. side-blotched

09042439PD_side-blotched ad_9058 IMAG011 Phrynosomatidae sideblotched side-blotched-lizard Umascopa450
8. Phrynosomatidae horned

Kadal bertanduk dalam genus (Phrynosoma) yang merupakan jenis genus dari keluarga Phrynosomatidae. Kadal bertanduk yang populer disebut “katak bertanduk”, ini bukan sebuah kodok atau katak. Nama-nama populer berasal dari tubuh bulat kadal dan moncong tumpul yang membuatnya menyerupai seekor katak atau kodok (Phrynosoma secara harfiah berarti “kodok-bertubuh”). Duri di punggungnya dan sisi terbuat dari sisik dimodifikasi, sedangkan tanduk di kepala adalah benar merupakan tanduk. Dari 15 spesies kadal bertanduk di Amerika Utara, delapan adalah endemik Amerika Serikat. Horned terbesar adalah kadal bertanduk Texas (P. cornutum).
9. Polychrotidae anoles
10. Polychrotidae Leiosauridae
11. Tropiduridae (neotropical ground lizards)
12. Tropiduridae Liolaemidae
13. Leiocephalidae

Leiocephalus

Kadal berekor keriting adalah keluarga, Leiocephalidae, kadal yang secara luas didistribusikan ke seluruh Karibia. Mereka sebelumnya dianggap sebagai anggota subfamili Leiocephalinae dalam keluarga Tropiduridae. Ada saat ini 29 spesies yang dikenal. Leiocephalus adalah satu-satunya genus dalam keluarga Leiocephalidae.

024 91723 Leiocephalus_carinatus_armouri_FL Leiocephalus-carinatus-03000022231_01 lunatus_catuano1 masked-curly-tailed-lizard--xxxleiocephalus_personatus Pict8997

 

14. Crotaphytidae collared

Collared Lizard

Crotaphytidae, atau kadal berkerah, adalah keluarga dari gurun Reptil yang hidup asli ke Barat Daya Amerika Serikat dan Meksiko utara. Mereka adalah hewan yang mampu bergerak cepat, dengan kaki panjang yang dimbangi panjangnya ekor, karnivora terutama pada serangga dan kadal kecil.

1144px-Collared_Lizard_Albuquerque_NM1_1 6710493 49708026 3831479395_758f6fc032 SONY DSC 5959226964_3c3e0d4498_m 7888722150_01c52927f9_z 9778038712_bc4d944db9_m auriceps_2011-1 cbicinctoresskin collared-lizard-19547477 crotaphytus_dickersonae_male DG-Halsbandleguan-Crotaphytus-collaris-auriceps-Utah-m-002 Eastern_Collared_Lizard_8300-finished male-and-female-Collared-L

 

15. Crotaphytidae leopard lizards

13Crotaphytidae longnose lizard

Kadal leopard berhidung panjang, Gambelia wislizenii, adalah kadal yang relatif besar yang panjangnya berkisar antara 38,2-14,6 cm dari ujung moncong sam ujung ekor. Ia memiliki kepala besar, hidung panjang, dan ekor bulat panjang yang bisa lebih panjang dari tubuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan “kadal leopard berhidung tumpul” yang mirip kadal leopard berhidung panjang dalam proporsi tubuh, tetapi memiliki moncong tumpul. Mereka pernah dianggap sebagai bagian dari genus Crotaphytus yang terancam karena perusakan habitat.

Adult-male-blunt-nosed-leopard-lizard---dark-phaseCO_Rep_Amph_Leopard_LizardFemaleLongNosedLeopardLizardgambeliaGAMWIS-5gcopei5long-nosed_leopardlongnoseleopardlizardfemalelongnoseleopardlizardmale

 

16. Opluridae (Madagascar iguanids)

Opluridae Madagascar iguanids

Opluridae, atau iguana Madagaskar, adalah keluarga kadal ukuran sedang asli Madagaskar. Ada tujuh spesies dalam dua genera, dengan sebagian besar spesies yang berada di Oplurus. Keluarga termasuk spesies yang hidup di antara batu-batu, beberapa yang hidup di pohon-pohon, dan salah satu yang mendiami bukit pasir. Semua spesies bertelur, dan memiliki gigi yang mirip dengan iguana yang asli.

Sebuah studi dari urutan DNA mitokondria telah tanggal perpecahan antara Opluridae dan Iguanidae (di mana Opluridae kadang-kadang diklasifikasikan sebagai subfamili Oplurinae) pada sekitar 165 juta tahun yang lalu, selama Jurassic Tengah. Studi ini mendukung monophyly dari perluasan Iguanidae , dan menempatkan Oplurinae dalam posisi basal. Konsisten dengan kesepakatan asal vicarian dari iguanians Madagaskar, karena Madagaskar diyakini telah terpisah dari Afrika (selama pecahnya Gondwana) sekitar 140 juta tahun yang lalu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA Madagascar Desert Iguana flat,550x550,075,f KONICA MINOLTA DIGITAL CAMERA Madagascar_Iguana_Anakao_reptile_lizard_Chalarodon_madagascariensis.580.0xb17109b330ea788.PA180047.JPG.aspx medium ????? medium67 ????? Madagascar Iguana , Chalarodon madagascariensis

 

17. Hoplocercidae (wood, clubtails lizards)

Picture1

Keluarga Hoplocercidae, atau hoplocercids, adalah keluarga kadal asli hutan tropis Amerika Tengah dan Selatan. Enam belas spesies dalam tiga genera dijelaskan.

1186744013 DSC06522op Enyalioides binzayedi Enyalioides-azulae570 Enyalioidesheterolepisresized l_i_z_a_r_d Lizard_branch_sm RH097-02-01 RH884-01-02

18. Family Agamidae (agamas)
19. Family Chamaeleonidae (chameleons)

II. Infraorder Gekkota

20. Family Gekkonidae (geckos)

16gekkonidae geckos

Gekkonidae adalah keluarga terbesar tokek yang terdiri dari lebih dari 950 spesies yang dijelaskan dalam 51 genera. Banyak “khas” tokek adalah anggota dari Gekkonidae termasuk tokek rumah (Hemidactylus), tokek tokay (Gekko gecko), dan “day tokek” (Phelsuma). Spesies Gekkonidae berevolusi secara global dan sangat kaya spesies di daerah tropis.

Phelsuma_mad_skin6434047031_d2ba506d6c_zClose-up-of-Gunthers-Indian-gecko-skin205_Dragó lleopard cria_487x1982183111141_eb132ee09b_o 3169562002_061b564748tumblr_mzcm8oujvG1sq1114o1_500 Tokay_Gecko Tokay_foot  Middle-Eastern-short-fingered-gecko-shedding-skin Marbled_Gecko Kuroiwas-ground-gecko-Gkorientalis-lateral-view gecko g_k_kuroiwae_n2004     205_Dragó_lleopard_650_01
21. Family Pygopodidae (legless lizards)
22. Family Dibamidae (blind lizards)
III. Infraorder Scincomorpha
23. Family Scincidae (skinks)
24. Family Cordylidae (spinytail lizards)
25. Family Gerrhosauridae (plated lizards)
26. Family Xantusiidae (night lizards)
27. Family Lacertidae (wall lizards or true lizards)
28. Family Teiidae (tegus and whiptails)
29. Family Gymnophthalmidae (spectacled lizards)
IV. Infraorder Diploglossa

 

30. Family Anguidae (glass lizards)
31. Family Anniellidae (American legless lizards)
32. Family Xenosauridae (knob-scaled lizards)

 

V. Infraorder Platynota (Varanoidea)

 

33. Family Varanidae (monitor lizards)
34. Family Lanthanotidae (earless monitor lizards)
35. Family Helodermatidae (Gila monsters)
36. Helodermatidae beaded lizards)

PARADOKS #2, pameran dan presentasi karya 1994-2016

Gallery DKS, Surabaya, 2017.

Pemb. pameran, kamis, 19 januari 2017, jam 19:30 wib. Presentasi karya jumat, 20 januari 2017, jam 14:00 wib

Latar Belakang

membaca gambar dari kiri atas (1), kanan atas (2), kiri bawah (3) dan kanan bawah (4).

Analisa Formal (Mata), pengamatan aspek visual tanpa dibebani makna

Gambar 1

  • Secara umum kita akan melihat garis lengkung hitam dari asal sebelah kiri menuju melingkarnya arah ke pusat yang runcing, karena garis itulah yang secara sengaja dibentuk, maka dinamakan garis positif.
  • Garis positif boleh dilihat sebagai dari arah luar (kiri) masuk ke dalam (tengah) atau sebaliknya dari arah dalam menuju ke luar.

Tetapi

  • Gambar di atas jarang ada yang melihat efek “bidang” negative yang ditimbulkan oleh garis positif tersebut, yaitu bidang putih yang lebih luas yang arahnya sama persis seperti garis positifnya yang berakhir tumpul.

Jadi

Kita tidak bisa mengabaikan yang tidak terlihat secara umum, yaitu “bidang putih yang berujung tumpul”, karena kepositifan yang kita buat secara sadar akan menghasilkan gambar lain yang secara negatif/ tidak “muncul” yang justru menguatkan keberadaan gambar positif sadar yang kita buat.

Analisa Makna A

  • Kalau orang pertama memaknai garis positif itu dari kiri ke kanan hingga berujung tajam di tengah coba dianalogikan seperti seseorang mengeraskan sekrup, lebih jauh bila dimaknai spiritual dunia-akhirat, maka pergerakkan itu bisa bermakna searah jarum jam, yaitu “mengeraskan/ menguatkan akan kebutuhan duniawi”.
  • Berarti juga secara bersamaan sekaligus bila juga dilihat yang “negative bidang putih yang berujung tumpul”, maka pergerakannya dari dalam yang tumpul menuju ke kiri searah melepas sekrup, berbalik dari arah jarum jam bisa dimaknai “melepas akan kebutuhan duniawi yg menuju langit”.

Sejarah Jarum Jam dan Makna

arah jarum jam awalnya dari tradisi muslim yang bergerak dari kanan ke kiri, tiada beda penulisan dan tentu cara membacanya yang terinspirasi bahwa alam bergerak juga dari kanan ke kiri pd rotasi dan elips benda langit di dalam tatasurya kecuali uranus d venus, Ingat arah tawaf (memutari kabah), dari kanan ke kiri. Karena ideology islam adalah theosentris.

Tetapi barat juga sangat beralasan membalik itu semua untuk kebutuhan yang memang anthroposentris, duniawi dan materialis, karena barat telah pernah dininabobokan oleh “abad pertengahan” yang “melangit”.

Melangit, saya belum membacanya bahwa melangitnya adalah theocentris, karena abad pertengahan adalah kecelakaan yang diakibatkan oleh “oknum” Negara-gereja, beda dengan melangit di dalam tradisi muslim, baca abad pertengahan yang non humanis.

 

Analisa Makna B

Gambar 2

  • Anda secara umum akan menengok bayang-bayang pohon di pelataran adalah gelap, tetapi cobalah sadar bahwa gelapnya bayang-bayang itu karena juga adanya hal terang, jadi begitu pentingnya hal yang tidak benar kita sadari adalah sebagai penguat.

Gambar 3

  • Anda secara umum akan melihat batang dan reranting dari penggalan sebatang pohon, sekali lagi adanya batang reranting itu dikarenakan juga adanya latar belakang yang lebih terang.

Analisa Makna C

Entah gambar 1, gambar 2 ataupun gambar 3 mengisyaratkan bahwa apa yang kita buat secara positif sadar itu tergantung dari latar belakangnya. Bisa pula justru latarbelakanglah yg membentuk kesadaran kita. Juga berart bisa bahwa latar belakang akan mendukung atau bahkan merusak.

Arti maknanya bisa berarti bahwa apa saja yang melatar belakangi penciptaanmu adalah juga harus ikut diperhitungkan seperti juga memperhitungkan kesadaran positif .

Bila gambarnya berwarna maka kompleksitas penilaian formal dan maknanya akan juga lebih jauh kerumitannya, belum ditambahkan psikologi senimannya, konsep, dllnya.

Atau tengok gambar 4, walau objeknya sama Cuma digeser ke kiri secara formal akan terbaca lain dan otomatis juga bermakna lain juga.

Bisa kata lainnya, siapa saja yang dibalik seorang seniman (keluarga, istri, anak, tetangga, teman sahabat dllnya)? Apa saja pemikiran, seberapa bacaan, lingkungan, kecenderungan dan tendensinya akan mempengaruhi kadar penciptaannya.

Konsep

Pernyataan yang seolah-olah bertentangan (berlawanan) dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran; bersifat paradoks.

Di dalam Paradoks #2, seolah ada dua pilihan yang saling bertentangan antara yang putih atau hitam, bukan putih-hitam tetatpi putih atau hitam. Begitu pula antara realitas dan media. Hitam putih di dalam kehidupan adalah sebagai pilihan, memilih kiri atau kanan seolah-olah tak terdamaikan. Bila memilih yang satu berarti otomatis menolak yang lain. Benarkah?

PARADOKS

paradoks 2, daur#1 paradoks 3, daur#2 paradoks 4, sirkle#1 paradoks 4, sirkle#2

The transformation of trees as religious spiritual symbol in fine art creation

In creation, the value of local wisdom is tried to be used again. While in modernity the value has dualism framework and pattern separation of binary opposition causing the separation, non integral, rigid, and inflexible to form deculturizarion, the tendency of domination on patrilineal way of thinking, the omission of any rooms outside just sight room, and individual materialistic room.
From the “bad and good” ideas, it has been a completion, all things are the Almighty wish”, there is no separation between the one which is “bad”/ low/ women/ feelings/ black and “good”/ above/ men/ ratio/ white. The form of his creation uses the transformation of a tree symbol, not just separated to be two parts “trunk bellow” or only “trunk above” but trees will become two synergistic pattern between above and bellow. The third pattern is as the root unity/ bellow is yesterday, trunk/ middle is the present time, branch -twig – leaf- flower – fruit/ above is the future time. The fourth pattern, circle, the continuous presence. Like in brightness, there is a little darkness or vice versa, in darkness there is a little brightness. Lorone atunggil which forms the presence of being continuous (cycle) to be tensions which present each other.

The harmony of art is paradox like dynamic calmness, as life which vacillate between two different poles, between sadness and happiness, hopes and worries, the feeling of happiness and desperation which slso do not feat each other, but unity, synergy and cycle which turn them to be a continuous cycle of life as the symbolic religious spiritual meaning which is made in aesthetic room.

 

TRANSFORMASI POHON SEBAGAI SIMBOL SPIRITUAL RELIGIUS DALAM PENCIPTAAN SENI RUPA MURNI

 

  1. LATAR BELAKANG PENCIPTAAN
  1. Dekulturisasi

Latar belakang penciptaan ini berisikan sejumlah masalah antara lain perubahan dan pergeseran tata nilai, 1) Dekulturisasi, yaitu lunturnya semangat kearifan lokal yang spiritual-religius digantikan dengan material-individual. Sementara dekulturisasi di atas disebabkan oleh, 2) Pemisahan pola biner, yaitu tiadanya semangat integralitas. Selanjutnya logika pemisahan pola biner melahirkan, 3) Kecondongan peradaban yang patrilineal, peradaban yang mengagungkan sifat kelaki-lakian secara berlebihan dibanding perempuan.

Perubahan, pergeseran, atau bahkan hilangnya tata nilai dan makna dari kearifan lokal yang tidak diindahkan, bisa berarti ketidakpahaman terhadap makna mitos; oleh karena kita sendiri yang lengah atau kehadiran asing yang secara bertubi-tubi menekan dan dengan sifatnya yang materialis telah menggeser tata nilai spiritual-religius sebagai ideologi yang sudah dibangun dan dijalankan oleh nenek moyang.

Makna spiritual (ekologi dalam) menurut Capra:alam dan diri adalah satu, bukan logis tetapi psikologis, penghantar kita dari kenyataan, bahwa kita adalah integral dari jaringan kehidupan menuju norma-norma tentang bagaimana seharusnya hidup (Capra, 1985; 42 ).

Perubahan demi perubahan pada suatu bangsa di mana pun memang tidak bisa disangkal atau dihindari. Perubahan dikarenakan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat, penemuan teknologi baru, penemuan gagasan baru. Terdapat selisih antara pemikiran tradisional dan modern, pertentangan antara mitos dan rasional, pertentangan adat istiadat yang sejak semula tertanam sebagai kepemilikan yang sudah mentradisi sebagai spiritual-religius dipertentangkan dengan pranata individual, material, dan kapitalistik.

Mitos di atas bukan seperti mitos di dalam pemikiran Roland Barthes tentang mitologi, tetapi mitos menurut van Peursen; adalah pemberi arah kelakuan, pedoman kebijaksanaan dan sekaligus partisipasi terhadap alam. Perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam (van Peursen, 1988; 37-41).

  1. Pemisahan Pola Biner dan Dualisme

Pemisahan pola biner atau oposisi pola biner, diperkenalkan oleh anthropolog-strukturalis Claude Levi-Strauss yang berangkat dari analisa konseptual.  Levi-Strauss di dalam Danesi menyatakan bahwa mitos sebagai sumber asli pengembangan pikiran konseptual terus bergaung dengan oposisi pola biner yaitu;  kehidupan vs kematian, baik vs jahat, masak vs mentah (Danesi, 2010; 212). Lebih lanjut dikatakan bahwa oposisi pola biner juga bisa berarti dualisme; antara lain pemisahan jiwa vs raga, mitos lampau vs rasional, atas vs bawah, lelaki vs perempuan, provan vs sakral, isi vs bungkus, kebutuhan vs keinginan, transendensi vs imanensi, theosentris vs antroposentris, yang tidak lain bahwa anggapan semua hal/  teks akan selalu dipertentangkan yang mengakibatkan rigid, infleksibel, dan linier.

Pemisahan pola biner/ dualisme menjadikan ketertutupan untuk memilih di antaranya. Kita harus memilih salah satu saja, tiada ruang alternatif sebagai pilihan, maka kalau tidak “ini” hanya “itu” saja. Bila pilihan terjadi di antara itu adalah plin-plan, abu-abu, dan tidak bermutu. (Tabrani, 2006; 121)

  1. Dominasi Peradaban Patrilineal

Logika pemisahan pola biner yang tiadanya sinergi dan integralitas menjadikan absolut, bersifat dominan hingga cenderung melahirkan pemahaman bahwa laki-laki adalah rasional dibanding perempuan yang intuitif. Lelaki lebih analitis dibanding perempuan yang sintesis, lelaki maskulin dan perempuan feminin. Dengan begitu terjadilah pergeseran nilai, karena ilmu pengetahuan yang rasional kemudian melahirkan kecondongan peradaban menuju peradaban milik lelaki/ patrilineal/ rasional yang memberikan peran-peran penting yang berlebih pada kaum lelaki dibanding perempuan. (Capra, 2000; 27).

Lebih jauh Tabrani mengungkapkan dengan lebih terinci mengenai kecondongan dominasi patrilineal mencakup rasional, eksploitatif, mementingkan indera penglihatan, seks, dan non ekologis (Tabrani, 2006; 103). Secara esensi dunia/ sifat kelaki-lakian lebih mementingkan rasio daripada intuisi, dan hanya mementingkan penginderaan mata sebagai alat satu-satunya yang mampu melihat dunia secara empiris, seakan meniadaan indera-indera lainnya.

  1. Transformasi Pohon Sebagai Simbol

Berangkat dari relief “Kalpataru” sebagai pohon pengharapan akan keserasian dan keseimbangan yang terlahir dari gagasan kearifan lokal kita. Disamping itu banyak ikon nusantara yang menginspirasi baik dari gagasan atau dari gambar/ objek, antara lain totem Papua (estetika polatiga), tameng Papua (estetika polatiga), tameng Kalimantan (estetika polatiga), candi Borobudur (estetika polatiga), tokoh pewayangan Semar (estetika pola dua), keris (estetika polatiga). Semua hal di atas adalah falsafah Nusantara/ ketimuran yang transenden (Sumardjo, 2000; 54 ).

Transformasi, adalah teori tentang perubahan dari gagasan menuju perwujudan menggunakan teori transformasi dekomposisi yaitu transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan). Jadi pendekomposisian struktur alami pohon adalah sebagai sarana mentransfer gagasan menjadi sebentuk simbol yang mengungkapkan ideologi dan perilaku.

Transformasi pohon dengan strategi pengurangan dan penambahan struktur sebatang pohon (akar-batang-kuncup) yang menyimbolkan peluang alternatif; bagai berfikir secara lateral yang selalu menghendaki keberagaman dan membuka jalan (de Bono, 1990; 33). Transformasi adalah pilar sebagai proses pemroduksi makna, bahwa akar sebagai yang kemarin, batang adalah kekinian dan kuncup adalah keakandatangan. Bisa diartikan bahwa perjalanan kehidupan manusia musti melewati tiga tahapan yang tidak boleh terpisah, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, “Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”. Maka hal di atas bisa disimpulkan bahwa, transformasi pohon menyimbolkan eksistensi kemanusiaan terhadap rasa takut dan sekaligus ucapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Pohon dan Kosmos

Pohon mewadahi (momot) penyatuan, sinergi dan sebagai daur kehidupan, seperti yang telah dikiaskan oleh Descartes, “Semua filsafat ibarat pohon, akarnya adalah metafisika, batang tegaknya adalah fisika, dan cabang-cabangnya ialah semua ilmu-ilmu lainnya. (Capra, 1985; 82)

Pohon secara umum adalah tanaman ber”kayu”, tanaman tahunan yang berumur panjang, bersifat vegetatif yang tidak bisa berpindah. Pohon/ hutan menumbuhkan keanekaragaman hayati, mengurangi erosi, penyimpan air, penyeimbang iklim, bersama tanah-air-udara membentuk satu kesatuan bagi penyeimbang alam, sebagai tempat menetap dan singgah bagi habitat yang lain, sebagai peneduh sekaligus sebagai bahan tempat tinggal, kayu sebagai konstruksi, sebagai pemanas/ bahan bakar, dan secara umum di era pramodern pohon sebagai yang dihormati hingga menumbuhkan mitologi.

Filsuf Perancis Henri Bergson berceramah tentang temuan Bose :

“Penemuan Bose yang mengagumkan telah membuat ta-naman yang bisa mampu memberikan kesaksian yang paling fisik dan mengesankan tentang kisah hidup mereka yang selama ini tidak terungkapkan. Alam akhirnya dipaksa untuk memberikan rahasianya yang dahulu dijaga dengan penuh kehati-hatian”. (Tomkins dan Bird, 2008; 122)

Mengenai pohon/ tumbuhan di tahun 1970-an Marcel Vogel berkesimpulan bahwa daya kehidupan, atau energi kosmis yang menyelimuti semua benda hidup dapat saling berbagi antara tanaman, binatang maupun manusia. (Tomkins dan Bird, 2008; 35). Sementara Savin menyatakan bahwa tanaman philodendron memiliki kemampuan merespon dan memiliki sensitivitas untuk mendeteksi (Tomkins dan Bird, 2008; 54). Begitu pula tiada beda eksperimen dari staf Analisis dan Perencanaan Lanjut dari Laboratorium Arteleri Angkatan Laut di Silver Spring, Maryland Eldon Byrd :

“reaksi tanaman terhadap rangsangan dari air, sinar inframerah dan ultraviolet, api, tekanan fisik, dan pemotongan bagian tu-buhnya.” (Tomkins dan Bird, 2008; 55).

Lebih jauh ke belakang di tahun 1925-1930 Backster adalah seorang profesional penguji kebohongan dengan menggunakan alat galvanometer bereksperimen pada tumbuhan dracaena yang me-nyatakan, “Tanaman dapat berpikir!” (Tomkins dan Bird, 2008; 13).  Lebih lanjut lagi juga pada problem rahasia besar tentang hidup dan mati, ketika dalam alam kehidupan kita berlalu Yang Bersuara kepada Yang Tidak Tersuarakan (Tomkins dan Bird, 2008; 124).

 

  1. Metafor Akar-Batang-Kuncup
  1. Sisi bawah atau akar

Semacam kaki-kaki yang mencengkeram untuk berpijak, yaitu bentuk percabangan dari akar besar hingga akar serabut yang mampu mencari celah untuk menghisap sari pati tanah dan sekaligus berpegangan pada tanah/ bumi. Sebagai konotasi pengakaran, pegangan, ketergantungan pada tanah/ bumi ataupun ibu, “ibu bumi…..”. Tiada beda di level terbawah pada candi Borobudur adalah tingkatan khama penuh nafsu, kematian dan gelap.

  1. Pokok Batang

Sisi tengah yaitu sisi antara, adalah sebagai badan sebagai metafor ruang alternatif kekinian.  Perantara dunia bawah dan dunia atas, sebagai penyatu antara bawah sebagai kemarin dan atas sebagai keakandatangan. Pokok batang tidak lain adalah hari ini, kekinian, masa kita ini, situasi yang dialami oleh manusia di dalam kehidupan ini. Seperti di level tengah candi Borobudur adalah tingkatan rupa sebagai dunia perantara, atau mulai terlepasnya nafsu liar menuju  nafsu yang proporsif, nafsu yang terkendali oleh moral dan pikiran.

  1. Cabang, ranting, dan kuncup sebagai dunia atas

Asal percabangan dari pokok/ badan pohon menuju reranting hingga struktur urat-urat dedaunan yang menuju ke atas, menangkap tenaga dari matahari guna fotosintesis/ memasak untuk mendapatkan cahaya, tenaga, panas dan sifat-sifat lain seperti asal dari pemberi kehidupan. “ ….. bapa angkasa”. Seperti level teratas di candi Borobudur yaitu arupa yang tanpa bentuk dan sudah meninggalkan sifat-sifat keragawian.

 

  1. Pemikiran Spiritual-Religius

Di dalam butir-butir sifat ketimuran Sp Gustami menjabarkan secara komperehensif, termasuk di dalamnya tersirat pemikiran tentang penyatuan, sinergi, dan daur:

“Konsep material kebendaan menggantikan spiritual religius, budaya anthropocentris menggeser budaya theocentris, budaya rasional menggusur budaya mitologi. Era baru mengusung para-digma, spesialisasi, diferensiasi, dan diversifikasi dengan keta-jaman analisis ilmiah, rasional yang secara praktik dan fung-sional bermuara pada tujuan ekonomis, efisiensi dan efektif” (Gustami, 2007; 308).

Selanjutnya:

“Trilogi keseimbangan dibangun berdasarkan bertemunya si-nergi pertimbangan fakultas rasio, fakultas rasa, dan fakultas iman sebagai laboratorium yang berlangsung tanpa henti. Apa-bila salah satu fakultas itu ditinggalkan, dapat dipastikan timbul kepincangan di dalam hidup”(Gustami, 2007; 369).

Begitulah pemikiran kearifan lokal yang dari dulu cenderung tidak memisahkan antara rasio-rasa-iman, kesatuan cipta-rasa-karsa, kesatuan mikro-makrokosmos dibangun dari mitos kosmogoni (bagai-mana dunia menjadi ada), mitos eskatologis (tentang akhir dunia), dan mitos eksplanatoris (menjelaskan peristiwa alami) yang berbentuk antara lain folklore, legenda, dan epik sebagai tataran kehidupan ini menuju yang bermewujud ritual atau perlakuan sehari-hari, sebagai ibadah sampai paripurna; begitulah mite yang konstan dan stabil (Aris Wahyudi, 2014, catatan kuliah “Teori Seni”).

  1. Landasan Penciptaan

Konsep penciptaan berisikan ide/ isi yang akan dikomunikasikan yaitu, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, antara yang hidup-kematian adalah melengkapi, seperti juga pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang. Lorone atunggil yang membangun ketetapan yang terus menerus (daur/ siklus) menjadi tegangan yang saling mengadakan diri.

Keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing di antara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi menyatukan, sinergi, dan daur yang menjadikan tetap berkelanjutannya putaran kehidupan sebagai makna simbolik spiritual-religius yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

Ruang estetik diwujudkan dengan teknik transformasi dekomposisi pada struktur pohon menuju relasi simbol, sebagai wadah yang mampu mewadahi siklus kehidupan di dalam tatanan kosmos. Kesemua itu untuk memaknai hidup yang tidak meninggalkan esensi sebagai akar realitas dan dimensi mite-metafisik sebagai eksistensi dasariah kemanusiaan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa.

  1. Transformasi dan Simbolisasi

Di bawah ini akan dijelaskan apa itu aspek visual di dalam ruang virtual kekaryaan seni. Ruang virtual adalah bukanlah seperti ruang di dalam cermin, tetapi ruang “maya” yang telah diciptakan dari aspek-aspek visual antara lain meliputi fisik garis, warna, tekstur, stroke dan cara pengkomposisian dari ketiadaan/ belum berbentuk menjadi ada/ berwujud (K. Langer, 2006; 33) adalah yang terjadi dari interteks yang memiliki makna konotatif-interpretatif di dalam perwujudan sebagai perwakilan gejolak perasaan.

Transformasi Pohon Sebagai Simbol :

  1. Pohon memiliki struktur alami akar-batang-kuncup sebagai transformasi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah.
  2. Transformasi pohon mewujud penyatuan atau paradoksal, sinergi atau terdapatnya ruang tengah, dan daur sebagai siklus di dalam kehidupan ini.
  3. Transformasi pohon mewujudkan simbol spiritual-religius yang ideologis sebagai perilaku.

 

  1. Teori Transformasi

Untuk mewujudkan hal di atas digunakan teori transformasi yaituTransformasi Dekonstruksi atau Dekomposisi Anthony C. Antoniades di dalam Stepanie Jill Nanjoan, (Jill Najoan dan Mandey, pdf, 2011; 121) yaitu :

“Dimana prosesnya memisahkan sebuah susunan yang ada untuk dicari cara baru dalam kombinasinya dan menimbulkan sebuah kesatuan baru dan tatanan baru dengan strategi struktural dalam komposisi yang berbeda. Dan dari proses tahap demi tahap yang akan dilalui, juga transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan)”.

Jadi berangkat dari gagasan penyatuan, sinergi, dan daur yang secara teknis mendekomposisi ikon lampau dan kekaryaan modern bertema dualitas-antagonis; sebagai tanda adanya proses penyatuan, sinergi dan perwujudan daur atau siklus kehidupan.

 

  1. Teori Simbol

Paul Tllich di dalam F.W. Dillistone menyebutkan bahwa, simbol adalah sarana menginterpretasi kehidupan ini, sarana tertinggi bagi manusia untuk dapat berbicara tentang yang “ada” transenden, atau tentang Allah-dalam-hubungan-dengan-dunia-dan-manusia, atau ten-tang Allah dan tindakan-tindakanNya (Dillistone, 2002; 10), setidaknya sebentuk pohon, struktur pada tanaman yang secara umum memiliki tiga komponen dasar yaitu akar, batang, dan reranting-pucuk-bunga (dan buah) telah menginspirasi tentang adanya tiga tahapan manusia untuk menuju ke yang “ada” transenden.

Menurut K. Langer simbol seni tidak mewakili objeknya, tetapi wahana/ alat bagi konsep tentang objek. Konsep mengenai sesuatu yang bukan sesuatu itu sendiri, simbol-simbol harus diartikan. Bila-mana simbol sudah diungkap maka muncullah makna (K. Langer, 2006; 152-153).

Dari ketiga struktur alami pada pohon itulah maka akan disimbolkan, sesuatu yang bukan sekadar pohon dan strukturnya begitu saja, tetapi bahwa akar sebagai metafor dunia bawah/ khamadatu/ kemarin, dan batang sebagai metafor dunia tengah/ rupadatu/ sekarang, dan reranting-pucuk-bunga-buah adalah metafor dunia atas sebagai tujuan/ akan datang/ arupadatu, menuju ke makna yang spiritual-religius.

  1. Penyatuan, Sinergi, dan Daur (Proses Peleburan)

Banyak hal di dalam daur kehidupan ini sering dihadapkan hanya pada persoalan jawaban tunggal dari salah satu pilihan pada pola oposisi biner atau dualisme: benar-salah, hidup-mati, atas-bawah, terang-gelap, dan seterusnya yang menjadikan bahwa segala hal di dalam pola pikir, tindakan, dan segala pemecahan di kehidupan ini menjadikan oposisi, sebagai salah satunya jawaban absolut hingga memungkinkan ketertutupan berbagai kemungkinan di celah antaranya. Seakan bahwa segala fenomena dan pemecahan di dalam kehidupan ini adalah kalau tidak “ini” atau sebaliknya hanya “itu” saja.

Pendapat umum di zaman modern ini mungkin telah dipengaruhi oleh pemikiran Descartes dengan melihat alam semesta dari sebab-akibat (input-output) serta membagi alam menjadi kesadaran dan materi, atau benda hidup-benda mati, sehingga psikologipun membagi manusia menjadi psikis dan fisik  (Tabrani, 2006; h. 6-7). Di dalam “A Short History of Shadow”, oleh Plato di dalam Stoichita, bahwa cahaya/ terang lebih penting dari bayangan/ gelap (Stoichita, cabinetmagazine. org/issues/24/stoichita.php, Jumat, 1 Januari 2016, jam 02:17) sebagai metafor buruk dan jahat, seperti halnya masyarakat cenderung menganalogikan bahwa cahaya adalah kebaikan, sementara bayangan adalah kejahatan. Sehingga memperkuat dominasi cahaya/ terang dari bayangan sebagai yang tidak sempurna yang perlu diterangi.

Ketertutupan di celah antaranya yang terdapat ruang alternatif, karena kita telah diculik oleh modern/ barat yang hanya berfikiran mementingkan salah satu dari dualisme di atas. Sedangkan sesuatu yang berada di antara keduanya dianggap tidak bermutu, atau kompromis yang berarti plin-plan. Jadi dualisme barat adalah statis, infkeksibel, rigid bahkan absolut (Tabrani, 2006; h. 56). Lebih lanjut Brian Fay menyatakan juga tentang perbedaan di dalam dualisme barat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai suatu antagonis mutlak (Fay, 2002; h.330).

Padahal Ernst Cassirer menunjuk pada pandangan bahwa modernitas menyebabkan semua perbedaan konkret yang ditimbulkan oleh penginderaan langsung ditiadakan; tiada lagi ruang-lihat, tiada ruang-rasa, tiada ruang-dengar, dan tiada ruang-aroma (Cassirer, 1997; h. 68). Begitu pula dalam “Seni dan Humanitas”, Primadi Tabrani menyatakan:

“Semua tidak terlepas dari cara barat memandang  jiwa dan tu-buh yang bahkan memiliki perspektif peniadaan jiwa. Padahal pencerapan manusia timur amat berbeda dengan manusia barat yang menggunakan penglihatan mata seakan cermin dari objek-tif-rasional yang hanya mengerti dan memahami yang melepas dari proses mencerap dan menghayati, dimana alam dipisahkan dari spiritual. Mata dinilai paling tinggi bahkan di atas pikiran. Sedangkan manusia timur di dalam tingkat penyerapannya lebih merupakan sintesa, integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme di-namis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos (wholeness)” (Tabrani, 2006; h. 176).

Banyak filsuf menerima pembagian dunia alami yang oleh Descartes menjadi yang bersifat mental (“res cogitans”) dan yang bersifat fisik (“res extensa”), tetapi menolak adanya interaksi ber-dasar hanya sebabakibat (hubungan kausal) antara keduanya; misalnya filsuf Arnold Geulincx dan Nicolas de Malebranche mengusul-kan sebuah teori yang menyatakan bahwa Allah merupakan penghubung antara yang mental dan fisik (Hadi, 1994; 73).

Dalam proses penciptaan ini bukanlah semata hasil rasio, tetapi hasil integrasi kemampuan fisik, olah kreatif, dan rasio; bukan semata hasil kerja otak namun seluruh susunan saraf mulai dari indra hingga otot, integrasi mata dan indra lainnya, juga peningkatan afeksi (affect) (Tabrani, 2006; h) yang akan mewujud kesatuan paradok antara dualisme di atas menjadi satu kesatuan wujud kekaryaan seni menggunakan idiom bentuk yaitu struktur pohon, bayangan, dan landscape sebagai perantara dunia atas: langit, sosok, cahaya, kehidupan, benar, terang dan dunia bawah: bumi, bayangan, kematian, salah, gelap.

Berawal dari menjaga kemudian selanjutnya adalah melindungi agar unsur-unsur makna, yaitu integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme dinamis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos.

Sesudah menjaga makna dan melindungi yang berlanjut ke arah hingga menghidupkan nilai ideologis yang mengacu kepada ideasional dalam suatu budaya yaitu meliputi nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius (Kaplan, 2000; 154), yaitu sebentuk keutuhan gagasan, suatu pandangan bahwa makna bagi pencipta tidak lain ingin mewujudkan suatu pernyataan/ konsepsi bahwa di mana yang baik-buruk, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”,buruk baik sebagai kesatuan, semua adalah kehendakNya.Antara baik-buruk,  hidup-kematian; singkatnya seperti pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang yang membangun ketetapan yang terus menerus menjadi tegangan yang saling mengadakan diri, bagi saya keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing diantara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi meleburkan diri karena hal itu menjadikan tetap berkelanjutannya daur kehidupan sebagai makna yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

  1. Metode Pemikiran Transformasi Simbolik

Pohon memiliki struktur akar sebagai pencerap sari pati makanan yang terletak di bawah di dalam tanah, batang sebagai pokok penegak, dan reranting pucuk sebagai yang di atas sebagai pengolah makanan yang nanti disebarkan kembali untuk menjadikannya tetap hidup. Beserta pendukung garis horison adalah batas antara atas dan bawah, garis vertikal sebagai penentu arah ke atas, dan bayangan sebagai penguat efek dramatik.

Transformasi adalah suatu proses pembentukan dari gagasan, ide-ide yang sifatnya abstrak. Di dalam konsep penulisan kekaryaan ini difokuskan ke arah  ruang tengah sebagai konsep yang berangkat dari perkataan Lao Tze, “ we make a vassel from a lump of clay, it is the empty space within the the vassel that makes it useful”, “ambil segenggam lempung, lubangi ditengahnya. Maka lubang/ ruang itulah yang menjadikannya berguna”. (de Ven, 1995 ; 3). Ruang tengah bukan sekadar batasan dimana terlingkupi batas-batas di luarnya, keruangan sebagai sarana mewadahi dualitas-antagonis; baik-buruk, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pengeran”,Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”.Lelaki-perempuan, langit-bumi, raga-jiwa, dosa-pahala sebagai kesatuan yang harus ada melengkapi. Wadah bagai tanah, samudera yang bersifat memet mampu mengurai dan mewadahimomot, mewadahiyang juga seperti hati seorang ibu atau rahim yang menjaga, melindungi dan menghidupi, tiada beda silaturahim sebagai ‘ziarah’ tempat kembali segala muasal akan kehidupan“sangkan paraning dumadi”.

Di dalam menyikapi perbedaan dualisme mustinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat saling meniadakan atau bahkan absolut dan sebagai akibatnya relasi diantara perbedaan-perbedaan menjadikannya sebagai antagonis mutlak. Maka secara dialektik saya menerapkan suatu bentuk pertentangan dalam perbedaan sebagai alternatif, alternatif tersebut akan menyingkap bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat dipahami dan dipertahankan ketegangannya dalam kerangka yang lebih luas (Fay, 2002; h.331).

Dalam teori estetika pola dua antagonis dualitas sudah dipergunakan oleh nenek-moyang kita/ pramodern sebagai kearifan lokal yang mana atas-bawah, kiri-kanan, materi-nonmateri, lelaki-perempuan, bukanlah suatu yang saling meniadakan, tetapi suatu realitas yang terwadahi di dalam kosmos (Soemardjo, 2010; h). Di sini saya sebagai pencipta ingin mengembalikan pola estetika dua (penyatuan), pola estetika tiga (sinergi), dan pola estetika empat (daur) dari transformasi pohon.

Pohon sebagai mikro dan makro kosmos memiliki raga-jiwa dan tetap memiliki makna “momot”mewadahi,  yang tiada beda sebagai penghayatan  hidup  untuk dilaksanakan sebagai perilaku awas, emut, lan memet yaitu waspada, ingat kepadaNya dan hati-hati sebagai nilai, dan norma.

Manouria IMPRESSA

Kura impressa ( Manouria IMPRESSA )

IUCN Red List Status spesies – Rentan RENTAN
deskripsi

kerajaan Animalia
filum Chordata
kelas Reptilia
urutan Testudines
keluarga Testudinidae
Genus Manouria

1

Meskipun pertama sudah dijelaskan pada tahun 1882, kura-kura impressa tetap merupakan suatu teka-teki , dengan sangat sedikit diketahuinya tentang spesies baik di alam atau di penangkaran. Kura-kura ini dapat diidentifikasi oleh karapas yang relatif datar yang memiliki tepian yang sangat bergerigi dan sisiknya cekung, disitulah nama yang secara umum dan ilmiah berasal.

Karapas berwarnaq kuning tanduk pucat ke warna oranye kusam, dengan warna coklat di tengah masing-masing tameng, menyatu dengan gelap memancarkan garis-garis ke arah tepi, yang kontras tajam. Tanda ini memudar dengan bergulirnya usia hingga dewasa yang mungkin berwarna layaknya tanduk yang sudah tua dan seragam merata. Sementara anggota badan dan ekor berwarna coklat gelap sampai hitam, kepala berwarna mencolok kekuningan cokelat, dengan pigmen merah muda di sekitar moncong dari beberapa individu.

Sinonim
IMPRESSA Geochelone, Geoemyda IMPRESSA, Testudo IMPRESSA, Testudo pseudemys .

ukuran
Panjang : sampai dengan 31 cm.

Penyebaran
Myanmar, Thailand, Vietnam, Laos ( Republik Demokratik Rakyat Laos ), Kamboja dan Malaysia, dan juga telah dilaporkan di China, meskipun validitas laporan tersebut telah dipertanyakan dan statusnya di sini memerlukan konfirmasi lebih lanjut.

http://www.arkive.org/impressed-tortoise/manouria-impressa/

callagur Baska

Callagur Baska (callagur Baska) Gray 1931
IUCN Red List II, 2006 Status spesies – Kritis Kritis TERANCAM
5
deskripsi
Batagur/callagur Baska adalah salah satu kura-kura air tawar berukuran besar di Asia, individu dapat mencapai hingga 60 cm. Karapas berwarna coklat dan warna tubuhnya bervariasi baik antara kedua jenis kelamin dan dalam musim yang berbeda, Pejantan dewasa mengembangkan warna hitam intens, dengan leher kemerahan dan mata dramatis putih selama musim kawin.http://www.arkive.org/batagur/batagur-baska/

nama lain
Mangrove terrapin , River terrapin , Asian River terrapin

deskripsi
Karapas bertekstur halus dan berwarna abu-abu atau hitam, plastron berwarna kuning keputihan. Kaki depan yang luas dan berselaput, dengan hanya empat cakar ( kura-kura lainnya memiliki lima ). Mata terlingkari warna kuning keputihan.

Habitat
Perairan muara pantai bakau dan sungai , namun juga ditemukan jauh masuk ke arah sungai selama musim kawin ( Stuart et al . , 2001). Penyebaran Sundarbans India dan Bangladesh, Myanmar, Semenanjung Malaysia, Sumatera? ( Indonesia ?), Thailand, dan Kamboja. (( cat: kayaknya tidak sampai ke Indonesia penyebarannya))

Ancaman
Diburu daging dan dipanen telurnya, hilangnya hutan mangrove dan sumber makanan lain , insidental tenggelam karena terjaring oleh jaring ikan atau terperangkap perangkap ikan , kematian karena kecelakaan akibat perahu mesin, hilangnya pantai tempat mereka bersarang, polusi, praktik penangkapan ikan yang merusak seperti penggunaan bom dan kimiawi, sedimentasi dan sedimentasi akibat DAS kegiatan seperti penebangan hutan mangrove dan pembangunan.

Clutch Ukuran : 13-34 telur
Musim bersarang : Desember – Maret
Bersarang Situs : gosong pasir dan bank jauh ke hulu dari habitat muara normal.
Diet : Omnivora. Tumbuhan pasisir dan hewan-hewan kecil seperti kima.

Jantan / betina
Betina dan remaja berwarna abu-abu zaitun dengan mata coklat. Jantan lebih gelap , hitam kelam dan leher kemerahan selama musim kawin dengan mata kuning atau putih. Jantan memiliki ekor panjang dan tebal dibandingkan betina . Ukuran pejantan dewasa agak lebih kecil dari betinanya.

http://www.asianturtlenetwork.org/field_guide/Batagur_baska.htm