PARADOKS

paradoks 2, daur#1 paradoks 3, daur#2 paradoks 4, sirkle#1 paradoks 4, sirkle#2

The transformation of trees as religious spiritual symbol in fine art creation

In creation, the value of local wisdom is tried to be used again. While in modernity the value has dualism framework and pattern separation of binary opposition causing the separation, non integral, rigid, and inflexible to form deculturizarion, the tendency of domination on patrilineal way of thinking, the omission of any rooms outside just sight room, and individual materialistic room.
From the “bad and good” ideas, it has been a completion, all things are the Almighty wish”, there is no separation between the one which is “bad”/ low/ women/ feelings/ black and “good”/ above/ men/ ratio/ white. The form of his creation uses the transformation of a tree symbol, not just separated to be two parts “trunk bellow” or only “trunk above” but trees will become two synergistic pattern between above and bellow. The third pattern is as the root unity/ bellow is yesterday, trunk/ middle is the present time, branch -twig – leaf- flower – fruit/ above is the future time. The fourth pattern, circle, the continuous presence. Like in brightness, there is a little darkness or vice versa, in darkness there is a little brightness. Lorone atunggil which forms the presence of being continuous (cycle) to be tensions which present each other.

The harmony of art is paradox like dynamic calmness, as life which vacillate between two different poles, between sadness and happiness, hopes and worries, the feeling of happiness and desperation which slso do not feat each other, but unity, synergy and cycle which turn them to be a continuous cycle of life as the symbolic religious spiritual meaning which is made in aesthetic room.

 

TRANSFORMASI POHON SEBAGAI SIMBOL SPIRITUAL RELIGIUS DALAM PENCIPTAAN SENI RUPA MURNI

 

  1. LATAR BELAKANG PENCIPTAAN
  1. Dekulturisasi

Latar belakang penciptaan ini berisikan sejumlah masalah antara lain perubahan dan pergeseran tata nilai, 1) Dekulturisasi, yaitu lunturnya semangat kearifan lokal yang spiritual-religius digantikan dengan material-individual. Sementara dekulturisasi di atas disebabkan oleh, 2) Pemisahan pola biner, yaitu tiadanya semangat integralitas. Selanjutnya logika pemisahan pola biner melahirkan, 3) Kecondongan peradaban yang patrilineal, peradaban yang mengagungkan sifat kelaki-lakian secara berlebihan dibanding perempuan.

Perubahan, pergeseran, atau bahkan hilangnya tata nilai dan makna dari kearifan lokal yang tidak diindahkan, bisa berarti ketidakpahaman terhadap makna mitos; oleh karena kita sendiri yang lengah atau kehadiran asing yang secara bertubi-tubi menekan dan dengan sifatnya yang materialis telah menggeser tata nilai spiritual-religius sebagai ideologi yang sudah dibangun dan dijalankan oleh nenek moyang.

Makna spiritual (ekologi dalam) menurut Capra:alam dan diri adalah satu, bukan logis tetapi psikologis, penghantar kita dari kenyataan, bahwa kita adalah integral dari jaringan kehidupan menuju norma-norma tentang bagaimana seharusnya hidup (Capra, 1985; 42 ).

Perubahan demi perubahan pada suatu bangsa di mana pun memang tidak bisa disangkal atau dihindari. Perubahan dikarenakan pertumbuhan penduduk yang meningkat pesat, penemuan teknologi baru, penemuan gagasan baru. Terdapat selisih antara pemikiran tradisional dan modern, pertentangan antara mitos dan rasional, pertentangan adat istiadat yang sejak semula tertanam sebagai kepemilikan yang sudah mentradisi sebagai spiritual-religius dipertentangkan dengan pranata individual, material, dan kapitalistik.

Mitos di atas bukan seperti mitos di dalam pemikiran Roland Barthes tentang mitologi, tetapi mitos menurut van Peursen; adalah pemberi arah kelakuan, pedoman kebijaksanaan dan sekaligus partisipasi terhadap alam. Perantara antara manusia dan daya-daya kekuatan alam (van Peursen, 1988; 37-41).

  1. Pemisahan Pola Biner dan Dualisme

Pemisahan pola biner atau oposisi pola biner, diperkenalkan oleh anthropolog-strukturalis Claude Levi-Strauss yang berangkat dari analisa konseptual.  Levi-Strauss di dalam Danesi menyatakan bahwa mitos sebagai sumber asli pengembangan pikiran konseptual terus bergaung dengan oposisi pola biner yaitu;  kehidupan vs kematian, baik vs jahat, masak vs mentah (Danesi, 2010; 212). Lebih lanjut dikatakan bahwa oposisi pola biner juga bisa berarti dualisme; antara lain pemisahan jiwa vs raga, mitos lampau vs rasional, atas vs bawah, lelaki vs perempuan, provan vs sakral, isi vs bungkus, kebutuhan vs keinginan, transendensi vs imanensi, theosentris vs antroposentris, yang tidak lain bahwa anggapan semua hal/  teks akan selalu dipertentangkan yang mengakibatkan rigid, infleksibel, dan linier.

Pemisahan pola biner/ dualisme menjadikan ketertutupan untuk memilih di antaranya. Kita harus memilih salah satu saja, tiada ruang alternatif sebagai pilihan, maka kalau tidak “ini” hanya “itu” saja. Bila pilihan terjadi di antara itu adalah plin-plan, abu-abu, dan tidak bermutu. (Tabrani, 2006; 121)

  1. Dominasi Peradaban Patrilineal

Logika pemisahan pola biner yang tiadanya sinergi dan integralitas menjadikan absolut, bersifat dominan hingga cenderung melahirkan pemahaman bahwa laki-laki adalah rasional dibanding perempuan yang intuitif. Lelaki lebih analitis dibanding perempuan yang sintesis, lelaki maskulin dan perempuan feminin. Dengan begitu terjadilah pergeseran nilai, karena ilmu pengetahuan yang rasional kemudian melahirkan kecondongan peradaban menuju peradaban milik lelaki/ patrilineal/ rasional yang memberikan peran-peran penting yang berlebih pada kaum lelaki dibanding perempuan. (Capra, 2000; 27).

Lebih jauh Tabrani mengungkapkan dengan lebih terinci mengenai kecondongan dominasi patrilineal mencakup rasional, eksploitatif, mementingkan indera penglihatan, seks, dan non ekologis (Tabrani, 2006; 103). Secara esensi dunia/ sifat kelaki-lakian lebih mementingkan rasio daripada intuisi, dan hanya mementingkan penginderaan mata sebagai alat satu-satunya yang mampu melihat dunia secara empiris, seakan meniadaan indera-indera lainnya.

  1. Transformasi Pohon Sebagai Simbol

Berangkat dari relief “Kalpataru” sebagai pohon pengharapan akan keserasian dan keseimbangan yang terlahir dari gagasan kearifan lokal kita. Disamping itu banyak ikon nusantara yang menginspirasi baik dari gagasan atau dari gambar/ objek, antara lain totem Papua (estetika polatiga), tameng Papua (estetika polatiga), tameng Kalimantan (estetika polatiga), candi Borobudur (estetika polatiga), tokoh pewayangan Semar (estetika pola dua), keris (estetika polatiga). Semua hal di atas adalah falsafah Nusantara/ ketimuran yang transenden (Sumardjo, 2000; 54 ).

Transformasi, adalah teori tentang perubahan dari gagasan menuju perwujudan menggunakan teori transformasi dekomposisi yaitu transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan). Jadi pendekomposisian struktur alami pohon adalah sebagai sarana mentransfer gagasan menjadi sebentuk simbol yang mengungkapkan ideologi dan perilaku.

Transformasi pohon dengan strategi pengurangan dan penambahan struktur sebatang pohon (akar-batang-kuncup) yang menyimbolkan peluang alternatif; bagai berfikir secara lateral yang selalu menghendaki keberagaman dan membuka jalan (de Bono, 1990; 33). Transformasi adalah pilar sebagai proses pemroduksi makna, bahwa akar sebagai yang kemarin, batang adalah kekinian dan kuncup adalah keakandatangan. Bisa diartikan bahwa perjalanan kehidupan manusia musti melewati tiga tahapan yang tidak boleh terpisah, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, “Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”. Maka hal di atas bisa disimpulkan bahwa, transformasi pohon menyimbolkan eksistensi kemanusiaan terhadap rasa takut dan sekaligus ucapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

 

  1. PEMBAHASAN
  1. Pohon dan Kosmos

Pohon mewadahi (momot) penyatuan, sinergi dan sebagai daur kehidupan, seperti yang telah dikiaskan oleh Descartes, “Semua filsafat ibarat pohon, akarnya adalah metafisika, batang tegaknya adalah fisika, dan cabang-cabangnya ialah semua ilmu-ilmu lainnya. (Capra, 1985; 82)

Pohon secara umum adalah tanaman ber”kayu”, tanaman tahunan yang berumur panjang, bersifat vegetatif yang tidak bisa berpindah. Pohon/ hutan menumbuhkan keanekaragaman hayati, mengurangi erosi, penyimpan air, penyeimbang iklim, bersama tanah-air-udara membentuk satu kesatuan bagi penyeimbang alam, sebagai tempat menetap dan singgah bagi habitat yang lain, sebagai peneduh sekaligus sebagai bahan tempat tinggal, kayu sebagai konstruksi, sebagai pemanas/ bahan bakar, dan secara umum di era pramodern pohon sebagai yang dihormati hingga menumbuhkan mitologi.

Filsuf Perancis Henri Bergson berceramah tentang temuan Bose :

“Penemuan Bose yang mengagumkan telah membuat ta-naman yang bisa mampu memberikan kesaksian yang paling fisik dan mengesankan tentang kisah hidup mereka yang selama ini tidak terungkapkan. Alam akhirnya dipaksa untuk memberikan rahasianya yang dahulu dijaga dengan penuh kehati-hatian”. (Tomkins dan Bird, 2008; 122)

Mengenai pohon/ tumbuhan di tahun 1970-an Marcel Vogel berkesimpulan bahwa daya kehidupan, atau energi kosmis yang menyelimuti semua benda hidup dapat saling berbagi antara tanaman, binatang maupun manusia. (Tomkins dan Bird, 2008; 35). Sementara Savin menyatakan bahwa tanaman philodendron memiliki kemampuan merespon dan memiliki sensitivitas untuk mendeteksi (Tomkins dan Bird, 2008; 54). Begitu pula tiada beda eksperimen dari staf Analisis dan Perencanaan Lanjut dari Laboratorium Arteleri Angkatan Laut di Silver Spring, Maryland Eldon Byrd :

“reaksi tanaman terhadap rangsangan dari air, sinar inframerah dan ultraviolet, api, tekanan fisik, dan pemotongan bagian tu-buhnya.” (Tomkins dan Bird, 2008; 55).

Lebih jauh ke belakang di tahun 1925-1930 Backster adalah seorang profesional penguji kebohongan dengan menggunakan alat galvanometer bereksperimen pada tumbuhan dracaena yang me-nyatakan, “Tanaman dapat berpikir!” (Tomkins dan Bird, 2008; 13).  Lebih lanjut lagi juga pada problem rahasia besar tentang hidup dan mati, ketika dalam alam kehidupan kita berlalu Yang Bersuara kepada Yang Tidak Tersuarakan (Tomkins dan Bird, 2008; 124).

 

  1. Metafor Akar-Batang-Kuncup
  1. Sisi bawah atau akar

Semacam kaki-kaki yang mencengkeram untuk berpijak, yaitu bentuk percabangan dari akar besar hingga akar serabut yang mampu mencari celah untuk menghisap sari pati tanah dan sekaligus berpegangan pada tanah/ bumi. Sebagai konotasi pengakaran, pegangan, ketergantungan pada tanah/ bumi ataupun ibu, “ibu bumi…..”. Tiada beda di level terbawah pada candi Borobudur adalah tingkatan khama penuh nafsu, kematian dan gelap.

  1. Pokok Batang

Sisi tengah yaitu sisi antara, adalah sebagai badan sebagai metafor ruang alternatif kekinian.  Perantara dunia bawah dan dunia atas, sebagai penyatu antara bawah sebagai kemarin dan atas sebagai keakandatangan. Pokok batang tidak lain adalah hari ini, kekinian, masa kita ini, situasi yang dialami oleh manusia di dalam kehidupan ini. Seperti di level tengah candi Borobudur adalah tingkatan rupa sebagai dunia perantara, atau mulai terlepasnya nafsu liar menuju  nafsu yang proporsif, nafsu yang terkendali oleh moral dan pikiran.

  1. Cabang, ranting, dan kuncup sebagai dunia atas

Asal percabangan dari pokok/ badan pohon menuju reranting hingga struktur urat-urat dedaunan yang menuju ke atas, menangkap tenaga dari matahari guna fotosintesis/ memasak untuk mendapatkan cahaya, tenaga, panas dan sifat-sifat lain seperti asal dari pemberi kehidupan. “ ….. bapa angkasa”. Seperti level teratas di candi Borobudur yaitu arupa yang tanpa bentuk dan sudah meninggalkan sifat-sifat keragawian.

 

  1. Pemikiran Spiritual-Religius

Di dalam butir-butir sifat ketimuran Sp Gustami menjabarkan secara komperehensif, termasuk di dalamnya tersirat pemikiran tentang penyatuan, sinergi, dan daur:

“Konsep material kebendaan menggantikan spiritual religius, budaya anthropocentris menggeser budaya theocentris, budaya rasional menggusur budaya mitologi. Era baru mengusung para-digma, spesialisasi, diferensiasi, dan diversifikasi dengan keta-jaman analisis ilmiah, rasional yang secara praktik dan fung-sional bermuara pada tujuan ekonomis, efisiensi dan efektif” (Gustami, 2007; 308).

Selanjutnya:

“Trilogi keseimbangan dibangun berdasarkan bertemunya si-nergi pertimbangan fakultas rasio, fakultas rasa, dan fakultas iman sebagai laboratorium yang berlangsung tanpa henti. Apa-bila salah satu fakultas itu ditinggalkan, dapat dipastikan timbul kepincangan di dalam hidup”(Gustami, 2007; 369).

Begitulah pemikiran kearifan lokal yang dari dulu cenderung tidak memisahkan antara rasio-rasa-iman, kesatuan cipta-rasa-karsa, kesatuan mikro-makrokosmos dibangun dari mitos kosmogoni (bagai-mana dunia menjadi ada), mitos eskatologis (tentang akhir dunia), dan mitos eksplanatoris (menjelaskan peristiwa alami) yang berbentuk antara lain folklore, legenda, dan epik sebagai tataran kehidupan ini menuju yang bermewujud ritual atau perlakuan sehari-hari, sebagai ibadah sampai paripurna; begitulah mite yang konstan dan stabil (Aris Wahyudi, 2014, catatan kuliah “Teori Seni”).

  1. Landasan Penciptaan

Konsep penciptaan berisikan ide/ isi yang akan dikomunikasikan yaitu, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”, antara yang hidup-kematian adalah melengkapi, seperti juga pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang. Lorone atunggil yang membangun ketetapan yang terus menerus (daur/ siklus) menjadi tegangan yang saling mengadakan diri.

Keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing di antara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi menyatukan, sinergi, dan daur yang menjadikan tetap berkelanjutannya putaran kehidupan sebagai makna simbolik spiritual-religius yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

Ruang estetik diwujudkan dengan teknik transformasi dekomposisi pada struktur pohon menuju relasi simbol, sebagai wadah yang mampu mewadahi siklus kehidupan di dalam tatanan kosmos. Kesemua itu untuk memaknai hidup yang tidak meninggalkan esensi sebagai akar realitas dan dimensi mite-metafisik sebagai eksistensi dasariah kemanusiaan terhadap Ketuhanan Yang Maha Esa.

  1. Transformasi dan Simbolisasi

Di bawah ini akan dijelaskan apa itu aspek visual di dalam ruang virtual kekaryaan seni. Ruang virtual adalah bukanlah seperti ruang di dalam cermin, tetapi ruang “maya” yang telah diciptakan dari aspek-aspek visual antara lain meliputi fisik garis, warna, tekstur, stroke dan cara pengkomposisian dari ketiadaan/ belum berbentuk menjadi ada/ berwujud (K. Langer, 2006; 33) adalah yang terjadi dari interteks yang memiliki makna konotatif-interpretatif di dalam perwujudan sebagai perwakilan gejolak perasaan.

Transformasi Pohon Sebagai Simbol :

  1. Pohon memiliki struktur alami akar-batang-kuncup sebagai transformasi dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah.
  2. Transformasi pohon mewujud penyatuan atau paradoksal, sinergi atau terdapatnya ruang tengah, dan daur sebagai siklus di dalam kehidupan ini.
  3. Transformasi pohon mewujudkan simbol spiritual-religius yang ideologis sebagai perilaku.

 

  1. Teori Transformasi

Untuk mewujudkan hal di atas digunakan teori transformasi yaituTransformasi Dekonstruksi atau Dekomposisi Anthony C. Antoniades di dalam Stepanie Jill Nanjoan, (Jill Najoan dan Mandey, pdf, 2011; 121) yaitu :

“Dimana prosesnya memisahkan sebuah susunan yang ada untuk dicari cara baru dalam kombinasinya dan menimbulkan sebuah kesatuan baru dan tatanan baru dengan strategi struktural dalam komposisi yang berbeda. Dan dari proses tahap demi tahap yang akan dilalui, juga transformasi subtraktif (pengurangan) dan transformasi aditif (penambahan)”.

Jadi berangkat dari gagasan penyatuan, sinergi, dan daur yang secara teknis mendekomposisi ikon lampau dan kekaryaan modern bertema dualitas-antagonis; sebagai tanda adanya proses penyatuan, sinergi dan perwujudan daur atau siklus kehidupan.

 

  1. Teori Simbol

Paul Tllich di dalam F.W. Dillistone menyebutkan bahwa, simbol adalah sarana menginterpretasi kehidupan ini, sarana tertinggi bagi manusia untuk dapat berbicara tentang yang “ada” transenden, atau tentang Allah-dalam-hubungan-dengan-dunia-dan-manusia, atau ten-tang Allah dan tindakan-tindakanNya (Dillistone, 2002; 10), setidaknya sebentuk pohon, struktur pada tanaman yang secara umum memiliki tiga komponen dasar yaitu akar, batang, dan reranting-pucuk-bunga (dan buah) telah menginspirasi tentang adanya tiga tahapan manusia untuk menuju ke yang “ada” transenden.

Menurut K. Langer simbol seni tidak mewakili objeknya, tetapi wahana/ alat bagi konsep tentang objek. Konsep mengenai sesuatu yang bukan sesuatu itu sendiri, simbol-simbol harus diartikan. Bila-mana simbol sudah diungkap maka muncullah makna (K. Langer, 2006; 152-153).

Dari ketiga struktur alami pada pohon itulah maka akan disimbolkan, sesuatu yang bukan sekadar pohon dan strukturnya begitu saja, tetapi bahwa akar sebagai metafor dunia bawah/ khamadatu/ kemarin, dan batang sebagai metafor dunia tengah/ rupadatu/ sekarang, dan reranting-pucuk-bunga-buah adalah metafor dunia atas sebagai tujuan/ akan datang/ arupadatu, menuju ke makna yang spiritual-religius.

  1. Penyatuan, Sinergi, dan Daur (Proses Peleburan)

Banyak hal di dalam daur kehidupan ini sering dihadapkan hanya pada persoalan jawaban tunggal dari salah satu pilihan pada pola oposisi biner atau dualisme: benar-salah, hidup-mati, atas-bawah, terang-gelap, dan seterusnya yang menjadikan bahwa segala hal di dalam pola pikir, tindakan, dan segala pemecahan di kehidupan ini menjadikan oposisi, sebagai salah satunya jawaban absolut hingga memungkinkan ketertutupan berbagai kemungkinan di celah antaranya. Seakan bahwa segala fenomena dan pemecahan di dalam kehidupan ini adalah kalau tidak “ini” atau sebaliknya hanya “itu” saja.

Pendapat umum di zaman modern ini mungkin telah dipengaruhi oleh pemikiran Descartes dengan melihat alam semesta dari sebab-akibat (input-output) serta membagi alam menjadi kesadaran dan materi, atau benda hidup-benda mati, sehingga psikologipun membagi manusia menjadi psikis dan fisik  (Tabrani, 2006; h. 6-7). Di dalam “A Short History of Shadow”, oleh Plato di dalam Stoichita, bahwa cahaya/ terang lebih penting dari bayangan/ gelap (Stoichita, cabinetmagazine. org/issues/24/stoichita.php, Jumat, 1 Januari 2016, jam 02:17) sebagai metafor buruk dan jahat, seperti halnya masyarakat cenderung menganalogikan bahwa cahaya adalah kebaikan, sementara bayangan adalah kejahatan. Sehingga memperkuat dominasi cahaya/ terang dari bayangan sebagai yang tidak sempurna yang perlu diterangi.

Ketertutupan di celah antaranya yang terdapat ruang alternatif, karena kita telah diculik oleh modern/ barat yang hanya berfikiran mementingkan salah satu dari dualisme di atas. Sedangkan sesuatu yang berada di antara keduanya dianggap tidak bermutu, atau kompromis yang berarti plin-plan. Jadi dualisme barat adalah statis, infkeksibel, rigid bahkan absolut (Tabrani, 2006; h. 56). Lebih lanjut Brian Fay menyatakan juga tentang perbedaan di dalam dualisme barat dipandang sebagai sesuatu yang bersifat absolut dan perbedaan-perbedaan tersebut sebagai suatu antagonis mutlak (Fay, 2002; h.330).

Padahal Ernst Cassirer menunjuk pada pandangan bahwa modernitas menyebabkan semua perbedaan konkret yang ditimbulkan oleh penginderaan langsung ditiadakan; tiada lagi ruang-lihat, tiada ruang-rasa, tiada ruang-dengar, dan tiada ruang-aroma (Cassirer, 1997; h. 68). Begitu pula dalam “Seni dan Humanitas”, Primadi Tabrani menyatakan:

“Semua tidak terlepas dari cara barat memandang  jiwa dan tu-buh yang bahkan memiliki perspektif peniadaan jiwa. Padahal pencerapan manusia timur amat berbeda dengan manusia barat yang menggunakan penglihatan mata seakan cermin dari objek-tif-rasional yang hanya mengerti dan memahami yang melepas dari proses mencerap dan menghayati, dimana alam dipisahkan dari spiritual. Mata dinilai paling tinggi bahkan di atas pikiran. Sedangkan manusia timur di dalam tingkat penyerapannya lebih merupakan sintesa, integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme di-namis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos (wholeness)” (Tabrani, 2006; h. 176).

Banyak filsuf menerima pembagian dunia alami yang oleh Descartes menjadi yang bersifat mental (“res cogitans”) dan yang bersifat fisik (“res extensa”), tetapi menolak adanya interaksi ber-dasar hanya sebabakibat (hubungan kausal) antara keduanya; misalnya filsuf Arnold Geulincx dan Nicolas de Malebranche mengusul-kan sebuah teori yang menyatakan bahwa Allah merupakan penghubung antara yang mental dan fisik (Hadi, 1994; 73).

Dalam proses penciptaan ini bukanlah semata hasil rasio, tetapi hasil integrasi kemampuan fisik, olah kreatif, dan rasio; bukan semata hasil kerja otak namun seluruh susunan saraf mulai dari indra hingga otot, integrasi mata dan indra lainnya, juga peningkatan afeksi (affect) (Tabrani, 2006; h) yang akan mewujud kesatuan paradok antara dualisme di atas menjadi satu kesatuan wujud kekaryaan seni menggunakan idiom bentuk yaitu struktur pohon, bayangan, dan landscape sebagai perantara dunia atas: langit, sosok, cahaya, kehidupan, benar, terang dan dunia bawah: bumi, bayangan, kematian, salah, gelap.

Berawal dari menjaga kemudian selanjutnya adalah melindungi agar unsur-unsur makna, yaitu integrasi dari alam dan spirit dimana pikiran tunduk kepada spiritual yaitu lebih melihat ke dalam, tiada distansi tegas antara subjek-objek, dengan sintesa dualisme dinamis sehingga mencapai integrasi dalam penghayatan kosmos.

Sesudah menjaga makna dan melindungi yang berlanjut ke arah hingga menghidupkan nilai ideologis yang mengacu kepada ideasional dalam suatu budaya yaitu meliputi nilai, norma, falsafah, dan kepercayaan religius (Kaplan, 2000; 154), yaitu sebentuk keutuhan gagasan, suatu pandangan bahwa makna bagi pencipta tidak lain ingin mewujudkan suatu pernyataan/ konsepsi bahwa di mana yang baik-buruk, “ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran”,buruk baik sebagai kesatuan, semua adalah kehendakNya.Antara baik-buruk,  hidup-kematian; singkatnya seperti pada terang terdapat sedikit kegelapan, begitu pula sebaliknya dikegelapan terbersit terang yang membangun ketetapan yang terus menerus menjadi tegangan yang saling mengadakan diri, bagi saya keserasian seni adalah paradoks seperti ketenangan yang dinamis, bukan ketenangan yang apatis bagai di kehidupan ini yang terombang-ambing diantara dua kutub yang berlainan, diantara suka dan duka, harapan dan kekuatiran, luapan kegembiraan dan keputusasaan yang sekaligus tidak saling mengalahkan, tetapi meleburkan diri karena hal itu menjadikan tetap berkelanjutannya daur kehidupan sebagai makna yang diwujudkan ke dalam ruang estetik.

  1. Metode Pemikiran Transformasi Simbolik

Pohon memiliki struktur akar sebagai pencerap sari pati makanan yang terletak di bawah di dalam tanah, batang sebagai pokok penegak, dan reranting pucuk sebagai yang di atas sebagai pengolah makanan yang nanti disebarkan kembali untuk menjadikannya tetap hidup. Beserta pendukung garis horison adalah batas antara atas dan bawah, garis vertikal sebagai penentu arah ke atas, dan bayangan sebagai penguat efek dramatik.

Transformasi adalah suatu proses pembentukan dari gagasan, ide-ide yang sifatnya abstrak. Di dalam konsep penulisan kekaryaan ini difokuskan ke arah  ruang tengah sebagai konsep yang berangkat dari perkataan Lao Tze, “ we make a vassel from a lump of clay, it is the empty space within the the vassel that makes it useful”, “ambil segenggam lempung, lubangi ditengahnya. Maka lubang/ ruang itulah yang menjadikannya berguna”. (de Ven, 1995 ; 3). Ruang tengah bukan sekadar batasan dimana terlingkupi batas-batas di luarnya, keruangan sebagai sarana mewadahi dualitas-antagonis; baik-buruk, “Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pengeran”,Buruk dan baik itu sebagai yang tidak terpisah, semua itu adalah kehendak Allah”.Lelaki-perempuan, langit-bumi, raga-jiwa, dosa-pahala sebagai kesatuan yang harus ada melengkapi. Wadah bagai tanah, samudera yang bersifat memet mampu mengurai dan mewadahimomot, mewadahiyang juga seperti hati seorang ibu atau rahim yang menjaga, melindungi dan menghidupi, tiada beda silaturahim sebagai ‘ziarah’ tempat kembali segala muasal akan kehidupan“sangkan paraning dumadi”.

Di dalam menyikapi perbedaan dualisme mustinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang bersifat saling meniadakan atau bahkan absolut dan sebagai akibatnya relasi diantara perbedaan-perbedaan menjadikannya sebagai antagonis mutlak. Maka secara dialektik saya menerapkan suatu bentuk pertentangan dalam perbedaan sebagai alternatif, alternatif tersebut akan menyingkap bagaimana perbedaan-perbedaan tersebut dapat dipahami dan dipertahankan ketegangannya dalam kerangka yang lebih luas (Fay, 2002; h.331).

Dalam teori estetika pola dua antagonis dualitas sudah dipergunakan oleh nenek-moyang kita/ pramodern sebagai kearifan lokal yang mana atas-bawah, kiri-kanan, materi-nonmateri, lelaki-perempuan, bukanlah suatu yang saling meniadakan, tetapi suatu realitas yang terwadahi di dalam kosmos (Soemardjo, 2010; h). Di sini saya sebagai pencipta ingin mengembalikan pola estetika dua (penyatuan), pola estetika tiga (sinergi), dan pola estetika empat (daur) dari transformasi pohon.

Pohon sebagai mikro dan makro kosmos memiliki raga-jiwa dan tetap memiliki makna “momot”mewadahi,  yang tiada beda sebagai penghayatan  hidup  untuk dilaksanakan sebagai perilaku awas, emut, lan memet yaitu waspada, ingat kepadaNya dan hati-hati sebagai nilai, dan norma.

2001. Installation Art, “Dua Jam Lagi Kita Berangkat”

Installation Art, “Dua Jam Lagi Kita Berangkat”, 2001

http://groups.yahoo.com/group/aikon/message/1302

concept

Art is not just artistic, art encompasses all activity beyond the art itself. He also is a form of a long process accompanying are putting the final appearanceof an art object.
Discard many artistic vocabulary created by itself for all activities and traces of life. So art is a form of life that continues to writhe with all existing devices [participatory] without previously constructed by keterukuran.
For me art is a personal expression of event that can not be compromised on anything except for itself evokes excitement continued lifeworkmanship as part of a unified chain of more life saving vocabulary that could not be expressed but has revealed the ambiguous facts that have been done.

Pandangan kesenian

Seni tidak sekedar artistik, seni melingkupi segala aktivitas diluar seni itu sendiri. Dia juga adalah sebentuk proses yang panjang menyertai ‘tampakkan penampilan akhir’ dari sebuah obyek seni.

Artistik banyak membuang kosa kata yang diciptakannya sendiri terhadap segala aktivitas dan jejak- jejak hidup. Maka seni adalah bentuk kehidupan yang terus menggeliat dengan segala perangkat yang ada [ partisipatif ] tanpa sebelumnya terkonstruksi oleh keterukuran.

Bagi saya seni adalah ajang ekspresi pribadi yang tak bisa ditawar terhadap apapun kecuali untuk dirinya sendiri membangkitkan kegairahan melanjutkan kehidupan- kekaryaan sebagai bagian dari kesatuan rantai kehidupan yang lebih banyak menyimpan kosa kata yang tak sempat diutarakan tetapi telah membeberkan fakta atas ambigu yang telah dilakukan.

02b. karya cahyo basuki yopi  03. 03b 04 05 06 07 0802a.halaman belakang

2009. Object, Painting, Drawing, and Sketch, “Arus-Arus Terpencil”

Pameran “Arus-Arus Terpencil”, Ugo Untoro dan HARI PRAJITNO
Emitan Contemporary Art Gallery, Surabaya

Periode 2007-2008

Tiada ketakutan menapaki ranah ketidakjelasan untuk menuju ke depan. Apapun yang terjadi adalah konkrit dan begitu nyata, bahwa tiada ada “batas” untuk memberi tanda apapun yang tertorehkan di sana. Karena DIA berada di sini.

01.cover halaman 01.halaman belakang 02. kamar 03. kursi-kursi di dalam studio stkw 03. malam, bulan sabit, sehabis hujan dan katak 04. kamar 04. rawa-rawa, katak, yuyu, tanaman air, dan banjir 06. beringin depan kelas 06. studio sr-stkw 07. sketsa untuk orang duduk 08. habitat rumah kotak sabun 09.genangan air dan katak 10. no21 11. no22 12. no24 13. objek putih

lihat juga di :

http://www.aaa.org.hk/Collection/Details/28854
http://e-library.msd.ac.id/index.php?p=show_detail&id=990
http://kompas.realviewusa.com/?iid=22934&startpage=page0000003

Rindu Ugo untuk Yang Sepele

Posted on by brangwetan

DUET: Dua di antara beberapa karya Hari Prajitno yang dipajang di Emmitan Contemporary Art Gallery. Foto: MUHAMMAD ROFIQ/RADAR SURABAYA

SURABAYA-Dua teman lama, Ugo Untoro dan Hari Prajitno, bertemu dalam sebuah pameran. Untuk pameran duet pertama mereka itu, kedua seniman lulusan ISI Jogjakarta ini mengambil tajuk Arus-Arus Terpecil, hingga 5 Januari di Emmitan Contemporary Art Gallery, Jl Wali Kota Mustajab, Surabaya.

Meski dikenal sebagai pelukis, kali ini Ugo tak membawa lukisan-lukisannya. Peraih penghargaan Philip Morris Art Award 1994 ini memilih memamerkan seni instalasi yang berupa tangga-tangga biru dan lima video art. Sengaja begitu karena ia mengaku bosan tampil dalam pameran lukisan. Bahkan, untuk video art, inilah media baru bagi seniman kelahiran Purbalingga itu. Video art bertajuk I Miss You ini menjadi cara Ugo untuk mengungkapkan rasa rindunya merasakan hal-hal yang sepele. ’’Saya ingin merasakan hal-hal yang kecil di sekitar saya,’’ katanya.

Rindu memang tertuang dalam I Miss You 1-6. Ia menggarapnya dalam bentuk tangga dari bambu, epoksi, dan cat mobil. Bukan tangga lazimnya yang berbentuk lurus dan terdiri atas beberapa anak tangga. Ada yang bercabang, melengkung, dan memiliki anak tangga yang tidak sempurna.

Salah satunya terbuat dari bamboo sepanjang 15 meter. Tangga-tangga bambu itu sudah menyapa pengunjung yang mengunjungi Emmitan karena ia menempatkannya sejak di halaman galeri, di pintu masuk, hingga ke dalam ruangan. Bahkan, tangga dalam I Miss You 4 digantung menyamping hingga menembus ruangan galeri. Itulah simbol naik dan turun. ’’Dengan tangga, kita bias naik melihat dari atas, lalu kita bisa turun merasakan apa yang ada di bawah,’’ jelasnya.

Dalam video art, Ugo menampilkannya di layar televisi model lama 21 inchi dan dua buah proyektor LCD. Pelaku di video tersebut adalah Ugo sendiri.

Menggunakan media mini DV, video I Miss You 7-11 itu memiliki durasi unlimited loop atau terus menyambung). Dalam pameran yang dikuratori Hendro Wiyanto ini, Hari juga membuat

instalasi berjudul Pesakitan 2. Berbahan ilalang, gelagah, bamboo, dan lampu, yang berbentuk seperti kepompong. Permukaannya terdiri atas batang-batang gelagah yang menancap keluar.

Didalamnya di pasang lampu. Selain itu, Hari memamerkan lima karya lukis astraknya dan delapan drawing. Tentang pameran bersama Ugo, Hari mengaku antusias. ’’Senang sekali bisa bertemu dan pameran bersama dengan Ugo. Terakhir kali kami pameran bareng pada 1998,’’ tutur dosen seni rupa STKW ini. (het)

Radar Surabaya, 3 Januari 2009

kompas

Terang cahaya lilin dikeremangan seolah-olah menyimpan misteri.pijaran api lilin yang terasa sepi dan senyap itu sepersekik padam beriabarengan dengan lelehan panas lilin.sepersekian detik berikutnya terang cahaya lilin itu kembali berpijar.

Itulah bagian dari salah satu video karya eksploratif ugo untoro perupa asal yogjakarta,kelahiran purbalingga jawa tengah yang terangkai dalam kesatuan tangga-tangga bambu berwarna biru dalam wujud yang tidak beraturan melengkung patah-patah dan bercabang.

Dalam pameran bertajuk “arus-aruns terpencil” di Emmitan Contemporary Art Gallery. Jalan Walikota Mustajab, Surabaya, yang diselenggarakan mulai 19 Desember 2008 hingga 5 Januari 2009, Ugo Untoro tidak sendirian. Dia menggelar pameran bersama perupa Surabaya, Hari Prajitno, pengajar Seni Rupa di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya. Kedua sahabat itu sama-sama kuliah Seni Rupa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Ugo yang mengaku jenuh dengan seni rupa yang digelutinya,kini mencoba bermain-main dengan media lain,khususnya vidio,terang gelap terang dalam keremangan yang sunyi senyap itu boleh jadi sebuah realitas kehidupan,bahkan cermin perubahan yang begitu cepat sehingga orang pun tak mampu lagi berpikir atau merenungi kehidupannya.

Pergeseran dan perubahan dari terang,gelap dan kembali terang yang terekam dalam video berjudul”I miss you no.7” itu menemukan korelasi yang amat nista tatkala lembar demi lembar teks dalam buku- simbol kepintaran- seolah tak berarti dan sampah sebagaimana terekam dalam video berjudul “i miss you No.10”.

Dari kedua video tersebut, ugo mencoba menuntaskannya dalam video lain berjudul “i miss you no.8” yang menggambarkan seorang pembuat karya seni keramik dari pasir berwarna kecoklatan tanpa melalui proses pengolahan bahan sehingga tidak pernah jadi alias berantakan.”saya merasa kehilangan momen masa kecil yang remeh-temeh.jadi,melalui main-main dengan video ini,saya merasakan lagi,”kata ugo.

Hendro wiyanto,kurator pameran”arus-arus terpencil”mengatakan,karya-karya ugo menunjukan keintiman seninya dengan narasi-narasi yang berkembang tak terduga dalam diri sang seniman sendiri. Video adalah media baru bagi ugo dan untuk pertama kalinya ditampilkan di galeri ini.

Hari prajitno,karib ugo untoro ,menghadirkan sembilan karya seni sketsa dan tiga lukisan abstrak, serta karya seni instalasi kepompong.karya seni kepompong berjudul”pesaktian” yang menggelantung dalam ruang pamer itu memberikan sentuhan citra atas karya seni yang boleh jadi”tidak laku dijual”.saya menyadari karya yang saya pamerkan ini tidak laku dijual,karena itu saya memberikan beberapa karya lukisan untuk kompensasi galeri untuk dijual,tapi tidak untuk dipamerkan,”kata ugo untoro.(ABDUL LATHIEF)

=01cc kompas 21des08 00

2008. Painting of Install, “Multidimensi”

Painting of Install, “MultiDimensi”,
Galeri surabaya, Balai Pemuda, Surabaya, 0ktober 2008

1. undangan

1a. katalog2008-dpn 1b. katalog2008-blk

Konsep Dasar

Tiada suatu ide yang benar-benar konkrit untuk bisa dijelaskan.
Apalagi berangkat dari suatu ideologi tertentu
yang selalu mengkotakkan pada “hal” yang tidak realistis
menuruti patron atau pola tertentu yang
dibakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu.

Hanya proses abstraksilah yang merupakan
suatu reaksi instinktif atau reaksi sadar terhadap
proses pengkomposisian kembali ide-ide (unsur-unsur) murni yaitu
kelebat di saat itu juga di mana sedang di dalam
proses telah menunjukkan pilihan-pilihan yang makin mudah,
walau sebenarnya amat sangat terbuka;
tetapi dengan keterbatasan “waktu” maka
secara naluri musti secepatnya menangkap moment yang
sesaat itu untuk ditata secara layak yaitu tidak berlebihan.

Saya mempercayai ekspresi individu sebagai acuan dasar,
sehingga arti “kebebasan” sangat terkait dengan kebiasaan,
kecenderungan atau keunikan tertentu akan
membawa sesuatu yang lebih jernih.
Sehingga arti “saya” tidaklah berjalan secara serampangan,
tetapi semua itu berjalan dengan bekal purba
yang dibawa sebelum terjadinya kelahiran.
Hukum-hukum yang telah diterapkan pada
setiap personal akan membawa pada pengertian
yang lebih manusiawi yang terbimbing olehNYA.

01.sepatu coklat 02.home 03.sepatu di atas meja di atas sepatu 04.objek kuning-c 05. fire scream 06. masuk ke dalam 07. misteri jingga 08.pemandangan 09.yellow desert scream-c 10.potret kabur selanjutnya 11. dua kepala yang marah 12.marah sambil membawa perahu-c 13. objek-objek 14. potongan tangan dan pohon kelapa 16.menunggu telur III-c 17.dua objek-c 18.variasi III 19.01 20.11 21.14 22.no23 23.no25 24.no26 (pemajangan terserah) 25. ..... . diam m

suasana pameran dan media massa:

1bb3. kompas30okt08 1bb4. suasana pam kompas30okt081bb2. jawa pos29okt08

Surabaya – Surabaya Post

Pameran ‘Multidimensi’ Jalan Melepas Duniawi
Kamis, 30 Oktober 2008 | 12:26 WIB

Perupa yang juga dosen Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya dan lama tidak terdengar kiprahnya, Hari Prajitno, kini tampil tunggal di Galeri Surabaya (GS), Selasa (28/10) – 2 November.

Pameran bertajuk “Multidimensi”, sepertinya dia ingin mencurahkan kegelisahan atau perjalanannya dengan memajang 81 lukisan. Bisa dibilang, mungkin ini pemecah “rekor” selama GS menggelar pameran. Karena tidak banyak pameran tunggal yang menghadirkan karya sebanyak ini. Pameran bersamapun, kadang tidak sampai 81 lukisan. Karya yang ditampilkan, dipajang secara susun. Ada di deret bawah dan deret atas yang tidak lazim dilakukan oleh pelukis lain. Penyusunan karya yang “tidak lazim” ini, menggambarkan perjalanan hidup Sang Perupa. Lukisan yang ditata searah jarum jam itu sama seperti arah mengeraskan “sekrup”.

Sementara lukisan yang ditata berlawanan arah jarum jam, adalah sebaliknya. Lukisan di bagian bawah menceritakan perjalanan Hari setelah mengenal Tuhan dan berusaha melepas keduniawian. Di sini banyak lukisan bernuansa pemandangan. Di deretan atas menggambarkan sebaliknya, Hari banyak mengejar keduniawian. “Betapa kecilnya kita di jagad raya ini,” katanya. Sementara karya yang dinilainya favorit ada di urutan ke satu deret bagian bawah. Karya tidak berjudul ini merupakan gerbang Hari serius melukis abstrak dan tercipta ketika dia mulai salat. Kesadaran Hari terhadap Tuhan berkat Mas Koko. Dia yang mengajaknya shalat. Pada saat itu juga Ayu Aurumsari Riza, istrinya sedang melahirkan anak ketiga, Jalu Landep Hanjemparing Giri Jati lewat operasi cesar. Sehari setelah itu, Jalu operasi karena ususnya yang abnormal. Bersama dengan “beban” yang menumpuk, Mas Koko sempat menelponnya. “Kamu punya biaya untuk merawat anakmu?” ujar Hari Prajitno menirukan ucapan Mas Koko. “Mendengar perkataan itu, sayapun tersadar dan setelah kejadian itu saya lebih mendekat kepadaNya,” tambahnya.

Sementara lukisan yang dikelompokan menjadi satu merupakan karya yang memiliki karakter hampir sama dan dibuat dalam periode yang hampir sama pula. Karena setiap orang punya kecenderungan tertentu dalam periode tertentu juga. “Seperti halnya anak kecil, di waktu tertentu menyukai mainan robot tapi di waktu lain dia berubah menyukai mainan mobil-mobilan dan lainnya,” jelas dia. Tentang kreatifitas seninya, alumnus Fakultas Seni Rupa – Institut Seni Indonesia (FSR-ISI) Jogjakarta mengakui instingtif. “Saya melukis sesuai dalam pikiran, seperti apa yang diberikan Tuhan. Saya hanyalah perantara bagiNya,” tambah dia. Hari mulai profesional melukis pada 2000. Sebelumnya dia banyak berkreasi di media kayu dan seng. Salah satu karya yang cukup mengejutkan dan seakan meneror penikmatnya, sempat dipamerkan di GS beberapa tahun lalu. Hari menampilkan semacam (satu) kepompong ukuran besar. Memenuhi ruangan. Kempompong yang dibuat terus gergoyang dan dilengkapi dengan pencahayaan tertentu, membuatnya para penikmatnya seakan-akan ikut bergoyang. Pada pameran ini, sepertinya bisa melihat perjalanan hidup Hari. Periode 2000 – 2002, dia menggambarkan kembali benda berserakan untuk ditata tanpa harus bermakna simbolik, kecuali memungkinkan keterbukaan di setiap menikmati susunanNya. Periode 2003 -2004, mencoba menafsirkan kembali benda dan lingkungan yang komposisinya mulai lebih cair. Lebih lapang menuju keinginan yang ada di dalam, walau kadang terjebak pada aras egoistis. Periode 2005 – 2007 mulai menapaki ranah keterasingan. “Aku tidak lagi leluasa memiliki atau menentukan apa-apa,” ungkapnya. Periode 2008 tiada ketakutan menapaki ketidakjelasan untuk menuju ke depan. “Apapun yang terjadi adalah kongkrit dan begitu nyata. Tiada batas untuk memberi tanda apapun yang tertorehkan di sana, karena dia ada di sini,” tuturnya. (K13)

http://galerisurabaya.blogspot.com/2008/11/pameran-multidimensi-jalan-melepas.html

Jawa post-[ Rabu, 29 Oktober 2008 ]

 Titik Balik Religi dalam Corak Abstrak

SURABAYA – Penataan lukisan karya Hari Prajitno terlihat khas dalam pameran di Galeri Surabaya mulai kemarin hingga 2 November mendatang. Ada 81 karya yang dipasang dalam dua baris, yang paling atas hampir mendekati plafon. Karya-karya tersebut diurutkan tahun pembuatannya, mulai 2001 hingga 2008. Dari kiri atas searah jarum jam, lalu berlanjut di bawahnya berlawanan arah jarum jam.

Pameran tunggal ke-8 Hari Prajitno tersebut bertajuk Multidimensi. ”Apa pun yang saya gambar adalah mengenai keberadaan Dia,” ucap pengajar seni rupa STKW itu. Menurut dia, karya-karya tersebut merupakan pertumbuhan kehidupan dan perubahan pola pikir yang selama ini dialami dirinya.

Lukisan yang ditata berdasar urutan tahun pembuatan itu pun ternyata memiliki makna. Searah jarum jam diibaratkan seperti sekrup yang mengencang. Itu menandakan bahwa pada masa-masa tersebut, Hari masih mementingkan kepentingan duniawi. Sedangkan di baris bawah, penataan berlawanan arah jarum jam. Bagi dia, itu berarti Hari mulai melepaskan keduniawian dan fokus pada kehidupan religi. ”Saya mulai mengenal Dia,” tutur bapak tiga anak tersebut.

Bukan hanya itu. Dari urutan tersebut juga terlihat perjalanan aliran abstraknya. Dalam lukisan yang dibuat pada 2001, Hari masih menggambarkan sebuah objek. Meski itu hanya sebuah ekspresi. Tapi, lama-kelamaan objek-objek tersebut menghilang, berganti dengan corak abstrak dengan semburat warna.

Misalnya, dalam lukisan abstrak dengan dominasi warna kuning yang tergantung di sebelah kanan pintu. ”Lukisan itu dibuat ketika saya mulai melakukan shalat,” ungkap pria 40 tahun tersebut.

Warna kuning itu diartikan sebagai cahaya yang mulai datang kepada dirinya. Hari tidak memberi judul pada setiap lukisan itu. Dia hanya ingin menunjukkan inilah karya Dia, Sang Pencipta. ”Melalui saya sebagai perantaranya,” ungkap alumnus ISI Jogjakarta itu. (jan/dos)

 

lihat juga di :

http://www.infogue.com/article/2008/10/28/seabrek_lukisan_membungkus_ruang_galeri

2012-2013. Sketch and Poetry, “Perahu Pembawa Pelita dan Benih”

solo exhibition sketch and poetry

Pameran Tunggal Seni Sketsa dan Puisi
“Perahu Pembawa Pelita dan Benih”

poster

pembukaan: 6 desember 2012, jam: 18.30 wib
Pameran berangsung 7 desember 2012 s/d 13 januari 2013
di House of Sampoerna, jl. Taman Sampoerna 6, Surabaya. phone: +62 31 353 9000

Picture1 Picture2

Bowl, exactly container” for the Indians as a multifunctional vessel commonly used by herbalists as a place to grind / crush some parts of the plant, mineral or animal origin for the purpose of some sort of drug / herb and also to be able wewadahi / poison to purposes smear their arrows or spears as hunting vehicle.

No such difference was also pronounced Lao Tze, for the hole / space that makes the vessel as a container. Of both of the above, it was concluded that the space can also be specified in terms of a woman’s uterus or liver that can accommodate just about anything (sak jembare soon), would not be able to accommodate any ocean with forced or not, the ocean as well as the liver.

Back to the concept of the container / mother / woman / womb, tried to describe it as a bowl, a boat, even a crescent shape when viewed in a two dimensional (shape), besides it was like a boat and the bowl is a container vessel as well as support. Do not the moon also generally in Java as well as a symbol of femininity (ayune rich mbulan ndadari).
While the idea of ​​the stone is a burden to be borne, not change the Sisipus the reject” heaven (essence) yearning for the beloved earth, so it should take pains to raise a stone which exceeds himself and even then must also roll her back down; was conducted continuously without stopping (existence), that’s the responsibility of the life lived by the uterus as a form of love and affection.

Mangkok, tepatnya “wadah” yang bagi suku Indian sebagai bejana multifungsi yang biasa digunakan oleh para dukun sebagai tempat menggerus/melumatkan beberapa bagian dari tanaman, mineral atau yang berasal dari hewan untuk keperluan semacam obat/jamu dan sekaligus juga untuk wewadahi bisa/racun guna keperluan melumuri anak panah atau tombak mereka sebagai wahana berburu.

Tidak beda juga seperti diucapkan Lao Tze; karena lubang/ruang itulah menjadikan bejana sebagai wadah. Dari kedua hal di atas, maka disimpulkan bahwa ruang di dalam pengertian tertentu bisa pula rahim seorang perempuan atau hati yang mampu menampung apa saja (sak jembare segara), tidakkah samudera mampu menampung apapun dengan terpaksa atau tidak, samudera seperti juga hati.

Kembali ke konsep tentang wadah/ibu/wanita/rahim, dicoba menggambarkannya sebagai mangkok, perahu, bahkan bulan sabit bila dilihat bentuk secara dua dimensional (shape), disamping hal itu seperti perahu dan mangkok adalah sebagai wadah penampung sekaligus menghidupi. Tidakkah bulan juga secara umum di Jawa juga sebagai simbol kewanitaan (ayune kaya mbulan ndadari).
Sedangkan gambaran tentang batu adalah sebagai beban yang harus ditanggung, tidak ubah si Sisipus yang “menolak” surga (esensi) demi kerinduan pada kekasihnya bumi, sehingga harus bersusah payah menaikkan sebuah batu yang melebihi dirinya dan itupun harus juga menggelindingkannya kembali ke bawah; itu dilakukan terus-menerus tanpa henti (eksistensi), begitulah tanggungjawab terhadap kehidupan yang dihidupi oleh rahim sebagai bentuk cinta dan kasih sayang.

lihat juga di :

1. http://houseofsampoerna.museum/e_gallery_ex_exhibits.html

2. http://jogjanews.com/segera-pameran-tunggal-puisi–ilustrasi-perahu-pembawa-tunas-dan-pelita-hari-prajitno-di-house-of-sampoerna-surabaya

3. http://www.demotix.com/news/1661186/poetry-and-illustration-exhibition-surabaya

4. http://infopijar.wordpress.com/2012/12/08/perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/

5. http://www.epochtimes.co.id/entertainment.php?id=743

6. http://www.centroone.com/photo/2012/12/1v/puisi-dan-ilustrasi-perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/

7. http://www.antarajatim.com/lihat/berita/100336/25-puisi-ilustrasi-perempuan-dipamerkan-di-surabaya

8. http://www.lensaindonesia.com/2012/12/21/194507.html

9. http://kabargress.com/2012/12/06/perahu-pembawa-tunas-dan-pelita/#comment-1871

10. http://stkw.blogspot.com/2012/12/pameran-karya-hari-prajitno.html

perahu pembawa tanaman dan api perahu tanpa laut terbakar di atas perahublue mount hopepenyangga perahupembangun menara perahutiga perahu pembawa oborwaitingbulan sabit, mangkok dan perahuperahuperahu pembawa batu sdg istirahat perahuperahu pembawa mangkok yg tertambat perahuperahu rusak perahuperahu rusak tonggak dan karang pohonpohon meminta hujan tanaman tanpa akar  tiga lelaki yg menunggu di atas batu dan perahuperahu tertambat tiga perahu pembawa beban  untitled  wanita menunggu....     objek batu dan mangkok

puisi yang dipamerkan lihat di :

https://hariprajitno.wordpress.com/2013/05/23/c1-puisi-beku-batu-rindumu-2012/

59376_394193817325347_1365920147_n401680_394196263991769_1740675427_n27893_394196160658446_991084008_n  486157_394196207325108_1719321156_n319596_394196200658442_1982068760_n 391901_394196103991785_677464564_n   526962_394193040658758_1249571071_n

2010. Installation Art, “We’ve Built Something”

Instalasi “we’ve built Something We’ve Built”
Museum dan Tanahliat, Yogyakarta.

01-poster3

Kejadian/benda sehari-hari yang biasa-biasa saja mungkin selalu anda sepelekan, bahkan kesampingkan, yaitu bebatuan atau rerumputan/ ilalang. Padahal apapun di sekeliling akan memiliki nilai bahkan makna; mengapa mereka harus bersanding di sekeliling dimana kita tinggal dan hidup.

Ambil segenggam lempung/ tanah liat, lubangi ditengahnya (Lao Tze) maka karena ruang itulah dia menjadi berguna sebagai wadah.
Mangkok porselin adalah sebuah wadah yang tidak mudah terkontaminasi sekalipun dituangi racun dan juga tahan akan suhu tinggi, tetapi porselin amatlah rentan benturan dan mudah pecah.

Tumpuklah berkeping-keping batu hingga tersusun menyerupai tonggak atau menara, disitulah kegunaan bebatuan, mereka akan menjadi penanda siapa penatanya. Begitulah peran sebagai penanda hendak mengisi mangkok dengan apa, atau bagaimana cara membawa/ merawat/ menghormati tergantung padanya.

Yogyakarya, 19 Januari 2010/Museum Dan Tanah Liat

02-lengkap2 03-menara13 0505-menara2304-mangkok13  06-mangkok2304b  08b

Selasa, 09 Februari 2010 , 21.10
Narasi Mangkok-Menhir
oleh Kuss Indarto

 BANGUNAN metafora visual itu sebenarnya sederhana. Setidaknya, kerangka dasar pemikirannya tidak datang dari dunia antah berantah yang jauh dari ujung hati dan tempurung kepala sang seniman. Namun Hari Prajitno, sang seniman ini, mampu memberi upaya pembumian atas pemikirannya itu. Bahkan cenderung dengan terang-benderang. Dan terasa datang dari dunia yang sehari-hari, setidaknya bagi masyarakat yang karib dengan ihwal pedusunan Jawa.

Pada pameran tunggalnya di Museum Dan Tanah Liat (MDTL) di Menayu Kulon no. 55 Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta, nuansa “kampung” itu kuat terasa. Begitu masuk ruang pameran yang tak terlalu luas, penonton langsung disergap oleh citra sebuah mangkok raksasa setinggi kira-kira 1 meter. Di bawahnya tertata batu cadas putih. Mangkok itu tersusun dari jalinan batang padi kering yang rapi menutup rapat rangka besi di baliknya.

Bangunan mangkok itu tak berdiri sendiri. Di gigir mangkok ada batang padi berujud sulur besar, meliuk, memanjang, lalu melampaui tembok sekira 3 meter di hadapannya. Dan, ups, apresian seperti digiring pada pemandangan lain di balik tembok itu: sebuah bangunan, serupa menhir penuh “tombak”, setinggi hampir 2 meter. Sulur dari mangkok tadi bagai menggaris hubungan dengan bangunan dari batu cadas putih di sebalik tembok. Keseluruhan ruangan itu menjadi terasa menyatu karena lantai bertegel merah hati telah tertutup rapat oleh hamparan sekam (kulit padi) setebal lebih dari satu sentimeter. Nuansa “kampung” luruh di ruang itu.

Pameran bertajuk SOMETHING WE’VE BUILT ini memang sebuah metafora besar yang ditampilkan oleh Hari untuk membincangkan relasi laki-laki dan perempuan. Dan sangat dimungkinkan citra mangkok dan menhir itu secara khusus menarasikan relasi antara suami-istri. Ini kisah lama, klasik, mungkin malah kuno, namun terus saja tak lekang untuk terus digali dengan diaktualisasikan lewat berbagai perspektif.

Penghalusan citra visual yang diketengahkan dosen seni rupa STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya ini sepertinya tak lepas dari pengalaman batinnya (sebagai suami dan bapak dari 3 orang anak, Titah, Bening, Jalu) yang telah mengendap belasan tahun. Tentu juga dari “terjangan” pengalaman sahabat-sahabatnya atau orang di sekitarnya yang terempas “badai di secangkir kopi” dalam kehidupan rumah tangga mereka. Ini menjadi masukan teramat berarti hingga menginspirasi karya dalam pameran ini.

Ada titik menarik atas karya ini: tidak utuhnya titik hubung pada ujung sulur yang berangkat dari citra mangkok menuju citra menhir. Dari kiasan yoni (alat kelamin perempuan) dan lingga (alat kelamin laki-laki). Ketidak-sambungan antara citra yoni-lingga oleh sulur inilah yang seperti dipersoalkan oleh seniman yang masuk ISI Yogyakarta tahun 1988 tersebut. Dan tergambar jelas ada problem besar pada citra lingga yang penuh tebaran tombak-tombak kecil di sekujurnya.

Sampai di sini, asosiasi bisa berkelebat pada tugas laki-laki, sang pemilik yoni, dalam konsep masyarakat Jawa, “komunitas yang dibayangkan” yang menaungi hidup Hari Prajitno. Di sana ada konsep Lima-A, yakni: angayani (memberikan nafkah lahir batin), angomahi (membuat rumah sebagai tempat berteduh), angayomi (menjadi pengayom dan pembimbing keluarga), angayemi (menjaga kondisi keluarga aman tenteram, bebas dari gangguan), dan angamatjani (mampu menurunkan benih unggul). Konsep dan tugas berat bagi laki-laki ini tak lepas dari pandangan Jawa bahwa sosok laki-laki itu jangkahe dawa (langkahnya panjang, sepak terjangnya lebih luas) ketimbang figur perempuan yang yang diasumsikan kerubetan pinjung (terhimpit kain, banyak halangannya. Ya, sebuah konsep yang bisa jadi dipandang “negatif” karena terlalu patriarkhal, namun juga bisa dibaca positif karena memberi gambaran dasar tentang pembagian tugas dan peran yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Apapun, sebagai seniman yang lebih dari 10 tahun “menjauh” dari pusaran hiruk-pikuk kreativitas para seniman Yogya, karya Hari Prajitno ini pantas diberi point penting pada kemampuannya untuk menggali aspek material dan eksekusinya yang cukup menyempal dari kecenderungan para perupa dewasa ini yang serasa ingin tampil stereotip: material mahal, bersih, kinclong, dan rapi, namun tak jarang sepi substansi.

Tak ada yang bisa dijual dalam pameran ini, kecuali kehormatan dan penghormatan seniman ini pada upayanya untuk konsisten dengan kegaduhan batinnya untuk menyoal perkara relasi lingga-yoni yang menyegarkan. Teruslah untuk konsisten, Har! ***

lihat juga di sini:

http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=26
http://jogjanews.com/museum-dan-tanah-liat-akan-gelar-pameran-tunggal-seni-instalasi-karya-hari-prajitno
http://www.tembi.org/cover/2010-02/20100210.htm
http://gudeg.net/id/news/2010/02/5239/Cari-Tahu-Peran-Benda-di-Sekitarmu.html#.UZYNV0puFtg

2004. Installation Art, Pesakitan , FSS

Installation Art “Pesakitan”, Festival Seni Surabaya”, 2004

h1skd1-c

Picture1sdfg Picture1dfgh

concept

Maybe just with my art can distort the fact that as a scapegoat” does not always have to be avoided if after all it is part of the scenario ALMIGHTY CREATOR. For example symbolized the work of “prisoner” in which death is the obvious part that might happen to anyone, but here death is like a cocoon / hermitage to reach the stage that no longer form of eggs or caterpillars dwell only on the singlestem plants the only (have not had the experience of the plants / other world outside) only on the tree.

Then the caterpillars have entered the stage of jail / torment themselves at any given time according to the level of what had given him, herein lies where the caterpillar is no longer a butterfly, but the light that will illuminate corners.

Konsep

Mungkin hanya dengan berkesenian saya bisa memutarbalik fakta bahwa sebagai “tumbal” tidaklah selalu harus dihindari kalau toh itu adalah bagian dari skenario Sang MAHA PENCIPTA. Sebagai contoh disimbolkan pada karya “pesakitan” yang mana kematian adalah bagian yang jelas nyata bakal terjadi pada siapapun, tetapi di sini kematian ibarat sebuah kepompong/ pertapaan untuk mencapai tahap yang tidak lagi berupa telur ataupun ulat yang berkutat hanya pada satu batang tanaman yang itu-itu saja (belum memiliki pengalaman terhadap tanaman/ dunia lain diluar) hanya pada sebatang pohon tersebut.

Maka ulat harus memasuki tahap memenjarakan/ menyengsarakan diri pada waktu tertentu menurut kadar dari apa yang pernah diberikan olehNYA, di sinilah letak dimana ulat tidak lagi menjadi seekor kupu-kupu, tetapi cahaya yang akan menerangi penjuru.

h2-c h3-c h5-c h7-c TOSHIBA Exif JPEGTOSHIBA Exif JPEG

media massa:

karya ini sebagai Pesakitan dan Menyakitkan. Bukan tanpa alasan jika sang seniman menamakan demikian. “Ini adalah simbol dari kehidupan”,  melalui karya ini, ia ingin menujukkan bahwa kesengsaraan adalah bagian dari keindahan hidup, “hujaman tombak itulah menandakan kesengsaraan”, ujar Hari Prajitno

menunjukkan bahwa kesengsaraan bisa menjadi suatu kebahagiaan, “Benda ini sengsara karena ditusuk, tapi justru dari itu ia mengeluarkan sinar,”.  Artinya tidak jarang seseorang justru terlihat lebih bersinar/dikenal dan berarti ketika ia sudah meninggal.

2. berita fss21. berita fss